
~Anin PoV~
"Aku harus gimana."
Aku melamun di jendela kamarku memikirkan isi pesan yang terus mengusikku untuk menjauhi Mas Alfa.
"Apa aku egois jika mempertahankan hubungan ini."
" Ya Allah kenapa di saat rasa ini mulai tumbuh, engkau berikan rintangan seperti ini."
huffttt...
Ponsel Ku bergetar ada pesan masuk lagi sepertinya.
"Saya tidak main-main dengan ancaman ini jika kamu masih berhubungan dengan Alfa tamat sudah karir Alfa dan semua itu gara-gara kamu."
Pesan ancaman itu masuk lagi.
Aku terpaku dan diam saja membaca pesan itu namun aku memang sama sekali tidak pernah membalasnya.
Kemudian aku dikejutkan dengan panggilan masuk di ponselnya.
"Mas Alfa."
"Angkat nggak ya."
Mas Alfa sudah sangat hafal dengan kebiasaan ku pasti jam segini dia telepon memastikan aku tidur atau belum.
"Maaf Mas, beri waktu Anin dulu. Anin mau sendiri dulu."
Aku biarkan saja ponsel ku di meja dan aku memilih merebahkan diri ku di tempat tidur.
Tak butuh waktu lama aku sudah terlelap dalam ke alam mimpi. Hingga pukul 2 dini hari alarm ku berbunyi, memang sudah dua hari ini aku sedang meminta petunjuk lewat sholat istikharah.
Ku ambil air wudhu di kamar mandi kemudian menggelar sajadah ku dan aku mulai bersimpuh kepada Sang pemberi petunjuk.
Selesai bersimpuh aku mengambil alquran dan ku baca untuk menenangkan hati ini. Semakin lama ku merasakan kantuk yang luar biasa dan aku merebahkan kembali tubuhku di atas tempat tidur.
Adzan subuh berkumandang dan membangunkanku dari tidurku namun aku bingung setelah bangun tidur teringat akan mimpi yang baru saja ku alami.
"Apa artinya mimpi tadi, kenapa Mama Ani menitipkan Mas Alfa kepadaku."
Jantungku terasa berdebar lebih kencang aku takut terjadi sesuatu pada Mama Ani.
Aku segera bangun dan membersihkan diri kedalam kamar mandi kemudian melaksanakan salat subuh, setelah selesai membantu Mama di dapur.
"Sayang, Alfa udah beberapa hari ini nggak pernah ke sini."
Deg... Jantung Anin tiba-tiba berdetak lebih kencang, saat ditanya Mama seperti itu.
"Sibuk Ma."
"Kalian berantem."
Mama menelisik wajahku, mungkin dia bisa merasakan apa yang aku rasakan.
"Nggak Ma."
"Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, Sayang. "
"Iya Ma."
Aku nggak mungkin bercerita dengan Mama tentang pesan teror itu, jadi aku memilih untuk diam terlebih dahulu.
Selesai membantu Mama aku langsung bersiap untuk berangkat ke kantor.
Mas Alfa benar menepati janjinya dia tidak menjemput ku lagi setelah aku mengiyakan bertemu dengan Mamanya.
🌹🌹🌹🌹🌹
~Alfa PoV~
__ADS_1
Semalam mungkin dia sudah tidur, biasanya dia mengangkat telepon ku jam segitu.
Aku sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, aku tersenyum sendiri memandang cermin membayangkan Anin sudah di sini menjadi sebagai istri dan membantu ku bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Kapan ya Dia memberi jawabannya, ini sudah tiga hari."
"Apa aku tanya aja ya, nanti siang ajak makan ke luar."
Selesai mengenakan dasi dan memakai jas aku segera keluar untuk sarapan bersama dengan Mama dan juga Kak Amel.
"Fa, Gimana Anin sudah kasih jawaban belum, Mama sudah taj sabar nih mau melamarnya."
Mama lagi-lagi menanyakan Anin.
"Iya nanti Alfa tanya ke dia Ma."
Ucapku sambil tersenyum kearah Mama biar dia merasa lega.
" Bener ya nanti kamu tanya sama dia, terus bilang Mama mau segera ke rumah untuk ketemu dengan kedua orang tuanya."
"Iya Mama."
Selesai sarapan aku pamit untuk berangkat ke kantor. Mobil kujalankan dengan kecepatan sedang menuju ke kantor sepanjang jalan aku kepikiran dengan Anin aku merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.
"Anin, apa yang kamu sembunyikan sebenarnya."
