KOPI CINTA

KOPI CINTA
88


__ADS_3

"Jadi apa benar yang diceritakan sama Bibi ya."


Anin berbicara sendiri di dalam hatinya sambil bersandar di tempat tidur menunggu suaminya yang ada di kamar mandi.


"Sayang, kenapa melamun."


Alfa mendekatinya dan membawa Anin ke pelukannya.


Anin tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"He he.. Nggak papa Mas."


"Gemesin kamu Sayang."


Alfa mencubit pelan hidung Anin.


"Tidur yuk Mas."


"Yakin mau tidur."


Alfa menatapnya dengan senyuman nakalnya.


"Iya Mas, udah malam."


Anin melepaskan pelukannya dan merebahkan diri sambil menarik selimutnya.


Alfa tersenyum saja dan ikut berbaring di samping Anin yang kemudian menyelimuti tubuhnya.


"Sayang."


Alfa memiringkan badannya.


"Hmmm.. Kenapa Mas."


"Angkat kepalanya Sayang, terus hadap sana."


Anin mengikuti apa yang di mau sama Alfa. Dia tersenyum saja menjadikan tangan suaminya sebagai bantal dan dipeluk dari belakang dengan mesra.


"Tangannya Mas, jahil deh."


Alfa membuka kancing baju tidur Anin satu persatu.


"He he he.. Ini kan milik Mas."


"Mas nggak capek."


"Mas nggak ada capeknya Sayang."


Tangan Alfa sudah bergerilya ke sana kemari di tubuh Alya.


"Mas..."


"Iya Sayang."


"Mas Alfa nakal, nggak jadi tidur ini nanti."


"Mas suka Sayang, bikin kamu menggeliat begitu."


"Hmmmm... Mas.."


"Iya Sayang, apa Sayang."


🤣🤣🤣🤣🤣


(Tit...tit..tit.. Sensor ya.)


Pagi harinya Anin terbangun saat mendengar adzan subuh, Dia langsung membangunkan suaminya yang masih tertidur lelap memeluk dirinya.

__ADS_1


"Mas, udah adzan. Bangun Mas.."


Anin mengusap pipi suaminya dengan lembut.


"Hmmmm... "


"Mas ke masjid nggak, udah azan Mas nanti telat."


Alfa mengerjakan kedua matanya melihat istrinya yang tersenyum memandangnya.


"Bangun Mas, mandi ke masjid itu udah berhenti adzan nya."


"Sholat rumah aja Sayang, telat nanti kalau ke masjid."


"Mas di bangunin dari tadi susah."


"Ya udah yuk mandi, Kita sholat di rumah sayang."


Alfa menyibakkan selimut yang menutupi mereka berdua dan kemudian menggendong tubuh Anin membawanya ke kamar mandi.


Mereka mandi berdua dan setelah selesai mereka bersiap turun untuk jamaah bersama Mama dan Kakaknya.


"Nggak ke masjid Fa." Tanya Mamanya.


"He he he.. Nggak Ma, udah telat kalau ke masjid."


Alfa bertindak sebagai Imam dan para perempuan menjadi makmumnya. Selesai sholat Alfa mengajak Anin untuk jalan pagi karena ini weekend dia punya waktu yang panjang untuk menikmati pagi hari bersama sang istri.


"Bunda.. Ikut."


Arsy merengek begitu melihat Anin dan Alfa sudah bersiap mau jalan pagi.


"Jangan Sayang, kamu di rumah aja ya sama Mama."


Larang Alfa.


"Hiks..hiks... Bunda ikut."


"Boleh lah Mas, kita jalan santai aja keliling kompleks."


"Ya udah.."


Alfa kemudian menunggu Arsy yang bersiap dengan dibantu oleh Anin sambil duduk di sofa.


"Yuk Pa."


Arsy keluar dari kamarnya sudah mengenakan sepatu dan juga baju olahraga.


"Cantik banget anak Papa."


Alfa mencubit pipi Arsy dan kemudian memintanya untuk pamit dengan Mama dan juga Oma.


"Bye.. Oma, Mama.. Bye..."


Arsy melambaikan tangannya sambil berjalan keluar bersama dengan Anin dan Alfa.


"Hati - hati ya Anin."


Pesan Amel.


"Iya Kak."


Mereka bertiga keluar dari rumah dan berjalan santai hanya untuk mengitari kompleks saja menghirup udara pagi.


