KOPI CINTA

KOPI CINTA
54


__ADS_3

Alfa membawa Anin keluar dari cafe dengan menggandeng tangannya.


Mobil Alfa sudah di depan, Ia membukakan pintu mobil untuk Anin.


"Masuk Anin."


Anin masuk dan duduk di jog depan samping kemudi kemudian menutup pintu dan berputar membuka pintu mobil sampingnya.


"Kita kemana Mas, tadi aku sama Miss Salsa dia gimana."


Anin melihat ke arah Cafe mencari Salsa tapi nggak kelihatan.


"Kamu kirim pesan aja ke Salsa, kalau kamu pergi sama Mas."


Kata Alfa sambil menjalankan mobilnya meninggalkan Cafe.


"Kita kemana Mas."


Alfa tersenyum saja sambil berjalan ke mobilnya.


"Ikut Mas aja."


"Kita nggak balik kantor lagi Mas."


"Kamu ikut Mas aja, nggak papa nggak usah balik kantor."


"Memang kemana."


Alfa hanya tersenyum saja.


"Mas.. Kok senyum aja sih."


"Mas kangen kamu yang cerewet gitu." ucap Alfa sambil tersenyum menggoda Anin.


Anin membuang mukanya ke arah jendela dia terkesima sambil menahan senyumnya.


"Anin.."


Alfa meraih tangannya dan Anin menatapnya.


"Jangan ada lagi yang disembunyikan dari Mas ya, kamu harus cerita sama Mas. Mas minta maaf beberapa hari ini sibuk hingga jarang menghubungi kamu."


Anin menganggukkan kepalanya.


"Kamu jangan mengambil keputusan sendiri seperti kemarin, Mas sampai pusing mikirin kamu yang tiba - tiba mengatakan seperti itu."


"Mas nggak mau kehilangan kamu, Sayang." Alfa mengeratkan genggamannya di tangan Anin dengan satu tangannya memegang setir.


"Maafin Anin ya Mas, Anin bingung harus bersikap bagaimana. Anin mengapa mengambil keputusan itu supaya Mas Alfa baik-baik saja."


"Sayang, Mas baik - baik aja. Kamu jangan mengorbankan perasaan kamu sendiri."


"Anin takut jika nanti Mas Alfa kehilangan karir Mas Alfa jika masih dekat dengan Anin."


"Itu pemikiran kamu sendiri Sayang, kamu nggak usah takut walaupun nanti itu benar-benar membuat karir Mas berhenti, Mas nggak akan sedih karena sudah ada kamu di samping Mas."


"Tapi Mas sudah berjuang lama untuk bisa sampai di titik ini."


"Itu semua tidak ada apa-apanya sayang, di banding Mas kehilangan kamu."


Anin menunduk saja, merasakan betapa dirinya ceroboh mengorbankan perasaannya sendiri.


Alfa menekan klaksonnya begitu sampai di sebuah rumah yang memiliki pagar tinggi.


"Kita ke rumah Mas Alfa."


Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mama mau ketemu sama kamu, dan jika siang ini Mas nggak bisa bawa kamu ke sini Mas bakalan dimarahin sama Mama."


"Ayo Sayang turun."


Anin masih diam memandang Alfa.


"Ada apa Sayang."


"Mas, Anin penasaran Mas Alfa tahu dari mana masalah teror itu."


Alfa tersenyum dan mencubit hidung Anin.


"Tebak sendiri."

__ADS_1


Alfa membuka pintu mobil dan turun kemudian berputar untuk membukakan pintu untuk Anin.


Anin masih berfikir sebenarnya Alfa tahu darimana padahal dia cuman bercerita dengan Miss Salsa dan juga Mamanya saja.


"Sayang ayo turun, apa mau digendong."


Alfa mengulurkan tangannya untuk diterima Anin.


"Mas, dikasih tahu Miss Salsa ya."


Anin masih duduk di dalam mobil memandang Alfa.


"Ayo turun, Mas gendong nih."


"Jawab dulu."


Anin masih menunggu kejujuran dari Alfa.


"Anin Sayang, Mas nggak mungkin tinggal diam dong, Mas telepon Salsa dan dia cerita semuanya."


"Berati di kafe tadi rencana Mas Alfa sama Miss Salsa dong."


"Pintar calon istri Mas."


Alfa langsung mengangkat tubuh Anin dan menggendongnya.


"Turunin Mas."


Anin Memukul lengan Alfa.


