KOPI CINTA

KOPI CINTA
09


__ADS_3

"Yosi, Andi."


Panggil Lukman yang datang tergesa-gesa ke pantry.


"Kamu kenapa Man, lari - lari gitu."


Andi dan Yosi merasa heran dengan temannya satu itu.


"Gawat, kemarin aku kan izin. Siapa yang buatkan kopi Pak Alfa."


Andi dan Yosi saling pandang membuat Lukman curiga.


"Emang kenapa."


Tanya Yosi.


"Sekarang Pak Alfa minta kopi yang rasanya kayak kemarin, karena tadi saya buatkan rasanya masih kalah dengan yang kemarin. Sebenarnya siapa yang buatkan kopi kemarin, Kalian kan."


"Memang Pak Alfa bilang apa."


Gantian Andi yang tanya.


"Dia ingin kopi seperti kemarin, sekarang kalian berdua disuruh buat kopi yang rasanya seperti kemarin dan segera untuk mengantarkannya ke sana."


Andi dan Yosi saling pandang dan menelan ludahnya.


"Kenapa diam, cepetan buat sebelum Pak Alfa marah."


"Ayo Yos."


Andi menarik untuk segera membuat kopi.


Mereka berdua membuat kopi sambil berbisik-bisik dan Lukman memperhatikan mereka berdua.


"Gimana ini Yos."


Bisik Andi.


"Aku juga nggak tau, kita buat aja sepertinya cewek kemarin buat takarannya seperti ini."


" Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua."


Dalam hati Lukman sambil memperhatikan kedua temannya itu.


"Gimana sudah."


Lukman mendekati mereka berdua yang sudah mencicip kopinya.


Ekspresi Yosi dan Andi memperlihatkan sikap kopi buatan mereka tidak seenak buatan cewek kemarin.


"Kok enak buatan cewek kemarin."


Andi keceplosan.


"Apa, cewek... Kemarin, siapa."


Lukman penasaran dengan ucapan Andi.


"Nggak, nggak ada. Maksudnya kopi kemarin."


Yosi menyangkalnya sambil memberi kode kepada Andi.


"Nggak, nggak. Aku nggak salah denger Andi tadi bilang kalau kemarin itu yang membuat cewek. Siapa!."

__ADS_1


Lukman berusaha untuk mendapatkan bagaimana sebenarnya.


"Sudah katakan saja lah Yos, daripada kita kena masalah."


Pinta Andi.


"Ya terserah kamu."


Yosi menurut saja, memang bener daripada mereka berdua nanti kena masalah.


" Sudah sekarang jelasin saja."


"Oke, kita jelaskan Man."


" Jadi kemarin itu Pak Alfa minta kopi, kita berdua bingung kan yang biasanya yang buatin kopi Pak Alfa itu kamu. Tapi kan kamu kemarin izin kita berdua nggak berani mau buatin kopi Pak Alfa."


Jelas Andi.


"Terus."


Lukman ingin mendapatkan penjelasan yang sebenarnya.


"Terus, pas kebetulan ada cewek yang ke sini mau buat kopi. Kita minta tolong aja sekalian untuk buatin buat Pak Alfa tapi kita nggak bilang kalau sebenarnya kopi itu buat Pak Alfa kita bilang itu kopi buat kita berdua aja. Akhirnya di buatin sama Dia, kita juga dibuatin, tapi memang aku akui rasa kopinya enak dan nikmat, iya kan Yos."


Lanjut Andi.


"Iya memang benar kopi buatan cewek itu enak."


Yosi membenarkan ucapan Andi.


"Terus cewek itu sebenarnya siapa, karyawan sini juga."


Tanya Lukman.


"Iya, karyawan baru di sini tapi kita nggak tanya itu dia divisi mana."


"Sekarang gini aja, kita bertiga keruangan Pak Alfa sekarang dan jujur apa adanya."


Pinta Lukman.


