
Alfa sudah menyelesaikan semua pekerjaan dan saat ini Dia sedang perjalanan pulang dari luar kota.
"Anin.. Tunggu Mas."
Katanya di dalam hati sambil tersenyum sendiri memandang ke arah jendela samping mobil.
Sesampainya di rumah sudah malam, Alfa memilih beristirahat dulu baru besok akan ke rumah Anin.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di sebuah kamar terlihat seorang gadis melamun menghadap ke jendela, pandangannya menerawang keluar dan terlihat pelupuk matanya yang penuh dengan air mata yang siap meluncur.
"Mas, maafin Anin."
"Hiks..hiks..."
Anin membenamkan wajahnya dan air matanya kembali meluncur, Dia merasakan kegundahan yang luar biasa.
Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menusuk, Anin menutup jendelanya dan memilih untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Alarm lagi-lagi membangunkannya, Dia kita mengambil air wudhu dan bersimpuh di atas sajadahnya.
"Ya Allah, semoga keputusan yang Anin ambil menjadi keputusan yang tepat. Anin tidak mau egois hanya menuruti perasaan sendiri tapi merugikan orang lain."
Adzan subuh berkumandang dan Anin segera melaksanakan salat subuh. Setelah selesai Dia ke dapur untuk membantu Mamanya menyiapkan sarapan.
"Libur sayang hari ini."
"Iya Ma."
Akhir pekan menjadi hari yang sangat dinantikan untuk beristirahat di rumah.
"Nggak ada acara jalan - jalan."
"Nggak Ma di rumah aja."
Mamanya tersenyum saja dan menganggukkan kepalanya.
Setelah siap semua sarapan, Anin memanggil Papa dan juga adiknya yang ada di belakang sedang berolahraga pagi.
Mereka sarapan bersama dengan menu yang telah disiapkan oleh Anin bersama Mamanya.
"Ma, Kakak ke belakang ya."
Setelah Anin selesai membantu Mamanya mencuci piring.
"Iya Sayang."
Anin ke taman belakang, Dia sangat suka sekali jika memberi makan ikan - ikannya di pagi hari.
Papa pergi mengantar Fajar untuk mengikuti pertandingan basket, jadi Anin hanya berdua di rumah bersama Mamanya.
Bel rumah berbunyi, Mama yang ada di dapur segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Mama membuka pintu dan melihat Alfa.
"Alfa, masuk. Anin ada di belakang."
Alfa meraih tangan Mama Rani dan mencium punggung tangannya.
"Iya Ma."
Alfa membawakan sesuatu dan menyerahkannya kepada Mama Rani kemudian dia ke belakang untuk menemui Anin.
Alfa tersenyum melihat Anin dari belakang yang sedang memberi makan ikan - ikannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Anin menoleh ke belakang dan melihat Alfa datang sambil tersenyum kepadanya.
"Waalaikumsalam."
"Udah kenyang itu ikannya di kasih makan terus."
Anin tersenyum saja.
"Duduk Mas."
Alfa duduk di kursi sebelah Anin.
"Papa sama Fajar kemana kok ada Mama aja."
"Papa mengantar Fajar tanding basket."
Alfa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Anin, kita keluar yuk."
Alfa pengen ngajak Anin jalan-jalan udah lama rasanya nggak jalan bareng.
"Anin mau di rumah aja Mas."
Kata Anin sambil melempar makanan itu ke arah kolam Dan disambut oleh ikan - ikannya.
Alfa memperhatikan Anin dari samping seperti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
"Ehmm... Kamu lagi ada masalah Anin, cerita aja sama Mas."
Anin menoleh dan hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Seperti ada yang kamu pikirkan Anin."
"Nggak ada Mas, bentar ya Anin ambil minum dulu."
Alfa memandang tubuh Anin yang pergi meninggalkannya.
"Ikan kenapa dengan juragan kamu." Alfa menaburkan makanan ke atas kolam sambil mengajak ngomong ikannya.
Tak lama Anin kembali dengan membawa nampan berisi minuman serta camilan.
"Silahkan Mas."
"Makasih, kopi spesial ya."
Anin tersenyum dan melempar makanan ikan itu lagi ke kolam.
