KOPI CINTA

KOPI CINTA
78


__ADS_3

Pagi ini Alfa sudah bersiap untuk kembali ke kantor, setelah beberapa hari cuti Dia harus kembali menjalankan tanggungjawabnya sebagai General Manager.


Anin sudah mempersiapkan semua keperluan suaminya untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Alfa masih berada di dalam kamar mandi.


"Aku tinggal turun aja dulu siapin sarapan buat Mas Alfa."


Anin melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan.


Setelah selesai Anin kembali ke kamar dan mendapati suaminya sedang berganti pakaian yang telah ia siapkan.


"Sayang darimana."


"Siapin sarapan buat Mas."


Ucap Anin sambil tersenyum dan berjalan ke arah Alfa kemudian mengambil dasi milik suaminya.


"Anin bantu Mas."


Alfa menarik tangan Anin dan memeluknya.


"Gimana caranya kalau begini Mas, Anin nggak bisa. Mas tinggi banget lagi."


"Dulu kok nggak tumbuh ke atas sih sayang." Alfa sambil tersenyum sengaja menggoda istrinya.


"Hmmmm... Meledek."


Anin cemberut dan Alfa mengecup bibirnya yang manyun.


"Nyari kesempatan deh, jadi nggak ini pakai dasinya."


"Apa Mas cuti lagi ya, rasanya berat jauh dari istri ku yang suka manyun ini."


Alfa mencubit hidung Anin.


"Kerja Mas, nanti yang di kantor kangen lho.." Sengaja Anin memancing Alfa.


Alfa mengerutkan dahinya dia belum paham siapa yang dimaksud oleh Anin.


"Yang di kantor, siapa Sayang."


Alfa menatap Anin penuh telisik tapi Anin malah senyam-senyum sendiri.


"Masa lupa Sayang, itu yang suka ngikutin Mas kemana-mana."


Alfa tersenyum menggoda dan mendekatkan wajahnya ke wajah Anin.


"Cemburu."


"Cemburu dong, dia tiap hari sama Mas Alfa. Kemana-mana ngikutin Mas Alfa terus sambil nempel aja belum lagi ditambah kalau duduk kakinya diangkat mulus itu pemandangan."


Alfa langsung membungkam bibir Anin dengan bibirnya, entah dari mana Anin punya keberanian bilang seperti itu.


Terjadilah pergulatan di pagi itu hingga Anin kehabisan nafasnya dan memukul lengan Alfa.


Alfa melepaskan bibirnya kemudian menangkup wajah Anin yang masih terengah-engah.


"Jangan bicara kotor gitu ya, atau mau Mas hukum."


Anin mengatur nafasnya dan menatap Alfa.


"Tapi bener kan Mas."


"Sayang, Mas bisa jaga pandangan ini."


Anin menatap Alfa serius.


"Percaya sama Mas."


"Anin wanita biasa Mas, Anin bisa cemburu dan Anin bisa marah juga dan Anin percaya sama Mas tapi jangan pernah khianati kepercayaan Anin ya Mas."

__ADS_1


Alfa tersenyum dan memeluk Anin.


"Insya Allah Sayang, Mas enggak bisa janji tapi Mas akan membuktikannya dan kamu bisa lihat sendiri."


"Makasih Mas. Udah siang jadi pakai dasi nggak."


Alfa kemudian mengangkat tubuh istrinya itu dan duduk di sofa.


"Silahkan Sayang."


Karena postur tubuh Alfa yang lebih tinggi dari Anin, Alfa duduk di sofa dan Anin merapikan dasinya.


"Udah Mas."


"Makasih Sayang."


"Udah siang Mas, yuk sarapan dulu pasti sudah ditunggu sama Mama dan Kak Amel."


"Bentar Mas merapikan rambut dulu."


Alfa berkata di depan cermin dan menyisir rambutnya Anin pun mengambilkan jas Alfa dan membawanya.


"Tungguin Mas Sayang."


Alfa meraih tangan Anin yang akan membuka pintu kamar dan mereka pun turun berdua menuju ke ruang makan.


"Ini yang tungguin lama banget." Protes Kak Amel.


"Maaf Kaka, Anin baru belajar benerin dasinya Mas Alfa."


Bohong Anin supaya suaminya tidak malu.


"Kayak nggak paham aja Kak Amel ini." Malah Alfa yang tak punya malu.


"Sudah sarapan yuk." Kata Mama Ani.


