
Mereka sedang sarapan bersama, Mama Ani selalu memperhatikan menantunya yang sangat telaten melayani Alfa.
Alfa menyadari kalau Mamanya memperhatikan Anin sambil tersenyum, tapi dia juga diam saja nanti malah membuat Anin merasa tidak enak.
Selesai sarapan Anin membantu Bibi untuk membersihkan peralatan makan mereka walaupun sudah di larang, Anin tetap ingin membantunya.
Mereka semua berada di taman belakang menikmati udara pagi, Mama Ani dan Alfa duduk santai di sofa sedangkan Amel menemani Arsy bermain di halaman belakang.
"Ma, Alfa boleh tanya."
"Iya Alfa mau tanya apa."
Mamanya memandang Alfa.
"Alfa perhatikan saat di meja makan tadi, Mama mengamati Anin terus sambil senyam-senyum kenapa."
Mama Ani lagi - lagi tersenyum,
"Anin, terlihat Sayang banget sama kamu, dia telaten melayani kamu dan sabar." Kata Mamanya.
Alfa tersenyum,
"Alfa beruntung Ma mendapatkan Anin."
"Ada apa Mas, manggil Anin."
Anin datang membawakan minuman serta camilan untuk mereka semua dan dia hanya mendengar namanya disebut oleh suaminya tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.
"Nggak papa Sayang, sini Sayang."
Alfa mengulurkan tangannya dan di raih Anin, Dia duduk di sebelah suaminya.
Alfa mencubit pipi Anin dan membuat istrinya itu malu karena ada Mama di depannya.
"Mas, apaan sih malu."
Alfa menyingkirkan tangan Alfa di pipinya. Namun bukan Alfa kalau tidak jahil dia malah mencium pipi Anin di depan Mamanya.
"Mas..."
Anin memukul pelan paha suaminya.
"Sakit Sayang."
Mama Anin terkekeh melihat anaknya yang tak punya malu mencium istrinya di depannya.
"Mas nggak malu sama Mama."
"He he he.. Mama pernah muda Sayang."
"Suami mu emang kayak gitu Anin, udah nggak punya malu dia." Ledek Mama Ani.
"Mama, masa Alfa nggak punya malu."
"Mas, Anin sama Kak Amel ya."
"Mau ngapain Sayang."
Anin tersenyum, "Ngobrol aja."
Alfa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Dia sudah paham apa maksud dari Anin.
"Anin tinggal ya Ma."
"Iya Sayang."
Mama Ani dan Alfa memandangi Anin yang berjalan mendekat ke Amel.
"Kak..." Panggil Anin.
"Anin." Jawabnya sambil tersenyum kearah Adik iparnya itu.
"Bunda..." Arsy mendekat ke Anin.
"Main apa Sayang."
"Arsy nanam bunga..."
Dia sedang bermain menanam bunga bersama susternya.
"Bunda duduk sini ya, Arsy main sama Mbak."
Arsy menganggukkan kepalanya kemudian kembali mainannya lagi.
"Kak Amel nggak minum, apa mau Anin ambilkan."
__ADS_1
Amel tersenyum, tapi dia menggelengkan kepalanya.
"Makasih Anin."
Anin pun tersenyum. Mereka hening hingga Anin memberanikan diri untuk bicara.
"Kak.."
"Hmmm.. Iya Anin."
"Maafin Mas Alfa dan Anin ya Kak."
Amel menoleh ke arah Anin yang duduk di sampingnya.
"Ada apa Anin."
"Anin minta sama Kakak jangan marah sama Mas Alfa ya, Mas Alfa itu merasa khawatir dengan Kakak dan Arsy jika kami berangkat bulan madu dan maafin Anin karena sudah bohong dengan Kak Amel sebenarnya memang mas Alfa yang memintakan Anin untuk menunda bulan madu dulu memastikan kondisi rumah aman dulu Kak."
Amel menghela nafasnya dan meraih tangan Anin.
"Kakak yang harus minta maaf sama kamu, karena Kakak kalian nggak jadi bulan madu."
Anin tersenyum, "Kakak juga nggak salah keadaan lah yang membuat kita harus mengambil keputusan seperti ini dan Anin nggak papa Kak jangan merasa menjadi penyebab kenapa Anin dan Mas Alfa nggak pergi. Kita bisa menggantinya di lain hari Kak, lagian cuti Mas Alfa juga nggak lama lusa sudah ke kantor."
"Maaf ya Anin dan makasih sudah memahami situasi keluarga kami."
"Anin juga mau menikmati waktu di rumah saja Kak, nanti kalau Mas Alfa sudah berangkat kerja pasti juga sangat sibuk."
