KOPI CINTA

KOPI CINTA
84


__ADS_3

Pulang dari kantor Alfa mengajak Anin ke sebuah mall, Dia ingin mengajak istrinya itu untuk berbelanja keperluan mereka karena semenjak menikah Alfa sama sekali belum pernah mengajaknya jalan mereka hanya di rumah.


"Mas kita mau cari apa."


Mereka saat ini masih berada di dalam mobil dan Anin nggak tau mau ngapain ke mall.


"Kita cari keperluan kamu sayang."


"Anin lagi nggak butuh apa - apa Mas, semua sudah ada di rumah."


Alfa malah terkekeh, kenapa istrinya bisa polos begitu.


"Sayang, kamu nggak pingin apa beli tas, sepatu, baju atau keperluan kamu yang lain."


"Masih punya Mas di rumah, masih bagus juga."


Alfa tersenyum saja, masih ada perempuan kayak istrinya setelah tau kekayaan suaminya.


Mobil Alfa berhenti dengan sempurna kemudian mengajak istrinya masuk ke dalam.


"Sayang kita beli kebutuhan rumah yang belum ada, kamu juga bebas mau beli apa aja."


"Kita ke supermarket aja Mas, beli kebutuhan untuk sehari-hari."


"Oke."


Alfa dengan senang hati mendorong kereta belanjaan mereka dan Anin yang mengambil beberapa barang keperluan keluarga mereka.


"Sudah Mas."


"Kita ke kasir Sayang."


Alfa mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar belanjaan mereka.


"Kamu mau beli apa lagi Sayang."


Tanya Alfa saat sudah keluar dari kasir dan mendorong belanjaannya.


"Pulang aja ya Mas, Anin capek."


"Beneran pulang."


"Iya Mas."


Alfa mendorong kereta belanjaan mereka dan menggandeng tangan Anin dengan tangan satunya hingga ke mobil dan kemudian memasukkan belanjaan mereka ke bagasi.


Mereka masuk ke dalam mobil dan kemudian Alfa melajukan mobilnya menuju ke rumah.


Tak butuh waktu lama mobil terparkir di garasi, Alfa meminta Pak Toni untuk memasukkan belanjaan mereka.


Alfa dan Anin masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam kemudian meraih tangan Mama Ani yang berada di ruang keluarga dan mencium punggung tangannya.


"Kak Amel kemana Ma." Tanya Alfa yang tak melihat kakaknya bersama sang Mama.


"Di kamar, sejak makan siang tadi belum keluar dia. Mama jadi khawatir sama kakak kamu Fa."


Mamanya menghela nafas dia mengingat permintaan Amel yang ingin mempertemukan Arsy dengan Papanya.


Alfa duduk sambil merangkul pundak Anin yang duduk di sampingnya.


"Alfa masih berat Ma untuk mengiyakan keinginan Kak Amel."

__ADS_1


Anin memandang wajah suaminya.


"Mama juga Fa, tapi kalau dipikir Amel benar juga Indra itu tetap Papanya Arsy."


"Tapi apa pantas seorang laki-laki yang sedang menelantarkan istri dan juga anaknya masih disebut Papa."


"Mau bagaimana pun perbuatan Mas Indra di masa lalu, Arsy tetap darah dagingnya Fa." Suara Kak Amel yang baru keluar dari kamarnya dan mendekati mereka.


"Kakak enggak sakit hati apa dengan perbuatan Indra."


Tanya Alfa dengan menatap wajah kakaknya yang terlihat sedih itu.


"Kakak memang sakit hati, bohong kalau kakak tidak sakit hati Fa. Tapi semakin kesini dan Arsy semakin besar membuat Kakak berpikir ulang, Kakak takut Indra berbuat nekat dan membawa Arsy pergi."


"Biar Alfa berfikir dulu Kak."


Alfa berdiri dari tempat duduknya dan meraih tangan Anin mengajaknya ke kamar.


"Fa... Kakak hanya ingin memberitahu kepada Arsy siapa Papa kandungnya, karena Kakak gak mau Arsy tahu dari orang lain dan Kakak takut nanti dia marah kecewa dengan kita."


Ucap Amel sebelum Alfa pergi ke kamar.


"Alfa akan mencari tahu dulu apa sebenarnya maksud dari Indra menampakan dirinya kembali dihadapan kita."


Jawaban Alfa seenggaknya sudah membuat Amel sedikit lega adiknya sudah mau membuka hatinya.


Alfa berjalan sambil memeluk pinggang Anin dan membawanya ke kamar.


"Ma, Mama merestuinya kan jika Arsy bertemu dengan Mas Indra."


Amel mendekati Mamanya dan meraih tangannya.


