KOPI CINTA

KOPI CINTA
110


__ADS_3

Pagi hari setelah berolahraga ringan bersama istrinya Alfa membersihkan diri di dalam kamar mandi karena akan berangkat ke kantor.


Anin sedang mempersiapkan baju ganti suaminya kemudian dia mendengar ponsel milik Alfa di atas meja itu berbunyi.


"Siapa sih."


Anin menghampiri ponsel Alfa dan melihat nomor yang tak ada namanya sedang memanggil.


"Siapa ini, kok nggak ada namanya."


Anin juga tak berani mau mengangkat ponsel suaminya.


"Biarin aja deh."


Anin meninggalkan ponselnya Alfa di meja begitu saja dan menuju ke ruang ganti kembali untuk mengambilkan dasi.


Alfa telah selesai dan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan mengenakan handuk yang diikat di pinggangnya.


"Sayang."


Alfa memanggil istrinya yang tak terlihat di kamar.


"Iya Mas."


Anin datang sambil tersenyum dia baru keluar dari ruang ganti dengan membawakan dasi untuk Alfa.


"Ada apa Mas, teriak - teriak."


Alfa tersenyum dan malah memeluk istrinya itu.


"Basah Mas, buruan ganti baju udah siang."


"Mau peluk dulu."


Alfa malah meletakkan kepalanya di pundak Anin dan memeluknya erat sambil mengusap perutnya.


"Udah siang ditunggu Mama sarapan."


"Iya.. Bunda gimana sih kan Papa mau peluk kamu ya Sayang."


Alfa berbicara dengan calon anaknya yang ada di perut Anin.


"Ini peluk Bundanya, buka peluk anaknya."


"Anaknya kan ada di dalam perut Bunda."


Anin terkekeh sendiri kenapa suaminya jadi manja kayak gini.


Saat mereka sedang asyik ponsel Alfa berdering lagi.


"Ada telepon lagi Mas, tadi juga ada yang telepon tapi enggak ada namanya Anin enggak berani ngangkat."


Alfa melepaskan pelukannya kemudian menghampiri ponselnya.


"Ini juga nggak ada namanya sayang sepertinya ini nomor semalam."


"Penting kali mas sampai telepon beberapa kali dari semalam."


"Nanti aja Sayang."


Alfa meletakkan ponselnya kembali dan kemudian segera berganti baju.


Anin membantu suaminya merapikan bajunya kemudian memasangkan dasi di leher Alfa.


"Makasih Sayang."

__ADS_1


Sebuah hadiah kecupan manis mendarat dibibir Anin.


"Yuk sarapan Mas."


"Iya Sayang."


Alfa menggandeng tangan Ani dan keluar dari kamar yang menenteng jas milik suaminya.


Mama dan Kak Amel sudah menunggunya di meja makan, sedangkan Arsy disuapi oleh pengasuhnya sambil menonton televisi.


"Makan sama apa Sayang."


Alfa gemas mencium pipi mungil Arsy.


"Papa... Sama ayam."


"Hati-hati jangan suka makan ayam terus."


"Kenapa Pa."


"Nanti berkokok lho.. kukuruyuk.." Alfa iseng sekali dan malah membuat Arsy berdiri di sofa dan menirukan suara.


"Mas.. Ayo sarapan."


Alfa meninggalkan Arsy yang masih menirukan suara ayam menuju ke meja karena sudah dipanggil istrinya.


"Kamu ajarin Arsy apa sih Fa." Kata Kak Amel.


"Suara ayam Kak."


"Dia pasti meniru itu."


"He he he... Biarin Kak."


Anin membuatkan kopi spesial untuk suaminya dan menghidangkannya di depannya.


"Lebay.." Ledek Amel.


"Sirik ya." Alfa nggak mau kalah sama kakaknya.


"Sarapan Mas."


"Iya Sayang Ku."


Mereka menikmati sarapan pagi itu bersama dengan hidangan yang spesial dimasak oleh Mama Ani. Setelah menghabiskan makanannya Alfa pun berpamitan dengan Mama dan juga Kakaknya.


Alfa menuju ke depan bersama istrinya dan juga Arsy yang selalu ngikut.


"Mas berangkat ya sayang."


Alfa mengecup kening istrinya kemudian berganti ke perut Anin dan juga si kecil Arsy.


"Arsy kalau sama Bunda nggak boleh nakal ya, jangan minta gendong karena di perut Bunda ada Dedek bayinya."


"Iya Pa, ada dedek Bayi."


Arsy mengusap perut Anin seperti yang Alfa lakukan.


"Hati - hati ya Mas."


Anin meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Iya Sayang. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam Papa."

__ADS_1


Anin dan Arsy melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil Alfa yang meninggalkan halaman rumah.


Saat perjalanan menuju ke kantor lagi-lagi ponsel Alfa pun berdering lagi namun dia tidak menggubrisnya karena sedang menyetir.


Sesampainya di kantor seperti biasa Alfa memberikan kunci mobilnya kepada Pak Agus yang bertugas pagi itu.


"Pagi Pak Alfa."


"Pagi Pak Agus, sehat Pak."


" Alhamdulillah sehat Pak Alfa, Bu Anin gimana Pak sehat lama tidak melihat Bu Anin ke sini."


Maklum saja Pak Agus dulu itu dekat dengan Anin suka menyapanya setiap berangkat dan pulang kerja jadi Alfa juga menganggap biasa saja jika Pak Agus menanyakannya.


" Alhamdulillah istri saya sehat Pak, sekarang sedang mengandung jadi banyak istirahat di rumah."


" Alhamdulillah Bu Anin sudah hamil saya ikut senang Pak."


"Makasih nanti saya sampaikan ke istri saya. Saya masuk dulu Pak Agus."


"Silahkan Pak Alfa."


Pak memandang tubuh bos nya itu yang masuk kedalam lobby kantor dengan tersenyum.


"Pak.. Kenapa."


Miss Salsa yang melihat Pak Agus tersenyum sendiri sambil memandang Alfa jadi merasa kepo.


"Mbak Salsa, he he he... nggak papa Mbak. Saya senang barusan dapat kabar dari Pak Alfa kalau Bu Anin sudah hamil."


"Alhamdulillah beneran Pak, Wah saya jadi ikut senang. Nanti saya akan telepon Anin Pak. Makasih ya Pak Agus Saya permisi."


"Baik Mbak Salsa."


Sedangkan Alfa sudah sampai di depan ruangannya dan sedang menanyakan jadwal kepada Rina namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi.


"Siapa sih."


Alfa melihat ponselnya dan lagi-lagi nomor itu yang menghubunginya sejak semalam.


" Siapa sih ini sebenarnya."


"Kenapa Pak."


Rina bertanya kepada Alfa tahunya Alfa itu bicara dengan dirinya.


"Nggak papa Rina, segera bawa masuk ke dalam laporannya."


"Baik Pak."


Alfa masuk ke dalam ruangannya sambil masih memegang ponselnya.


"Siapa ya, aku jawab aja kali ya."


Alfa pun menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Terdengar suara laki-laki yang menelepon Alfa.


"Maaf dengan siapa."


"Ini Alfa."

__ADS_1


😉😉😉😉😉


Siapa Hayoooo


__ADS_2