
Mereka menghabis pagi itu dengan berpelukan di atas tempat tidur setelah perbuatan yang menguras tenaga mereka.
"Sayang, Mas mau ngomong sesuatu."
"Iya Mas, apa."
Anin masih tetap pada posisinya memeluk pinggang Alfa yang bersandar di tempat tidur dan dirinya menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Sayang, maafin Mas ya."
Alfa mengusap kepala Anin dan menciumi pucuk kepalanya.
"Kenapa Mas."
Anin menengadahkan kepalanya menatap Alfa.
"Maaf Mas belum bisa mengajak kamu untuk bulan madu sayang."
Anin menatap Alfa yang terlihat bicara serius.
"Nggak papa Mas, Anin nggak minta juga untuk bulan madu." Katanya sambil tersenyum.
"Mas khawatir sama Kak Amel."
"Kak Amel kenapa Mas."
Anin menatapnya dengan raut wajah yang khawatir.
Terdengar helaan nafas dari Alfa yang menandakan beban berat di kepalanya.
"Mantan suami Kak Amel, kemarin mendatangi rumah dan mencoba untuk masuk ke dalam tapi Pak Toni sudah Mas kasih tahu untuk tidak sembarang menerima tamu jika Mas tidak di rumah."
Anin bangun dari pelukan Alfa dan mensejajarkan tubuh mereka, dia antusias sekali dengan cerita Alfa.
"Terus gimana Mas."
"Mas sudah minta orang untuk menjaga rumah, tapi tetap aja perasaan Mas khawatir, Sayang."
Alfa membawa Anin ke dalam pelukannya dan mencium pucuk kepalanya.
"Anin nggak papa Mas, kita nggak usah bulan madu di rumah aja Mas. Kita nikmati masa cuti Mas dari pekerjaan nanti kalau Mas udah balik lagi ke kantor kan sibuk."
Anin sedikit menyebikan bibirnya dia sudah membayangkan kesibukan suaminya di kantor dan pasti akan pulang sore atau bahkan malam.
"Jangan cemberut gitu Sayang, bikin gemes." Alfa mencubit pelan bibir Anin.
"Beneran kan Mas, nanti kalau Mas Alfa bali lagi ke kantor pasti sibuk apalagi beberapa hari ditinggal cuti."
"Maafin Mas ya Sayang, Kamu Mas nomor dua kan saat ini karena harus mengurus Kak Amel dulu."
"Mas, Kak Amel itu Kakak Anin juga kan. Jadi gak ada istilah dinomorduakan cuman ada yang harus lebih dipentingkan."
"Mas Sayang sama kamu, kamu bisa berpikir dewasa. Mas jadi merasa bersalah." Alfa memeluk Anin erat.
"Nanti kalau sudah membaik semuanya kita bulan madu ya Sayang."
__ADS_1
Anin menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Alfa. Tapi tiba - tiba terdengar suara dari perut Anin.
"Laper Sayang."
Alfa mendengar suara perut Anin.
"He he he.. Iya Mas, laper sarapan yuk."
Anin tersenyum ke arah Alfa.
"Ayo Sayang, mandi dulu."
"Mandi lagi."
Anin nampak malas harus keramas lagi karena perbuatan suaminya.
"Iya, masa nggak mandi."
Anin yang masih malas masih bersandar di tubuh Alfa, dan memeluk pinggangnya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Itu perut udah bunyi, yuk kita mandi sayang, Mas gendong ya."
Anin mengangguk saja dan Alfa membopong tubuhnya membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai dengan aktifitas Mereka di dalam kamar mandi, Anin sedang menyisir rambut panjangnya di depan cermin.
"Cantik banget istri Mas."
Alfa memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dipundak Anin dan Anin tersenyum biar terbiasa dengan perlakuan Alfa yang suka tiba-tiba memeluknya.
"Kamu nggak nyesel kan Sayang, menikah dengan Mas walaupun usia kita terpaut jauh."
"Nggak usah dijelasin, Mas rasanya tua banget."
"Tapi Mas itu nggak kelihatan tua, cuma dewasa." Kata Anin sambil tersenyum menatap kearah cermin dan dipandang balik oleh Alfa.
"Anin bahagia Mas, selalu bimbing Anin supaya menjadi istri yang solehah, berbakti sama suami dan nyenengin suami."
"Kita sama - sama belajar Sayang, untuk menjadi yang lebih baik dan saling memahami satu sama lain."
"Mas udah peluknya, kapan kita sarapan."
"Ayo, istri ku udah kelaparan ini."
Alfa melepaskan pelukannya.
"Bentar Mas, pakai jilbab dulu."
Anin mengambil jilbabnya dan mengenakannya, Alfa duduk di sofa terus memandangnya sambil tersenyum sendiri.
"Yuk Mas."
Anin mendekati suaminya dan mengajaknya keluar.
"Ayo Sayang."
__ADS_1
Alfa menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya keluar dari kamar menuju ke restoran yang ada di hotel itu. Mereka memilih menikmati sarapan yang sedih terbilang kesiangan.
Selesai menghabiskan makanan, Mereka masih bersantai di restoran dengan suasana yang meneduhkan hati.
"Mas, kita pulang kapan." Tanya Anin.
"Kamu maunya pulang kapan Sayang, mau menginap lagi di sini juga boleh."
"Pulang aja ya Mas, di sini sepi."
"Kan sama Mas masa sepi sih."
"Ya cuma berdua kalau di rumah kan ramai."
"Iya kita pulang, mulai hari ini Sayang pulang ke rumah Mas ya." Alfa menggenggam tangan Anin.
"Iya Mas, tapi nanti ke rumah Mama dulu ya ambil beberapa barang milik Anin."
"Iya Sayang."
Memang sudah kewajiban istri untuk mengikuti suaminya.
"Sedih ya harus pisah sama Mama, Papa dan Fajar."
Alfa menatap wajah Anin yang raut mukanya langsung berubah saat dia mengatakan harus pulang ke rumahnya.
"Sedih iya, tapi Anin kan harus ikut sama Mas."
Alfa meraih pipi Anin dan mengusapnya.
"Kalau Mas libur kita bisa ke rumah Mama Sayang, atau kalau kamu merasa kangen sama Mama dan Papa bilang sama Mas, akan Mas antar ke sana."
Anin menatap Alfa dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tapi Mas pesan sama kamu, kalau kita lagi ada masalah jangan pulang ke rumah Mama ya seorang diri. Mas nggak ridho."
Anin merasa itu amanat yang harus dia jaga dari suaminya.
"Iya Mas."
"Kita selesaikan masalah kita, kalau bisa jangan sampai orang tua itu tahu Sayang. Mas sebagai suami akan berusaha bijaksana dalam mengambil keputusan."
"Iya Mas, Anin akan berusaha menjadi lebih dewasa Mas."
Alfa tersenyum dan mencubit pelan pipi Anin yang tersenyum.
"Kita pulang sekarang aja yuk Mas ke rumah Mama, terus nanti sore bisa ketemu Arsy."
"Nggak mau disini dulu."
"Pulang yuk."
"Oke, kita ambil dulu barang di kamar ya terus kita chek out."
"Oke."
__ADS_1
Mereka meninggalkan restoran itu dan menuju ke kamar untuk membereskan barang bawaan mereka dan akan pulang ke rumah Mama Rani.
🌹🌹🌹🌹🌹