
"Mama nggak siap Mel, Mama nggak bisa melihat kamu disakiti oleh Indra lagi."
"Hiks...hiks... sudah cukup Mel penderitaan kamu. Mama dan Alfa hanya ingin melihat kamu dan Arsy itu bahagia."
Anin melihat Mama Ani menangis dia memeluknya, dengan mengusap punggungnya mencoba menenangkan Mama mertuanya itu.
Amel terdiam menerawang ke depan kalau dia mengingat rasa sakitnya jujur dirinya juga tak sanggup tetapi tidak mungkin dia egois menyembunyikan semuanya dari anak semata wayangnya.
Saat suasana hening ponsel Anin di saku berdering, dia mengambilnya dan melihat nama suaminya tertera di layar dan panggilan yang masuk panggilan video call.
"Sebentar ya Ma, Mas Alfa video call."
Anin menjauh dari ruang tamu karena dia tidak mau Alfa tahu jika Mama dan Kakaknya sedang berdebat masalah Indra.
" Assalamualaikum Mas."
"Waalaikumsalam sayang."
Wajah Alfa tersenyum nampak background adalah ruang kerjanya.
" Mas sudah sampai."
"Sudah Sayang, lagi apa."
"Anin baru selesai di dapur Mas bantu Bibi."
Bohong Anin, dia memang sengaja duduk di ruang makan.
"Jangan capek - capek Sayang."
"Iya Mas."
"Mama kemana nggak kelihatan."
"Ada Mas baru aja masuk kamar."
Kata Anin dengan tersenyum supaya suaminya percaya.
"Udah dulu ya Sayang, Mas kerja dulu biar cepet pulang."
Anin terkekeh baru juga keluar dari rumah udah mau pulang aja suaminya.
"Iya Mas, jangan lupa sholat ya Sayang."
"Iya Sayang, Miss You. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam Mas."
Setelah panggilan video call selesai Anin kembali ke ruang tamu dimana Mama Ani dan Kak Amel masih saling diam di sana.
"Ma.."
Amel mendekat ke Mamanya tapi Mama Ani memang belum bisa menerima apa yang diinginkan oleh Amel.
"Mama pusing, antar Mama ke kamar Anin."
"Iya Ma."
Anin mengantar Mama Ani ke kamarnya, setelah Mama Ani beristirahat, Anin keluar dari kamar menemui Amel yang masih ada di ruang tamu.
"Mama sudah tidur Anin."
"Sudah Kak, Kak Amel lebih baik istirahat jangan terlalu dipikirkan dulu mungkin Mama butuh waktu."
"Kakak nggak bisa diam terus Anin, Mas Indra pasti akan terus berusaha bagaimana bisa menemui Arsy."
"Apa Mas Indra pernah menghubungi Kak Amel."
Amel menggelengkan kepalanya, Dia memang sudah berganti nomor ponsel jadi Indra tidak mengetahuinya.
"Anin.. Tolong bantu bicara ke Alfa ya."
Anin tersenyum.
__ADS_1
"Anin usahakan ya Kak, tapi sebenarnya Anin juga takut Kak. Kemarin Anin sudah pernah menyinggung soal ini untuk membicarakannya secara kekeluargaan tapi raut muka Mas Alfa langsung berubah, Anin takut Kak sama Mas Alfa kalau marah."
"Ya udah Anin nanti Kakak juga akan bicara dengan Alfa."
"Iya Kak, Anin juga akan bantu bicara pelan - pelan ya Kak."
"Iya makasih Anin."
Hari semakin siang, Mereka beristirahat di kamar masing - masing.
Hingga tak terasa sore telah tiba Anin tadi tidur siang sebentar setelah berkabar dengan Alfa, adzan Ashar berkumandang dia segera mandi dan setelah itu ke dapur ingin mempersiapkan menu makan malam.
Anin turun dari kamarnya melihat Amel sedang menemani Arsy menggambar di ruang keluarga.
"Bunda..."
Arsy memanggilnya, dan Anin mendekat kepadanya.
"Sayang, lagi buat apa."
"Gambar ikan Bunda."
"Ikannya cantik ya warnanya pink."
"He he he... Iya Bunda cantik kaya Arsy."
Anin mengedarkan pandangannya dia tak melihat Mama Ani.
"Mama belum keluar Kak."
Tanya Anin ke Amel.
