KOPI CINTA

KOPI CINTA
101


__ADS_3

Indra menatap Alfa yang pergi meninggalkannya begitu saja.


"Aku harus cari cara supaya bisa bicara dengan Alfa karena sekarang Amel pun tidak bisa di hubungi." Gumam Indra sendiri.


Kemudian Dia bertanya ke resepsionis kapan Bos nya itu akan kembali tetapi mereka juga tidak paham dengan jadwal Alfa.


Indra pergi meninggalkan kantor Alfa dengan perasaan kecewa, Dia mengendarai mobilnya dan meninggalkan kantor itu.


Di rumah


Amel sedang menemani putrinya bermain tetapi terlihat Dia melamun tidak fokus dengan Arsy yang asyik bermain sendiri.


Anin yang datang menghampiri Kakak iparnya itu dan membawakan camilan serta minum untuknya.


"Kak."


Amel terkejut lalu tersenyum ke Anin.


"Iya Anin, kamu nggak istirahat malah ke sini."


"Capek tiduran terus Kak, minum Kak."


Habis sholat dhuhur tadi Anin tiduran tapi malah nggak bisa tidur dan memilih keluar kamar mencari Arsy.


"Makasih Anin, Mama kemana."


"Kayaknya masih di kamar Kak."


Anin menenggak es jeruk yang ia buat sendiri dan terasa segar.


"Seger kayaknya Nin."


"Iya Kak, di minum Kak."


Amel mengambil satu gelas lainnya dan menenggaknya.


"Ehh... Asem Anin nggak kamu kasih gula."


Amel tak tahan dengan rasa asamnya.


"Kasih Kak dikit."


Anin terkekeh sendiri.


"Asem gini Anin."


"Seger Kak."


"Kamu lagi hamil enak - enak aja, tapi buat Kakak keaseman ini. Buat Kamu aja deh."


"Iya Kak, rasanya pingin banget minum es jeruk."


"Ya Kakak nggak heran kalau lagi hamil kayak gini rasanya seger."

__ADS_1


Amel menatap Anin begitu menikmati minumannya dan Anin tersenyum saja.


Terdengar helaan nafas dari Amel dan membuat Anin menatap kearahnya.


"Kenapa Kak, sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat."


Amel menyandarkan kepalanya.


"Papanya Arsy Nin."


Anin memandang serius ke arah Amel.


"Kenapa Kak, Dia menghubungi Kakak lagi."


"Setelah kejadian kemarin dia masih sempat mengirimkan pesan. Jika dia ingin memperbaiki semuanya dan bertanggung jawab atas Arsy dengan menafkahinya. Namun yang masih belum bisa aku terima ternyata dulu Mas Indra meninggalkan kita karena kedua orang tuanya." Amel mengambil nafas.


"Padahal dulu sewaktu kita berpacaran Mama dan Papanya terlihat sangat baik sekali bahkan sampai kita menikah dan lahir Arsy semua baik-baik saja, tetapi kenapa setelah kecelakaan itu Mama dan Papanya menjadi membenci kita."


"Mungkin ada alasannya."


Amel memandang ke arah Anin.


" Apapun alasannya itu apakah pantas seorang nenek memisahkan cucunya dengan Papanya, Anin." Kata Amel dan Anin hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Dan kenapa Mas Indra menuruti keinginan orang tuanya."


" Apakah Amel pernah menanyakan alasannya kepada Papanya Arsy."


Amel menggelengkan kepalanya.


Anin terkejut Amel sudah memblokir nomor dari Indra.


"Kenapa Kakak blokir."


"Dia terus aja menghubungi Kakak dan Kakak merasa terganggu."


"Ini saran aja ya Kak dari Anin, misal tidak diterima juga nggak papa. Alangkah baiknya Kakak mencoba mendengarkan apa sebenarnya alasan dari Papanya Arsy dulu sampai menuruti keinginan orangtuanya untuk meninggalkan Kak Amel dan juga Arsy."


Amel lagi - lagi menghela nafasnya.


" Kakak belum siap, Nin."


"Ya sudah Kakak siapkan diri dulu, karena bagaimanapun juga sesalah apapun juga tidak ada yang namanya mantan anak kan Kak. Iya hubungan kedua orang tuanya sudah selesai tetapi hubungan anak dengan kedua orangtuanya itu tidak akan selesai Kak."


Amel mencerna apa yang diucapkan Anin.


" Yang Anin takut kan nanti kalau Arsy sudah dewasa dan mengetahui semuanya dari orang lain malah akan lebih menyakitkan baginya Kak."


Amel menatap Anin dengan tatapan sendu.


"Memang bener apa yang kamu ucapkan Anin. Tidak ada yang namanya mantan anak walaupun kedua orang tuanya sudah tidak bersatu." Ucap Amel.


"Kakak ingin berpikir dulu dan mempersiapkan diri apapun nanti kenyataannya."

__ADS_1


Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Anin ada untuk Kakak, kalau mau curhat Anin siap mendengarkan."


"Makasih ya Anin, bagi Kakak kamu bukan sekedar adik ipar tapi teman juga."


"Makasih Kak."


Mereka saling senyum dan siang itu Amel bisa kembali tersenyum.


Tanpa mereka tau Mama Ani dan tadinya ingin menghampiri mereka berdua mengurungkan niatnya dan mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.


"Benar juga apa kata Anin."


Dalam hati Mama Ani.


"Oh.. Ya Anin, gimana dengan rencana bulan madunya kan kamu sekarang hamil pasti Alfa juga mengurungkan niatnya lagi."


"Mas Alfa belum membahasnya lagi Kak, bagi Anin kehamilan ini merupakan kado yang luar biasa."


Anin mengusap dengan lembut perutnya yang masih rata di mana di dalam tengah tumbuh buah cintanya bersama suaminya.


"Kakak ikut bahagia, sebentar lagi Arsy ada teman main."


"Iya Kak."


Mama Ani kemudian mendekati mereka berdua dan mengajaknya untuk makan siang bersama.


Saat makan siang Alfa menghubungi Anin dan selalu mengingatkannya untuk makan dan juga meminum obatnya.


"Iya Mas, ini lagi makan sama Mama dan Kak Amel ada Arsy juga."


"Obat di minum Sayang."


"Iya Mas, Anin nggak lupa."


"Terus habis itu istirahat saja di kamar buat tidur ya."


"Iya Mas."


Anin tersenyum manis supaya suaminya tenang dalam bekerja.


"Suami kamu protektif banget." Celetuk Amel.


Anin tersenyum saja.


"Biarkan saja Amel, Alfa kan khawatir sama istri dan juga calon anaknya." Bela Mama Ani.


"Tapi Alfa itu lebay Ma."


"Kok kamu yang sewot sih Mel, yang disuruh kan Anin kenapa kamu yang marah."


"Iya Kak, Anin seneng - seneng aja kok. Berati itu bukti kalau Mas Alfa perhatian sama kita."

__ADS_1


Kata Anin sambil mengusap perutnya.


☺☺☺☺☺


__ADS_2