Alfa mengambil cangkir itu dan menyeruputnya.
"Enak banget, pagi-pagi di buatin kopi sama istri."
Kata Alfa sambil melirik ke arah Anin yang hanya diam saja tidak meresponnya.
"Anin.."
Alfa memanggil Anin agar Dia menghadap ke arahnya dan Anin pun menoleh.
"Mas mau dengar jawaban kamu, mau kan kamu jadi istri Mas."
Alfa menatapnya penuh cinta namun berbeda dengan Anin perasaannya mulai bimbang.
Anin mengalihkan pandangannya menghadap ke kolam sebenarnya dia ingin menyembunyikan pelupuk matanya yang mulai terisi dengan air mata.
"Anin, please... Love Me. Jadikan aku yang ada di hati kamu, aku memang tidak bisa janji akan selalu bahagiakan kamu tapi aku berjanji akan selalu ada untuk kamu."
Alfa masih menatap kearah Anin namun Anin yang tak bisa memandang ke arah Alfa.
__ADS_1
"Mas tau kalau Mas nggak sempurna punya banyak kekurangan, tapi Mas ingin kamu yang menyempurnakan kekurangan ini."
Anin menunduk.
"Maafkan Anin Mas."
"Maaf untuk apa Anin."
"Maafkan Anin nggak bisa, Anin nggak cinta sama Mas Alfa."
Alfa kaget Anin berbicara seperti itu, Dia langsung jongkok di depan Anin dan memandangnya.
"Anin, pandang Mas dan katakan itu sekali lagi."
Anin nggak bisa memandang ke wajah Alfa dia hanya menunduk.
"Anin, Mas mohon tatap mata Mas dan katakan itu sekali lagi. Mas nggak akan percaya kalau kamu bicara seperti itu tanpa memandang mata Mas."
Alfa merasakan sesak di dadanya, selama Dia mendekati Anin dia belum pernah Anin berbicara dengan menundukkan kepalanya seperti itu.
Memang Anin orangnya jutek suka ngomong apa adanya tapi dia berani memandang wajah Alfa kalau bicara jika apa yang dia bicarakan dia rasa benar dari dalam hatinya.
"Anin... Pandang mata Mas."
Anin berdiri dan akan beranjak pergi sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan air matanya.
"Anin."
Alfa memegang lengan Anin dan menahannya.
"Maaf Mas, Hiks...hiks..."
Anin menangis dan melepas tangan Alfa kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
"Anin..." Panggil Alfa namun dia tak menoleh.
"Anin, kenapa sayang."
Mamanya yang akan menemui mereka melihat Anin menangis dan berlalu menuju ke kamarnya.
"Anin.." Alfa memanggilnya lagi dan bertemu dengan Mama Rani.
"Ada apa Alfa."
"Maafkan Alfa Ma, tadi apa hanya meminta jawaban Anin atas lamaran Alfa, tapi Anin mengatakan jika dia tidak mencintai saya."
"Apa, Anin bilang tidak mencintai kamu." Mama Rani aja kaget karena sebelumnya Anin terlihat sekali kalau Anin juga menaruh hati pada Alfa.
"Iya Ma, tapi Alfa nggak percaya Ma. Anin pasti menyembunyikan sesuatu dari Alfa."
"Kalian nggak lagi bertengkar kan."
"Nggak Ma, kita baik - baik saja tapi kenapa Anin berkata seperti itu Ma, Alfa nggak percaya Ma."
"Sudah Alfa , lebih baik sekarang kamu pulang dulu, tenangkan diri kamu dulu biar nanti Mama yang coba bicara sama Anin."
"Alfa mau bicara Ma sama Anin."
"Alfa kamu lebih pulang dulu ya, Mama mohon."
"Baik Ma, Alfa pamit."
Dengan lemas Alfa meraih tangan Mama Rani dan mencium punggung tangannya berpamitan untuk pulang ke rumah.
"Maafkan Alfa ya Ma."
"Kamu tenangkan diri kamu dulu ya nanti temui Anin kalau dia sudah tenang juga."
"Baik Ma."
__ADS_1
Alfa boleh menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Anin dengan perasaan yang galau.
😥😥😥😥