
Pagi yang cerah nampak seorang laki-laki yang duduk di taman belakang rumahnya sedang melamun sesuatu.
"Kamu kenapa Dra."
Papanya mendekatinya karena semenjak kemarin pulang dari rumah Amel wajahnya lesu.
"Pa, Indra nggak papa kok."
Bohong pastinya Indra karena tidak mau membuat Papanya khawatir.
"Kamu bisa menjawabnya dengan berbohong tapi Papa tahu, kamu menyembunyikan sesuatu dari Papa."
Indra menghela nafasnya memang tidak mudah membohongi orang tuanya.
"Kamu mikirin Arsy."
Papa Gunawan menelisik wajah anaknya itu.
Indra pernah cerita kepada Papanya tentang niat baiknya untuk mengajak Amel rujuk walaupun sebenarnya Papa Gunawan sudah memperingatkan dia jika akan sulit untuk merayu Mama Ani yang sudah terlanjur sakit dengan perbuatan keluarga mereka.
"Papa benar sepertinya tantangan terbesar Indra Mama Ani."
Papa Gunawan merangkul pundak putranya.
"Ini semua memang salah Papa sama Mama, yang dulu tega memisahkan kamu dengan anak dan istrimu. Maafkan Papa ya Dra, juga maafkan almarhum Mama kamu."
"Papa jangan ngomong kayak gitu, ini memang sudah garis hidup yang harus Indra jalani."
"Seandainya dulu Papa bisa mencegah Mama kamu untuk berbuat seperti itu, pasti kamu hari ini hidup bahagia dengan istri dan anak kamu."
"Sekarang doakan Indra saja ya Pa, supaya bisa merebut hati Mama Ani lagi. Karena Indra bisa menangkap raut muka ketidaksukaan Mama Ani kepada Indra."
"Papa akan selalu mendoakan kamu dan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan kamu."
"Makasih Pa."
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Berbeda suasana pagi di rumah Mama Ani, Arsy mengamuk karena menginginkan Papanya ada di sana.
"Papa...Papa..."
Pengasuhnya tak bisa mengatasi hingga Alfa mendekat setelah berolahraga.
"Arsy kenapa Sayang." tanya Alfa ke Anin.
"Dia mau sama Papanya, Mas."
Alfa berjalan ke arah kamar Arsy yang masih menangis.
"Sayang, kenapa Sayang."
Alfa mengusap kepala Arsy dan Dia langsung mau minta gendong dengan Alfa.
"Papa, Indra kemana Pa."
Katanya sambil masih terisak di pundak Alfa.
"Tadi malam kan Papa Indra pamit untuk pulang, mungkin nanti siang Papa Indra ke sini lagi kenapa harusnya nangis, Arsy kan sudah besar nggak boleh nangis."
"Kenapa, Papa Indra nggak tidur di sini Pa."
Alfa memandang ke arah Amel seakan ia meminta jawaban apa yang tepat untuk menjawab Arsy.
"Papa Indra, punya rumah jadi Papa Indra harus pulang."
"Rumah Papa Indra sini aja Pa."
"Sudah, ah... Arsy sudah besar jangan nangis nanti Papa panggilkan Papa Indra ke sini ya." Bujuk Alfa dan sontak Mama Ani pun menatapnya.
Alfa faham apa maksud dari tatapan Mamanya itu.
"Papa janji ya.. Papa Indra ke sini."
"Iya Sayang, nanti Papa sampaikan ke Papa Indra ya."
__ADS_1
Arsy mengangguk lalu mau ikut pengasuhnya untuk mandi.
Mama Ani keluar dari kamar Arsy dan Alfa mengikutinya.
"Ma..." Panggil Alfa.
"Kenapa."
Mama Ani berjalan ke arah dapur untuk mempersiapkan sarapan bersama Anin.
"Alfa mau bicara sebentar Ma."
Mama Ani duduk di kursi depan meja makan dan Alfa pun mengikutinya.
"Ma, apa mama tega setiap hari melihat Arsy seperti itu menangisi Papanya."
"Nanti juga lupa sendiri itu karena kemarin Indra aja dari sini jadi, Arsy ingin lagi dia datang."
Alfa menghela nafasnya.
"Ma, tidak baik menyimpan dendam. Apalagi ini demi kebahagiaan cucu Mama."
"Mama masih NGGAK BISA MENERIMA FA!!!.. " Suara Mama terdengar keras hingga Anin yang sedang membuat minum kaget mengusap perutnya.
"Ma..."
Mama Ani langsung pergi ke kamarnya.
"Mas, sudah biarkan Mama berpikir dulu."
"Kamu kaget ya Sayang."
Alfa mengusap perut istrinya.
"Nggak papa Mas, yuk ke kamar Mas udah siang. Mas Alfa harus siap-siap ke kantor."
"Iya Sayang, ayo..."
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju ke kamar dengan Alfa memeluk pinggang Anin.
🙂🙂🙂🙂🙂