
"Apa kamu sudah mengenal Alfa dengan baik. Apa Kamu juga mencintai dia."
Tanya Papa Budi kepada putrinya itu karena nantinya yang akan menjalani yaitu Anin sebagai orang tua Papa Budi dan Mama Rani akan merestui jika memang anaknya merasa nyaman dan mencintai laki-laki itu.
"Anin, masih butuh waktu untuk kita saling mengenal."
Jawab Anin membuat Alfa tersenyum lega seenggaknya masih ada kesempatan untuk dirinya mengenal Anin lebih.
"Mas Alfa sudah dengar jawaban Anin, sebagai orang tua Bapak akan merestui jika memang Anin merasa bahagia dengan Mas Alfa."
"Bapak dan Ibu hanya ingin kebahagiaan untuk Putri kita, dan sebagai laki - laki yang sudah dewasa Bapak kira Mas Alfa sudah memahaminya."
Papa Budi bersikap bijak tidak memihak anaknya dan juga tidak menolak Alfa.
"Memang saran Mama juga kalian berdua saling mengenal dulu saja masalah nanti kalian berdua akan lanjut ke jenjang serius kami akan merestuinya jika memang kalian berdua saling mencintai dan bisa menerima satu sama lain." tambah Mama Rani.
Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya sedangkan Anin hanya menundukkan kepalanya saja tak berani menatap kearah Alfa.
"Kalau memang Anin menginginkan kita saling mengenal terlebih dahulu, Saya menerimanya dan akan membuktikan jika saya serius dengan perasaan saya kepada Anin."
Ucap Alfa sambil melirik ke arah Anin yang akhirnya mengangkat kepalanya.
"Baiklah kalau seperti itu, Bapak setuju tapi harus dengan pembatasan - pembatasan yang kalian sudah tau lah karena sudah dewasa."
Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih Pak, Bu dan karena sudah malam kalau begitu Saya pamit pulang."
"Oh iya Mas Alfa, hati - hati di jalan."
Alfa meraih tangan kedua orang tua Anin secara bergantian kemudian mencium punggung tangan mereka.
"Saya pamit Anin."
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Saya antar ke depan Pak."
Anin akan menjalankan kursi rodanya menggunakan tangannya namun Alfa langsung mendekatinya.
"Tangan kamu bisa sakit kalau begitu, kamu di sini saja nggak usah mengantar saya. Saya pulang ya."
"Iya, hati - hati."
"Kalau halus begitu tambah cantik." dalam hati Alfa sambil tersenyum ke Anin.
Alfa keluar dengan di temani Papa Budi yang mengantarnya sampai ke teras.
"Makasih Pak, Saya pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati - hati ya Mas Alfa."
"Iya Pak."
Alfa masuk ke dalam mobilnya kemudian menjalankannya meninggalkan rumah Anin.
Anin masih berada di ruang tamu bersama Mamanya kemudian Papa juga ikut bergabung.
"Sayang, kamu sudah lama mengenal Alfa." Tanya Mamanya.
"Belum Ma." Kata Anin sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi kelihatan lho, kalau Alfa itu sepertinya sayang banget sama kamu. Dia perhatian sama kamu Sayang, walaupun Mama tahu kamu pasti tidak bersikap ramah dengannya."
Anin menghembuskan nafasnya.
"Anin juga bingung Ma kenapa Pak Alfa mendekati Anin terus padahal kalau sama dia Anin itu judes banget tapi malah terus mendekati Anin."
Mama Rani tersenyum dan merangkul putrinya.
"Dia beneran cinta sama kamu Sayang, nyatanya dia berani langsung ngomong sama Papa kamu."
"Alfa anaknya terlihat jelas kalau dia bertanggung jawab, kalau dia laki-laki yang hanya ingin main-main sama kamu tidak akan berani bilang ke Papa." Tambah Papa Budi dan Anin mendengarkan kedua orang tuanya itu.
"Tapi Papa penasaran Anin, sebenarnya Alfa itu di perusahaan kamu bekerja, Kalau cuman karyawan biasa sepertinya tidak." Papa Budi sejak pertama ketemu dengan Alfa sudah menaruh curiga sepertinya Alfa ini bukan karyawan biasa.
Anin masih diam, dan melipat bibirnya.
