
~Anin PoV~
Hari ini terakhir aku bekerja , ada rasa berat juga meninggalkan perusahaan yang dulu menjadi impian Ku. Tapi ini sudah menjadi keputusan aku harus resign karena takdir Allah yang lebih indah dari yang kubayangkan.
Alfarizqi Fahmi, seorang laki-laki yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Dia seorang General Manager di perusahaan dimana aku bekerja saat ini, sosok yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan akan menjadi suamiku.
Perkenalan tak sengaja kami yang akhirnya membawa kami ke dalam takdir cinta yang akan menyatukan kami ke dalam sebuah mahligai pernikahan, Insya Allah.
Mas Alfa, begitu aku memanggilnya dia sosok yang awalnya terlihat dingin dan kaku tetapi ternyata dia sangat berbeda ketika di luar perusahaan dan saat bersamaku.
Aku menatap ke depan, saat ini kita sedang perjalanan menuju ke kantor bersama calon suamiku.
Aku berdoa di dalam hati.
"Takdir mu sungguh luar biasa ya Allah, semua rencana Mu sungguh yang terbaik. Bimbing kami dan jadikan kami pasangan yang selalu engkau lindungi dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah."
Ku usapkan kedua telapak tanganku ke wajah sambil tersenyum.
"Kenapa Sayang."
Ternyata Mas Alfa melihat Ku.
"Nggak papa Mas."
Kata ku sambil tersenyum ke arahnya dan mendapat senyuman balik darinya.
"Ternyata calon suami Ku ganteng banget." Ucap Ku dalam hati.
"Kenapa Mas ganteng ya." Katanya lagi.
"Dia bisa baca pikiran Ku ya, tapi memang ganteng banget." Kata ku lagi dalam hati sambil tersenyum.
"Mas itu PD banget ya."
Alibi Ku, malu kalau mau mengakui kalau memang ganteng.
"Tapi ganteng kan Mas."
Katanya lagi.
Senyum aja lah, nanti bisa PD kalau diiyakan.
Mobil Mas Alfa berhenti di depan lobby, setelah berhenti sempurna aku membuka pintu dan akan segera keluar tapi dicegah oleh Mas Alfa.
"Tungguin Sayang, kita masuk bareng." Pinta Mas Alfa.
"Tapi Mas."
Rasanya gimana gitu masuk kedalam kantor bareng manajernya, ya walaupun dia itu calon suamiku.
"Nggak ada penolakan, mau kapan lagi coba masuk ke dalam kantor sama calon istri. Nantikan kamu sudah enggak kerja lagi di sini." Katanya begitu.
"Mas ada aja deh, memangnya nanti kalau sudah nggak kerja aku nggak boleh ke sini ya Mas."
"Boleh dong, tapi kan sebagai istri Pak Alfa." Katanya PD banget.
Mas Alfa turun dari mobil dan berputar kemudian membukakan pintu dan mengulurkan tangannya.
Rasanya gimana gitu, seneng banget dalam hati seraya jadi ratu.
Ku terima tangan Mas Alfa dan di genggamnya tangan ku, kita berjalan masuk ke dalam kantor dengan dipandangi karyawan yang lainnya, iri kali ya mereka.
Aku mencoba berdamai dengan hatiku sendiri, mau kapan lagi coba seperti ini di gandeng sama bos sekaligus calon suamiku sendiri masuk ke dalam kantor.
"Makasih Ya Allah."
Aku bersyukur di dalam hati menemukan seorang laki-laki yang sangat penyayang.
Saat sampai di depan lift Mas Alfa masih menggenggam tangan Ku, dan mengajakku masuk ke dalam lift khusus pimpinan.
"Mas, kok naik lift ini."
__ADS_1
Aku menarik tanganku supaya dia berhenti.
"Kenapa, bebas dong kamu istri Mas jadi boleh aja naik lift ini."
Kata Mas Alfa.
"Calon Mas, belum istri."
"Iya 3 hari lagi, Insya Allah wanita cantik di sampingku ini menjadi istriku." Katanya sambil tersenyum ke arahku dan mengeratkan genggamannya, mengajakku masuk ke dalam lift yang sudah terbuka pintunya.
"Mas..."
"Hmmmm, kenapa."
Dia memandang ku lekat sekali, aku jadi takut karena kita cuma berdua di dalam lift.
"He he he.. Anin keluar di ruangan ya."
Karena tadi aku melihat Mas Alfa menekan lantai dimana ruangannya berada bukan dimana lantai aku harus bekerja.
"Nggak mau, kamu hari ini ikut keruangan Mas."
Mas Alfa tersenyum saja, dan tidak mengindahkan permintaanku.