"Mama tahu bagaimana perasaan kamu, tapi Mama jujur masih belum bisa menerima perlakuan Indra dulu kepada kamu dan Arsy. Jika Memang Indra punya niat baik ingin bertemu dengan Arsy dan dia masih punya itikad untuk menjadi Papa yang bertanggung jawab untuk Arsy, Mama akan mencoba menerimanya tapi tak ada kata Kamu kembali dengan Indra semua hanya sebatas memberitahu Arsy siapa Papa kandungnya."


"Ma.. Amel hanya ingin sebatas memberi tahu siapa Papa kandungnya Arsy karena Mas Indra juga sudah punya keluarga baru." Ucap Amel dan Mama Ani memeluk putrinya itu.


"Hati Amel sudah tertutup Ma untuk dia, tapi bagi Amel tidak ada mantan anak Arsy tetap punya hak untuk tahu siapa Papa kandungnya Ma."


"Mama paham sayang."


Hari makin malam, dan Adzan maghrib pun telah berkumandang. Alfa dan Anin sudah selesai membersihkan tubuh mereka dan kini bersiap untuk sholat maghrib berjamaah.


Alfa akan menjadi imam salat untuk mereka sekeluarga, dan setelah selesai Mereka mengaji sambil menunggu waktu Isya.


Makan malam telah tersaji di meja dan Mereka menyantapnya bersama. Selesai makan Anin masih membersihkan peralatan mereka bersama Bibi dan kemudian menemui suaminya yang berada di ruang keluarga.


"Sayang, capek ya."


Alfa meraih tangan Anin dan memintanya duduk di sebelahnya.


"Mas, kita istirahat yuk."


Anin nampak capek.


"Ayo Sayang, kasihan istri Mas kelihatan capek ini."


Alfa memeluk pinggang Anin dan membawanya naik ke lantai atas menuju ke kamar mereka.


Alfa memandangi tubuh Anin yang masuk ke dalam kamar mandi, dan kemudian mengambil ponselnya untuk mengecek email.


Setelah dari kamar mandi Alfa memanggil Anin dan memintanya untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Sayang.."


Sambil mengulurkan tangannya menyambut Anin.


"Iya Mas, ada apa."


Anin duduk di sampingnya dan Alfa membawanya ke dalam pelukannya.


"Maafin Mas ya."


"Buat apa Mas."


"Mas belum bercerita tentang kehidupan Mas di masa lalu sama kamu."


Anin menatap suaminya.


"Itu hak Mas, mau bercerita atau tidak Anin nggak bisa memaksa Mas karena itu privasi Mas Alfa."


Kemudian Alfa mengeluarkan sesuatu yang terbungkus amplop putih.


"Ini buat kamu Sayang."


Anin menerimanya namun belum membukanya.


"Ini apa Mas."


"Buka Sayang."


Anin membuka amplop itu dan menemukan dua kartu berwarna hitam dan buku tabungan.


"Kenapa Mas Alfa memberikan ATM sama buku tabungan ini ke Anin."


"Kamu yang pegang ya Sayang, Mas percayakan keuangan keluarga kita kamu yang atur."


"Anin apa bisa Mas."


"Sayang, kamu bisa. Yang ini ATM khusus buat keperluan kamu ini nafkah yang harus Mas berikan untuk kamu. Sedangkan yang ini ATM dari hasil benefit showroom, Mas percaya kamu bisa mengelolanya."


"Kenapa hasil showroom juga Anin yang pegang Mas."


"Sayang, restoran sudah dihandle sama Kak Amel dan keuntungannya untuk kehidupan Kak Amel dan Arsy sedangkan showroom itu menjadi tanggung jawab Mas dan karena kamu istri Mas jadi benefit dari penjualan di showroom kamu yang pegang aja, setiap bulannya nanti akan ditransfer hasil bersih dari penjualan. Mas yang akan menerima laporannya dan kamu yang menerima uangnya."


"Kenapa nggak Mas sendiri yang pegang terus Mama gimana."


"Mas sudah pegang hasil dari kantor dan setiap bulannya juga akan Mas transfer ke rekening kamu. Masalah Mama, sudah menjadi tanggung jawab Mas kamu tenang aja ya."


Alfa memeluk Anin dan mendekapnya.


"Mas.."


"Hmm.. Iya Sayang, kenapa Mas kurang ya kasih nafkahnya."


"Bukan Mas, ini sudah lebih dari cukup. Kenapa Mas begitu percaya sama Anin."


"Kamu wanita sholehah Sayang."


Hati Anin terasa tertampar Alfa berkata begitu, padahal dia merasa belum mampu untuk menjadi sholehah.


"Mas yakin kamu mau menikah sama Mas bukan karena harta tapi karena kita sama-sama ingin meraih ridha-Nya."


"Emang ada yang cuma mau sama harta Mas."

__ADS_1


Anin menengadahkan kepalanya dan Alfa menatapnya. Dia memang sengaja ingin mendengar cerita dari Alfa dan Dia teringat dengan ucapan Riko tadi siang.


😁😁😁😁😁


__ADS_2