
"Kok nggak ada kabar ya, Mas Alfa kemana."
Anin gelisah menanti kabar dari suaminya padahal menurut perkiraannya dia sudah sampai di kantor cabang.
Sambil memainkan ponselnya dia selalu mengecek ponselnya siapa tahu suaminya menghubunginya balik.
Anin mengusap - usap perutnya supaya janin di dalam perutnya tidak ikut gelisah.
"Mas kemana."
Anin mencoba menghubungi kembali ponsel milik Alfa namun tak ada jawaban.
"Aku coba hubungi Rina ya, mungkin tadi Mas Alfa mampir ke kantor dulu."
Anin mencari nomor ponsel dari sekretaris Alfa itu dan menghubunginya.
Setelah terhubung ada jawaban dari seberang telepon.
"Iya selamat siang Bu Anin."
"Siang Mbak Rina."
" Ada yang bisa saya bantu Bu."
"Begini mbak Rina, apa tadi Mas Alfa ke kantor dulu sebelum berangkat ke cabang."
"Iya Bu, tadi Pak Alfa ke kantor untuk mengambil berkas memangnya ada apa Bu."
"Kenapa panggilan saya tidak dijawab ya, apa kira - kira sudah sampai ya Mbak Rina."
"Apa mungkin langsung meeting Bu jadi tidak menjawab panggilan dari Bu Anin, menurut perkiraan saya juga sudah sampai."
"Begitu ya Mbak Rina."
Terdengar helaan nafas Anin yang terdengar sangat khawatir dan membuat Rina menjadi tidak tega.
"Begini Bu Anin, saya akan mencoba menghubungi ke kantor cabang untuk mempertanyakan apakah Pak Alfa sudah sampai nanti akan Saya kabarkan ke Bu Anin."
Begitu Rina akan menghubungi ke kantor membuat Anin menjadi sedikit lega.
__ADS_1
"Makasih Mbak Rina, tolong segera dihubungi ya, saya sangat khawatir karena panggilan saya dari tadi tidak dijawab."
"Baik Bu."
Panggilan terputus dan Anin pun menanti kabar dari Rina semoga suaminya baik-baik saja.
tok..tok..tok...
Terdengar ketukan pintu kamar Anin.
"Anin... Ini Mama Sayang."
Terdengar suara Mama Ani memanggil Anin dan Dia segera beranjak dari duduknya.
"Iya Ma."
Anin membuka pintu dan mendapati Mamanya di depan pintu.
"Iya Ma, ada apa."
"Kamu kenapa Sayang."
Anin tersenyum supaya Mamanya tidak ikut khawatir.
"Nggak papa Ma."
"Kamu sakit Sayang."
Mama Ani memegang dahi menantunya itu untuk memastikan semuanya baik - baik saja.
"Nggak kok Ma."
"Tapi kamu kelihatan kurang sehat sayang."
"Anin baik - baik saja Ma, cuma..."
"Kenapa, ada sesuatu Anin."
"Hmmm... Mas Alfa belum kasih kabar Ma. Sudah sampai apa belum padahal tadi pas berangkat kerja udah janji akan kasih kabar kalau sudah sampai. Anin jadi khawatir Ma."
__ADS_1
"Kamu tenang Anin, Alfa pasti baik - baik saja nanti sebentar lagi juga akan menghubungi kamu. Apa kamu sudah menghubungi kantor bertanya kepada sekertaris nya."
"Sudah Ma, Mbak Rina mencoba sudah menghubungi ke kantor cabang untuk tanya apa Mas Alfa sudah sampai."
"Kamu yang tenang ya, yuk ikut Mama daripada kamu di kamar jadi merasa gelisah sendiri. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan kamu."
"Iya Ma, Anin khawatir."
"Berdoa Sayang."
Mama Ani menggandeng Anin membawanya menuju ke bawah supaya Dia tidak gelisah sendiri.
Anin masih menunggu kabar dari Rina yang juga belum balik menghubunginya.
Di ruang keluarga ada Arsy yang sedang mewarnai gambar yang kemarin dibuatkan oleh Indra ditemani oleh Amel.
"Bunda..."
Arsy senang melihat Anin.
"Buat apa Sayang."
Anin mendekati Arsy dan Amel memperhatikan wajah adik iparnya itu.
"Kamu sakit Anin."
Anin menatap ke arah Amel dan menggelengkan kepalanya.
"Dia lagi nunggu kabar dari Alfa." Kata Mama Ani.
"Alfa kenapa Ma."
"Adik kamu dihubungi tapi tidak di jawab, Anin jadi khawatir Alfa sudah sampai kantor cabang apa belum."
"Tenang aja Anin, Alfa baik - baik aja." Amel mengusap pundak Anin supaya tidak gelisah menanti kabar dari suaminya.
☺☺☺☺☺
Mana dukungannya Nih... Semangat kembali untuk menanti Update dari author ya 😁😁😁😁😁
__ADS_1