"He he he... Mau sampai dalam juga boleh." Alfa menurunkan tubuh Anin dan menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum."


Ucap Mereka berdua.


" Waalaikumsalam, menantu Mama datang."


Mama Ani yang sudah menunggunya sejak tadi terlihat senang sekali melihat Anin datang bersama Alfa.


Anin meraih tangan Mama Ani dan mencium punggung tangannya.


Mama Ani memeluk Anin yang tersenyum.


"Ini sebenarnya anak Mama siapa sih." Protes Alfa.


"Kenapa kamu protes, ayo Anin kita masuk. Mama sudah masak spesial buat kamu."


Mama Ani menggandeng tangan Anin dan membawanya masuk ke dalam meninggalkan Alfa yang memandang mereka berdua.


"Mama kalau udah suka kayak gitu." Ucap Alfa sambil mengikuti mereka berdua masuk ke dalam.


Di meja makan sudah ada Amel yang sedang menyuapi Arsy.


"Bunda.." Arsy yang sedang duduk di kursi melambaikan tangannya ke arah Anin.


"Halo Arsy, lagi makan."


"Hmmm.. Mamam Bunda."


Anin mencium pucuk kepala Arsy.


"Kak Amel apa kabar."


Anin meraih tangan Amel dan mencium punggung tangannya.


"Baik Anin, Ayo duduk kita makan bersama."


"Iya Kak."


Alfa senang sekali melihat keluarganya bisa menerima Anin.


Mereka semua duduk di kursi dan Anin mengambilkan nasi untuk Alfa.


"Silahkan Mas."


"Makasih Sayang."


"Ciye... Udah sayang - sayangan nih." Ledek Kak Amel.


"Kak Amel kayak nggak pernah muda aja." Alfa gantian meledek Kakaknya.

__ADS_1


"Mas lauk apa."


"Itu boleh cuminya."


Anin mengambilkannya dan meletakkannya di atas piring Alfa.


"Mas mau minum apa."


"Kopi boleh."


Alfa sedang merindukan kopi buatan Anin.


"Iya Anin bikinkan, Mama sama Kak Amel mau juga."


"Mama nggak usah kan dilarang dokter untuk minum kopi." Elak Alfa.


"Iya kamu aja yang boleh."


"Ha ha ha.. Jangan marah dong Ma."


"Kak Amel mau." Tawar Anin.


"Boleh deh."


Anin segera membuat kopi untuk Alfa, Anin dan juga dirinya.


"Silahkan."


"Makasih Sayang."


Alfa langsung menyeruputnya dan memuji keenakan kopi yang dibuat oleh Anin.


Mereka siang itu bersantap makan siang bersama dengan suasana gembira. Mama Ani begitu bahagia melihat Anin yang begitu telaten melayani Alfa.


Selesai makan Anin juga tidak segan untuk membantu membersihkan meja serta mencuci piring walaupun sudah dilarang oleh Mama Ani karena sudah ada Bibi.


Selesai membantu Bibi, Anin menyusul Mama Ani dan Alfa yang ada di ruang keluarga.


"Anin kesini."


"Iya Ma."


Anin duduk di samping Mama Ani yang ingin bicara.


"Anin.. Kamu mau kan menjadi menantu Mama."


Anin memandang Alfa yang duduk tersenyum memandangnya juga.


"Anin, Mama akan sangat senang jika kamu menjadi menantu Mama dan menikah dengan Alfa."


Mama Ani menggenggam tangan Anin.


"Kamu mau kan sayang."


Anin tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya dan Mama Ani langsung memeluknya saking bahagianya.


"Makasih Sayang, besok malam Mama akan ke rumah untuk meminang kamu menjadi istri Alfa."


"Besok Ma."


"Iya Sayang, lebih cepat lebih baik."


"Anin harus bilang apa sama Mama dan Papa."


"Sini Mama kasih nomor telepon Mama kamu biar Mama yang bicara." Pinta Mama Ani.


"Iya Ma."


Alfa terlihat memandang Anin dengan penuh cinta sebentar lagi wanita yang ada di depannya itu akan menjadi miliknya seutuhnya.


"Jangan di pandang terus, luntur nanti."


Ledek Amel yang datang bersa.a Arsy.


"Bunda."


Meminta pangkuan Anin.


😁😁😁😁😁


Sudah dikasih bonus ini jangan lupa tinggalkan jejak nya ya 👍👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2