"Mau ngapain Mas."
"Nemenin Mas kerja."
Aku kaget, hari ini suruh nemenin dia kerja terus dengan pekerjaan ku gimana.
"Kerjaan Ku gimana Mas."
"Hari ini nggak usah kerja, tinggal pamit aja nanti."
Lift terbuka dan aku masih digandeng oleh Mas Alfa keluar dari lift ada menuju ke ruangannya.
Aku melihat seorang wanita cantik dan duduk didepan ruangan Mas Alfa. Dia berdiri begitu melihat Mas Alfa datang bersamaku.
"Pagi Rina." Jawab Mas Alfa.
Dia terlihat tersenyum kepadaku.
"Ini Rina Sayang, sekertaris Mas."
Mas Alfa memperkenalkannya kepada Ku.
"Saya sudah kenal Mbak Anin kok Pak. Iya kan Mbak Anin.. Eh, maaf Bu Anin." Kata Rina yang langsung meralat panggilannya padaku mungkin karena tidak enak dengan Mas Alfa.
"Iya Mas, kan waktu itu Anin pernah ke sini mengantar makan siang Mas Alfa.
"Bagus kalau gitu, kamu nggak perlu cemburu sama Rina."
Aku malah terkekeh Mas Alfa bilang begitu.
"Kok ketawa."
"Anin tau tahu tempat lah Mas kalau cemburu. Anin percaya sama Mas Alfa sama Mbak Rina."
Aku memang wanita biasa yang nggak mungkin nggak cemburu suaminya dekat dengan wanita lain tapi aku tetap percaya saja Mas Alfa orangnya setia begitu pula dengan dari Rina dia setia dengan suaminya.
"Makasih ya Bu Anin." Kata Rina dia terlihat sopan dan santun orangnya.
"Mbak Rina nanti tolong diawasin ya Mas Alfa kalau sedang kerja, laporkan ke saya siapa aja tamunya." Kata Ku dan Mas Alfa langsung menatapku dengan curiga.
"Kenapa gitu Sayang, nggak percaya sama Mas."
"Percaya, cuma perlu waspada aja Mas." Kata Ku sambil tersenyum kearah Mas Alfa yang menatap Ku tak enak tapi Rina malah terkekeh melihat tingkah kita.
"Tenang Bu Anin, saya siap melaporkan setiap kegiatan dari Pak Alfa."
"Oke makasih."
__ADS_1
"Yuk masuk."
Mas Alfa menarik tanganku dan mengajaknya masuk ke dalam ruangannya.
"Anin harus kerja Mas."
"Nggak ada, hari ini khusus menemani Mas kerja."
Rina mungkin sedang menertawakan ku di luar.
Mas Alfa membuka ruangannya dan dengan masih menggenggam tanganku aku dibawa masuk.
Aku melihat ruangan Mas Alfa yang luas dan tertata rapi.
"Duduk Sayang, kenapa malah bengong."
Mas Alfa mengajakku duduk di sofa karena aku hanya diam melihat sekitarku.
"Kenapa, enak kan di sini Sayang."
Aku duduk di sebelah Mas Alfa.
"Mas.."
Aku mau merayunya agar boleh pergi.
"Iya Kenapa."
Mas Alfa menatap ku.
"Anin ke ruangan ya, ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Kenapa sih, nggak seneng ya nemenin Mas disini."
Mas Alfa terlihat merajuk.
"Bukan gitu, tapi Anin kan punya kerjaan yang harus diselesaikan hari ini supaya besok tidak merepotkan Miss Salsa."
Mas Alfa terlihat menghela nafasnya.
"Mas itu kangen sama kamu, apalagi harus ada acara di pingit segala. Rasanya hari ini Mas gak mau mengembalikan kamu pulang, jika 3 hari ke depan kita nggak bisa ketemu sayang."
Mas Alfa meraih tangan ku.
"Kalau Anin nggak pulang, kita nggak nikah Mas."
"Jangan dong."
"Makanya Anin, ke ruangan ya."
"Ada syaratnya."
"Apa."
"Buatin kopi dulu."
"Tadi di rumah kan udah dibuatin."
"Ya udah nggak boleh pergi, Mas kunci nih pintunya."
Alfa mengambil remote yang ia gunakan untuk mengunci pintu.
"Oke, Anin buatin ya. Tapi setelah itu Anin balik keruangan ya."
"Mas akan mengantar kamu."
Aku sampai melongo, masih belum rela juga Mas Alfa padahal cuman beda lantai doang.
"Iya.."
Dari pada urusan nggak selesai.
__ADS_1
😀😀😀😀😀