Sesampainya di depan aku langsung turun dari mobil dan memberikan kunci mobil kepada Pak Agus yang pagi itu sedang berjaga.
"Pagi Pak Alfa." Sapa nya.
"Pagi Pak Agus, oh ya... Siang siapkan mobil Pak, Saya makan di luar." perintah Ku.
"Baik Pak."
Aku kemudian berjalan masuk ke dalam kantor dan langsung menekan tombol lift untuk menuju ke ruangan.
Di depan sudah ada Rina yang tersenyum menyambut kedatanganku.
"Pagi Pak Alfa."
"Ada meeting Pak siang ini, kemudian besok pagi ada jadwal kunjungan ke luar kota di cabang yang baru." Terang Rina.
"Ke luar kota.? Besok ya, kok bisa lupa saya. Ya sudah siapkan semua dokumen yang harus saya bawa."
"Baik Pak."
Aku kemudian masuk ke dalam ruangan dan menjatuhkan diri ku di atas sofa.
"Anin.."
Aku mengambil ponselku dan menekan nomor Anin.
" Assalamualaikum." terdengar suaranya yang lembut membuatku tersenyum.
" Waalaikumsalam, sudah di kantor Anin."
"Sudah."
singkat sekali jawabannya tanpa menanyakan kabarku sama sekali.
"Nanti siang makan siang ya sama aku, ada yang penting harus aku bicarakan sama kamu."
Lama Dia tak menjawabnya hingga aku memanggilnya kembali.
"Anin."
"Enggak bisa bicara ditelepon aja, Mas."
"Nggak bisa Anin, nanti siang aku tunggu di mobil."
" Pekerjaan Anin, banyak Mas."
__ADS_1
"Kan waktunya istirahat juga harus istirahat Anin jangan diforsir pikiran kamu."
"Pekerjaan Anin memang baru banyak ini Mas. Maaf sepertinya Anin tidak bisa."
"Pokoknya aku tunggu kamu di mobil, atau aku jemput kamu di ruangan."
Tiba - tiba panggilan itu terputus sepihak tanpa jawaban dari Anin.
"Halo.. Anin.."
"Maaf Pak, waktunya meeting sudah ditunggu."
Rina sudah memberitahu untuk segera masuk ke ruang meeting.
"Baik."
Ponsel aku masukkan ke dalam saku kemudian keluar ruangan menuju ke ruang meeting.
Meeting berjalan sangat lambat menurutku selain karena pikiranku masih tertuju pada Anin permasalahan di cabang baru membuat kepalaku semakin pusing dan memang mengharuskan ku untuk berangkat ke sana besok pagi.
Tak terasa jam makan siang pun terlewatkan, karena tak mungkin juga aku izin keluar meeting.
"Gagal lagi ketemu Anin."
Aku bicara sendiri sambil memijat keningku yang terasa sangat pusing.
"Pak Alfa, besok pakai mobil Pak Alfa saja ya."
Siska tiba-tiba ada di dekatku, rasanya ingin menolak jika harus keluar kota bersama dengan Siska.
"Iya Bu."
"Pak Alfa bisa kan jemput saya di rumah."
"Maaf Bu, kita bertemu di kantor saja karena kita juga harus berangkat dengan Pak Burhan."
Terlihat sekali wajah Siska yang berubah, tapi masa bodoh yang penting aku tidak pergi berdua dengan Siska.
Meeting selesai, nggak mungkin juga aku mengajak Anin untuk keluar karena dia sudah kembali bekerja pastinya.
Sore menjelang, aku masih sangat sibuk mempersiapkan dokumen yang harus aku cek dan aku bawa ke luar kota besok pagi.
🌹🌹🌹🌹🌹
Kembali ke Anin ya, Versi Author.
"Kamu kenapa Anin."
Miss Salsa memandang Anin yang tak terlihat berselera makan siang dari tadi di kantin.
"Nggak papa Miss."
"Kamu sudah dua hari ini lho, sering melamun."
"Ada masalah." Tambah Miss Salsa.
"Nggak Miss."
" Anin bukannya aku mau memaksa kamu bercerita tetapi ya seenggaknya siapa tahu aku bisa meringankan beban kamu."
"Hufftt..."
Yang terdengar helaan nafas dari Anin.
"Aku sudah kamu seperti Adik aku sendiri Anin, apa Kamu sedang ada masalah dengan Pak Alfa."
Anin bukannya menjawab doa malah menunduk dan terdengar tangisannya.
"Anin.. lho..gimana ini malah nangis.."
😱😱😱😱😱
__ADS_1