
Alfa melajukan mobilnya meninggalkan kantor bersama dengan Anin yang duduk di sebelahnya.
Keduanya saling diam, hingga ponsel Anin pun berbunyi yang membuatnya kaget sendiri
"Astaghfirullahaladzim."
Ucap Anin dan Alfa menahan tawanya dengan melirik ke arah Anin.
Anin memandang layar ponselnya dan ternyata supir taksi online tadi yang menelponnya.
"Kok nggak diangkat."
Kata Alfa dengan melirik ke arah Anin.
"Ini sopir taksi online tadi yang saya pesan."
"Jawab aja, bilang kalau sudah pulang karena terlalu lama menunggu."
Anin menganggukkan kepalanya dan menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, Mbaknya di mana ini saya sudah sampai di kantor "
" Maaf ya Mas, saya sudah pulang karena tadi terlalu lama menunggu dan tak ada konfirmasi dari Masnya."
"Gimana Mbak, saya sudah nyampai ini."
"Saya cancel ya Mas, maaf."
"Nggak bisa Mbak, nanti performa saya jelek."
"Tapi bagaimana Mas, saya sudah pulang."
Alfa yang merasa kasihan dengan Anin di salahkan oleh sopir taksi online itu akhirnya Dia meminta ponselnya Anin.
"Biar Saya yang bicara."
Alfa mengulurkan tangannya meminta ponsel Anin.
Anin memberikan ponselnya kepada Alfa.
"Halo, Mas jangan mempersulit customer karena tadi Masnya di tunggu terlalu lama dan tak ada konfirmasi jadi saya jemput pacar Saya. Nggak usah khawatir dengan performa Mas pacar saya akan tetap memberikan bintang lima."
Ucapan Alfa membuat Anin melongo.
"Kenapa Pak Alfa bilang pacar."
Dalam hati Anin.
"Baik Pak, Saya minta maaf."
"Oke."
Alfa mematikan panggilan itu kemudian mengetik sesuatu sebelum memberikan ponsel Anin kembali.
__ADS_1
"Ini, itu nomor Saya dan nomor kamu sudah masuk ke ponsel saya."
Kata Alfa sambil memberikan ponsel Anin kembali.
"Jangan lupa di simpan."
Tambah Alfa sambil tersenyum dan Anin menampakan gigi putihnya.
"Kenapa Pak Alfa memberikan nomor ponsel ke saya."
Anin memberanikan diri untuk bertanya.
"Biar saya bisa menghubungi kamu jika Saya membutuhkan sesuatu dan kamu juga bisa menghubungi saya jika kamu butuh sesuatu. Jangan sungkan untuk meminta tolong pada saya."
Kata Alfa sambil melirik ke Anin yang terdiam.
"Kenapa Pak Alfa baik sama saya."
"Bukannya kita harus baik kepada semua orang, benarkan." Ucap Alfa.
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tapi Pak Alfa Manager atasan saya sedangkan saya hanya karyawan biasa Pak. Saya tidak mau nanti jadi pembicaraan karyawan yang lainnya di perusahaan."
"Saya sebagai atasan kamu itu jika di kantor tapi kalau kita sudah keluar dari kantor seperti ini kan kita sama aja."
"Tapi tetap beda Pak bagi Saya. Maaf sebelumnya, ini terakhir saya bareng Bapak dan terima kasih untuk kali ini."
Ucap Anin dengan menundukkan kepalanya Dia benar - benar merasa tidak enak bersama bosnya itu.
"Maafkan Saya Pak, tidak seharusnya saya mengiyakan tadi tapi karena saya takut hari sudah malam. Terima kasih banyak Pak atas bantuannya dan maaf jika kata - kata saya menyinggung Bapak"
Mobil Alfa pas berhenti di depan rumahnya dan dia segera membuka pintu mobil Alfa.
"Saya sengaja memundurkan mobil supaya bisa bareng kamu, jangan merasa tidak enak saya tidak pernah mengandalkan jabatan saya di kantor untuk menyombongkan diri Saya."
Ucap Alfa sebelum Anin benar - benar keluar.
Anin diam saja dan segera menurunkan kakinya pelan - pelan karena mobil Alfa tinggi.
"Tunggu, kamu bisa jatuh kalau begitu."
Alfa langsung membuka pintu mobil dan turun kemudian berputar untuk membantu Anin yang kesulitan turun.
Alfa mengulurkan tangannya untuk membantu Anin namun Anin hanya diam saja Dia masih berusaha sendiri.
"Pegangan pundak saya, atau saya gendong kamu. Saya cuma nggak mau kamu jatuh dan makin parah kaki kamu."
Ucap Alfa yang berdiri di depan pintu dengan membelakangi Anin yang berusaha turun.
Anin menghembuskan nafasnya, nggak ada pilihan lain daripada Alfa menggendong dirinya lebih baik ia berpegangan pada pundak Alfa.
"Maaf Pak."
Alfa menganggukkan kepalanya dan Anin berpegangan pundak Alfa untuk bisa turun kakinya.
__ADS_1
Setelah turun Anin melepaskan pegangannya di pundak Alfa dan menundukkan kepalanya.
"Makasih Pak."
"Iya sama - sama, sekarang masuk baru saya akan pulang."
Ucap Alfa dan Anin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan dan membuka pagar rumahnya.
"Sayang..."
Mamanya keluar dari dalam rumah dan menghampiri Anin.
"Kamu kok baru pulang, kamu Kok baru pulang Mama telepon ponsel kamu sedang panggilan terus. Kamu sama siapa."
Mamanya melihat ke arah luar pagar dan mengenali Alfa yang masih berdiri di luar pagar.
"Alfa itu."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Kok nggak di suruh masuk sih Sayang, Mas Alfa."
Mama Rani berjalan menuju ke pagar sambil memanggil Alfa.
"Iya Bu."
"Kok di luar aja, mampir dulu."
Mama Rani membuka pagar kemudian Alfa meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.
"Makasih Bu. Tapi sudah petang Saya langsung pulang saja."
"Nggak mampir dulu."
"Lain kali ya Bu."
Alfa melirik ke Anin yang berdiri saja di tengah halaman rumahnya.
"Ya udah makasih ya Mas Alfa sudah antar Anin, Papanya lagi ke luar kota Ibu juga khawatir dia sendirian naik taksi apalagi kakinya masih sakit."
"Iya Bu, sama - sama. Saya pamit Assalamualaikum, titip pesan ke Anin untuk istirahat."
"Iya, nanti Ibu sampaikan. Waalaikumsalam hati - hati."
"Iya Bu."
Alfa menuju ke mobilnya dan segera melajukannya meninggalkan rumah Anin.
"Papanya ke luar kota, kok dia nggak bilang dia tadi. Cewek yang unik."
Gumam Alfa sendiri di dalam mobil dan tersenyum mengingat setiap ucapan Anin yang terdengar dia seseorang yang berprinsip.
"Semakin penasaran aku sama Dia."
☺☺☺☺☺
__ADS_1