KOPI CINTA

KOPI CINTA
73


__ADS_3

Hari berganti sore, Anin juga sudah mengemasi beberapa barang yang akan dia bawa karena dia harus tertinggal di rumah Alfa.


Tadi Alfa sudah bicara dengan Papa Budi dia mengatakan akan membawa Anin untuk tinggal di rumahnya, sebagai orang tua Papa Budi hanya mengiyakan karena tak mungkin ia menghalangi putrinya yang sudah milik suaminya itu tetap tinggal di rumahnya, Namun berbeda dengan Mama Rani yang terlihat sedih karena nantinya Anin pasti akan ke rumahnya jika suaminya sedang libur.


"Ayo Sayang."


Alfa mengambil koper Anin dan menggandeng tangan istrinya itu.


"Iya Mas."


Alfa menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu kamar dan menatap istrinya kembali.


"Jangan sedih Sayang, nanti Mama terlihat tambah sedih kalau lihat kamu kayak gini."


"Maafin Anin Mas."


Anin menundukkan wajahnya dan air matanya pun meleleh kembali.


Alfa meletakkan koper itu kembali dan memeluk Anin.


"Kita pasti ke sini Sayang, kalau kamu kangen mau tidur di sini kita akan ke sini sayang."


Anin menganggukkan kepalanya sambil memeluk tubuh Alfa, dia masih mengeluarkan air matanya.


"Sayang."


Alfa menangkup wajah Anin dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Deket aja kok, kalau kangen kita ke sini. Senyum dong Sayang."


Alfa tersenyum dan Anin pun mencoba untuk tersenyum.


"Ayo Mas."


"Air matanya di hapus dulu, nanti Mama nangis lagi kalau lihat kamu kayak gini."


Memang tadi saat Alfa bicara dengan kedua orang tua Amin Mama Rani tak tahan untuk tidak menangis karena biasanya Anin setiap harinya manja dengan dirinya dan kini harus ikut suaminya.


Alfa mengambil tisu dan mengusap wajah Anin.


"Sudah siap Sayang."


Anin menganggukkan kepalanya dan Alfa menggandeng tangannya kemudian membuka pintu kamar.


Alfa menggenggam tangan Anin dan tangan satunya lagi membawa koper milik istri.


Papa, Mama dan Fajar ada di ruang tamu mereka menunggu Anin dan Alfa untuk keluar.


"Ma, Pa. Kita pamit."


Ucap Alfa dan dia meraih tangan kedua mertuanya yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri itu secara bergantian kemudian mencium punggung tangan mereka.


"Alfa, didiklah Anin menjadi istri yang penurut dan ingat pesan Papa Waktu itu ya."


"Iya Pa, Alfa akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan Insya Allah akan mendidik istri Alfa menjadi wanita yang solehah."


Papa Budi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Alfa, Anin itu orangnya manja tapi juga keras kepala kamu yang sabar ya." Pesan Mama Rani.


"Iya Ma."


Anin memeluk mamanya dan dia berusaha untuk tidak menangis lagi.


"Nurut sama suami ya Sayang, nurut juga sama Mama Ani jangan bantah sekarang Mama Ani itu orang tua kamu."


"Iya Ma."


Mama Rani menciumi pipi Anin dan memeluknya kembali, dia juga berusaha untuk tidak menangis di depan Anin.


Setelah Mama Rani melepaskan pelukannya Anin gantian memeluk Papanya.


"Pa, Anin pamit."

__ADS_1


"Iya Nak, kamu jadi istri yang sholehah ya jangan suka membantah suami kamu, ingat surga kamu itu ada di suami kamu."


"Iya Pa."


"Kalau libur ke sini, Papa bakal kangen banget kopi buatan kamu."


Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Fajar, jaga Mama sama Papa ya." Anin memeluk adiknya walaupun tadi mereka sempat beradu mulut.


"Iya Kak."


"Jangan bikin Mama sama Papa kesel terus."


"Nggak Kak, Fajar nurut kok Kak."


Mereka melepaskan pelukannya kemudian Fajar pun meraih tangan kakaknya itu dan mencium punggung tangannya.


"Mas pamit ya Jar."


