KOPI CINTA

KOPI CINTA
76


__ADS_3

Alya mengerjapkan matanya karena baru pertama kali ini dia tidur di kamar Alfa jadi merasakan suasana yang berbeda.


Dia melihat suaminya yang masih terlelap sambil memeluk dirinya.


Anin menatap wajah Alfa yang terlihat sangat teduh saat Ia tidur, perlahan Ia mengusap Pipinya dengan jari - jarinya sambil tersenyum.


"Makasih Sayang." Ucap Anin


Alfa merasakan pipinya disentuh dan istrinya berbicara, Dia menarik tubuh Anin dan memeluknya serta mengecup keningnya.


"Makasih buat apa Sayang."


"Semuanya Sayang, Anin bersyukur menikah dengan Mas Alfa."


Alfa tersenyum dan mengusap kepala Anin sambil membuka matanya.


"Love You Sayang."


"Love U more Sayang."


Anin mengecup pipi Alfa.


"Hmm.. Udah berani ya sekarang." Alfa memeluknya erat.


"Kalau nggak lagi palang merah, udah Mas hukum kamu, cium pipi orang ganteng."


"He he he... Mas suka PD ya."


"Memang ganteng kan Sayang."


"Iya paling ganteng."


Alfa mencubit pipi Anin dan mengecupnya.


"Mas, udah adzan belum sih. Anin bingung di sini nggak denger suara adzan."


Alfa menggerakkan badannya ke samping untuk melihat jam yang ada di atas mejanya.


"Bentar lagi Sayang. Mas ke masjid ya." Alfa mengecup kening Anin dan bangun.


Anin menganggukkan kepalanya dan melihat tubuh Alfa yang menghilang masuk ke dalam kamar mandi.


"Makasih Ya Allah, engkau berikan suami yang taat kepada-Mu."


Anin segera bangun juga dan merapikan tempat tidurnya setelah itu mengambilkan baju ganti untuk Alfa.


Alfa yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya tersenyum melihat Anin sudah mempersiapkan baju ganti untuk dirinya.


"Mas, baju gantinya."


"Makasih ya Sayang."


Adzan sudah berkumandang Alfa segera memakai baju yang sudah dipersiapkan oleh istrinya. Anin tersenyum sendiri melihat Alfa sedang merapikan rambutnya sambil berkaca dan kemudian mengenakan pecinya.


"Kenapa Sayang."


"Suami ganteng ya."


Alfa tersenyum, "Kan Mas udah bilang tadi kalau Mas ini memang ganteng."


Anin memberikan sajadahnya kepada Alfa.


"Mas berangkat ya, kamu mandi biar seger."


"Iya Mas."


"Nanti Mas yang bilang ke Mama kalau kamu lagi nggak salat takutnya nanti Mama nungguin kamu."


"Makasih ya Mas."


"Iya Sayang, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."

__ADS_1


Alfa keluar dari kamarnya dan Anin pun segera membersihkan dirinya.


Saat turun dari tangga Alfa melihat Mamanya sudah duduk di ruang tamu memang kebiasannya setiap pagi begitu.


"Ma, Alfa ke masjid ya."


"Anin mana."


"Anin lagi halangan, dia nggak sholat Ma."


"Ya sudah, kamu hati - hati."


"Iya Ma, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Alfa meninggalkan rumahnya berjalan kaki menuju ke masjid di dekat rumah sedangkan Mama Ani sholat di rumah bersama Bibi aja karena Amel juga sedang berhalangan.


Anin selesai mandi dia sudah merapikan kamarnya kemudian turun ke bawah menuju ke dapur karena dia melihat Mama mertuanya masih mengaji. Alfa pun belum pulang dari masjid langsung aja Anin ingin membantu Bibi mempersiapkan sarapan.


"Masak apa Bi."


"Non Anin, Bibi mau buat nasi goreng seafood Non."


"Anin bantu ya Bi."


"Nggak usah Non, Bibi bisa nanti Non Anin malah kotor."


"Perempuan itu harus kotor di dapur Bi."


"Baiklah Non."


Anin mulai membersihkan beberapa seafood yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng.


"Sayang.."


Alfa yang baru pulang dari masjid menghampiri Anin yang sedang berada di dapur.


"Mas, udah pulang."


"Ngapain, ikut Mas yuk."


"Mau buat sarapan sama Bibi Mas. Mau kemana Mas."


"Ayo ikut Mas, kita olahraga."


