KOPI CINTA

KOPI CINTA
31


__ADS_3

Hari semakin sore Miss Salsa dan Rio akhirnya berpamitan pulang, berbeda dengan Alfa yang masih berada di sana karena ingin berbicara dengan kedua orang tua Anin.


"Anin, kamu hutang penjelasan ya sama saya kenapa bisa ada Pak Alfa di rumah kamu."


Bisik Miss Salsa saat mereka sedang di cipika - cipiki.


"He he he..."


Anin nyengir saja menampakan gigi putihnya.


"Anin, pulang dulu ya."


Rio juga pamit.


"Makasih Kak Rio sudah menjenguk Anin ke sini."


"Sama - sama Anin, Pak Alfa kita pulang duluan."


"Iya hati - hati kalian, terima kasih ya sudah menjenguk Anin."


Ucapan Alfa membuat Miss Salsa dan juga Rio saling tatap.


Miss Salsa nebeng sepeda motornya Rio karena rumah mereka searah.


"Miss, Pak Alfa apanya Anin."


Rio yang sudah dari tadi penasaran dengan kehadiran Alfa di rumah Anin.


"Aku juga nggak tahu Rio, aku aja kaget ada Pak Alfa di rumah Anin."


"Mereka punya hubungan apa Miss."


"Nggak tau Rio, kamu tanya sendiri aja lah sama Anin. Kamu naksir ya sama Anin."


" Tapi kalau saingannya Pak Alfa ya aku mundur teratur Miss."


"Ha ha ha.. berjuang saja belum udah mundur kamu, cemen kamu."


"Pakai logika dong Miss, siapa pesaing kita GM sedangkan aku karyawan biasa."


"Memangnya Anin cewek matre gitu, salah kamu Rio. Coba aja dulu dideketin Anin."


"Gitu ya Miss."


"Ya coba aja, kalau nggak di respon ya nasib kamu ha ha ha.." tawa Miss Salsa.


Sedangkan di rumah Anin, masih ada Alfa dan kedua orang tuanya yang sedang berbicara.


"Apa tidak merepotkan Mas Alfa." Tanya Papanya Anin.


"Sama sekali tidak Pak, besok biar saya yang mengantar Anin ketemu Dokter Pak."


"Begitu ya, Bapak terima kasih sekali karena kebetulan Bapak ada meeting juga."


"Kalau begitu Saya saja yang mengantar Anin dan bisa ditemani Ibu."


"Baiklah kalau begitu ya Pa."


Ucap Mama Rani.


"Makasih ya Alfa."


"Sama - sama Pak, Bu."


Anin mendengar percakapan Mereka hanya diam saja, dalam hatinya masih teringat perkataan Alfa tadi yang ingin mengenalnya lebih.


"Anin..."


Mamanya memanggilnya karen Anin terlihat melamun saja.


"Sayang mikirin apa sih."


"Ng..nggak Ma. Nggak mikirin apa - apa."


"Kenapa melamun terus dari tadi, Alfa nggak diajak ngobrol."

__ADS_1


"Malu kali Ma, ada kita. Masuk yuk Ma, Papa mau siap - siap ke masjid."


"Iya Pa, Mama tinggal ya Sayang. Tinggal dulu Alfa."


"Iya Bu."


Anin kini tinggal berdua dengan Alfa dan hari sudah akan maghrib.


"Anin jangan melamun mau maghrib begini."


Anin tersenyum saja ke arah Alfa.


"Kalau senyum gitu manis."


Anin menarik sudut bibirnya saja mendengar pujian dari Alfa.


"Anin, gimana jawabannya."


"Jawaban apa Pak."


Anin bukannya lupa apa maksud Alfa tapi dia hanya ingin tahu apakah Alfa bicara serius tadi.


"Pertanyaan Saya tadi."


Anin mengerutkan dahinya.


"Pertanyaan mana Pak."


"Oke Saya ulangi, Anin masih ada kesempatan kan untuk aku mengenal kamu lebih jauh."


Alfa memelankan nada bicaranya dan memberikan penekanan pada kata mengenal kamu lebih jauh.


"Pak Alfa serius atau cuma iseng."


"Apa muka ku seperti orang iseng Anin."


Alfa menatap Anin, kesabarannya sepertinya sudah membuncah menghadapi Anin.


