
"Sayang, makasih."
Alfa meraih tangan Anin.
Mereka saat ini di dalam mobil sedang perjalanan ke rumah Anin.
"Untuk apa Mas."
"Untuk semuanya, kamu sudah menerima lamaran Mas."
Anin mengerutkan dahinya.
"Kapan Mas melamar Anin."
Alfa memandang Anin.
"Fokus Mas lagi nyetir."
"Tadi kan Mama udah melamar kamu sayang untuk jadi menjadi menantunya."
"Kan Mama, bukan Mas."
"Mama melamar kamu untuk jadi istri Mas."
"Iya tapi Mama yang lamar Anin, bukan Mas Alfa."
Anin nantang ini sama Alfa, Dia memang sengaja mau ngerjain Alfa.
"Sama aja Sayang."
Alfa udah gemas itu.
"Beda." Kata Anin dengan berlaga mengejek.
"Jadi menurut kamu, Mas belum melamar kamu ini."
Anin menggelengkan kepalanya.
"Oke.."
Alfa menatap ke depan dia merencanakan sesuatu.
Tak lama sampailah mobil Alfa di depan rumah Anin dan mereka turun.
"Assalamualaikum."
Ucap Anin dan Alfa bersamaan.
"Waalaikumsalam."
Jawab Mama dari dalam rumah.
Anin dan Alfa bergantian meraih tangan Mama Rani dan mencium punggung tangannya.
"Duduk Alfa, Papa masih di kamar lagi mandi."
"Iya Ma."
"Anin buat minum dulu ya Mas."
Alfa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Tak lama Anin datang membawa minuman segar dan camilan.
"Silahkan Mas, ini bukan kopi ya tadi kan udah minum."
"Iya, makasih Sayang."
Alfa memandang Anin.
"Kenapa Mas lihatin Anin kayak gitu."
Alfa tersenyum.
"Alfa..."
Papa Budi bersama Mama Rani keluar dan menemui mereka.
__ADS_1
"Pa." Alfa meraih tangan Papa Budi dan mencium punggung tangannya.
"Duduk Alfa."
"Iya Pa."
"Lama nggak ke sini."
"Iya Pa, maaf lagi banyak pekerjaan kemarin juga baru pulang dari luar kota."
Papa Budi tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia menyadari kesibukan Alfa.
"Pa, Ma. Alfa kesini ingin menyampaikan pesan dari Mama jika besok malam kami sekeluarga akan bersilaturahmi kemari." Ucap Alfa.
Mama dan Papa pun tersenyum.
"Iya Alfa, Mama kamu tadi telepon Mama kalau mau kesini."
"Iya Ma, Alfa menyampaikannya kembali katanya nggak enak kalau lewat telepon aja."
"Anin, Alfa ditawarin minum sama makanannya dong."
"Iya, di minum Mas."
Alfa tersenyum kemudian mengambil gas yang ada di depannya.
"Ma, Pa. Alfa ingin bilang sesuatu ke Anin."
"Iya Alfa, Papa dan Mama masuk aja ya."
"Jangan Pa, Papa dan Mama disini aja sebagai saksinya."
Anin bingung Alfa sebenarnya mau ngapain.
Alfa mengambil sesuatu yang ada di saku celananya kemudian berjongkok di depan Anin yang duduk di sofa di hadapannya.
"Mas ngapain."
Alfa mengeluarkan kota berbentuk hati dan membukanya sehingga terlihat isinya berupa benda bulat kecil dan menghadapkan ke Anin.
Mama yang melihatnya pun terperangah dan menutup mulutnya memeluk Papa Budi.
"Anin, Will You Marry Me."
Anin menahan senyumnya dengan telapak tangannya, jantungnya terasa berdebar lebih kencang. Padahal tadi di mobil cuman mau bercanda saja dengan Alfa, tapi malah di luar dugaan dia Alfa sudah merencanakannya.
"Jawab dong Kak." Celetuk Fajar.
"Bisa malu nih kalau di tolak." Tambah lagi Fajar membuat Alfa meringis.