"Anin nggak bawa baju olahraga."


"Udah ada, ayo sayang..."


"Non olahraga, Bibi yang nerusin Non."


"Maaf ya Bi, nggak jadi bantu."


"Nggak papa Non."


Anin segera mencuci tangannya dan kemudian mengikuti Alfa ke kamar.


"Mau masak apa tadi Sayang."


"Mau buat nasi goreng seafood Mas, tapi nggak jadi."


"Ada Bibi, kamu ikut Mas olahraga aja."


Mereka masuk ke dalam kamar kemudian segera berganti baju olahraga, ternyata Alfa juga telah mempersiapkan baju olahraga untuk Anin beserta sepatunya.


"Mas kapan nyiapin ini semua."


Anin sedang mengenakan sepatunya namun tiba - tiba Alfa yang sudah selesai mengenakan sepatunya berjongkok di depan Anin dan mengikatkan tali sepatu istrinya.


"Baru kemarin mau menikah sama kamu, dan sengaja Mas itu mau olahraga itu di temani sama kamu."


Anin tersenyum memandang Alfa yang masih mengikatkan tali sepatu.

__ADS_1


"Ayo Sayang kita olahraga."


Alfa mengulurkan tangannya dan Anin pun berdiri menerima tangan Alfa.


"Mas jangan jauh - jauh, capek Anin."


"Iya Sayang, kita keliling Kompleks aja ya."


"Iya Mas."


Mereka turun dari kamarnya berjalan bersama, di ruang keluarga terlihat Amel yang sedang menunggu Arsy bermain.


"Pagi Kak."


Sapa Alfa.


"Pagi, kalian mau kemana."


Amel tampak lebih segar daripada tadi malam.


"Mau joging Kak." Jawab Anin.


"Bunda.. Ikut..."


Arsy menghampiri Anin dan memeluk kakinya.


"Gimana Mas."


"Sayang di rumah aja, diluar ada orang jahat." Amel mendekati Arsy.


"Ndak mau.. Mama bohong, Arsy mau ikut Bunda sama Papa."


"Sayang, jangan ikut ya diluar ada anjing galak itu milik tetangga, Papa aja takut."


Alfa berlagak takut supaya Arsy mengiranya memang benar ada anjing yang galak di depan rumah.


"Papa ndak bohong..."


"Nggak Sayang." Alfa mengusap rambut Arsy, Sebenarnya dia juga mau ngajak Arsy jalan-jalan tapi takut aja karena keadaan lagi nggak aman.


"Sayang, nanti main sama Bunda ya. Bunda sama Papa pergi sebentar saja nanti main sama Bunda kalau sudah balik ya." Anin mengecup pipi Arsy.


"Bunda janji.."


"Iya Bunda Janji, nanti kita main ya."


"Oke..."


Arsy langsung kembali lagi ke mainannya dan Alfa menggandeng Anin untuk keluar.


"Pergi dulu Kak."


"Iya hati - hati kalian."


Amel memandang mereka bertumbuh hingga tak terlihat lagi keluar rumah.


"Maafin Kakak Fa, kamu masih harus ngurusin Kakak sama Arsy terus setelah kamu berkeluarga."


Mama Ani melihat Amel memandangi Anin dan juga Alfa yang pergi.


"Mel, adik kamu kan sayang sama kamu dan juga Arsy."


"Tapi Ma, Amel merasa menjadi beban Alfa terus sedangkan Alfa juga sudah punya istri."


"Mel, Alfa nggak seperti itu orangnya Dia nggak pernah menganggap kamu sebagai beban dia laki-laki yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Alfa itu sudah berjanji sama Papa kamu akan selalu menjaga kamu, biarkanlah adik kamu menjalankan Amanat Papa kamu."


"Amel merasa nggak enak Ma, apalagi sama Anin. Amel merasa menjadi penghalang kebahagiaan mereka berdua."


"Jangan berpikir seperti itu Kamu doakan selalu adik kamu bahagia dengan Anin. Mama melihat sosok Anin itu Dia sangat penyayang dan dewasa dalam bersikap."


"Amel hanya takut kalau Anin merasa di nomor duakan karena Alfa lebih mementingkan Amel."


"Anin tidak seperti itu orangnya, Mama yakin dia bisa memahami posisi Alfa sebagai laki-laki satu-satunya yang ada di keluarga kita."

__ADS_1


"Iya Ma, semoga Anin memahaminya."


😌😌😌😌😌


__ADS_2