
Mobil Alfa telah terparkir di depan rumah Orang tua Anin. Dia turun kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Ayo Sayang."
Alfa mengulurkan tangannya untuk diraih sama Anin.
"Makasih Mas." Ucap Anin sambil menerima uluran tangan Alfa.
"Anin bisa kok Mas, Buka pintu mobil sendiri." Katanya saat Alfa menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk.
"Kamu kan istri Mas, harus diperlakukan spesial dong. Masa sebelum jadi istrinya aja mesra setelah jadi istrinya malah tidak di perlakukan mesra." Protes Alfa dan Anin tersenyum saja dia merasa tersanjung.
Anin menekan bel rumah dan mereka mengucapkan salam.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Terdengar jawaban Mama Rani dari dalam rumah.
Pintu terbuka dan nampak Mama yang malah seperti kaget melihat mereka berdua.
"Lho.. Kok kalian pulang."
Mama Rani nampak melongo, Anin pun meriah tangan sang Mama dan mencium punggung tangannya begitu pula dengan Alfa.
" Mama gimana sih anaknya pulang kok malah kelihatan nggak senang gitu." Anin heran dengan Mamanya.
"Ya Mama kirain kalian mau beberapa hari di hotel atau bahkan malah berangkat bulan madu."
"Mama ada - ada aja deh."
Anin merangkul tangan Sang Mama dan mengajaknya masuk Alfa pun mengikuti mereka.
"Wah, pengantin baru datang nih." Papa Budi yang keluar dari kamar melihat mereka berdua.
"Pa, belum ke kantor."
Alfa meraih tangan Papa mertuanya dan mencium punggung tangannya begitu pula dengan Anin yang masih memeluk lengan Mamanya.
"Papa masih cuti Alfa."
"Ini sudah punya suami kok nggak berubah sih, Anin." Ledek Papanya.
"Emang kenapa Pa."
"Nggak malu itu sama suaminya."
"Nggak ya Mas."
Alfa tersenyum aja melihat istrinya yang masih manja dengan Mamanya.
"Kita duduk aja Alfa, biarkan mereka perempuan pada ke dapur."
Alfa dan Papa duduk di ruang keluarga sedangkan Anin dan Mamanya ke dapur.
Anin kembali ke ruang keluarga dengan membawa minuman dan camilan untuk suaminya dan Papanya.
"Kok nggak kopi Anin." Protes Papanya yang sebenarnya kangen dengan kopi buatan anak perempuannya itu.
"Jangan kopi terus Pa."
"Silahkan Mas."
"Makasih Sayang."
Alfa tak protes dengan apa yang disajikan oleh Anin karena dia tadi pagi sudah menikmati kopi spesial buatan istrinya.
Alfa dan Papa Budi menikmati siang hari itu bersama dengan mengobrol, Anin kemudian menghampiri mereka kembali karena diminta sang Mama untuk mengajak suami dan Papanya makan siang.
__ADS_1
"Mas, Pa. Yuk makan siang udah siap."
"Ayo Alfa."
"Iya Pa."
Mereka bersama ke ruang makan untuk bersantap siang, Anin meladeni suaminya dengan mengambilkan nasi dan lauk pauk serta minumnya.
"Silahkan Mas."
"Makasih Sayang."
Mama dan Papa tersenyum melihat kemesraan mereka.
"Papa sama Mama kenapa."
Anin masih merasa diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
"Kalian selalu bahagia ya, mesra sampai tua." Kata Mama Rani.
"Aamiin." Ucap Alfa dan Anin bersama.
"Seperti kita ya Ma, selalu mesra." Papa Budi memeluk pinggang istrinya yang sedang mengambilkannya nasi.
"Papa nggak malu apa sama menantu."
"He he he..." Alfa dan Anin terkekeh melihat candaan kedua orang tuanya.
Selesai makan siang Mereka ngobrol di ruang keluarga dan terdengar suara Fajar baru pulang sekolah.
" Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jawab Mereka semua.
Fajar menyalami Papa, Alfa dan juga Anin, kalau Mamanya sudah di depan tadi.
"Emang kenapa." Sewot Anin dan Alfa mengusap kepalanya sambil tersenyum.
"Jangan gitu Sayang."
"Bolos ya jam segini udah pulang." Tuduh Anin ke Fajar yang duduk di samping Papanya.
"Apaan Kakak ini, gurunya ada acara."
"Jangan nuduh gitu Sayang."
Alfa heran melihat mereka berdua kayak kucing sama tikus tapi kalau akur lengket banget.
"Kak Anin emang kayak gitu Mas." Sambil menjulurkan lidahnya ke Anin.
"Kak, ajak Alfa istirahat sana. Sebentar lagi dhuhur nanti kita ke masjid ya" Kata Papanya.
"Iya Pa."
"Ayo Mas, kita istirahat."
"Ma, Pa. Tinggal dulu."
"Iya istirahat Alfa." Kata Mamanya dan Papa Budi menganggukkan kepalanya.
Alfa mengikuti Anin menuju ke kamarnya.
"Sayang."
Alfa meraih tangan Anin.
"Iya Mas."
__ADS_1
"Kita ke kamar siapa." Tatap Alfa dengan menggoda.
Anin berhenti dan memandang suaminya.
"Mas maunya ke kamar siapa."
"Kamar istri Mas dong."
Alfa mencubit pipi Anin.
"Tapi janji dulu."
"Apa Sayang "
"Jangan diketawain kalau masuk ke dalam kamar Anin."
Alfa mengerutkan dahinya,dia jadi penasaran ada apa di dalam kamar istrinya.
"Emang ada pelawaknya."
Kata Alfa sambil menahan tawanya.
"Serius Mas." Anin cemberut.
"Mas udah pernah bilang kan, jangan suka cemberut kayak gitu bikin gemes aja." Bisik Alfa di telinga Anin yang bikin bergidik.
"Mas janji dulu."
"Oke, ayo masuk Sayang, Mas ngantuk nih." Alfa menarik tangan Anin.
Anin tersenyum dan kemudian membuka pintu kamarnya.
"Silahkan masuk Mas."
Alfa masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya ke semua sudut kamar Anin.
Kamarnya tidak terlalu besar dan terkesan anak remaja banget.
Anin memberikan privasi tambahan dengan menyimpan tirai di sekitar kasur karena dia merasa nyaman tidur begitu.
Keberadaan tirai di kasur juga memberi kesan mewah pada kamar dan membuat ruangan tampak lebih menawan.
Alfa tersenyum memandang ke arah kasur dan berjalan mendekatinya.
"Bagus banget Sayang, bisa di coba nih." Alfa dengan senyum nakalnya duduk di pinggir kasur.
Anin sudah punya feeling tidak enak ini, dia membereskan meja yang biasanya ia gunakan untuk bekerja.
"Sayang." Alfa memanggil Anin karena dia tahu kalau istrinya pura-pura membereskan saja.
"Iya Mas, kenapa."
Anin masih tak menoleh.
Alfa berjalan mendekatinya dan langsung mengangkat tubuhnya.
"Mas..."
"Hussttt... jangan keras-keras bisa dengar semua kamar kamu nggak kedap suara kan."
Anin menutup mulutnya dan Alfa terkekeh.
Alfa membawa Anin ke atas kasur dan meletakkannya pelan.
"Mau ngapain Mas."
"Mau nyoba kasur kamu dong Sayang."
__ADS_1
Alfa menutup tirai nya dan.....
😃😃😃😃😃😃