"Ayo Kak di jawab." Mama ikut bersorak.
Anin rasanya bahagia sekali mendapatkan kejutan dari Alfa entah kapan Alfa menyiapkan cincin itu untuk dirinya.
"Ayo Kak, lama sih."
Fajar terus saja merekamnya.
Anin pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Alfa tertawa senang nampak raut mukanya bahagia sekali kemudian ia mengambil cincin yang ada di dalam kotak tersebut dan melihat ke arah Mama dan Papa.
"Ma, Pa. Alfa ijin menyematkannya dijari Anin."
Mama dan Papa tersenyum dan menganggukkan kepalanya mereka ikut bahagia melihat putri tercintanya di lamar.
Alfa meraih jari Anin dan kemudian menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Anin tersenyum sambil memandangi cincin yang baru saja dipakai oleh Alfa.
"Makasih sudah menerima lamaran Mas."
"Padahal Anin tadi bercanda lho."
Alfa terkekeh, menang banyak dia.
"Waduh.. Makan - makan dong traktirannya mana ini sudah dilamar." Fajar duduk di samping Mamanya.
__ADS_1
"Adik jangan kayak gitu ah." Tegur Mamanya.
"Tenang aja nanti sama Mas." Ucap Alfa sambil memberikan kode kepada Fajar.
"Oke Mas."
Hari sebentar lagi malam dan Alfa ingin pamit pulang.
"Makasih Ma, Pa. Kalau begitu Alfa pamit."
Alfa berdiri dan kemudian meraih tangan Mama Rina dan juga Papa Budi dan mencium punggung tangannya.
"Hati - hati ya Alfa."
"Iya Pa."
"Salam buat Mama ya Alfa."
Pesan Mama Ani.
"Iya Ma, nanti Alfa sampaikan ke Mama."
Alfa ke depan dengan diantar Anin sampai teras.
"Anin."
Alfa menatap Anin dengan lekat.
"Iya Mas."
"Makasih ya sudah menerima lamaran Mas." Alfa meraih tangan Anin dan mengusap cincin di jari Anin.
"Iya Mas, Mas kapan mempersiapkan cincin ini perasaan tadi juga nggak pergi kemana-mana."
Alfa tersenyum penuh arti.
"Sebenarnya Mas itu sudah mempersiapkan kemarin waktu minta jawaban kamu tapi malah ditolak ya belum sempat memberikan sama kamu."
"Maafin Anin ya Mas."
"Sudah Sayang, gak usah dibahas lagi ya. Yang penting sekarang Mas bahagia nggak sabar rasanya ingin setiap hari bersama kamu."
Anin tersenyum bahagia.
"Mas pulang ya, besok Mas jemput."
"Nggak usah Mas, Anin berangkat sendiri aja."
"Mas nggak suka penolakan, Oke. Bye Sayang, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati - hati Mas."
Alfa masuk ke dalam mobilnya kemudian membuka jendela mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Anin sambil menjalankan mobilnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sedangkan di sebuah kamar, seorang perempuan sedang marah denganmu berantakan seluruh isi kamarnya.
"Ah....."
"Alfa, kamu sudah berani menyakiti hatiku. Awas kamu Alfa..."
"Apa hebatnya perempuan itu dibanding aku, lihat saja Alfa kamu akan bertekuk lutut kepada ku." Wanita itu tersenyum dengan seringai yang menakutkan dan nafasnya naik turun.
"Awas kamu Alfa, Aku akan buat kamu dan perempuan itu menyesal."
"Ahhhh....ahhh...."
"Alfa kurang ajar kamu ya, Perempuan b*****."
Siska mencaci maki Alfa dan juga Anin setelah dia melihat foto mereka yang berpelukan di cafe siang tadi.
Rasa marah memenuhi dadanya hingga dia merencanakan sesuatu agar Alfa dan juga Anin tidak akan hidup bahagia.
"Awas kalian berdua akan menyesal..."
😱😱😱😱😱
__ADS_1
Ada yang kebakaran jenggot nih .... 😱😱😱😱