Di dalam rumah nampak Amel yang sejak tadi mengamati Arsy yang pergi bersama dengan Alfa dan juga Anin.


"Kamu bahagia sekali Sayang, merasakan seperti mereka berdua itu orang tua kamu. Mama iri ingin menggandeng kamu seperti itu bersama Papa Kamu." Amel berbicara sendiri di dalam hatinya.

__ADS_1


"Mel."


Panggil Mama Ani yang melihat Amel melamun.


"Iya Ma."


Amel sedikit kaget mendengar panggilan Mamanya.


"Kamu kenapa, pagi-pagi sudah melamun."


Amel tersenyum dia tak mungkin mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, namun sebagai Mama walaupun Amel tidak mengatakannya Mama Ani pun bisa merasakannya.


"Nggak papa Ma."


Kata Amel sambil tersenyum kearah Mamanya.


Mama Ani menghela nafasnya.


"Sejak tadi Mama perhatikan kamu melihat Aray terus sambil melamun dan tatapan Kamu terlihat sedih memandang Arsy berjalan bersama Alfa dan juga Anin."


Amel memandang ke arah Mamanya sesaat dan kemudian membuang mukanya ke arah lain.


"Kamu iri sama Mereka, bisa ngajak Arsy jalan-jalan seperti itu."


Amel kaget bagaimana Mamanya bisa tahu isi hatinya.


"Amel manusia biasa Ma, pasti iri melihat mereka yang lebih sempurna dan bahagia bersama pasangannya."


Amel mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan dia mencoba untuk mengontrol air matanya agar tidak jatuh.


"Mel... Kamu harus ikhlas menerima semua yang sudah ditakdirkan sama kamu."


"Tapi Ma, apa Kita juga harus berdiam diri menerima takdir tidak berusaha untuk mengubah yang lebih baik." Kata Amel sambil menatap Mamanya dalam.


"Semua orang memang harus berikhtiar jangan hanya pasrah dengan takdir itu yang diperintahkan oleh agama."


"Jadi apa salah kalau Amel mau berikhtiar supaya bisa merubah takdir ini Ma."


Mama Ani menatap ke arah Amel.


"Maksud kamu bagaimana Mel."


Amel menarik nafasnya kembali dan menghembuskannya pelan.


"Amel mempertemukan Arsy dengan Papanya. Apa Amel salah Ma."


Mama Ani nampak menggelengkan kepalanya.


"Mama nggak mau kalau kamu punya pemikiran seperti itu."


"Ma... Mau sampai kapan Arsy harus di rumah, Amel harus di rumah tidak boleh keluar hanya untuk menghindari Mas Indra. Amel capek Ma, Memang mas Indra itu dulu salah meninggalkan Amel dan Arsy saat butuh dirinya, tapi apa tidak ada kesempatan untuk Amel bisa bicara dengan Mas Indra."


Mama Ani nanar menatap anak perempuannya itu yang baru kali ini berani bicara mengenai mantan suaminya kepada Mamanya.


Amel memang selama ini hanya diam, ada rasa benci di dalam hatinya kepada mantan suaminya yang telah meninggalkannya bersama dengan anaknya begitu saja jadi Dia memilih diam dan merasa bahwa keluarganya benar telah memisahkan dirinya dengan mantan suaminya . Namun setelah berpikir dan menenangkan pikirannya Dia jadi penasaran kenapa dulu mantan suaminya itu meninggalkan dirinya dan juga anaknya.


"Amel kamu lupa Indra meninggalkan kamu begitu saja di rumah sakit saat kamu butuh dia dan Dia malah menikah dengan wanita lain." Mama berbicara dengan nada tinggi.


"Tapi Amel tidak tahu apa alasan sebenarnya Mas Indra melakukan itu."


"Apapun alasan Indra, Dia salah telah meninggalkan istri dan juga anaknya. Dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang harusnya kamu itu bersyukur sudah berpisah darinya."


Mama Ani beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Amel dengan mata yang sembab.


"Ma.. kasih tahu sama Amel kenapa Mas Indra dulu meninggalkan Amel."


Mama Ani hanya pergi begitu saja menuju ke kamarnya meninggalkan Amel.

__ADS_1


"Kenapa semua orang menutupi dari Amel." Ucap sendiri, Dia merasakan frustasi.


😌😌😌😌😌


__ADS_2