
Weekend tiba, Angga benar-benar memberlakukan syarat darinya kalau Anin tidak mau dijemput dia harus mau diajak ke rumah bertemu dengan Mamanya.
"Ma, hari ini nggak ada acara kan. Mama di rumah aja."
Tanya Alfa selesai berolahraga pagi dan menghampiri Mamanya yang berada di dapur.
"Iya Mama di rumah. Ada apa Alfa." Mamanya penasaran tumben Alfa menanyakan kesibukannya.
"Nggak papa, yang penting Mama hari ini di rumah aja nggak usah kemana - mana."
Mamanya mengerutkan dahinya, menjadi semakin penasaran.
"Memang kenapa, ada tamu.? Siapa yang mau datang."
"Calon istrinya Ma, mau diajak ke sini." Celetuk Kak Amel yang ikut bergabung bersama dengan Arsy.
"Papa.."
Arsy mendekati Alfa dan akan minta gendong.
"Papa keringatan Sayang, duduk sendiri ya." Alfa mengangkat tubuh Arsy dan mendudukkannya di kursi sebelahnya.
"Yang benar Fa, calon mantu mama mau diajak ke sini."
Mamanya penasaran menatap ke arah Alfa dan hanya mendapatkan senyuman darinya.
" Kamu sudah pernah ketemu Mel." Tanya Mama Ani ke Amel.
"Udah Ma, cantik lo Ma. Kemarin diajak ke restoran sama Alfa."
"Sayang, Bunda Anin cantik nggak." Amel bertanya kepada Arsy yang kemarin terlihat sudah lengket dengan Anin.
"Bunda, cantik Ma. Pakai keludung." Suara Arsy cadel.
"Arsy, udah kenal sama Bunda Anin."
"Hemmm..."
Arsy menganggukkan kepalanya ada Alfa mengusap kepala Arsy.
"Bunda baik Oma."
"Hmm.. jadi Mama aja nih yang belum pernah ketemu. Kalian jahat ya sama mama nggak diajak ketemu sama siapa namanya."
"Anindita Ma, sering dipanggilnya Anin."
"Oke, jam berapa Anin ke sini."
"Nanti Ma, agak siang Alfa nanti akan jemput ke rumahnya dulu."
"Mama udah penasaran, gadis mana yang bisa membuat hati anak laki-laki mama ini luluh kembali."
"Bunda ke sini Pa."
Arsy menatap Alfa.
"Iya Sayang, nanti bunda ke sini tapi Papa jemput dulu ya."
"Alsy ikut Pa, jemput Bunda."
Menampakan muka melasnya.
"Arsy, nanti kan Bunda ke sini. Jadi tunggu aja di rumah." Kaka Amel tidak mau membuat report Alfa.
"Ikut.. Alsy ikut... Pa ikut..."
Arsy sudah berlagak kayak anak besar kalau tidak dituruti nangis dia.
"Jangan Fa, nanti malah repotin Anin."
"Nggak papa Kak, nanti bisa sekalian Arsy akan Alfa kenalin ke kedua orang tua Anin."
"Pa.. Ikut."
"Iya nanti ikut, Papa mandi dulu ya."
"Yeay..."
Arsy senangnya bukan main, Dia gembira sekali. Alfa mengecup kepalanya kemudian meninggalkan mereka yang ada di dapur menuju ke kamar untuk segera membersihkan badannya.
"Mel, gimana menurut kamu Anindita itu."
"Dia baik Ma, cantik halus lagi bawaannya orangnya. Tapi kalau cerita Alfa, Anin itu jutek, galak kalau sama dia. Tapi setelah kemarin Amel ketemu sama dia nggak itu ya mungkin karena dia agak sedikit galak sama laki - laki untuk menjaga dirinya."
__ADS_1
Mama Ani tersenyum dan menganggukkan kepalanya semakin penasaran dia seperti apa sosok Anin.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di rumah Anin.
Pagi tadi dia ikut jalan santai
bersama Papanya sedangkan Fajar dia joging, katanya mau melemaskan kakinya agar tidak kaku.
Sekarang Anin sudah berada di rumah dia masuk ke dalam kamar karena ingin membersihkan dirinya.
Ting...
Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponsel miliknya.
"Siap - siap ya, satu jam lagi aku jemput."
Anin membaca pesan dari Alfa dan berdecak sendiri.
"Ish... Serius nih Mas Alfa. Aku kok jadi takut gini ya."
Anin menarik nafasnya panjang untuk mengontrol dan menetralkan detak jantungnya.
"Nanti gimana kalau Mamanya galak."
Anin meletakkan ponselnya kembali di meja dan segera menyegarkan badannya ke dalam kamar mandi.
Selesai berganti pakaian, Anin keluar kamar untuk sarapan bersama dengan kedua orangtuanya dan juga adiknya.
"Ayo makan Kak."
Kata Mamanya.
"Iya Ma."
"Kak kopinya dong." Papanya nggak afdol katanya kalau belum minum kopi buatan Putri tercintanya.