"Kalau kita nanti kena marah bagaimana."


Yosi nggak mau kena masalah, apalagi bersangkutan dengan alfa Dia terkenal orangnya dingin dan tegas jika dan karyawan yang bersalah.


"Kita kan nggak salah tinggal bilang aja apa adanya kalau kopi kemarin itu yang buatin karyawan di sini bukan kita berdua, bereskan."


Lukman meyakinkan kedua rekan kerjanya itu lebih baik jujur daripada bohong dan akhirnya nanti malah kena masalah.


"Oke."


Ucap Andi dan Yosi, dan akhirnya mereka bertiga pun menuju ke ruangan Alfa.


Sesampainya di depan ruangan Alfa, Lukman menemui Rina yang duduk terhalang mejanya.


"Permisi Bu Rina."


"Iya, oh..Mas Lukman, gimana mas udah ditunggu Pak Alfa lho."


"Iya Bu, kami bertiga akan menghadap ke Alfa dan bercerita yang sebenarnya."


Rina mengerutkan dahinya dan menatap mereka bertiga.


" Bercerita sebenarnya?, memang sebenarnya ada apa Mas."

__ADS_1


"Kita mau mengaku Bu, sebenarnya kemarin itu yang membuatkan kopi Pak Alfa bukan mereka berdua tapi orang lain."


Jelas Lukman karena Dia tidak kena masalah.


"Orang lain?."


Rina masih tak paham.


"Iya Bu, jadi bukan diantara kita bertiga yang kemarin membuat kopi untuk Pak Alfa."


"Terus siapa."


Kemudian pintu ruangan Alfa terbuka.


"Kenapa ribut disini, mana kopi yang saya minta."


Mereka bertiga menundukkan kepalanya sedangkan Rina juga memasang muka tidak tahu.


"Kenapa diam semua, jangan buat hari saya jadi tidak enak."


Alfa berbicara terdengar serius.


"Ma..maafkan kami Pak."


Lukman yang berani bersuara.


"Ada apa sebenarnya."


Alfa merasa ada yang aneh dengan mereka bertiga.


"Kami minta maaf Pak, sebenarnya kemarin yang membuatkan kopi untuk Bapak bukan saya maupun teman saya ini Pak."


Ucap Andi dengan menoleh ke arah Yosi yang menundukkan kepalanya.


"Terus siapa, kamu Lukman."


"Bu..bukan Pak, karena kemarin saya juga izin."


"Yang membuatkan kopi Bapak kemarin itu karyawan cewek di sini Pak, dia karyawan baru."


Terang Andi.


"Karyawan baru, memang kalian kemana sampai orang lain yang membuatkan saya kopi kalau terjadi apa-apa dengan saya bagaimana, kalian mau tanggungjawab."


"Maaf Pak, maafkan Kami karena saat itu saya dan teman saya bingung yang biasa membuatkan kopi Bapak itu Lukman tetapi dia lagi izin jadi kita takut dimarahi sama Bapak karena tidak sesuai dengan selera Bapak."


"Terus siapa karyawan itu."


"Kami juga belum mengenalnya Pak katanya baru 5 hari kerja di sini."


"Bagaimana bisa dia membuatkan kopi untuk saya."


Alfa malah penasaran siapa karyawan itu.


"Karena saat itu dia sedang membuat kopi dan kami memintanya untuk sekalian membuatkan untuk Bapak tapi kamu tidak mengatakan jika kopi untuk Bapak."


"Sekarang saya nggak mau tau buatkan saya kopi seperti kemarin, cari karyawan itu dan minta resepnya."


Pinta Alfa.


Mereka bertiga menganggukkan kepala saja dan kemudian berlalu dari hadapan Alfa.


"Siapa wanita itu, kenapa aku selalu terngiang dengan kopinya."

__ADS_1


Dalam hati Alfa.


☺☺☺☺☺


__ADS_2