KOPI CINTA

KOPI CINTA
114


__ADS_3

Anin tiduran di dalam kamar, Dia masih sesenggukan habis menangis.


"Mama..." Ucapnya lirih.


Mobil Alfa masuk ke dalam halaman rumah, Dia kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah mencari istrinya.


" Assalamualaikum, Sayang dimana."


" Waalaikumsalam, Den Alfa."


Bibi yang menjawab.


"Anin dimana Bi."


"Non Anin di kamar Den, Non Anin juga belum sarapan tadi sudah Bibi minta untuk sarapan tapi katanya tidak berselera."


"Iya Bi, Saya ke atas."


"Baik Den."


Alfa naik ke atas menuju ke kamarnya, Anin pun tidak mengetahui jika suaminya itu pulang.


Anin memiringkan tubuhnya mengusap air matanya yang membasahi pipinya.


Ceklek...


Pintu terbuka dan Anin pun terduduk menatap kearah pintu melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum Sayang."


Alfa masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar kembali.


"Waalaikumsalam, Mas kok pulang."


Anin sudah mengusap air matanya namun wajahnya masih terlihat jika dia habis menangis.


"Sayang, kenapa."


Alfa menghampiri Anin dan duduk disampingnya kemudian mengecup keningnya.


"Mas kok pulang, Arsy bagaimana keadaannya."


Anin meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Kamu kenapa Sayang, habis nangis ini."


Alfa mengamati wajah Anin dan mengusap pipinya, dia masih belum menjawab pertanyaan Anin.


"Nggak kok Mas. Keadaan Arsy gimana Mas."


Bohong Anin sambil dia tersenyum.


"Sayang, maafin Mas."


Alfa memegang kedua pipi Anin dengan kedua tangannya.


Anin tersenyum.


" Kenapa Mas minta maaf, Mas nggak salah sama Anin. Keadaan Arsy gimana Mas."


"Huft..."


Alfa menghela nafasnya kemudian membawa Anin ke dalam pelukannya.


"Arsy nggak papa Sayang, demam aja tapi ini masih menunggu hasil pemeriksaan lab untuk mengetahui sakit apa dia sebenarnya."

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah Mas kalau keadaannya baik-baik saja."


"Kamu belum sarapan ya, kata Bibi."


" Mas juga belum sarapan tadi."


Anin menatap suaminya.


"Kita makan yuk Sayang."


Anin menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, Sayang mau makan apa kita cari yuk kita makan di luar."


"Anin nggak mau apa-apa Mas, Anin makan nanti aja. Mas makan yuk, Anin temenin. Mas mau ke kantor kan."


Anin meraih tangan Alfa dan hendak mengajaknya keluar.


"Sayang."


Alfa menahannya dan menatapnya.


"Kamu harus makan juga, kamu enggak sayang sama anak kita yang ada di dalam perut kamu."


Alfa mengusap perut Anin, tapi dia benar-benar sudah tidak berselera untuk makan. Dia kangen masakan Mamanya.


"Mas kok bilang gitu, Anin sayang sama anak kita. Nanti Anin makan Mas tapi sekarang nggak selera."


Air mata Anin sudah menggung lagi.


"Kamu pingin apa Sayang, bilang sama Mas."


Anin menunduk saja, dia enggan mengatakan jika dia kangen dengan Mamanya dan juga masakannya karena suasana rumah juga sedang tidak memungkinkan suaminya harus menjaga Arsy.


"Sayang, mau apa bilang sama Mas."


"Nggak mau apa - apa."


"Yuk ikut Mas."


Alfa meraih tangan Anin dan mengajaknya keluar dari kamar.


"Kemana Mas."


Alfa hanya diam dan masih menggenggam tangan istrinya menuruni tangga menuju ke bawah.


"Mas... Mau kemana."


Alfa membawa Anin ke meja makan dan menarik kursi meminta istrinya itu untuk duduk.


"Duduk dulu Sayang."


Alfa menuju ke dapur dan akan membuatkan susu untuk istrinya.


"Den Alfa mau buat apa, Bibi bantu."


"Makasih Bi."


Alfa mengambil susu ibu hamil milik Anin dan menyeduhnya di dalam gelas, setelah jadi dia membawanya ke Anin.


"Minum susu Sayang, biar nggak lemes."


Anin memandang wajah suaminya dia rasanya tidak tega untuk tidak meminumnya.


Dia mengambil satu gelas susu itu dan meminumnya.

__ADS_1


"Mas makan dulu, Anin ambilkan ya."


Anin mau berdiri dan mengambilkan nasi untuk Alfa namun ditahan oleh suaminya itu.


"Kamu duduk aja, susunya dihabiskan terus nanti ikut Mas."


"Mas nggak makan, kita mau kemana."


"Kamu habiskan dulu susunya Sayang, Mas nggak bisa makan sendiri."


"Terus Mas nggak makan, Mas nggak ke kantor."


"Stop Sayang, menghawatirkan Mas. Kamu yang harus selalu menjaga asupan gizi supaya anak kita sehat."


Anin terdiam mendengar suaminya berkata seperti itu.


"Maafin Anin, Mas..."


Dia menunduk lagi, mood ibu hamilnya memang benar-benar suka berubah-ubah.


"Hufft... Mas kasar ya."


Alf memeluk Anin dan mengusap - usap punggungnya.


"Habisin ya susunya, nanti kita sarapan bareng. Kalau kamu nggak selera Mas akan mengajak kamu ke suatu tempat pasti berselera."


"Kemana."


"Rahasia."


Alfa mencubit pelan pipi istrinya yang sekarang agak bertambah gembul.


Setelah menghabiskan susunya Alfa pun menggandeng tangan Anin untuk mengajaknya ke suatu tempat.


"Mas kok bawa tas."


Alfa mengambil tas yang tadi pagi sudah ditata Anin dan membawanya.


"Ya di bawa dong." Katanya sambil tersenyum.


"Mas, kita ke rumah Mama."


Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya namun justru Anin malah menarik tangan Alfa dan membuatnya berhenti.


"Kenapa Sayang."


"Anin nggak mau, Arsy kan lagi sakit masa kita malah ke rumah Mama. Anin nggak mau, lain kali aja ke rumah Mama."


"Sayang, Mas tau kamu kangen sama Mama. Nggak usah terlalu memikirkan Arsy, ada Kak Amel dan Mama yang akan merawatnya."


"Anin nggak mau Mas, Mas harus menjaga Arsy."


Alfa tidak menghiraukan Anin dan dia menggenggam tangannya untuk keluar menuju ke mobil.


"Mas, Anin nggak mau."


"Sayang, Mas mau kamu seneng. Kalau kamu sedih terus kasihan anak kita, Dia pasti ikut merasakan. Mas minta maaf selama ini selalu mementingkan Arsy daripada kamu."


Alfa membuka pintu mobil untuk Anin masuk tapi Anin malah memeluknya.


"Masuk sayang, Mas antar kamu ke rumah Mama. Nanti Mas harus ke kantor, kita bisa tengok Aray nanti sore ya Mas jemput di rumah Mama." Alfa mengusap kepala Anin yang tertutup hijab.


"Makasih Mas."


"Yuk Sayang, udah siang."

__ADS_1


Alfa melajukan mobilnya menuju ke rumah Mama Rani.


☺☺☺☺☺


__ADS_2