
Alfa, Anin dan Mama Ani sedang tersenyum bahagia. Mereka saat ini sedang berada di ruangan dokter untuk pemeriksaan kandungan Anin yang sudah masuk 7 bulan.
"Alfa lihat cucu Mama ganteng ya kayak kamu." Mama Ani sangat antusias begitu melihat gambar yang ditampilkan di layar USG.
Iya benar.. ternyata jenis kelamin dari anak yang sedang Anin kandung adalah laki-laki.
"Iya Ma, ganteng dong siapa dulu Papanya." Alfa tersenyum ke Anin sambil mengusap kepalanya.
"Makasih ya Sayang, sehat terus ya."
"Iya Mas."
Anin masih dilakukan pemeriksaan oleh dokter, Mama Ani dan Alfa setia menemaninya dengan mendengarkan penjelasan dari dokter tentang perkembangan janin yang ada di dalam rahim Anin.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan mereka pun meninggalkan ruangan dokter itu dengan senyum lega karena telah mendapatkan penjelasan jika kalian janinnya sehat.
"Anin.."
Panggil Mama Ani yang duduk di depan di samping Alfa yang sedang menjalankan mobilnya.
"Iya Ma."
"Nanti kalau cari keperluan untuk melahirkan sama Mama aja ya."
Kata Mama Ani yang tersenyum sambil menghadap ke belakang ke arah Anin yang duduk di belakang Alfa.
"Baik Ma."
"Kok Mama sih, ya sama Alfa dong Ma." Alfa tidak terima jika Mamanya nanti yang mengantarkan Anin untuk berbelanja keperluan anak mereka.
"Kamu kan sibuk, setiap hari juga Mama yang nemenin Anin di rumah.."
"Ya nggak bisa gitu Ma, Alfa akan meluangkan waktu menemani Anin belanja keperluan anak kita."
__ADS_1
Anin hanya tersenyum-senyum saja di belakang melihat perdebatan antara Mama dan anaknya.
"Anin mau sama siapa aja, sama Mama juga boleh kalau Mas Alfa sibuk."
"Sayang, nggak ada harus sama Mas nyari keperluan anak kita."
Alfa nggak mengizinkan jika Anin pergi dengan Mamanya sendiri.
"Kamu kenapa sih Fa, Mama mau menemani Anin untuk mencari keperluan cucu Mama kenapa nggak boleh."
"Karena Alfa nggak memperbolehkan Anin pergi keluar rumah tanpa Alfa."
Ucap Alfa sambil melirik ke arah belakang melihat istrinya yang hanya tersenyum saja.
"Nggak asyik kamu Fa."
Mama Ani memilih diam dan memalingkan mukanya ke arah jendela.
"Ya nanti Mama ikut saja kalau kita mau belanja keperluan anak Alfa."
Mama Ani benar-benar terlihat seperti anak yang merengek untuk ikut pergi dengan kedua orang tuanya.
"Iya Ma." Anin menengahi agar tidak semakin larut mereka berdebat.
Hari juga sudah siang dan perut mereka sudah terasa keroncongan, Alfa pun membelokan mobilnya ke sebuah restoran untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu sambil melaksanakan sholat dhuhur.
Setelah menulis pesanan Mereka menunggu pesanan yang sedang dipersiapkan.
"Ma, Alfa ingin berbicara."
Alfa serius memandang ke arah Mamanya karena dia ingin memanfaatkan momen ini ingin membicarakan masalah kakaknya dengan mantan suaminya, saat ini Alfa melihat kondisi Mamanya sedang bahagia jadi akan lebih lunak diajak bicara.
"Soal apa."
__ADS_1
Mama Ani memang sedang asyik melihat layar hp-nya yang memperlihatkan beberapa keperluan bayi yang lucu-lucu kepada Anin.
"Soal Kak Amel."
Mama Ani langsung memandang ke arah Alfa.
"Jangan rusak suasana hati Mama, Fa."
Anin menangkap raut wajah Mama Ani yang tidak senang menyinggung masalah Amel pasti soal keinginan mantan suaminya yang ingin rujuk kembali.
"Ma... Ini hanya saran saja dari Alfa. apa tidak sebaiknya Mama kasih kesempatan dulu pada Indra untuk membuktikan keseriusannya."
Mama Ani masih diam saja tidak menanggapi malah memperlihatkan ponselnya ke arah Anin memperlihatkan gambar-gambar lucu.
"Amel butuh Papanya Ma."
"Kamu juga bisa jadi Papanya."
"Memang Ma, tapi beda. Nanti Alfa juga akan punya anak Alfa takut Ma. Arsy akan merasa dikesampingkan atau bahkan merasa tidak mempunyai keluarga utuh dan akan cemburu dengan anak Alfa yang memiliki Papa dan Bundanya secara utuh."
Mama Ani terdiam dia meletakan ponselnya di atas meja.
"Apa kamu tidak sakit hati dengan kelakuan Indra terhadap Kakak kamu."
"Dulu iya Ma, tapi Alfa mencoba untuk memaafkannya dan memberi kesempatan kepada dia. Tidak baik Ma menyimpan dendam."
"Mama masih sakit hati Fa."
"Ma.. jangan terus dipendam dalam hati Mama Indra pasti punya sisi baiknya juga sebagai seorang manusia. Dia ingin membuktikan kepada keluarga kita kalau dia menyesal dan ingin memperbaiki semuanya."
Mama Ani nampak diam lalu Anin meraih tangannya.
"Ma, maafkan Anin ya kalau ikut campur. Anin hanya ingin bilang memaafkan itu indah Ma akan membuat berkah hidup kita."
__ADS_1
Mama Ani memandang ke arah Anin dan memeluknya.
🙂🙂🙂🙂🙂🙂