KOPI CINTA

KOPI CINTA
25


__ADS_3

Alfa sampai dirumahnya sesudah adzan maghrib, Mamanya yang akan sholat berjamaah dengan Kakaknya melihat Alfa masuk ke dalam rumah dengan senyuman manisnya.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam, baru pulang kamu Al."


"Iya Ma, ada perlu tadi."


" Buruan kamu mandi, Mama tungguin sama kakak kamu jamaah."


"Iya Ma."


Alfa menuju ke kamarnya yang ada di lantai 2, untuk segera mandi tak berganti pakaian karena sudah ditunggu Mama dan Kakaknya.


Sekitar 15 menit Alfa turun dari lantai 2 kemudian menuju ke mushola di lantai bawah untuk salat berjamaah.


Alfa mengimami mama dan juga kakaknya tak ketinggalan Bibi dan suster Arsy juga ikut untuk salat berjamaah.


Arsy yang kelelahan karena main seharian dia sudah terlelap di dalam kamarnya.


Selesai sholat Mama mempersiapkan makan malam untuk keluarganya dibantu Bibi.


"Ayo makan malam."


Mama memanggil kedua anaknya itu untuk menuju ke meja makan.


Alfa mendorong kursi roda kakaknya itu menuju ke meja makan untuk makan malam bersama.


"Alfa, kapan ya Mama lihat kamu itu makan di sini dilayani sama istri kamu."


Kata Mamanya sambil mengambilkan nasi ke atas piring dan memberikannya kepada Alfa.


"Doakan Ma segera."


Ucap Alfa yang membuat Mama dan Kakaknya kaget mereka berdua langsung menatap ke arah Alfa dengan senyum gembiranya.


"Oh ya, aja ke sini dong pacarnya kenalin sama Mama."


Alfa yang tadi hanya asal mengucap saja menatap kearah Mamanya bingung.


"Pacar Ma."


"Iya, kamu tadi katanya segera mau dapat istri."


Ucap Kakaknya.


"Ajak kesini kenalin sama kita."


Tambah Kak Amel.


"Kan Alfa bilangnya doakan Kak, Ma. Ya di doakan dong supaya Alfa segera membawa calon istri ke sini."


"Kamu Fa, Mama sampai capek doain kamu tiap hari tapi kamu nya aja enggak ada usaha."


Mama Ana duduk di kursinya.


"Lagi berusaha Ma."


Lagi - lagi kata-kata dari Alfa membuat Mama dan Kakaknya terasa adem di hatinya.


"Berati sudah ada calonnya."


Mama Ana antusias sekali.


"Ada Ma."


Ucap Alfa tersenyum.


"Mana ajak sini."

__ADS_1


Timpal Kakaknya.


"Nanti Kak, kalau dia sudah mau."


"Maksudnya Dia sekarang belum mau diajak ke sini."


"Belum Ma. Udah ah, Alfa laper kok malah ngobrol terus."


Alfa membaca doa kemudian menyuapkan nasi yang ada di hadapannya beserta lauk pauknya ke dalam mulutnya.


Selesai makan Alfa duduk di sofa di ruang keluarga sampai menyaksikan acara di televisi.


"Alfa.."


Panggil kakaknya.


"Iya Kak."


Alfa menoleh kearah kakaknya.


"Perempuan mana yang bisa membuat hatimu terbuka."


Kak Amel memang sangat penasaran dengan ucapan adiknya tadi di meja makan tapi sebenarnya Alfa juga cuma sekedar berucap.


"Perempuan apa Kak."


"Kamu gimana sih tadi kan ngomong sendiri katanya sudah dekat sama cewek tapi dia belum mau diajak ke sini."


"Ha ha ha.."


Alfa malah tertawa keras hingga Mamanya yang ada di dapur langsung menuju ke ruang keluarga.


"Ada apa."


"Alfa ini Ma."


"Nggak Ma, nggak ada apa-apa cuma bercanda aja sama Kak Amel."


"Iya Ma."


Alfa melihat Mamanya pergi kembali ke arah dapur.


"Gimana sih Fa, kamu bohong ya supaya Mama seneng."


