
Malam menjelang Arsy terlihat sedang makan dengan di suapi Amel dan Indra ada di sampingnya.
"Mama, Papa mana."
Celoteh Arsy karena dia merasakan badannya sudah jauh lebih baik.
Amel seketika menatap Indra yang juga terlihat kaget, ini yang dimaksud Papa yang mana.
"Sayang, ini Papa juga namanya Papa Indra." Amel memperjelas ke Arsy supaya tahu jika orang yang ada di depannya itu Papa kandungnya.
"Papa, bukan Papa ini."
Maksud Arsy Papa Alfa.
"Papa Alfa maksud Arsy, Papa baru pulang sayang nganterin Bunda sama Oma. Sekarang Arsy ditemani sama Papa Indra ya."
Indra pun memperlihatkan senyumnya supaya terlihat akrab dengan Arsy.
"Sayang, sama Papa ya."
Indra meraih tangan Arsy dan mengusap punggung tangannya.
"Papa..."
Indra tersenyum senang dipanggil Arsy dengan sebutan Papa rasanya adem di hati.
"Sayang, makan ya biar cepat sembuh."
Arsy tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Amel juga melihatnya terasa adem, kini beban yang ada di dalam dadanya sudah terselesaikan. Masalah Arsy kapan akan memahaminya yang penting dia sudah mengenalkan Papa kandungnya kepada anaknya itu.
"Anak pintar, makannya habis."
Arsy terlihat senang juga.
"Biar aku yang balikin."
Indra meminta peralatan bekas makan dari Arsy karena kasihan dengan Amel harus menggunakan kursi roda.
"Makasih Mas."
Setelah meletakan setelah meletakan peralatan makan Arsy, Indra kembali lagi duduk di samping tempat tidur Arsy.
__ADS_1
"Kamu istirahat aja, biar aku yang ngajak main Arsy. Dia kelihatan belum mampu ngantuk."
"Nggak papa Mas."
Amel pun tersenyum.
"Ma, mau gambar."
Arsy memang suka sekali menggambar seperti Papanya.
"Iya Sayang, Mbak tolong ambilkan peralatan menggambarnya Arsy." Pinta Amel ke pengasuhnya.
"Iya Bu, ini Bu."
Pengasuhnya Arsy memberikan buku gambar dan juga pensil warna yang bisa digunakan Arsy untuk menggambar.
"Arsy suka gambar."
Tanya Indra, Dia baru tahu jika buah hatinya itu ternyata menuruni bakatnya.
"Iya seperti kamu Mas."
Indra dari atasan jam Sambil memandangi wajah Amel yang menatap Arsy menggoreskan pensil warnanya di atas kertas putih.
Dalam hati Indra.
"Aku telah membuatmu menderita membesarkan Arsy seorang diri, Papa macam apa aku ini tidak tahu perkembangan anaknya." Indra menyesali dirinya di dalam hati.
"Pa, Alsy gambar bunga."
Arsy membuyarkan lamunan Indra.
"Cantik bunga ya Sayang, mau nggak Papa gambarin."
"Mau.. mau.."
Arsy berlonjak dia tak ingat tangan yang sebelahnya padahal terpasang infus.
"Sayang, nanti sakit tangannya."
Amel meminta Arsy untuk tenang.
"Sini Papa gambarkan ya."
__ADS_1
Arsy pun mengangguk dan membagi buku gambarnya dengan Indra.
Indra mulai menggoreskan pensil berwarna itu di atas kertas dan Arsy antusias sekali dan sesekali mengajukan pemikirannya untuk memberikan warna sesuka dia.
Amel terlihat tersenyum memandang keakraban mereka berdua.
"Mama senang melihat kalian berdua seperti ini." Dalam hati Amel.
"Sudah jadi Sayang, cantik nggak."
"Yeay.. Papa bagus gambarnya."
Indra pun tertawa melihat anaknya senang sekali, dan tak sengaja kedua maniknya saling bertatapan dengan Amel sambil melempar senyum keduanya.
"Makasih Ma."
Ucap Indra dan membuat Amel merona dipanggil Mama.
"Pa.. Gambar lagi."
Pinta Arsy.
"Sayang udah malam kita tidur ya." Bujuk Amel.
"Nggak mau, mau gambar sama Papa."
"Kamu istirahat aja biar aku yang nemenin Arsy dia kelihatan belum mengantuk sama sekali."
"Maaf merepotkan." Ucap Amel.
"Sama sekali tidak, aku yang harusnya berterima kasih sudah diberi kesempatan seperti ini."
"Ya sudah aku istirahat dulu."
Indra pun menganggukkan kepalanya, rasanya Dia sekali membantu mantan istrinya itu tapi pasti ditolak jadi Dia hanya bisa memandanginya.
"Pa.. Gambar."
"Iya Sayang "
Indra pun asik menggambar kembali di buku gambar Arsy dan membuatnya senang..
🥳🥳🥳🥳🥳
__ADS_1