Anin membuatkan kopi untuk Alfa dan menghidangkan di depannya kemudian mengambilkan nasi serta lauk pauknya.


"Makasih Sayang."


"Enak ya sekarang ada yang melayani." Sindir Kak Amel.


"Iya dong, istri Alfa luar biasa."


Alfa meraih tangan Anin dan mengecupnya.


"Makan Mas."


Alfa tersenyum dan melahap makanannya.


Selesai sarapan Alfa pun berpamitan dengan Mama Ani berangkat ke kantor tak lupa juga dengan Kak Amel.


Arsy juga sudah terbiasa selalu meraih tangan Papanya itu dan menciumnya kemudian mengantarnya sampai ke teras. Biasanya yang mengantar sampai ke teras Arsy bersama dengan Amel atau kadang Mama Ani tapi kali ini bersama dengan Anin.


Anin membantu Alfa mengenakan jasnya.


"Sayang, Mas berangkat ya."


Anin meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya Alfa pun tak lupa mengecup kening Anin.


"Hati - hati ya Mas, kabari kalau sudah sampai kantor."


Anin merapikan jas suaminya.


"Iya Sayang, Arsy di rumah sama Bunda, Mama dan Oma ya."


Alfa mengecup kening Arsy.


"Iya Pa, Arsy mau mandi bola."

__ADS_1


"Nanti sama Bunda ya."


Anin menggendong Arsy.


"Yeay..."


"Jangan keluar rumah ya sayang tanpa Mas, jadi istri yang baik ya di rumah."


"Iya Mas."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


."Bye.. Pa."


Arsy dan Anin melambaikan tangannya hingga mobil Alfa pun berlalu meninggalkan rumahnya.


Anin membawa masuk Arsy ke dalam rumah.


"Anin.."


Amel yang berada di ruang tamu memanggilnya.


"Iya Kak."


Anin duduk di sofa di sebelah Amel bersama Arsy.


"Kakak mau bicara bisa."


"Bisa Kak, Arsy sama Mbak dulu ya mandi bola nanti Bunda nyusul."


"Iya Bunda."


Setelah Arsy pergi bersama susternya Amel pun ingin mengajak bicara serius dengan Anin.


"Anin, Kakak mau minta tolong sama kamu."


"Iya Kak apa."


"Kakak sudah memikirkannya ini secara matang, tapi sepertinya akan percuma jika Kakak sendiri yang bilang ke Alfa. Maka dari itu Kakak butuh bantuan kamu untuk bicara dengan suami kamu."


"Anin akan bantu Kak Amel sebisa Anin."


"Kamu tau kan bagaimana sifat suami kamu kalau dia sudah punya keputusan dia akan sulit sekali untuk di rubah. Kakak berpikir bagaimana jika Arsy dipertemukan dengan Papa kandungnya." Anin kaget Amel bicara seperti itu.


"Apa Amel, nggak Amel." Mama Ani yang baru saja datang dan Mendengar pembicaraan mereka langsung menyahut.


"Nggak Amel, JANGAN!."


"Tapi Ma, Amel itu berhak tahu siapa Papa kandungnya dan Dia seorang anak perempuan Ma besok kalau dia sudah dewasa dan mau menikah tetap mencari siapa Papa kandungnya." Kata Amel.


"Nggak AMEL!! Mama nggak setuju dengan rencana kamu."


"Ma.."


"Amel apa kamu lupa bagaimana Indra meninggalkan kamu sama Arsy waktu masih bayi."


"Amel nggak lupa Ma, tapi apa iya Amel harus egois tidak memberitahu Arsy siapa Papa kandungnya."


Mama Ani diam saja dia nampak menahan marah, Anin pun meraih tangan Mama Ani dan mengusap punggung tangannya.


"Ma.. Arsy semakin besar dia berhak tahu siapa Papa kandungnya. Amel tau setiap hari ada mobil yang berhenti tak jauh dari rumah kita itu Mas Indra, Ma


Dia selalu mengintai rumah kita dia mencari kesempatan untuk bisa masuk ke dalam rumah ini."


Memang benar mobil yang dilihat Anin 2 hari yang lalu adalah mobil Indra tapi dia tidak keluar dari mobil dan nanti setelah hari semakin sore mobil itu pun pergi.


"Mama belum siap."

__ADS_1


😉😉😉😉


Gimana kelanjutannya


__ADS_2