
Acara resepsi telah selesai dan kini semua keluarga sedang berkumpul untuk menikmati makan malam bersama.
Alfa dan Anin duduk bersebelahan mereka juga menikmati makan malamnya.
"Kalian mau bulan madu kemana." Tanya Amel.
"Belum tau Kak, nanti kita pikirkan ya sayang." ucap Alfa sambil meraih tangan Anin.
"Iya Mas."
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Selesai makan malam keluarga mereka satu persatu mulai pergi dan meninggalkan hotel itu untuk menuju ke rumah masing-masing.
Terakhir tinggal Mama Rani dan Mama Ani yang masih ngobrol.
"Ma, Kita pulang yuk istirahat pengantinnya juga mau istirahat Ma." Kata Amel meminta kepada Mamanya untuk pulang.
Alfa memandang kakaknya itu dengan tersenyum tahu saja apa yang dia mau.
"Oh iya, yuk besan kita pulang."
Ajak Mama Ani kepada Mama Rani.
"Kita pulang juga kan Mas."
Alfa tersenyum dan merangkul pundak Anin.
" Malam ini kita tidur di sini ya sayang, Mas capek nggak kuat nyetir." Alibi Alfa.
"Kita nginep Mas."
"Iya Sayang."
Mereka berdua pun berpamitan dengan para orang tua, mobil mereka perlahan meninggalkan lobby hotel dan menuju ke rumah.
Alfa dan Anin memandangi mobil mereka yang semakin menjauh.
"Sayang, yuk kita istirahat."
Alfa menggenggam tangan Anin dan mengajaknya masuk ke dalam hotel.
Anin mengikutinya saja namun sebenarnya jantungnya semakin tidak bisa diajak kompromi, entah kenapa rasanya berdetak semakin cepat saja saat Alfa mengajaknya masuk ke dalam hotel.
Alfa menekan tombol lift dan mereka berdua pun masuk ke dalam. Pintu lift tertutup dan mulai berjalan menuju ke lantai yang mereka tuju.
Alfa memeluk pinggang Anin dan mengecup keningnya.
"Mas ada orang."
Anin merasakan jantung semakin tak terkendali saat Alfa melakukan hal-hal yang romantis pada dirinya.
"Nggak ada Sayang, tenang aja."
Lift pun terbuka, mereka berdua keluar dari dalam dan berjalan melewati lorong menuju ke kamar dengan Alfa masih memeluk pinggang Anin dengan satu tangannya.
Pintu pun terbuka setelah Alfa menggesekkan kartunya.
"Silahkan masuk Sayang."
Anin masuk ke dalam dan lampu di dalam kamar itu pun langsung menyala, terlihat pemandangan kamar yang sangat romantis untuk pengantin baru seperti mereka.
__ADS_1
Alfa mengunci pintu dan melihat Anin yang terdiam memandangi hiasan yang ada di kamar itu. Dia berjalan mendekati Anin dengan tersenyum kemudian memeluk tubuh istrinya itu dari belakang dan membuat Anin kaget.
"Sayang suka."
Alfa meletakkan dagunya di atas pundak Anin yang membuatnya semakin terasa gugup apalagi pipi Alfa sudah menempel di pipinya.
Anin menggigit bibir bawahnya mencoba untuk menetralkan nafas dan juga detak jantungnya.
"Anin suka Mas, ini semua Mas Alfa yang siapin ya."
"Spesial untuk istri Ku yang paling cantik. Masih sudah menjadi istri Mas."
Alfa mengecup pipi Anin dari samping dan membuatnya kaget lagi.
Alfa terkekeh merasakan reaksi tumbuh Anin yang selalu kaget, jika dia melakukan hal-hal yang romantis.
Alfa melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh istrinya untuk menghadap kepada dirinya. Dia tersenyum namun Anin hanya menunduk saja tak berani menatap.
"Sayang."
Alfa meraih dagu istrinya dan mengangkatnya ke atas untuk menatap dirinya.
Anin tersenyum dan nampak sekali wajahnya yang gugup.
Alfa meletakan kedua telapak tangannya dileher Anin sambil terus memandangi wajah istrinya yang cantik itu. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arah Anin dan deru nafas mereka pun terasa bersahutan.