"Kalau Pak Alfa serius silakan tanya kepada kedua orang tua saya."


"Oke, aku akan bilang ke Papa dan Mama kamu kalau aku serius ingin mengenal kamu lebih jauh dan menjadikan mu calon istri ku."


Anin menatap Alfa dengan muka yang kaget, mendengar Alfa ingin menjadikannya calon istri.


"Pak Alfa nggak salah, kita baru kenal dan Pak Alfa mau bilang ke kedua orang tua saya menjadikan saya calon istri."


"Aku serius Anin."


Anin masih tak percaya Alfa seserius itu.


"Pikirkan lagi Pak."


"Sudah aku pikirkan semalaman, sampai gak bisa tidur."


Ucap Alfa membuat Anin melongo.


"Pak Alfa sadar kan bilang begitu."


"Kamu yang membuat aku tak sadar Anin, tak sadar kalau aku sudah mencintai kamu."


Alfa sampai keceplosan menyatakan cintanya membuat Anin menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Aku akan buat kamu jatuh cinta juga pada Ku Anin."


Alfa serius menatap Anin yang seperti orang tak percaya.


"Alfa... ke masjid sama Saya."


Papa Budi membuat mereka berdua yang tadi saling pandang sama-sama mengalihkan pandangannya.


"Iya Pak, Anin masuk ya maghrib nggak baik di luar."


Anin menganggukkan kepalanya dan ingin menjalankan kursi rodanya.


"Sakit nanti tangan kamu."

__ADS_1


Alfa mendorong kursi roda Anin dan dilihat kedua orang tua Anin.


"Pa, Alfa perhatian banget ya sama Anin."


"Sudah Ma, Papa ke masjid ya."


"Iya Pa."


Alfa menghentikan kursi roda Anin di depan pintu kamarnya.


"Sini aja Pak."


"Oke, Saya ke masjid ya."


Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Seusai pulang dari masjid, Alfa diajak makan malam oleh Papa Budi dan Mereka menikmati menu makan malam yang sudah dipersiapkan oleh Mama Rani.


"Mas Alfa rumahnya mana."


Fajar mulai akrab dengan teman Anin itu yang beberapa hari ini sering dia lihat main ke rumah.


"Tak jauh juga dari sini, mau main."


"Boleh Mas."


"Boleh dong, nanti kita tanding basket."


"Wah.. Mau dong."


"Sudah Fajar makan dulu."


Pinta Mama Rani.


Anin masih berada di kursi roda jadi tidak bisa membuatkan kopi untuk Alfa.


Selesai makan Mereka duduk santai di ruang tamu karena Alfa ingin bicara sesuatu dengan kedua orang tua Anin.


"Mau bicara apa ini kelihatan serius sekali."


Papa Budi suka menggoda Alfa.


"Begini Pak, Saya ingin minta ijin kepada Bapak dan Ibu untuk bisa mengenal Anin lebih jauh lagi."


Alfa sama sekali tanpa ragu mengungkapkan keinginannya, sedangkan Anin hanya menundukkan kepalanya saja.


Mama Rani meraih tangan Anin, dan menggenggamnya yang terasa dingin.


"Maksudnya bagaimana ini, Bapak masih belum paham dengan niat dari Alfa ini untuk mengenal Anin lebih jauh."


Alfa menarik nafasnya kemudian menghembuskannya. Walaupun ini bukan pertama kali Alfa meminta anak gadis orang tapi ternyata debarannya beda.


"Saya ingin menjadikan Anin sebagai calon istri Saya, jika Bapak dan Ibu merestuinya."


Anin menengadahkan kepalanya dan memandang ke Alfa yang juga menatapnya.


"Saya serius Pak, Saya mencintai putri Bapak dan akan berusaha membahagiakan putri Bapak."


Papa Budi menatap ke Alfa dan bergantian ke Anin.


"Anin.." Panggil Papanya.


"Iya Pa."


"Apa kamu sudah mengenal Alfa dengan baik. Apa Kamu juga mencintai dia."


Anin menggigit bibir bawahnya, bingung mau jawab apa.


"Anin..."


"Anin...."


🤣🤣🤣🤣🤣


Tahan dulu ya 🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiahnya juga ya readers udah double up nih


__ADS_2