KOPI CINTA

KOPI CINTA
107


__ADS_3

Amel, Mama Ani, Alfa, Anin dan si kecil Arsy yang bersama pengasuhnya sudah sampai di restoran.


Semua karyawan memberi pelayanan yang terbaik kepada pemilik restoran itu.


"Ada apa kok tumben keluarga Bos datang semua." Bisik salah satu karyawannya yang ada di dapur.


"Nggak tau juga, sudah kita nggak usah nge- gosip nanti malah kena masalah lagi." Ingat temannya.


"Cuma penasaran aja aku."


"Ya sudah nanti dilihat saja sebenarnya ada apa kok mereka datang semua."


Mereka masuk ke dalam ruang VIP yang sudah disiapkan.


"Mama sama Kak Amel kita tunggu di sini saja, Sayang nanti sama Arsy main di dalam aja ya." Pinta Alfa.


"Iya Mas." Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Alfa sudah berpesan kepada karyawan yang ada di resepsionis nanti akan ada tamu dan segera akan diarahkan ke tempat yang sudah disiapkan.


Alfa mengantar istrinya ke ruangan bersama Arsy dan juga pengasuhnya.


"Arsy yuk ikut Papa."


Arsy mengulurkan tangannya meminta gendong sama Alfa.


"Ayo Sayang."


Alfa meraih tangan Anin dan mengajaknya masuk.


"Mbak, ikut sekalian." Pinta Alfa.


"Baik Den."


Mereka masuk ke dalam ruangan Alfa yang ada di sana dan tak lupa Arsy sudah di bawakan mainan agar tidak merasa bosan.


Seorang karyawannya datang menemui Mama Ani dan juga Amel.


"Maaf Bu, tamu yang ditunggu sudah datang."


"Baik, makasih ya Mbak."


"Saya permisi Bu."


Amel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kita tunggu Alfa." Kata Mama Ani.


Tak lama Alfa keluar dari ruangannya dan menemui Mama dan Kakaknya.


"Mereka sudah datang Fa, Kamu keluar saja dulu sama Amel."


Kata Mama Ani yang masih ada rasa malas untuk bertemu dengan mantan menantunya itu.

__ADS_1


"Oke Ma, ayo Kak sama Alfa."


Amel menganggukkan kepalanya kemudian Alfa pun mendorong kursi roda untuk menemui si Indra.


Indra datang bersama seorang laki - laki Mereka menunggu di ruang yang sudah disiapkan oleh Alfa dan sudah dipasang dengan kamera pengintai.


Alfa dengan mendorong kursi roda Amel memasuki ruangan dan Mereka melihat Indra sudah tersenyum ke arahnya, dia tidak datang seorang diri bersamanya ada seorang laki-laki paruh baya juga ikut tersenyum kepada mereka.


"Papa..."


Ucap Amel begitu melihat mantan Papa mertuanya ikut hadir.


"Om Gunawan ikut Kak." Tanya Alfa yang juga tidak mengetahui jika Indra mengajak Papanya.


"Kakak juga nggak tau kalau Papa Gunawan ikut."


Mereka semakin mendekat ke Indra yang menghampiri menyambut mereka.


"Amel, Alfa. Apa kabar."


Indra mengulurkan tangannya dan mereka bersalaman, tak ada kebencian di mata Amel maupun Alfa.


"Baik." Jawab singkat Amel.


Alfa mendorong kursi roda Amel mendekati Papa Gunawan.


"Amel, apa kabar kamu Nak."


Papa Gunawan mengeluarkan tangannya dan Amel pun menyambutnya ada tatapan nanar di mata Papa Gunawan memandang ke arah Amel.


Amel masih mau memanggilnya Papa untuk menghormati mantan Papa mertuanya.


"Alfa, apa kabar."


Mereka saling bersalaman.


"Baik Om."


"Silahkan duduk Om."


Mereka berempat duduk dan tatapan Indra seperti masih mencari seseorang, Alfa tau yang dia cari tetapi Alfa hanya diam saja.