"Iya bener Pa, Anin aja manggilnya Pak terus padahal dengan 2 temannya yang tadi sore biasa aja." Mama Rani juga ikut menelisik.
"Sebenarnya dia punya jabatan ya Sayang di kantor kamu."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Apa." Mamanya makin semangat lagi.
"GM."
Mama dan Papanya menatap ke arah Anin.
"Dia GM sayang."
Mamanya kaget.
"Kamu kok bisa dekat sama GM sayang, Mama jadi khawatir deh."
Mama Rani malah heboh sedangkan Papanya santai aja.
"Anak kita cantik Ma, sampai GM di kantornya aja jatuh cinta sama Anin, ha ha ha..."
"Papa ini, Mama itu nggak mau kalau Anin nanti sakit hati. Papa kan tahu kalau punya orang jabatan di kantor nanti seperti apa... Atau jangan-jangan dia..??? Dia belum menikahkan sayang."
Mama Rani terlalu khawatir yang berlebihan, sampai berpikiran Anin akan dijadikan istri kedua.
"Mama, dia belum menikah. kalau dia udah mau nikah ya Anin nggak mau lah di deketin sama dia." Anin memanyunkan bibirnya masa iya dia akan jadi pelakor.
"Mama Mu itu, terlalu banyak nonton sinetron jadi lebay. Udah Ma tidur yuk."
Papa Budi mengajak istrinya ke dalam.
"Sholat isya dulu Pa."
"Iya Mama Sayang, yuk masuk kamar. Anin istirahat ya."
"Iya Pa."
Anin masih berada di ruang tamu memperhatikan kedua orang tuanya yang berjalan dengan mesra masuk ke kamar mereka.
"Ma, Pa. Anin mau seperti kalian nantinya dengan pasangan Anin." Ucapnya, kemudian dia menjalankan kursi rodanya sendiri menuju ke kamar.
🌹🌹🌹🌹🌹
Alfa merasakan sesuatu yang sangat melegakan di hatinya. Semalaman ia telah berfikir dan meminta pendapat dengan kakaknya bagaimana sebaiknya langkah yang akan ia ambil.
__ADS_1
Mengingat Mamanya yang selalu mendesaknya untuk segera menikah.
~Flashback On~
Malam kemarin sepulang dari rumah Anin seperti biasa selalu ditanya oleh Mamanya darimana karena dia pulang telat.
Kakaknya Amel sudah curiga dengan bahasa tubuh dari adiknya itu, dia pasti punya masalah.
Setelah makan malam Amel mendekati Alfa dan mengajaknya bicara di ruang kerjanya.
Akhirnya Alfa mau menceritakan semuanya tentang Anin.
"Kalau cewek seperti itu Kamu harus mendekati orang tuanya karena dia pasti akan sangat patuh dengan kedua orangtuanya."
Saran Kakaknya dan itu yang membuat Alfa berani mengungkapkan kepada kedua orang tua Anin.
"Begitu ya Kak, ini cewek memang luar biasa Kak, tapi membuat Alfa tertantang."
"Kenalkan sama Kakak."
"Nanti ya Kak, kalau sudah jinak ha ha ha.."
"Awas nanti kalau kamu jadi sama dia, kakak ceritakan semua ke dia, siapa namanya."
"Anindita tapi biasa dipanggil Anin."
~Flashback Off~
Alfa telah sampai di rumahnya setelah memarkirkan mobilnya di garasi dia langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jawab Kakaknya dan Mamanya yang menunggu di tuang tamu.
"Gimana Alfa."
Tanya Mamanya yang sangat antusias setelah mendapatkan cerita dari Kakaknya.
"Apa Ma."
"Kamu main rahasia sama Mama, mana calon mantu Mama."
Alfa langsung melirik kearah kakaknya yang cekikikan.
"Pasti Kakak sudah cerita."
"Ada kabar bagus Mama kok enggak dikasih tahu."
"Nanti Ma kalau sudah jelas hubungannya."
"Kapan, Mama sudah nggak sabar mau melamarnya buat kamu."
"Sabar Ma, Alfa ke kamar dulu ya Ma udah gerah."
"Oke, tapi cepetan ya cerita."
Alfa tersenyum saja dan melambaikan tangannya.
🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1