Alfa semakin mendekatkan wajahnya membuat Anin memejamkan matanya, namun setelah Anin memejamkan matanya Alfa pun nampak tersenyum dan mengecup kening Anin dengan lembut.
Jantung Anin yang sudah terasa ingin lompat dan nafasnya yang semakin berat akhirnya pun tersenyum, ternyata laki - lakinya sudah sah menjadi suaminya itu hanya mengecup keningnya.
Anin membuka matanya setelah Alfa melepaskan ciuman di keningnya dan mengusap pipinya.
"Kita sholat Isya dulu Sayang."
"Iya Mas."
"Mas, akan membuat kamu nyaman dulu Sayang." Ucap dalam hati Alfa sambil memandangi istrinya itu.
"Mas."
"Iya Sayang."
"Anin nggak bawa baju ganti, Mas nggak bilang sama Anin kalau mau menginap di sini."
Alfa tersenyum dan menggandeng tangan Anin mendekat ke lemari.
"Di dalam sini sudah ada buka aja ya sayang, Mas mau ke kamar mandi dulu."
"Iya Mas."
Ani memandang tubuh suaminya itu yang menghilang masuk ke dalam kamar mandi kemudian membuka pintu lemari yang ada di depannya.
Dia tertegun melihat isi di dalam lemari, semua keperluan yang sudah ada di sana.
"Kapan Mas Alfa menyiapkan ini." Ucapnya sendiri.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Alfa sudah basah dengan air wudhu.
"Kenapa Sayang kok berdiri disitu ayo kita salat dulu."
"Iya Mas."
__ADS_1
Anin mengambil mukena yang ada di dalam situ dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Selesai berwudhu, Alfa sudah menggelar dua sajadah untuk dirinya dan juga istrinya.
Anin juga sudah mengenakan mukenanya Alfa pun tersenyum memandang istrinya itu yang terlihat cantik.
Mereka berdua melaksanakan salat berjamaah bersama untuk pertama kalinya dengan status sebagai suami istri. Alfa melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan sangat merdu dan Anin pun dengan khusyuk berjamaah dengan suaminya.
Selesai sholat tak lupa Alfa pun berdzikir dan juga berdoa dan Anin mengaminkannya.
Selesai berdoa Alfa memutar tubuhnya ke belakang memandang sang istri, Anin mengeluarkan tangannya untuk meraih tangan Alfa dan menciumnya.
Alfa memberikan kecupan manis di kening sang istri dan membelai pipinya.
"Sayang."
"Iya Mas."
Anin memandang ke arah Alfa dengan tatapan teduh.
"Boleh Mas melihat kamu membuka jilbab kamu."
Mereka masih di atas sajadah dan Anin pun menganggukkan kepalanya.
Alfa tersenyum dan meraih mukena yang masih melekat di atas kepala Anin, dengan perlahan Alfa melepaskannya dan beralih ke jilbab yang masih menutupi rambut istrinya.
"Cantik banget istri Mas."
Alfa membelai rambut Anin yang sudah tidak tertutup jilbab lagi dan menarik ikat rambutnya.
Anin nampak malu mendapat pujian dari suaminya itu, rambut Anin yang lurus dan hitam panjang tergerai di punggungnya menambah kecantikan Anin yang membuat Alfa yang harus bersusah payah menahan diri.
"Mas, Anin beresin dulu sajadahnya ya."
Anin mengalihkan pembicaraannya karena dia jujur merasakan gugup yang luar biasa.
"Mas bantu Sayang."
Alfa merapikan sajadah yang ia gunakan untuk salat begitu pula dengan Anin yang merapikan sajadah dan mukenanya.
Anin meminta sajadah yang di bawa Alfa kemudian meletakan di tempatnya kembali, namun tiba - tiba Alfa memeluknya dari belakang saat meletakan sajadah itu.
Sontak Anin kaget apalagi Alfa menciumi lehernya yang membuatnya terasa geli dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Mas,.."
"Hmmmm..." Hanya begitu saja Alfa bersuara tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Geli Mas."
"Sayang, kalau Mas minta sekarang boleh nggak."
Katanya membuat Anin bergidik dan hanya diam saja.
🌹🌹🌹🌹🌹
Cut..cut....
Besok lagi ya 😁😁😁😁😁🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yang mau menghalu di malam hari 😁😁😁😁
__ADS_1