
Alfa menjalankan mobilnya meninggalkan rumah dan setelah mobil suaminya itu tak terlihat lagi Anin masuk ke dalam rumah.
Dia ke dapur membantu Bibi membersihkan peralatan makan mereka.
"Non, masakan Bibi nggak enak ya." Bibi melihat masih ada sisa makanan di piring Alfa dan juga Amel.
"Nggak Bi, tadi Mas Alfa sama Kak Amel sudah kenyang aja, masakan Bibi enak kok punya Anin sama Mama habis."
"Bibi tadi denger Non, Den Alfa sama Non Amel bertengkar ya Non."
"Nggak Bi hanya argumen saja." Kata Anin sambil tersenyum.
"Maaf ya Non, Bibi bukannya ikut campur tapi menurut Bibi itu Den Alfa khawatir sama Non Amel kalau keluar rumah karena mantan suami Non Amel selalu mengintai rumah ini."
Anin mengerutkan dahinya menatap ke arah Bibi.
"Memang Bibi melihat sendiri kalau mantan suami Kak Amel memantau rumah ini."
Anin hanya ingin mencari informasi dari Bibi yang sering keluar masuk rumah dan sudah mengenal keluarga suaminya itu.
"Kemarin sempet menemui Bibi Non, waktu Bibi mau ke pasar."
Anin terkejut namun dia tetap bisa menyembunyikan keterkejutannya itu.
"Maksud Bibi, mantan suami Kak Amel menemui Bibi."
"Iya Non, tapi jangan cerita ya Non sama Den Alfa dan Nyonya besar nanti marah sama saya."
"Kenapa Bi."
"Den Indra itu, menemui Bibi minta nomor ponsel Non Amel."
"Bibi kasih."
"Susstt... Jangan keras - keras Non nanti kedengaran sama Nyonya." Bibi memberi isyarat dengan jarinya yang diletakkan di bibirnya.
"Oke.. Bibi kasih nomor HP Kak Amel."
"Bibi kasih Non, karena kata Den Indra dia menyesal dulu sudah meninggalkan Non Amel karena menuruti keinginan orang tuanya." Cerita Bibi dan Anin antusias mendengarkannya.
__ADS_1
"Den Indra cerita sama Bibi dulu sebenarnya dia tidak pernah mau pergi meninggalkan istri dan anaknya tapi karena kedua orang tuanya mengancam akhirnya dia menuruti keinginannya."
"Tapi Mas Indra itu sudah menikah lagi kan."
"Iya Non, tapi sudah cerai dan tidak memiliki anak selama pernikahannya tiga tahun itu. Den Indra ingin ketemu Non Arsy tapi selalu dihalangi sama Den Alfa dan Nyonya."
"Tapi menurut saya Mas Alfa dan Mama itu menghalangi karena belum tahu yang sebenarnya saja Bi."
"Iya Non, maaf ya Non jangan cerita sama Den Alfa nanti Bibi yang dimarahi."
"Iya Bi, Anin akan cari cara supaya Mas Alfa nggak curiga kalau Anin sudah tahu dari tadi cerita Bibi."
"Non satu lagi jangan bilang kalau Bibi ketemu sama Den Indra dan memberi no HP Non Amel. Bibi hanya kasihan Non sama Non Amel dia kayaknya pingin ngasih tau ke Non Arsy siapa Papanya dan Bibi melihat Den Indra jujur ceritanya tidak mengada - ada karena sebenarnya Den Indra baik Non orangnya."
"Sekarang menurut Bibi, Den Indra sudah menghubungi Kak Amel belum."
"Sepertinya sudah Non, kemarin ya Non Amel menerima telepon dan setelah itu diam saja seharian."
Anin menganggukkan kepalanya dia jadi punya pikiran jika mungkin saja Amel hari ini dia sudah membuat janji dengan mantan suaminya itu.
"Makasih ya Bi ceritanya. Bibi tenang Anin akan diam dan menutup rapat informasi dari Bibi."
"Bi, sebenarnya mantan suami Kak Amel itu orangnya bagaimana sih kan Amel belum mengenalnya."
"Den Indra itu baik Non, Dia laki-laki yang sayang sama keluarga seperti Den Alfa. Dia juga tidak bergantung Non sama orang lain, apapun yang bisa dilakukannya sendiri dia tidak akan merepotkan Non Amel."
Anin nampak menganggukkan kepalanya mendengarkan cerita Bibi.
Setelah masuk kamar Amel tidak keluar dari kamar hanya Mama Ani dan juga Anin yang menemani Arsy untuk bermain.
Sedangkan Alfa masih fokus bekerja hingga makan siang pun tiba dia keluar dari kantor dan menuju ke restoran.
Di restoran dia langsung masuk ke dalam ruangannya dan meminta orang kepercayaannya untuk memberikan laporan.
Selesai mengecek semuanya, Alfa akan kembali ke kantor. Saat Dia berjalan keluar dari restoran pada sepasang mata yang mengamatinya dari dalam mobil di area parkir.
"Alfa.. Mana Amel."
Gumam laki - laki itu yang ada di dalam mobil sambil terus mengamati Alfa yang masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Alfa melajukan mobilnya meninggalkan area restoran dan menuju ke kantor kembali tanpa ada rasa curiga sama sekali.
Setelah mobil Alfa pergi kemudian laki-laki itu turun dan menuju ke dalam restoran.
"Selamat siang Pak."
Sapa karyawan disana karena karyawannya juga baru jadi dia belum mengenali sosok laki - laki yang ada di depannya itu.
"Siang, Bisa saya bertemu dengan Bu Amel."
"Maaf hari ini Bu Amel nya tidak datang Pak."
"Amel tidak jadi ke restoran."
Dia bicara di dalam hatinya.
"Ada yang bisa saya temui dari pemilik restoran ini." Katanya lagi.
" Mohon maaf Pak barusan Pak Alfa sudah pergi meninggalkan restoran." Kata Karyawan itu.
"Pasti Amel tidak diperbolehkan sama Alfa untuk keluar rumah." Lagi - lagi dia hanya bicara di dalam hati.
"Baik, terima kasih."
Laki -laki itu pergi meninggalkan restoran dan menuju ke mobilnya kembali.
"Alfa benar-benar menghambat jalan Ku untuk bertemu dengan Arsy." Gumamnya di dalam mobil sambil menghela nafasnya bersandar di kursi.
Kemudian Dia mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.
"Waalaikumsalam, kenapa kamu tidak ke restoran."
katanya bicara dengan seseorang di telepon.
"Alfa dan Mama melarang Ku, Mas." Jawaban dari seberang telepon.
"Amel, aku sungguh ingin bertemu dengan Arsy dan aku ingin perbaiki semuanya tapi kalau kita tidak bisa bertemu bagaimana aku bisa bicara dengan mu."
"Sekarang terserah kamu Mas, bagaimana bisa menemui Arsy."
__ADS_1
Terdengar helaan nafas dari Indra setelah mendengar jawaban dari Amel.