
"Rina, pesankan kopi yang rasanya seperti kemarin. Saya tunggu di ruangan."
"Ba..baik Pak."
Rina mengerutkan dahinya setelah Alfa pagi - pagi baru datang dan sudah memintanya untuk memesankan kopi tak seperti biasanya.
"Tumben Pak Alfa minta kopi, biasanya beliau minum kopi kalau lagi pusing kepalanya. Masa iya baru datang sudah pusing kepalanya."
"Sudah lah."
Rina tersadar kenapa dia malah bengong bisa-bisa nanti mendapatkan semprot dari Alfa karena tidak segera memesankan kopi.
Rina mengangkat gagang telepon yang ada di mejanya dan segera menghubungi pantry untuk segera mengirimkan kopi keruangan Alfa.
Di ruangan Pantry.
"Yos.. Kopi buat Pak Alfa."
Ucap Andi sambil menepuk pundak Yosi.
"Ah.. Itu bagian Lukman, itu orangnya."
Lukman datang dan menghampiri kedua orang itu saat mendengar namanya disebut.
"Ada apa."
Tanya Lukman kepada Andi dan Yosi.
"Buatkan kopi buat Pak Alfa, sekarang."
Kata Yosi.
"Tumben pagi - pagi Pak Alfa sudah minta kopi."
Lukman yang sudah terbiasa membuat kopi khusus Alfa merasa heran dengan bosnya itu.
"Sudah segera buatkan saja daripada kamu dapat masalah."
Ucap Andi.
Lukman segera membuat 1 gelas kopi sesuai dengan yang diinginkan Alfa seperti biasanya.
Takaran kopi dan gula dan airnya harus sesuai ketentuan dari Alfa jika tidak bakalan tidak di minum olehnya.
Siap sudah satu gelas kopi dan Lukman segera mengirimkannya keruangan Alfa.
"Pagi Bu Rina, mengantar kopinya Pak Alfa."
"Masuk aja Mas Lukman sudah di tunggu."
"Baik Bu."
Lukman mengetuk pintu ruangan Alfa dan segera masuk ke dalam setelah ada jawaban dari dalam.
"Pagi Pak, Permisi Saya mengantar kopi pesanan Bapak."
"Oke, taruh di meja siti aja."
"Baik Pak."
Lukman meletakkan satu gelas kopi itu di meja dan kemudian pamit keluar.
"Saya permisi."
"Silahkan, tunggu sebentar."
Alfa memberhentikan Lukman yang akan keluar dari ruangannya.
"Iya Pak."
Lukman menghadap ke Alfa dengan sedikit membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Ini seperti kemarin kan."
Lukman yang merasa hanya dirinya yang biasanya membuatkan kopi untuk Alfa hanya mengiyakan dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Pak, seperti biasanya Bapak inginkan."
"Oke, makasih."
"Sama - sama Pak, Saya permisi."
Alfa menganggukkan kepalanya kemudian Lukman pun keluar dari ruangan itu.
Alfa bernyanyi yang dengan rasa kopi yang kemarin dia minum jadi dia sudah tidak sabar lagi ingin meminum kopi yang tersedia di hadapannya.
"Entah kenapa kok jadi kangen rasa kopi yang kemarin, padahal aku biasanya minum kopi jika kepala ku terasa pusing saja."
Alfa duduk di sofa kemudian mengambil gelas yang ada di hadapannya dan menyeruput kopi yang ada di dalamnya.
Alfa mengulanginya lagi namun sambil mengerutkan dahinya merasakan ada yang aneh dengan kopi yang ia minum.
"Kok beda dari kemarin, rasanya lebih nikmat yang kemarin daripada ini."
~Flashback On~
"Permisi Pak, kopinya."
Andi mengantar kopi ke ruangan Alfa.
"Iya taruh aja."
Kata Alfa tanpa melihat siapa yang mengantar.
"Saya permisi Pak."
"Silahkan."