"Kamu yang sabar ya Anin."
Mereka berpelukan, Mama Ani dan Alfa melihatnya pun tersenyum dan mereka mendekati yang sedang berpelukan.
"Ada apa ini."
Mama Ani membuat Anin dan Amel melepaskan pelukannya.
"Amel salah Ma menilai Anin, Amel takut Anin akan marah karena Alfa lebih mementingkan urusan keluarga kita daripada dia istrinya."
"Anin keluarga Kak Amel juga."
Mereka tersenyum bahagia.
"Alfa beruntung Kak mendapatkan istri Anin." Alfa mengusap kepala istrinya yang tertutup hijab dan Anin pun tersenyum.
Siang itu terasa ceria, Arsy melihat mereka tertawa ikut mendekat dan dijahili Alfa hingga mau menangis karena rebutan Anin.
"Masuk yuk Sayang."
Ajak Alfa sambil meraih tangan Anin.
"Tinggal dulu ya Ma, Kak."
"Oke, istirahat lah sebentar lagi dhuhur."
"Iya Ma."
Alfa memeluk pinggang Anin dan membawanya naik ke lantai dua menuju ke kamar mereka.
"Anin ke kamar mandi ya Mas."
Di anggukkan oleh Alfa yang kemudian membuka pintu balkon kamarnya.
Setelah dari kamar mandi ia mencari keberadaan suaminya yang tak ada di dalam kamar.
"Mas..."
"Iya Sayang, Mas di sini."
Anin mendengar suara Alfa dari arah luar kemudian dia melihat pintu balkon yang terbuka.
"Sini Sayang."
Alfa memegang gitarnya dan memetiknya.
Anin duduk di sebelahnya.
"Mas nggak ngantuk."
"Nanti Sayang, mau menikmati siang hari bersama istri ku yang cantik ini." Alfa mengecup bibir Anin yang tersenyum.
Alfa memetik gitarnya sambil tersenyum ke arah Anin.
"I will always love you kekasihku,
Dalam hidupku hanya dirimu satu
__ADS_1
I will always need you cintaku,
Selamanya takkan pernah terganti
Ku mau menjadi yang terakhir untukmu...
Ku mau menjadi mimpi indah mu.....
Cintai aku dengan hatimu,
Seperti aku mencintaimu,
Sayangi aku dengan kasihmu
Seperti aku menyayangimu
I will be the last for you
And you will be the last for me...
Alfa meraih tangan Anin dan menciumnya.
"Love You Sayang..."
"Love you too Sayang."
Mereka menikmati siang itu dengan alunan petikan gitar dari Alfa yang mungkin akan jarang mereka lakukan saat Alfa akan mulai sibuk nanti.
"Mas..."
Anin menarik tangan Alfa.
"Iya Sayang, kenapa."
Alfa menatap Anin yang memperhatikan pantulan kaca samping yang mengarah ke jalan dari atas balkon itu.
"Lihat deh Mas, Anin perhatikan mobil itu dari tadi parkir tak jauh dari rumah ini."
Alfa ikut memandang ke arah pantulan cermin itu dan memperhatikan mobil yang berhenti tak jauh dari rumahnya.
Mereka dari atas bisa melihat dari pantulan cermin sedangkan yang di bawah tak akan bisa melihat orang yang ada di balkon
"Mencurigakan deh Mas."
"Tenang Sayang, tolong ambilkan ponsel Mas Sayang di meja."
"Ia Mas."
Anin masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel milik suaminya.
"Ini Mas."
Alfa segera menghubungi anak buahnya yang berjaga di bawah.
"Kalian perhatikan mobil yang terparkir tak jauh dari rumah."
"Siap Bos, memang sejak tadi sudah menjadi pantauan kami."
"Bagus, jangan sampai lolos."
"Siap Bos."
Alfa kemudian meletakkan ponselnya di meja.
"Tenang Sayang.."
Alfa merangkul pundak istrinya.
"Mobil siapa Mas."
"Mas juga belum tau, sepertinya bukan mobil Indra yang dia pakai kemarin waktu mengenai rumah ini."
"Tapi kan bisa jadi dia pakai mobil orang atau dia punya mobil lebih dari satu."
"Itu yang harus Kita waspadai."
"Mas, Kenapa nggak coba bicara aja secara kekeluargaan." Anin memandang wajah Alfa namun raut muka suaminya itu langsung berubah.
"Nggak ada Sayang, nggak ada kekeluargaan dia sudah menyakiti Kak Amel dan membuat Papa akhirnya sakit dan meninggal."
Nada bicara Alfa terdengar berat membuat Anin menjadi takut.
"Maaf Mas..."
😌😌😌😌😌😌
__ADS_1