KOPI CINTA

KOPI CINTA
45


__ADS_3

Pagi ini Anin akan berangkat kerja, Dia sudah siap tinggal membenarkan jilbabnya saja.


Dia keluar dari kamar menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya.


"Ayo Kak sarapan dulu."


"Iya Ma."


Anin nggak lupa sudah membuatkan kopi kesukaan Papanya, dan segera sarapan dia tidak mau berangkat ke kantor kesiangan.


"Kakak di jemput."


Tanya Papanya.


"Nggak Pa, Anin gak mau dijemput sama Mas Alfa, malu Pa."


"Kenapa Kak." Tanya Mamanya.


"Mama nggak tau sih, satu kantor sudah heboh mereka semua sudah tahu kedekatan Anin sama Mas Alfa."


"Bagus dong Sayang, jadi nggak akan ada yang mengganggu Alfa di kantor."


"Iya Ma nggak ganggu Mas Alfa, tapi mereka malah mengganggu Kakak."


"Kamu diapakan sama Mereka."


" Itu Ma mereka kalau bicara mulutnya pedes banget, masa Kakak dibilang memakai ajian supaya Mas Alfa lengket sama Kakak."


"Biarin aja mereka iri sama kamu Kak."


"Iya Ma. Pa, Anin bareng malas naik taksi."


Anin belum diperbolehkan oleh kedua orang tuanya untuk naik sepeda motor sendiri apalagi kalau sampai Alfa melihat Anin naik sepeda motor bisa dijemput setiap hari.


"Oke. Ayo Kak berangkat."


Anin dan Papa pamitan dengan mama kemudian mereka berangkat.


Suasana lalu lintas belum terlalu padat karena Papa bersama dengan Anin berangkat pagi memang sengaja untuk menghindari kemacetan.


"Kak, nanti kalau Papa enggak bisa jemput kamu naik taksi aja ya atau minta antar aja sama Alfa."


"Kakak naik taksi aja Pa."


"Ya sudah, yang penting kamu hati-hati."


Anin turun di depan kantor dia berpamitan dengan Papanya dan tak lupa mencium punggung tangannya.


"Anin duluan Pa, Papa hati - hati."


"Iya Kak, kamu juga hati-hati kalau kerja."


"Iya Pa, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Anin menutup pintu mobil kemudian berjalan menuju lobi kantor. Dia langsung memencet tombol lift menuju ke dalam ruangannya.


"Untung masih sepi."


Anin semenjak kejadian kemarin lebih senang menghindari karyawan lain untuk meminimalisir telinganya mendengarkan ucapan-ucapan yang tidak penting.


🌹🌹🌹🌹🌹


Di sebuah ruangan terdapat seorang perempuan yang duduk di kursi kebesarannya.


tok ...tok...


"Masuk."


"Siang Bu Siska."


"Iya Lisa, ada apa."


Lisa sekertaris pribadi Siska.


"Ini bahan meeting bersama direksi Bu."

__ADS_1


Lisa memberikan berkas yang ia bawa dan meletakkannya di hadapan Siska.


"Oke, Pak Alfa gimana sudah siap."


"Sepertinya masih di ruangannya Bu belum keluar."


"Ada kabar apa selama saya di luar kota." Siska memang beberapa hari yang lalu meninggalkan kantor untuk menjalankan tugas di luar kota.


"Kabar heboh Bu."


"Kabar heboh, apa Lisa. Kabar mengenai apa ini."


"Pak Alfa Bu."


Siska langsung membenarkan duduknya dia sangat antusias mendengarkan cerita jika mengenai Alfa.


"Ada kabar apa."


"Pak Alfa menggandeng karyawan di sini."


"APA..!!!"


Siska berdiri dan suaranya terdengar keras hingga Lisa pun kaget.


"Bikin kaget aja Bu Siska ini."


Lisa mengusap dadanya.


"Siapa karyawan itu "


" Sepertinya Dia karyawan yang Bu Siska tabrak waktu itu." Terang Lisa membuat Siska semakin meradang.


"Beraninya dia mendekati Alfa. Tak seorangpun yang akan bisa mendapatkan Alfa selain diriku."


Ucap Siska geram sambil mengepalkan tangannya di atas meja.


"Mereka terlihat mesra Bu, waktu itu diajak makan siang sama Pak Alfa."


"Belum tau siapa Siska. Mau cari masalah Dia."


Teriak Siska.


