
Selang satu Minggu pernikahan kembali antara Amel dan Indra, Arsy sangat senang karena kini kedua orang tuanya bisa berkumpul dan bisa menemaninya bermain dan tidak lagi terpisahkan oleh jarak.
Indra berencana memboyong istri dan anaknya untuk tinggal di rumahnya karena Mama Ani akan menjadi tanggung jawab Alfa.
Indra semalam sudah berbicara dengan seluruh anggota keluarga, tentu saja yang merasakan sangat berat adalah Mama Ani karena di dalam lubuk hatinya masih ada sedikit trauma.
Kalau Alfa sendiri sudah menyerahkan semuanya keputusan kepada Kakaknya, jika memang itu yang lebih baik Alfa mengiyakan saja.
Indra sendiri sudah bicara secara pribadi dengan Alfa, untuk melarangnya pun Alfa sudah tidak mempunyai hak karena Indra sudah menjadi suami Amel.
Hanya saja Alfa berpesan untuk tidak mengulanginya lagi kesalahan yang pernah Indra lakukan dulu kepada Amel, jika itu terjadi Alfa tidak segan-segan untuk membawa kasus ke ranah hukum.
Indra cukup bisa meyakinkan Alfa kembali jika dia tidak akan mengulanginya, dan Alfa pasti memegang janji Inggris bagi seorang laki-laki.
Mama Ani masih berat untuk melepas putri dan cucunya ikut bersama suaminya. Tetapi mau bagaimana lagi itu sudah hak Indra untuk membawa istri dan anaknya.
Rencana perpindahan mereka Mama Ani meminta untuk menunggu setelah Anin melahirkan dan itu di iyakan oleh Indra. Usia kandungan Anin juga sudah memasuki usia 9 bulan dan tak akan lama lagi akan melahirkan
Pagi hari seperti biasa Alfa sudah bersiap untuk ke kantor, Anin mempersiapkan semua keperluan suaminya tanpa merasa malas walaupun perutnya sudah membesar.
"Sayang.."
Alfa mencari istrinya karena dia keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan Anin.
"Iya Mas, ada apa kok teriak."
Anin keluar dengan membawakan dasi serta jam tangan milik suaminya.
"Mas sudah bilang kamu duduk aja, Mas bisa ambil sendiri."
__ADS_1
Alfa udah ngomel dan menghadiri Anin lalu mengajaknya duduk saja.
Tapi Anin malah tersenyum saja, melihat suaminya yang khawatir.
"Anin bisa kok Mas, nggak berat juga."
"Sayang, nggak boleh bantah. Nurut sama Mas." Alfa sudah menatapnya dengan serius kalau begitu Anin sudah nggak berani bercanda lagi.
"Iya, maaf Pa.."
Sengaja Anin kini mulai terbiasa memanggil suaminya dengan sebutan Papa.
Alfa tersenyum mengusap perut Anin.
"Papa, udah nggak sabar Bunda mau jumpa jagoan kita." di kecupnya perut Anin.
"Sebentar lagi Pa, kita jumpa."
"Iya, Bunda duduk aja nggak boleh bangun tunggu Papa selesai ganti baju dulu."
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja, memandangi suaminya bersiap.
Alfa sesekali juga ngelempar senyum ke arah istrinya.
"Aduh... Ish .."
Suara Anin membuat Alfa kaget dan langsung mendekatinya.
"Sayang, kenapa."
__ADS_1
Anin mengusap perutnya yang terasa kencang.
"Kencang Mas, perutnya."
"Mau melahirkan ya Sayang, kita ke rumah sakit sekarang."
Alfa nampak bingung melihat Anin meringis.
"Huh...." Anin mengatur nafasnya.
"Nggak papa Mas, ini udah hilang rasanya."
"Sayang, Mas khawatir. Kita ke rumah sakit."
"Nanti Mas, jadwal melahirkannya kan juga masih satu minggu lagi. Mungkin adiknya lagi gerak aja."
Anin kelihatan sudah membaik.
"Sayang, Mas nggak usah ke kantor ya."
"Mas ke kantor aja, Anin nggak papa Kok. Ada Mama di rumah."
Anin berusaha meyakinkan suaminya Kalau dia baik-baik saja.
"Yakin Sayang..."
Alfa masih tidak tega untuk meninggalkan istrinya.
"Iya, nggak papa Mas. Ini udah baik kok." Anin mengusap - usap perutnya, namun dia sebenarnya juga khawatir karena baru kali ini merasakan perutnya kencang tapi pesan dokter kemarin bisa saja kontraksi palsu.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