"Belum Anin, tolong kamu lihat ya Anin kalau Kakak yang masuk kayaknya Mama masih marah karena omongan Kakak tadi pagi."
"Iya Kak."
Anin beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kamar Mama Ani.
Anin mengetuk pintu Kamar Mama Ani.
"Ma.. ini Anin, boleh Anin masuk Ma."
"Masuk lah Sayang."
Anin membuka pintu kamar Mama Anin setelah mendapat jawaban dari dalam.
"Ma.."
Anin mendekati Mamanya yang duduk di sofa menghadap ke jendela.
"Sini Sayang."
Anin duduk di samping Mama Ani yang sedang memegang album di tangannya.
"Mama lagi apa."
"Mama lagi melihat - lihat kenangan dulu waktu Arsy masih bayi."
Anin memperhatikan foto di pangkuan Mama Ani.
"Itu Arsy Ma."
"Iya, ini Arsy yang baru lahir. Kita semua bahagia Anin saat kelahiran cucu pertama kami."
Mama Ani mengusap foto itu.
"Lucu ya Ma, Arsy terlihat menggemaskan."
Mama Ani tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Lalu Anin melihat ada seorang laki-laki yang berdiri di samping Kak Amel.
"Itu pasti Papanya Arsy." dalam hati Anin, dia tidak berani mengatakannya kepada Mama Ani namun waktu itu sekilas melihat wajah laki-laki itu.
__ADS_1
"Semuanya berubah Anin, saat Kakak kamu mengalami kecelakaan saat Mereka akan ke acara teman kantornya Indra."
Terdengar berat suara Mama Ani menceritakan itu.
"Untung waktu itu Arsy tidak Mama ijinkan untuk ikut, Mama... hiks..hiks..." Mama Ani menangis mengingat kejadian itu dan tak sanggup lagi bercerita.
Anin mengusap punggung Mama Ani untuk menenangkannya. Hingga beberapa menit Mama Ani akhirnya merasa tenang dan menarik nafasnya.
"Maafkan Mama ya Sayang."
Anin tersenyum, "Nggak papa Ma."
"Keluar yuk Ma, Anin mau masak buat makan malam. Nanti kalau Mas Alfa pulang melihat Mama sedih begini malah curiga dia, tadi Anin sudah bohong Mas Alfa nanyain Mama kemana, Anin bilang Mama lagi istirahat."
"Maafin Mama ya Sayang, kamu jadi bohong sama Alfa kalau dia tau nanti bisa marah dia."
"Nggak papa Ma, kita keluar yuk Ma. Anin mau diajarin masak sama Mama menu kesukaannya Mas Alfa."
Mama Ani tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian meletakkan album itu kembali di atas meja.
"Yuk kita masak sayang."
Mereka berdua keluar dan Amel melihatnya pun tersenyum.
"Makasih Anin." Ucapnya dalam hati.
Mama Ani dan Anin ke dapur Mereka akan mempersiapkan menu istimewa untuk makan malam.
Anin melihat jam dinding, waktu menunjukkan sebentar lagi adzan maghrib.
"Kenapa Anin." Tanya Mama Ani melihat dia tau menantunya itu menunggu suaminya pulang.
"Nggak papa Ma." Anin tersenyum.
"Ke depan sana, sebentar lagi suami Mu pulang."
Anin tersenyum malu ternyata Mama Ani tahu apa yang ada di dalam hatinya.
"Anin tinggal nggak papa Ma."
"Nggak papa Sayang, Mama juga mau siap-siap untuk sholat maghrib."
"Iya Ma."
Anin ke depan dia ingin menyambut kepulangan suaminya dari kantor.
"Bunda.." Arsy merengek mau ikut.
"Yuk Sayang, kita tunggu Papa pulang."
Anin menggendong Arsy dan Mereka depan, saat sampai pintu terdengar suara mobil Alfa yang baru saja datang.
"Papa, pulang Bunda."
"Iya Sayang, turun ya sambut Papa."
Arsy turun dari gendongan Anin, mereka berdua tersenyum melihat Alfa berjalan ke arah mereka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Anin meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya, begitu pula Arsy. Alfa tak lupa juga mengecup kening istrinya.
"Sini jas nya Mas."
Anin meminta jas suaminya.
"Yuk masuk Sayang."
Alfa menggandeng tangan Anin dan yang satu membopong Arsy.
😉😉😉😉😉
__ADS_1