"Amel, makasih masih memberi Indra kesempatan." Kata Papa Gunawan.


Amel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Papa mungkin sudah tidak pantas lagi atau dipanggil Papa sama kamu, Papa minta maaf dan atas nama Mamanya Indra, Papa meminta maaf kepada kamu atas kesalahan kami di masa lalu." Suasana menjadi hening, wajah Papa Gunawan berubah menjadi sendu.


Amel masih terdiam, dia menatap kearah lain dengan tatapan nanar. Rasanya ingin marah namun juga tak pantas juga dia marah dengan orang tua yang sudah meminta maaf.


"Amel, Aku minta maaf dulu di saat kamu membutuhkan kehadiranku tapi justru aku malah meninggalkanmu begitu saja bersama Arsy." Ucap Indra.


Alfa rasanya juga terima kalau mengingat kejadian itu tetapi dia disini untuk menemani Kakaknya mendapatkan penjelasan.

__ADS_1


"Amel sudah memaafkan Papa dan juga Mama dan kamu Mas Indra Amel juga sudah memaafkan walaupun masih terasa sakit ketika mengingat kejadian itu." Kata Amel tanpa memandang sama sekali ke arah kedua laki-laki yang ada di depannya.


"Kesalahan Ku memang sulit untuk dimaafkan, namun Aku mau perbaiki semua kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu dan juga Arsy."


Amel menghela nafasnya mendengar ucapan Indra.


"Waktu Amel nggak banyak Mas, katakan saja apa yang perlu dikatakan."


Papa Gunawan akan berbicara namun dicegah oleh Indra.


"Biar Indra aja Pa."


Papa Gunawan menurut saja dan menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku Amel, waktu itu aku terpaksa harus menuruti apa kemauan Mama untuk meninggalkan Mu dan menikahi wanita lain demi menyelamatkan usaha keluarga kami."


Begitu mendengar alasan Indra meninggalkannya air mata Amel langsung lolos begitu saja.


"Amel maafkan Mamanya Indra, waktu itu Papa tak berdaya untuk melawannya."


Amel mengusap air matanya, dadanya terasa penuh begitu pula dengan Alfa rasanya ingin mengusir kedua orang yang ada di depannya.


"Maafkan Almarhum Mama, kami berdua waktu itu tak berdaya untuk menolak keinginannya karena..."


Amel kaget jika Mama mertuanya ternyata sudah meninggal.


Indra berhenti dan mengambil nafas sejenak untuk meneruskan.


"Kenapa kamu tidak menolaknya, padahal saat itu kamu sudah beristri dan punya anak." Alfa yang sudah kehilangan sabarnya akhirnya angkat bicara.


"Maafkan Kami sekeluarga, waktu itu Mamanya Indra mengancam akan bunuh diri jika tidak menuruti keinginannya." Terang Papanya Indra, karena Indra sudah tak sanggup untuk berbicara karena melihat Amel menangis.


"Maafkan aku Amel."


Indra tiba - tiba bersimpuh di Amel dan air matanya terurai dia benar - benar sudah menjatuhkan harga dirinya di depan Amel untuk bisa mendapatkan maaf dari mantan istrinya.


Alfa memandang Kakaknya tak tega dan mendekatinya.


"Kakak, nggak papa."


"Kita pergi Alfa."


"Amel maafkan Aku."


Indra meraih kursi roda meriah dan menahannya.


"Sudah lah Mas, apapun alasan Mu aku sudah memaafkan dan semoga Mama Mu tenang di sana. Jangan pernah temui aku dan juga Arsy lagi."


Amel menarik tangan Alfa untuk mendorong kursi rodanya.


"Amel, aku mau ketemu dengan Arsy. Anak Ku Amel."


Indra berderai air mata, Papanya membantu untuk berdiri sedangkan Amel berlalu dari hadapan mereka dengan berderai air mata juga.

__ADS_1


😥😥😥😥😥


Puasa jangan pelit Bunga ya 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2