
Keduanya terdiam di dalam mobil, Alfa menjalankan mobilnya menembus hujan.
"Kamu kenapa naik ojek nggak naik taksi aja, cuaca lagi mendung begini."
Alfa memulai pembicaraan mereka.
"Lama nunggunya."
Anin menatap ke arah depan tanpa menoleh ke Alfa.
"Papa Kamu belum pulang dari luar kota."
"Belum, baru malam hari ini kalau kegiatannya selesai."
Alfa terdiam kembali rasanya Anin tak mau diajak bicara karena dari tadi dia hanya menjawab saja tanpa bertanya balik.
"Kalau naik ojek kamu bisa kehujanan nanti kalau sakit bagaimana."
"Kenapa Bapak peduli dengan saya."
Anin sudah memendam pertanyaan itu dan dia rasa ini tepat untuk bertanya.
"Apa saya salah jika saya peduli dengan kamu."
"Salah Pak, saya nggak kenal dengan Bapak sebelumnya. Kenapa tiba - tiba Bapak baik dengan saya dan dekat dengan kedua orang tua saya."
"Apa Bapak mengenal saya sebelumnya."
Anin menoleh ke arah Alfa dan pandangan mereka saling bertemu.
"Kita kan harus baik pada setiap orang, bukankah begitu."
Alfa melirik ke arah Anin yang mengalihkan pandangannya ke depan kembali.
"Iya memang kita itu harus baik kepada semua orang tapi kan ada alasannya."
"Apa saya terus kasih alasan sama kamu kenapa saya dengan kamu."
"Mungkin Bapak punya alasan kenapa baik dengan saya dan saya ingin tahu itu."
Anin cuma berpikiran tidak mau salah tanggap karena kebaikan Alfa.
"Kamu kan pegawai di perusahaan yang saya pimpin, jadi saya harus baik dan harus peduli sama kamu."
Anin tersenyum kecut.
"Pegawai Bapak banyak, kenapa Bapak cuman baik dengan saya kalau bapak peduli sama pegawai Bapak kenapa mereka tidak Bapak tawarin untuk pulang bareng kenapa cuma saya ."
Anin mencecar Alfa dengan membalikan jawabannya.
Alfa diam saja tak menjawabnya namun bicara di dalma hatinya.
"Ini cewek aneh, banyak perempuan di luar sana yang bersusah-payah untuk mendekati diriku, ini Dia malah mempertanyakan kenapa aku mendekatinya."
"Tapi nggak papa ini tantangan buat kamu Alfa."
__ADS_1
"Bapak kenapa diam saja."
Anin yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Alfa bertanya kembali.
"Saya maunya kamu yang saya ajak pulang."
Kata Alfa sambil melirik Anin
"Kenapa, katanya kita harus berbuat baik kepada semua orang tapi kenapa Bapak cuman baik kepada saya."
"Mereka juga mau di antar pulang sama bapak." Lanjut Anin membuat Alfa merasa gregetan.
"Kamu tidak suka ya Saya antar pulang."
"Maaf Pak, jujur saya jadi risih diantar pulang sama Bapak."
"Kenapa."
Alfa mengerutkan dahinya.
" Apa kata orang nanti Pak kalau ada yang lihat Bapak mengantar saya pulang."
"Memangnya kenapa."
Alfa masih belum jelas juga tapi itu hanya pura - pura Alfa sebenarnya paham apa maksud Anin.
"Bapak Alfa yang terhormat. Bapak kan Bos di perusahaan saya apa kata karyawan nanti jika ada yang tahu Bapak mengantar saya pulang, tidak hanya sekali ini lho Pak."
Anin mempraktikkan dengan jarinya.
"Maaf Pak Saya turun sini aja. Ini juga sudah reda hujannya."
Anin merasa tidak nyaman lama - lama seperti ini.
"Nggak bisa Saya antar kamu sampai rumah. Kamu mau naik apa kalau di sini, sudah jangan mempermasalahkan omongan orang niat Saya baik mengantar kamu pulang."
Alfa pun tidak mau memberhentikan mobilnya dan terus melajukannya.
"Pak, saya mohon sampai sini saja." Anin menampakan wajah memelas.
