KOPI CINTA

KOPI CINTA
06


__ADS_3

Alfa, Amel, Mama Ana beserta Arsy sedang menikmati makan malam bersama.


Tak ada obrolan di antara mereka hanya dentingan sendok dan garpu yang berada di atas piring.


"Ma... Mau ayam lagi."


Arsy memecahkan keheningan di antara mereka.


"Iya Sayang, makannya pelan - pelan ya."


Amel dengan telaten melayani putri kecilnya itu yang berusia 3 tahun.


"Papa nggak di kasih Sayang."


Alfa suka menggoda memang, kadang hingga membuat Arsy menangis.


"Ndak.. Boleh."


Arsy menggelengkan kepalanya dan melotot ke arah Andre.


"Sayang nggak boleh gitu, nanti nggak diajak papa jalan - jalan lho..."


Arsy memanyunkan bibirnya membuat Alfa tertawa.


"Papa kuncir ya kalau manyun kayak gitu."


"Papa jahat Ma..."


Arsy sudah mau menangis.


"Sudah habiskan dulu makannya."


Oma Ana menengahi mereka kalau nggak si Arsy Sudah benar-benar menangis.

__ADS_1


Setelah Mereka menghabiskan makan malamnya mereka duduk bersama di ruang keluarga sambil menikmati tontonan televisi.


Arsy dengan lincah mengambil buku bergambar nya dan memang iya senang mewarnai sambil ditemani Mamanya yang duduk di atas kursi roda sedangkan Alfa dan Mama Ana duduk santai di sofa.


"Alfa..."


Mama Ana menepuk lengan anak bungsunya itu.


"Ya Ma, ada apa."


Alfa serius menatap kearah Mamanya.


"Mama mau bicara."


"Iya Ma, bicara saja sepertinya penting sekali."


"Mama ini sudah tua, Mama mau melihat kamu bahagia bersama dengan pasangan hidup kamu Alfa."


Alfa menghela nafasnya dia sudah paham Ke mana arah pembicaraan Sang Mama.


Mama Susi menggenggam tangan Alfa.


"Mama bener Dek, Mau sampai kapan kamu termenung seperti ini. Kasihan Mama, Mama juga mau menimang cucu dari kamu."


Nasehat Kakaknya Amel yang sudah sering mengingatkan Alfa untuk menikah dan bangkit dari masa lalunya.


Alfa menggenggam tangan Sang Mama.


"Nanti Ma, kalau Alfa sudah menemukan yang pas hati."


"Jangan lama - lama Mama sudah semakin tua."


"Mama kenapa bicara begitu, Mama akan melihat dan menimang cucu dari Alfa."

__ADS_1


Alfa mencium tangan Mamanya yang sangat ia cintai.


"Jangan lama - lama ya, Mama udah mau punya cucu dari kamu."


" Memangnya semudah itu cari istri Ma."


Alfa menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Kakak juga mau melihat keponakan Kakak lahir biar Arsy ada teman mainnya."


"Kalau Alfa menikah siapa yang membantu Kakak nanti."


Memang selama ini Alfa yang menjadi tumpuan para perempuan di rumah itu saat Papanya mulai sakit - sakitan.


"Kamu nggak usah mikirin Kakak, Kakak bisa sendiri mengurus diri Kakak."


Amel meyakinkan adiknya itu.


Semenjak kejadian yang membuat Amel tak bisa berjalan untuk selamanya, Alfa semakin protektif dengan Kakaknya.


Dia nggak mau Kakaknya tersakiti lagi dan terpuruk kembali hingga Alfa pun yang menjadi sosok Papa untuk Arsy keponakan tercintanya yang di tinggalkan Papanya karena lebih memilih perempuan lain yang sempurna.


"Kak Amel itu tanggung jawab Alfa selama Kakak belum menemukan laki-laki yang tepat menurut Alfa yang bisa menerima Kakak dan juga Arsy."


Alfa memang selalu kekeh dengan pendiriannya jika menyangkut Sang Kakak.


Dia sangat sakit hati setelah Sang Kakak mengalami kecelakaan dengan suaminya dan menyebabkan Kak Amel harus lumpuh dan seumur hidupnya harus menerima jika dirinya tidak bisa berjalan lagi, yang lebih menyakitkan suaminya pun lebih memilih wanita lain yang lebih sempurna dan tidak menghiraukan Amel beserta anaknya.


Arsy saat itu masih berusia 4 bulan saat kejadian itu terjadi, hingga Dia belum bisa mengenali siapa Papanya hingga Alfa lah yang menjadi seorang Papa baginya.


"Kakak bisa Al, Kakak bisa hidup sendiri kamu harus memikirkan diri kamu juga jangan mikirin kakak dan mama terus."


"Beri waktu Alfa Kak, untuk bisa menemukan sosok yang tepat bisa mendampingi Alfa dan tidak meninggalkan Alfa lagi."

__ADS_1


😢😢😢😢😢


__ADS_2