"Papa, besok kalau Anin sudah menikah gimana mau minta Anin siapa pagi kesini buatin kopi buat Papa." Ucap Mama.
"Iya Mama dong, yang buatin untuk Papa. Tapi kalau pas Anin di sini ya Anin yang buatin."
Anin tersenyum saja mendengar kedua orang tuanya bicara.
"Ini Pa."
"Papa apaan sih, Anin belum ada rencana menikah."
Anin mengambil tempat duduk di samping Papanya.
"Udah - udah sekarang makan dulu bahas itu nanti lagi."
Pinta Mama Rani.
Selesai sarapan Mereka memilih berkumpul bersama di halaman belakang sambil menikmati hijaunya taman mini yang ada di belakang rumah mereka sembari memberi makan ikan-ikan peliharaan Mereka. Sedangkan Fajar pamit untuk pergi ke rumah temannya karena ada kegiatan.
"Kak, Alfa gimana."
Tanya Papa.
Anin menatap kearah Papanya dengan muka heran.
"Maksud Papa."
"Ya kelanjutan hubungan kalian gimana, Apa dia benar - benar serius sama kamu."
"Anin masih mau mengenal Mas Alfa dulu Pa." Kata Anin sambil memberi makan ikan.
"Dia baik, bertanggung jawab. kalau Papa lihat usianya sudah cukup matang untuk membina rumah tangga."
"Memang Pa, tapi kadang usia juga tidak menjamin tingkat kedewasaan Pa."
"Kalau menurut Papa Alfa itu dewasa, bisa ngemong kamu. Papa tenang kalau ada yang menjaga kamu Anin."
Anin menatap kearah Papanya sambil tersenyum.
"Itu Papa sama Anin di sana Fa, ikut gabung aja."
Suara Mama Rani membuat Papa dan juga Anin menoleh ke arah pintu dan ternyata sudah Alfa yang berdiri dan tersenyum memandang mereka. Mama malah menggendong Arsy yang juga sudah luluh dengan Mama Rani.
"Assalamualaikum Pa."
Alfa meraih tangan Papa dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
" Waalaikumsalam, panjang umurnya kamu baru dibicarain sudah datang. Ini siapa."
Alfa tersenyum memandang ke arah Anin.
"Bunda.."
Arsy langsung manggil Anin bunda begitu melihatnya.
"Arsy, ikut ke sini sama Papa."
Anin menghampirinya dan Arsy langsung minta gendong Ke Anin.
"Ini Arsy, Dia anak kakaknya Alfa tapi kalau manggil Alfa Papa." Mama Rani sudah berkenalan di depan tadi dengan Arsy.
"Cantik sekali. Sini ikut Opa."
Papa mengulurkan tangannya ingin menggendong Aray tapi dia menggelengkan kepalanya sudah nyaman di gedongan Anin.
"Bunda, Alsy kangen Bunda."
Mama Rani dan Papa tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Bunda juga kangen sama Arsy."
Alfa senang sekali melihat Arsy yang nempel pada Anin.
"Anin, Alfa kok nggak disuruh duduk gimana sih."
"Duduk Mas, biar Arsy sama aku aja."
Alfa duduk di samping Papa, Mereka melihat interaksi Anin dan juga arsy yang sudah seperti anak dan ibu.
"Anin, sudah sedekat Itu sama Arsy." Tanya Mama Rani.
" Iya Ma, padahal baru sekali bertemu kemarin."
Papa tersenyum memandang ke arah Anin.
"Mau jalan - jalan ya kalian."
Tanya Papa.
"Nggak Pa, Alfa mau minta izin sama Papa dan Mama untuk membawa Anin ke rumah bertemu dengan Mama."
Anin yang sedang bermain dengan Arsy langsung menatap ke arah Alfa.
Papa dan Mama nampak tersenyum. Kemudian Mama pun berdiri menghampiri Anin dan Arsy.
"Anin siap-siap dulu sana biar Arsy sama Mama."
"Ma, Anin takut."
"Bismillah sayang, nggak biak nolak ajakan Alfa untuk mempertemukan kamu dengan orang tuanya."
"Iya Ma."
Anin kemudian bicara dengan Arsy untuk berganti baju sebentar.
Setelah siap Alfa dan Anin pamit dengan kedua orang tua Anin untuk pergi ke rumah Alfa.
"Bye.. Arsy, sering ke rumah Oma sini ya."
Mama Rani menciumi pipi cabi Arsy.
"Iya Oma."
"Salim dulu Sayang." Alfa mengajarkan sopan santun kepada Arsy untuk menghormati yang lebih tua.
Arsy pergantian mencium punggung tangan Mama dan Papanya Anin.
"Hati - hati ya Alfa."
Pesan Pa.
"Iya Pa, Ma. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Alfa dan Anin menggandeng tangan Aray di sebelah kanan dan kiri berjalan menuju ke mobil Alfa.
"Mereka sudah seperti keluarga ya Pa."
"Iya Ma, tapi Papa penasaran terus Papanya Arsy kemana kok manggil Alfa Papa."
__ADS_1
"Nanti kita tanya sama Anin, Pa."
🤗🤗🤗🤗