"Baik Bu, segera laksanakan."


Lisa langsung meninggalkan ruangan Siska untuk menjalankan perintahnya.


"Ahh.. Alfa kamu mau perang sama Aku, lihat saja sampai mana kalian bisa bertahan."


Siska benar - benar geram.


"Ahh.."


Masih emosi saja Siska mendengar kabar kedekatan Alfa dengan karyawan di kantor itu.


"Tapi aku harua tetap manis di depan Alfa, ya seolah aku orangnya baik dan tak masalah Alfa mau dekat dengan siapapun." Siska memang licik.


Siang itu Alfa dan Siska harus meeting bersama Direksi, dan seperti biasa Siska akan menemui Alfa di ruangannya.


"Pak Alfa ada."


Siska di depan ruangan Alfa dan bertanya ke Rina sekertaris Alfa.


"Ada Bu."


Siska mengetuk pintu dan kemudian masuk setelah Alfa mempersilahkannya masuk.


"Siang Pak Alfa, sudah siap untuk meeting."


Dengan sok manis dan manja Siska mendekati Alfa yang duduk di kursinya.


"Mari Bu Siska."


Siska akan menyentuh pundak Alfa namun dia langsung menghindar dengan berdiri dan meninggalkan Siska.


"Ish .. Tenang Siska."


Ucapnya sambil memandang punggung Alfa yang berjalan menuju ke pintu.

__ADS_1


"Tunggu Pak Alfa."


Siska mengikutinya.


Alfa tetap tidak menggubrisnya, Dia keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke lift sedangkan Siska mengikutinya dari belakang dengan berjalan cepat.


Rina yang melihatnya menutup mulutnya untuk menahan tawa.


"Ngapain kamu Rina."


Lisa yang melihat Rina menutup mulutnya dia merasa curiga.


"Nggak papa emang kenapa Lisa."


"Awas ya kalau kamu mencari masalah."


Ancam Lisa, memang kelakuannya tidak jauh beda dari Siska.


"Kepo deh " Ledek Rina.


Hari ini Alfa memang sangat sibuk tadi pagi sudah meeting dengan Kepala Divisi dan siang ini ada meeting lagi dengan direksi sampai dia belum menghubungi Anin sama sekali.


Di ruangan Anin juga disibukkan dengan pekerjaannya hingga tidak menyentuh ponselnya sama sekali.


Hingga waktu istirahat pun tiba Anin diajak Miss Salsa untuk menuju ke kantin mengisi perut mereka.


"Miss, aku takut."


"Anin, mau sampai kapan kamu menghindar dari mereka. Biarin aja mereka bicara apa tentang kamu tapi kalau capek mereka juga diam sendiri." Kata Miss Salsa yang mencoba menguatkan Anin untuk bisa menghadapi para netizen.


"Tapi Miss."


"Udah Anin, ayo sama aku kalau mereka berani macam-macam hadapi Miss Salsa."


Salsa berani pasang badan membantu Anin.


"Makasih Miss."


Mereka berdua berjalan menuju ke kantin memang benar sekarang mereka jika bertemu dengan Anin memandangnya dengan tatapan yang berbeda.


Miss Salsa mengusap lengan Anin, untuk menenangkannya jangan terpancing emosi.


"Kita duduk sana Anin."


"Iya Miss."


Mereka duduk disudut kantin yang masih kosong.


"Anin, kita itu tidak akan bisa mengatur ucapan mereka tetapi kita bisa mengatur diri kita untuk menanggapi ucapan mereka."


Nasehat Miss Salsa.


"Iya Miss, makasih ya selalu ada buat Anin."


Miss Salsa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu itu sudah aku anggap seperti adik aku sendiri, Anin."


"Makasih Kakak."


Mereka berdua tertawa.


Saat menikmati makan siang Anin merasakan ponsel di dalam sakunya bergetar.


"Siapa.? Pak Alfa.?"


Miss Salsa melihat Anin serius sekali memandang ponselnya.


"Bukan Miss, nggak ada namanya ini."


Anin membuka pesan itu dan membacanya.


"Jauhi Alfa atau Dia akan menanggung akibatnya."


Anin terdiam membaca itu.


😱😱😱😱😱

__ADS_1


Siapa, peneror ini..???


Terus bagaimana kelanjutan hubungan Alfa dan Anin apakah mereka akan berlanjut sampai menikah.. 🤫🤫🤫


__ADS_2