
Lukman yang tergesa - gesa karena sudah mendapatkan telepon dari sekretaris Alfa dia langsung membawa kopi yang telah dibuatkan oleh angin tadi menuju ke ruangan Alfa.
Sesampainya di depan ruangan Alfa, Lukman menemui Rina yang duduk di depan ruangan Alfa.
"Siang Bu Rina."
"Siang, Mas. Kok lama sih Papa sudah nunggu dari tadi."
"Ini Bu sudah."
Lukman menunjukkan satu gelas kopi yang berada di atas nampan.
"Itu sudah benar seperti resep yang kemarin."
Rina sedikit meragukannya.
"Maaf Bu, teman saya tadi sedang mencari orang yang kemarin membuatkan kopi dan saya menunggu di pantry siapa tahu dia ke pantry lagi tapi sampai siang ini tak ada."
"Aduh.. Mas, nanti kalau Pak Alfa nggak mau lagi gimana."
"Di coba dulu Bu, ini tadi juga bukan saya yang buat tapi ada seorang cewek yang sedang buat kopi di pantry tapi saya lupa nggak nanya siapa namanya."
"Yang angkat telepon saya tadi siapa."
"Cewek itu Bu, karena saya sedang di kamar mandi."
"Aduh gimana ya Mas, masa Pak Alfa buat percobaan sih."
"Tapi tadi saya coba sedikit rasanya Enak kok Bu, kopi ini."
"Ya udah Mas Lukman masuk aja deh kepala saya sudan pusing, Pak Alfa dari tadi sudah menanyakan terus."
"Ya Bu."
Lukman mengetuk pintu ruangan Alfa dan setelah mendapatkan jawaban dari dalam, Lukman membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam.
"Permisi Pak, ini kopinya."
Alfa langsung mendekat ke Lukman yang masih berdiri.
Tanpa bicara Alfa mengambil sendok kecil yang ada di atas cawan dan mencobanya sedikit kopi itu.
Ekspresi Alfa langsung berubah yang tadinya terlihat masam Dia sedikit tersenyum walaupun hanya di sudut bibirnya.
Alfa mengambil gelas itu dan langsung menyeruputnya.
"Ini baru benar, hebat kamu bisa mencari orang yang buat kopi kemarin."
Alfa membawa kopi itu dan duduk di sofa sambil menikmatinya.
Lukman malah bengong, di dalam hatinya dia bicara sendiri.
"Jadi cewek tadi yang kemarin mau buatin kopi Pak Alfa."
"Lukman."
Panggil Alfa.
"Eh.. Iya, maaf Pak."
"Kamu enggak dengar tadi saya bicara apa."
"Maaf Pak, kenapa."
__ADS_1
"Siapa yang buatkan kopi ini tadi."
Alfa siapa yang membuat kopi bisa seenak itu.
"Seorang perempuan Pak, karyawan sini."
"Namanya siapa, divisi mana."
"Eh.. Itu Pak, anu.. hemmm..."
Alfa memandang Lukman dengan heran.
"Anu ini, siapa namanya."
"Saya lupa tanya Pak, nanti kalau ketemu lagi saya tanyakan namanya pak."
"Bagaimana sih kamu, terus resepnya kopi sudah kamu minta kan.?"
"Ma.. Maaf Pak, belum. Itu tadi yang buat kan perempuan itu sendiri Pak. Tapi... tapi nanti akan saya cari perempuan itu pada minta resepnya supaya saya juga bisa membuatkan kopi seperti itu untuk Bapak."
"Oke bagus, kamu boleh pergi."
"Baik Pak, permisi."
"Tapi ingatnya hari ini minta resepnya sama dia."
"Iya Pak."
Lukman keluar dengan perasaan lega, tapi masih ada hal yang mengganjal kenapa tadi dia tidak tanya nama perempuan itu dan sekarang dia pusing mencari dia kemana dan meminta resepnya.
Rina yang ada di depan juga penasaran kenapa Lukman di dalam lama dan begitu melihat Lukman keluar dari ruangan Alfa dia langsung bertanya.
"Gimana Mas, mau Pak Alfa nya."
"Gimana sih kamu Lukman."
"Nanti akan saya cari bu perempuan itu."
"Ya sudah, buruan kamu cari daripada besok Pak Alfa minta lagi kamu bisa kena semprot lagi."
"Iya Bu, saya permisi."
Lukman kembali ke pantry dan ketemu kedua rekannya yang terlihat capek setelah berputar satu gedung mencari perempuan itu di setiap divisi.
"Darimana Man."
tanya Yosi.
"Dari ruang Pak Alfa."
Andi dan Yosi kemudian membenarkan duduknya memandang serius ke arah Lukman.
"Ngapain, kan belum ketemu cewek yang buatkan kopi itu."
Menurut Andi.
"Kamu ngapain bawa nampan, memang kamu bisa buatin kopi kayak kemarin Pak Alfa."
"Tunggu dulu aku mau cerita. Aku itu mengantarkan kopi ke ruangan Pak Alfa dan Dia suka kopinya ternyata yang aku antar itu tadi kopi yang kemarin dibuatkan untuk Pak Alfa."
Andi dan Yosi kaget.
"Kok bisa, berarti kamu sudah ketemu cewek itu."
__ADS_1
"Siapa namanya, divisi mana."
Andi dan Yosi bergantian mencecar Lukman dengan pertanyaan.
"Itu bodohnya aku tidak tanya siapa namanya dan divisi mana."
"Giman sih kamu Man."
Yosi nampak jengkel dengan Lukman.
"Tapi kok bisa cewek itu tadi buatin kopi."
Andi penasaran dan Yosi juga.
"Iya kok bisa."
" Jadi begini ceritanya tadi itu aku ke kamar mandi setelah balik dari kamar mandi ada seorang cewek di sini sedang buat kopi terus dia bilang tadi itu ada yang telepon dan suruh buatin kopi untuk pak Alfa mungkin dari Bu Rina dan baiknya cewek itu dia sedang buatkan kopi itu karena dia tidak tahu ruangannya dia meminta aku yang mengantarnya ke sana."
"Wah beruntung kita hari ini."
Andi sedikit bernafas lega.
"Tapi sekarang Pak Alfa udah minum kopinya tetapi PR kita harus cari cewek itu dan meminta resepnya."
Lukman mengusap kasar wajahnya menyesali kebodohannya kenapa tadi tidak bertanya.
"Iya kamu sih Man, aduh kita jalan - jalan lagi nih nyari cewek itu."
Andi dan Yosi sudah lemas harus mencari lagi di mana cewek itu berada.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di ruangan Alfa, masih menikmati kopi yang ada di gelas dan dia pegang ditangannya.
"Siapa cewek ini, sampai aku terngiang terus dengan rasa kopi buatannya."
Alfa bicara sendiri.
"Sebelumnya belum pernah ada itu karyawan yang buat kopi sendiri ke pantry biasanya tinggal telepon."
"Aku jadi penasaran, harus cari tau juga siapa cewek ini."
Kemudian terdengar ketukan pintu di ruangan Alfa.
"Ya masuk."
Terbukalah pintu itu dan muncul seorang perempuan.
"Pak Alfa, mari kita meeting sekarang sudah ditunggu direksi."
Siska dengan rok mini dan seksi masuk dengan berlenggak-lenggok menggoda Alfa.
"Oke Bu."
Alfa keluar begitu saja meninggalkan Siska yang masih berdiri di dalam.
Alfa menghampiri Siska di mejanya dan memintanya untuk mengikuti meeting bersama direksi.
"Awas ya kamu Alfa."
Siska geram sendiri.
😀😀😀😀😀
__ADS_1