"Alfa nggak bohong Kak, ada sih seorang perempuan yang belakangan ini mengganggu pikiran Alfa. Tapi Dia judes Kak."


"Justru perempuan yang kelihatannya galak kayak gitu malah penyayang, soalnya dia itu memproteksi dirinya agar tidak semua laki-laki itu bisa mendekat pada dia."


Jelas Kak Amel.


"Masa iya Kak."


"Sekarang kamu pikir kalau perempuan itu dengan mudah nempel aja sama laki-laki yang sudah dipastikan dong dia itu nggak punya malu, itu kayak temen kamu siapa Siska."


"Berarti kemungkinan besar Siska itu juga sama kalau sama laki-laki yang lain nempel aja."


Lanjut Kak Amel dan Alfa nampak mengangguk-anggukan kepalanya.


"Masuk akal juga Kak."


"Kamu ini, lupa apa kalau kakak Mu ini seorang perempuan."


"Ha ha ha.. Iya ya Kak. Tapi kalau perempuan itu terus aja judes, galak terus bagaimana Kak."


"Itu tantangan buat kamu untuk bisa naklukin hati dia, sesuatu yang didapatkan dengan cara tak mudah nantinya kamu juga akan lebih menyayangi dia, enggan rasanya untuk melepaskan karena mengingat perjuangan yang begitu keras saat mendapatkannya."


"Contohnya mudah aja, kamu sampai saat ini bisa sampai di level manager nggak mudahkan perjuangan kamu dulu dari dulunya karyawan biasa."


Lanjut Kak Amel.

__ADS_1


"Iya Kak."


"Nah gitu, jadi jangan menyerah dulu justru itu tantangannya yang harus kamu taklukkan."


Alfa Nafa tersenyum sendiri mengingat tingkah Anindita tadi.


"Kenapa kamu tersenyum begitu beneran jatuh cinta kamu."


Amel memperhatikan tingkah Alfa.


"Nggak tau juga masih bingung dengan perasaan ini. Rasanya cuma nyaman aja walaupun hanya sekedar melihat dia dari jauh."


"Cewek mana."


Amel sengaja memancing Alfa agar berbicara.


"Kepo deh, Kak Amel ha ha ha..."


"Kamu ya Al, awas nanti kalau minta bantuan kakak untuk deketin dia."


Ancam Amel.


"Ha ha ha.. Iya ya ampun Kak. Nanti aja deh kak ceritanya belum tau juga ini rasa suka atau apa Alfa masih bingung."


"Tapi kamu tertarik kan sama sosok dia."


"Iya sih, dia smart, cantik tapi itu tadi judes banget Kak."


"Kayaknya kamu beneran jatuh cinta Fa."


"Apa iya Kak."


"Kamu itu sudah lama sekali tidak bercerita seorang perempuan dengan semangat gini kepada kakak."


Alfa tersenyum aja dan kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Mau kemana, malah pergi."


"Mau cek email dulu Kak ada kerjaan dikit."


" Istirahat jangan tidur malam."


"Iya Kak."


Alfa menuju ke kamarnya yang terhubung langsung ke ruang kerja miliknya.


Tapi Alfa tadi bohong bukannya mengecek email tetapi malah membuka pintu balkon kamarnya dan terduduk di sana sambil membawa ponselnya.


"Anindita."


Alfa mengetik nama di sebuah nomor yang tadi sudah dia Miss call kan dari ponsel Anin.


"Tak ada profilnya."


Gumam Alfa sendiri.


"Dia tertutup banget orangnya, tapi kenapa aku malah semakin penasaran dengan sosoknya."


"Apa aku jatuh cinta, secepat ini."


Alfa menyandarkan kepalanya di kursi yang ada di balkon kamarnya itu.


"Beri caranya ya Allah apabila dia baik untuk hamba."


Alfa memejamkan matanya dan terbayang wajah Anin saat menghidangkan kopi di rumahnya.


Alfa langsung membuka kedua matanya dan tersenyum sendiri.


"Kopi.. Iya lewat kopi aku bisa mendekatinya."

__ADS_1


😊😊😊😊😊


__ADS_2