"Iya Mas, Fajar boleh main kan."


"Tentu boleh dong, Mas tunggu ya."


Fajar juga tak lupa meraih tangan Alfa yang kini sudah menjadi kakak laki-lakinya.


Alfa membawa koper Anin dan memasukkannya ke bagasi mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Anin.


"Ayo Sayang."


Anin masuk ke dalam mobil dan kemudian membuka kaca.


"Assalamualaikum Ma, Pa.. Bye Fajar." Anin melambaikan tangannya.


" Waalaikumsalam, hati - hati."


Alfa menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya dengan kecepatan sedang. Dia melihat ke arah istrinya dan meraih tangan Anin dan menggenggamnya.


"Makasih Sayang."


"Mama pasti senang banget kita datang sayang."


"Iya Mas, Anin kangen sama Arsy."


"Apa lagi Arsy, nanti kalau kamu sudah di rumah pasti Mas kalah sama dia."


"Sama anak aja Mas nggak mau ngalah."


"Kamu kan milik Mas."


"Iya.. Posesifnya mulai deh." Ledek Anin.


"Ha ha ha... Suami itu harus posesif sayang karena istri itu berharga dan harus dijaga."


Anin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap suaminya.


Kemudian mobil Alfa telah sampai di depan rumah yang memiliki gelombang tinggi, Dia membunyikan klaksonnya dan pintu gerbang tersebut terbuka.


Pak Toni dan dua orang anak buahnya yang diminta untuk menjaga rumah tersenyum ke arah Mereka, dan Alfa memasukan mobilnya langsung ke dalam garasi.


"Ayo Sayang kita turun."


Alfa turun dari mobil dan Anin pun mengikutinya. Pak Toni mendekati tuannya itu.


"Koper saya bawakan Pak Alfa."


"Makasih Pak Toni, bawa langsung ke kamar ya."


"Baik Pak."


Alfa menggandeng tangan Anin dan mendekati dua anak buahnya itu dulu.


"Gimana aman."

__ADS_1


"Aman Pak, kami selalu berada di rumah dan dia sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya lagi."


"Oke, kalian harus selalu waspada karena dia akalnya itu licik."


"Siap Pak."


Alfa menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah dan mereka berdua sudah dikejutkan dengan keberadaan Arsy yang ada di depan pintu bersama Mamanya.


"Papa.. Bunda..."


Arsy berlari ke arah mereka.


"Aduh.. Jangan lari dong Sayang kalau jatuh gimana." Alfa menangkapnya dan menggendongnya.


"Arsy udah besar Pa nggak akan jatuh kalau lari."


"Bisa aja anak Papa."


Alfa mencium pipinya.


"Bunda.."


Arsy mengulurkan tangannya ke arah Anin.


"Halo Sayang."


"Cium aja ya, Bunda capek."


Alfa melarang Arsy untuk Minta gendong ke Anin.


"Kalian kok udah pulang."


Amel mendekati Mereka.


"Kak, apa kabar." Anin cipika-cipiki dengan Amel.


"Kakak alhamdulillah sehat Anin."


"Ada apa kok rame."


Mama Ani keluar mendengar keramaian di depan.


"Lho.. Kok udah pulang kalian, nggak bulan madu dulu."


Anin meraih tangan Mama Ani dan menciumnya.


"Mama sehat." Tanya Anin.


"Sehat Sayang, kamu sehat kan Sayang kok kelihatan capek gitu." Mama Ani melirik ke Alfa.


"Apa Ma, kok lirik ke Alfa."


"Alfa nggak kasar kan Sayang."


Telisik Mama Ani.


"Mama..." Alfa memandang Mamanya, aneh - aneh aja tanyanya.


"Masuk yuk Sayang, sebentar lagi maghrib."


Alfa menggandeng Anin masuk.


"Ma, Kak, Anin masuk ya."


"Iya Anin."


"Bucin dia Ma." Ledek Amel.


"Mama seneng lihatnya, akhirnya Mama bisa lihat Alfa menikah."


Kata Mamanya sambil memandang Alfa dan Anin masuk ke dalam.


☺☺☺☺☺

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. 😀😀😀😀


__ADS_2