Alfa kemudian menepikan mobilnya dan berhenti di tepi jalan.
"Kamu kenapa sih Anin, apa Saya berbuat jahat sama kamu. Saya hanya ingin berbuat baik sama kamu mengantar kamu pulang. Saya khawatir dengan keadaan kamu, Kaki kamu masih sakit seperti itu saya enggak tega melihat kamu aja jalan masih susah."
Alfa menatap Anin namun yang ditatap membuang mukanya ke arah jendela.
"Jadi karena Bapak kasihan sama Saya, Saya bisa sendiri Pak dan Saya baik - baik saja. Terima kasih atas kebaikan Bapak selama ini, dan satu lagi jangan kasihan sama Saya karena saya begini gara - gara Bu Siska yang dekat dengan Bapak."
Alfa melongo saja mendengar Anin berani bicara seperti itu kepada dirinya.
Anin berusaha membuka pintu mobil yang masih di kunci oleh Alfa.
Alfa masih diam saja melihat Anin menarik handle pintu mobil dan membiarkan Anin.
"Asal kamu tahu, Siska bukan siapa-siapa saya dan Saya peduli sama kamu bukan karena saya kasihan."
__ADS_1
Anin berhenti menarik handle pintu itu ketika Alfa berbicara seperti itu.
"Maaf Pak, Saya tidak punya waktu untuk berdebat dengan Bapak, pasti Mama saya sudah menunggu di rumah dan saya ingin segera pulang jadi, saya mohon sama Bapak tolong buka kunci pintu mobil ini."
"Kalau Saya nggak mau, kenapa sih kamu jadi cewek itu keras kepala banget Anin."
Anin terdiam rasanya ingin berteriak. Dia sudah menahan ini semua berhari-hari berpikir sendiri kenapa Alfa begitu baiknya dengan dirinya karena Anin tidak mau kedua orang tuanya itu menganggap lebih akan hubungan mereka.
"Kenapa Anin. Kenapa Kamu tidak mau menerima perhatian saya kepada kamu."
"Ini bukan perhatian Pak ini kasihan."
Alfa mengusap kasar wajahnya kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran, rasanya mau putus asa mendekati Anin.
"Kenapa kamu selalu berpikir kalau perhatian saya ini hanya kasihan sama kamu Anin. Apa kamu tidak bisa merasakan yang beda dari perhatian saya. Asal kamu tahu Anin Saya sengaja mencari kamu di jalanan untuk menemukan kamu yang pulang naik ojek supaya tidak kehujanan tapi kamu menganggap semua ini hanya Saya kasihan sama kamu."
Anin terdiam hanya bertanya tanya di dalam hati apakah benar yang diucapkan oleh Alfa.
"Tolong Pak Saya mau turun di sini, Saya mohon Pak."
Anin tak berani menatap Alfa karena dia tahu Alfa sedang menatap dirinya.
"Oke, kalau mau kamu seperti itu."
Alfa buka kunci pintu mobilnya dan Anin menarik handle pintu dan akhirnya terbuka.
"Makasih Pak, sekali lagi terima kasih "
Anin berusaha turun dengan pelan - pelan, Alfa melihatnya pun tak tega tapi ada rasa sakit hati juga karena ucapan Anin yang menganggap perhatiannya hanya kasihan saja.
Anin turun dengan berpegangan handle tapi karena kondisi licin dia terpeleset dan...
Brukkk...
"Aoww... astaghfirullahaladzim."
"Anin..."
Alfa langsung turun dari mobil dan berputar untuk menolong Anin.
Dia melihat Anin memegang kakinya yang terasa sangat sakit sekali dan masih terduduk di bawah.
"Ya Allah.. Sakit banget, Mama.."
Alfa tanpa bicara mengangkat tubuh Anin.
"Turun saya Pak."
Alfa mendudukkannya di dalam mobil lagi tanpa menggubris ucapan Anin dan langsung duduk di belakang kemudi mobil dan menjalankan mobilnya kembali.
Anin masih memegang kakinya dan merintih kesakitan.
"Sabar sebentar lagi sampai..."
Hanya itu yang di ucap Alfa karen sebenarnya dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Anin..
__ADS_1
☺☺☺☺😥😥😥😥😥