Andi keluar dari ruangan Alfa dengan senyum sumringah namun masih ada rasa was - was bagaimana rasa dari kopi yang dibuatkan oleh karyawan baru tadi.
"Enak amat kamu Yos."
Andi mengambil duduk di depan Yosi.
"Cobain deh, kopinya enak ini pintar juga tadi mbaknya bikin kopi."
Andi yang penasaran ikut menyeruput kopi yang ada di hadapannya.
"Wah... enak ini. semoga saja Pak Alfa cocok dengan rasa kopi ini tapi saya yakin Pak Alfa menyukainya."
Mereka berdua menikmati kopi itu hingga habis dan memuji rasanya.
Alfa yang merasakan kepalanya terasa pusing duduk sofa ingin menikmati kopi sejenak untuk merilekskan pikirannya.
Sedikit demi sedikit Alfa menyeruput kopi itu, semakin lama merasakan kenikmatan yang diciptakan oleh kopi itu.
"Rasanya tidak seperti biasanya, lebih enak ini."
Alfa pun menghabiskan satu gelas kopi itu dan melanjutkan pekerjaannya.
~Flashback Off~
"Siapa yang buat ini."
Alfa berjalan menuju ke mejanya dan mengambil gagang telepon yang ada di depannya.
"Rina, siapa yang buat kopi tadi."
"Lukman Pak, seperti biasa sesuai pesanan Bapak."
Jawab Rina.
"Panggil Lukman kesini."
__ADS_1
"Baik Pak."
Alfa menutup teleponnya dan saat itu juga Rina langsung menghubungi ke pantry memanggil Lukman untuk datang ke ruangan Alfa.
"Lukman suruh ke ruang Pak Alfa."
Andi yang mengangkat telepon dari Rina dan langsung memberitahu Lukman.
"Ada apa."
Lukman merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Nggak tahu, kamu salah kali membuatkan kopi Pak Alfa tadi."
Ucap Andi.
"Nggak ada yang salah sudah seperti biasanya."
Bela Lukman.
"Sudah buruan ke sana daripada kena masalah kamu."
Lukman dengan tergesa-gesa langsung menuju ke ruangan Alfa. Sesampainya di lantai 5 itu di mana ruangan Alfa terletak dia mengatur nafas terlebih dahulu.
"Bu Rina ada apa."
Lukman bertanya ke Rina yang ada di mejanya.
"Saya juga nggak tau Mas, mari masuk."
Rina dan Lukman mengetuk pintu ruangan Alfa setelah mendapatkan jawaban dari dalam mereka berdua pun masuk.
"Permisi Pak, ini Mas Lukman yang tadi membuatkan kopi untuk Pak Alfa."
"Oh ya masuk."
"Maaf Pak ada apa."
Lukman dengan nada sedikit ketakutan karena dia merasa tidak membuat masalah apapun.
"Kamu tadi yang membuatkan saya kopi."
"Iya Pak."
"Kenapa rasanya beda dengan yang kemarin."
Lukman mengerutkan dahinya.
"Maaf Pak kemarin?."
"Iya, kemarin saya minta kopi kamu kan yang buatkan."
Lukman merasa aneh, kemarin saja dia ijin.
"Rina, kemarin siapa yang ngantar ke sini."
Tanya Alfa.
"Pantry Pak, Mas Lukman kan kemarin."
Rina juga tidak memperhatikan siapa yang ngirim kopi kemarin.
"Maaf Pak, Bu. Saya kemarin ijin tidak masuk mungkin salah satu dari teman Saya di pantry."
Alfa mengerutkan dahinya.
"Oke, sekarang gini panggil kedua teman kamu terus suruh mereka masing - masing membuat kopi dan bawa kesini. Saya masih terngiang dengan kopi yang kemarin saya minum."
"Ba..Baik Pak."
Lukman pun pamit meninggalkan ruangan Alfa dan segera ke pantry memberitahu kepada kedua rekan kerjanya.
__ADS_1
😃😃😃😃😃