KOPI CINTA

KOPI CINTA
142


__ADS_3

Arsy terlihat senang sekali, menggambar di temani Papanya.


"Pa.. Warnanya bagus nggak."


Arsy nampak antusias memperlihatkan hasil gambarnya kepada Indra.


"Bagus Sayang."


Ucap Indra sambil mengelus lembut kepala anaknya itu dengan tersenyum senang.


Indra memang diperbolehkan datang ke rumah setelah tadi berbicara dengan Mama Ani.


Kalau hanya untuk sekedar berkunjung Mama Ani masih memperbolehkan tetapi jika Indra mengungkapkan niatnya untuk mengajak rujuk kembali dengan Amel Mama Ani masih pasang badan menolaknya.


Indra memang belum secara langsung mengungkapkan niat baiknya kepada Mama Ani, tapi Dia sudah merasa jika dirinya akan mendapatkan penolakan dari Mama Ani.


"Papa begini saja sudah senang sekali sayang, bisa menemani kamu menggambar dan melihat kamu tersenyum gembira." Dalam hati Indra sambil menatap buah hatinya.


"Assalamualaikum."


Lamunan Indra sambil memandangi Arsy akhirnya buyar dengan ucapan salam dari Alfa yang baru saja pulang dari kantor.


"Waalaikumsalam, Alfa sudah pulang."


Indra beranjak dan menyalami tangan Alfa.


"Sudah dong, kan udah sore ini."


Senyum Alfa sambil memandang keponakannya yang asyik dengan gambarnya padahal biasanya kalau dia pulang sudah ribut untuk menghampiri dirinya.


"Asyik banget Arsy, hmmmm... sampai Papa pulang nggak disambut ini."


Alfa mengusap kepala Arsy yang langsung menoleh dan marahi tangan Alfa dan mencium punggung tangannya.


"Gambar Pa."


"Bagus.. Siapa yang gambar tadi."


"Papa Indra."


Katanya sambil tersenyum-senyum ke arah Indra.


"Kak Amel kemana, nggak nemenin."


"Tadi habis sholat ashar ke kamar." ucap Indra.


"Ayo Mas, ke kamar dulu."

__ADS_1


Suara Anin memanggil suaminya yang tadi minta dibuatkan minuman.


"Iya Sayang."


"Tinggal dulu ya Dra."


Sambil menepuk pundak Indra.


"Iya Fa, selamat beristirahat dulu."


"Oke."


Alfa malah mengacungkan jempolnya sambil berjalan bersama dengan Anin menuju ke kamar meninggalkan Indra bersama dengan Arsy.


"Sejak kapan Indra datang, Sayang."


Tanya Alfa kepada istrinya saat sudah masuk ke dalam kamar.


"Siang tadi Mas, setelah Mama tadi mengizinkannya."


Alfa nampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu mengusap perut Anin.


"Papa kangen Sayang."


Sambil mencium perut istrinya yang semakin membesar.


"Mandi Pa, udah sore."


"Iya Sayang."


Malam pun akhirnya menampakan dirinya, mereka semua saat ini sedang makan malam bersama termasuk Indra yang belum boleh pulang oleh Arsy.


"Nambah lagi Indra nggak usah malu."


Ledek Alfa yang sedang dilayani Anin mengambil sayur lagi.


"Iya Fa, makasih."


Mama dan Amel nampak diam saja menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Papa, mau ayam goreng."


Arsy merengek meminta untuk diambilkan ayam goreng lagi.


"Ini Say..."


"Ini Say...."

__ADS_1


Antara Indra dan Amel sama-sama mengambilkan ayam goreng untuk Arsy.


Alfa, Anin dan Mama Ani memandang mereka berdua.


"Ini ya Sayang."


Amel meletakkan ayam goreng di piring Arsy dan Indra pun mengalah mengembalikan ayam goreng yang telah ia ambil ke tempatnya semula.


"Mau punya Papa." Rengek Arsy.


Indra memandang anaknya itu yang terlihat ngambek karena tidak dituruti.


"Ini sama Sayang." Rayu Amel.


"Sayang, ayamnya sama tadi Mama juga ambil dari piring itu kan sekarang dimakan lagi ya." Rayu Indra dengan lembut sambil mengusap rambut Arsy.


"Ee..eee.."


Arsy menganggukkan kepalanya lalu memakan ayam goreng yang diambilkan oleh Amel itu.


"Romantis ya." Ledek Alfa dan langsung mendapat tatapan dari Anin.


"Kita Sayang yang romantis." Senyum Alfa menggoda istrinya.


"Aku merindukan momen ini."


Dalam hati Indra.


"Mama ke dalam dulu."


Mama Ani setelah menghabiskan makanan yang meninggalkan mereka yang masih ada di meja makan.


Indra merasa Mama Ani memang belum bisa menerima kehadiran dirinya.


"Pa.. Arsy kenyang."


"Udah ya Sayang, sekarang cuci tangan."


Indra membantu Arsy turun dari kursi untuk mencuci tangannya di wastafel.


"Indra sayang banget ya Kak, sama Arsy." celetuk Alfa dan Amel menetap ke arah adiknya yang iseng itu.


"Namanya juga Papanya."


"Sepertinya Arsy juga bakal senang sekali kalau Mama Papanya ada di sampingnya."


"Mas..."

__ADS_1


Anin menyenggol lengan suaminya begitu melihat raut muka Amel yang langsung berubah....


🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2