
"Mas, kira-kira Kak Amel mau menemuinya apa nggak."
Anin bersandar di bahu suaminya dan Alfa mengusap perutnya.
"Mas juga nggak tau Sayang, sepertinya Kak Amel pemikirannya sekarang sudah berubah."
"Berubah gimana Mas."
"Kemarin sebelum Kak Amel mengetahui jika alasan dari Indra meninggalkannya karena menuruti permintaan kedua orang tuanya dia selalu bersikukuh untuk mempertemukan Arsy dengan Indra. Tetapi setelah Kak Amel mengetahui sepertinya sekarang Dia menjaga jarak dari Indra."
"Sepertinya memang begitu Mas nyatanya Kak Amel sampai memblokir nomornya."
"Tapi Mas penasaran darimana Kak Amel dapat nomornya Si Indra."
Anin terdiam sesaat, Dia sebenarnya sudah tau dari cerita Bibi.
"Ngantuk Sayang."
Alfa mengira istrinya mengantuk karena diam saja.
"Eh... Belum Mas." Anin nyengir aja.
"Kenapa melamun, mikirin apa hmm.."
Alfa memeluknya dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak Anin.
"Hmmmm ..Mas."
"Iya Sayang."
"Anin sebenarnya tahu dari mana Kak Amel mendapatkan nomor mantan suaminya."
Alfa melepaskan pelukannya dan menatap Anin.
"Darimana Sayang."
"Dari Bibi."
__ADS_1
"Bibi.?"
"Iya Mas, maaf ya Mas Anin belum cerita sama Mas Alfa."
"Kok bisa Sayang."
"Jadi waktu itu Bibi pernah cerita, pas Dia dari pasar Indra menemuinya dan berbicara soal dirinya kenapa dulu pergi terus kemudian meminta nomor ponsel dari Kak Amel karena Bibi merasa iba di kasih lah nomor Kak Amel sama Bibi, gitu Mas. Mas jangan marah ya sama Bibi."
"Hufftt..."
Terdengar helaan nafas Alfa.
" Kenapa kamu tidak cerita dari kemarin, Sayang."
Alfa membelai kepala istrinya.
"Bibi minta tolong sama Anin supaya tidak cerita ke Mas Alfa dan Anin kasihan Mas nanti kalau Anin cerita sama Mas, Bibi kena marah sama Mas Alfa. Maaf ya Mas."
Anin meraih tangan Alfa dan menciumnya.
Alfa tersenyum dan membelai rambut Anin.
"Anin juga nggak tahu mungkin dia merasa kasihan sama Kak Amel sering melihatnya melamun Mas, dan Bibi bingung mau cerita sama siapa."
"Sayang, makasih ya karena kehadiran kamu di keluarga ini membawa keceriaan."
Alfa menangkup wajah Anin dan mencium keningnya. Tiba - tiba terbayang di pikirannya lezatnya cilok gerobak.
"Mas, Anin mau makan cilok."
Alfa mengerutkan dahinya.
"Udah malam Sayang, apa masih ada yang jual."
"Anin nggak tau Mas, besok aja nggak papa deh Mas."
Anin memahami suaminya capek.
__ADS_1
"Sayang mau sekarang, Mas carikan tunggu di rumah ya."
Alfa mengusap perut Anin, dia memahami istrinya sedang ngidam biasanya juga tidak pernah meminta sesuatu hal yang aneh.
"Besok nggak papa Mas, udah malam Mas juga capek seharian kerja."
"Mas nggak mau anak Mas ileran nanti karena Bundanya ngidam nggak keturutan."
Anin terkekeh, darimana suaminya tahu kayak gitu.
"Mas tau darimana kalau ngidam tidak dituruti anaknya bakal ileran."
"He he.. Mas sering denger gitu Sayang, Mas carikan sekarang ya."
Anin tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Besok aja Mas, Anin nggak mau tidur sendirian Mas Alfa malah pergi beli cilok."
Alfa heran dengan istrinya.
"Ngidamnya bisa di tahan Sayang."
"Bisa Mas, kalau cuma besok masih bisa nahan. Yuk tidur aja Mas tapi di elus perutnya."
"Iya Sayang."
Mereka tebakan tubuhnya dan melewati malam itu dengan bahagia.
Sedangkan di kamar Amel.
Dia masih belum bisa terpejam duduk di atas kursi rodanya sambil memandang kearah luar jendela kamarnya.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan Mas, kenapa kamu tega dulu meninggalkan ku dengan Arsy. Apa salah kami Mas." Dia berucap sendiri.
"Apa yang membuat kedua orang tua mu itu membenci Ku."
"Ya Allah beri hamba petunjuk, keputusan apa yang harus hamba ambil, apa aku harus menemui dia."
__ADS_1
☺☺☺☺☺