KOPI CINTA

KOPI CINTA
46


__ADS_3

Anin masih diam terpaku sambil melihat ponselnya.


"Anin.. Halo Anin."


Miss Salsa yang memanggilnya sejak tadi sampai tak di gubris sama Anin.


"Anin.."


Miss Salsa menepuk lengan Anin hingga baru dia tersadar.


"Eh.. Iya Miss."


"Kamu kenapa, pesan dari siapa sampai bengong seperti itu melihatnya."


"Eh.. Nggak Miss, nggak papa salah kirim kayaknya."


"Ya udah, buruan itu dimakan kita ke masjid."


"Iya Miss."


Anin memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya.


"Siapa yang mengirim pesan itu, dan apa maksud dari pesan itu."


Anin makan pun masih kepikiran dengan pesan itu.


Selesai makan Miss Salsa dan Anin menuju ke masjid untuk melaksanakan kewajibannya.


Selesai sholat Anin duduk di serambi masjid sambil menunggu Miss Salsa yang sedang ke kamar mandi.


Ting...


Masuk pesan lagi.


"Saya tidak main - main, jauhi Alfa atau di akan kehilangan karirnya."


Jantung Anin seakan berhenti membaca pesan ancaman itu kembali.


"Siapa ini yang kirim."


Anin berbicara sendiri di dalam hatinya sambil memandangi ponselnya.


"Anin..."


Hingga dia tak sadar ada yang memanggilnya.


"Anin.." Miss Salsa datang dan menyenggol dia.


"Eh.. Iya Miss. Udah."


"Itu.."


Miss Salsa tersenyum sambil memberi kode dengan matanya kepada seseorang yang di depan Anin.


Anin menatap ke depan ternyata ada Alfa yang berdiri di depannya yang sedang memandangnya.


"Mas Alfa."


"Kamu ngapain bengong."


"Nggak papa Mas, eh. Pak maaf."


Anin mulai mengenakan sepatunya.


"Berangkat sama siapa tadi."


"Sama Papa."


"Nanti pulang sama Saya."


Ucap Alfa singkat.


"Nggak usah Pak makasih , saya nanti dijemput Papa. Permisi Pak Saya banyak pekerjaan."


Anin menggandeng tangan Miss Salsa dan pergi meninggalkan Alfa yang masih berdiri memandangnya.

__ADS_1


"Anin.."


Alfa memanggilnya namun Anin sama sekali tidak menoleh.


"Kamu berantem Nin."


"Nggak Miss, aku cuma jaga jarak aja kalau di kantor. Aku nggak mau terlalu terlalu mengekspos hubungan Ku dengan Pak Alfa."


"Ya sudah kita ke ruangan lagi."


Mereka berdua berjalan bersama menuju ke ruangan kerjanya.


Sesampainya di ruangan Anin duduk di kursinya kemudian mengambil ponselnya.


"Bagus jauhi Alfa, atau karirnya akan hancur dan itu semua gara-gara kamu."


Pesan teror masuk lagi membuat Anin merasa takut apalagi ini menyangkut karir Alfa.


"Aku harus gimana."


Anin hanya bisa bicara di dalam hati dia pun juga tak berani bercerita dengan Salsa.


Untuk menutupi kegundahan hatinya Anin pun melanjutkan pekerjaannya kembali hingga tak terasa waktu untuk pulang telah tiba.


"Anin dijemput."


"Belum tau Miss, aku telepon Papa dulu."


Anin mengambil ponselnya kemudian menghubungi Papanya, setelah beberapa menit berbicara akhirnya panggilan yang sudah selesai.


"Gimana."


"Anin naik taksi aja Miss, Papa sibuk kayaknya pulang telat."


"Kamu nggak bareng sama Pak Alfa aja tadi sudah ditawari nanti dia marah lagi."


"Nggak Miss, Anin mau pulang sendiri."


Sedikit demi sedikit pesan teror itu telah mempengaruhi Anin, Dia tak mau si peneror itu benar-benar melancarkan aksinya untuk menghancurkan karir Alfa jika masih dekat dengan dirinya.


Mereka berdua berjalan bersama untuk menuju ke lobi. Anin telah memesan taksi dan dia berharap tidak lama supaya bisa langsung pulang.


"Anin, aku duluan ya itu suami aku sudah datang."


"Oke Miss, taksi aku juga sudah dekat. Hati - hati ya Miss."


"Oke."


Miss Salsa meninggalkan Amin yang masih menunggu taksinya. Tak lama taksi itu datang dan Anin masuk ke dalam berpapasan dengan Alfa yang baru saja keluar dari lobby kantor.


"Anin, itu Anin tadi kan. Dia naik taksi." Batin Alfa sambil mengamati taksi yang baru saja berjalan meninggalkan depan kantornya.


"Pak Alfa."


Siska datang dan akan menggandeng tangan Alfa namun ditepisnya.


"Kenapa Bu Siska, maaf saya buru - buru."


"Pak sebentar, Saya boleh minta tolong." Modus Siska sambil meriah tangan Alfa namun Alfa menepisnya.


"Ada apa Bu Siska, Saya harus segera pulang."


"Ini Papa telepon berkas yang tadi diminta untuk ditandatangani sekarang supaya saya bisa bawa pulang untuk di cek Papa."


Alfa mendengus kesal, tapi kalau sudah urusan pekerjaan Alfa pasti mengiyakannya.


"Oke."


Alfa masuk kembali kedalam kantor dan diikuti oleh Siska yang kegirangan.


"Yes... Rencana satu berhasil."


Dalam hati Siska.


Alfa kembali ke ruangannya dan segera menandatangi berkas yang akan di serahkan ke Direksi.

__ADS_1


Siska mengikutinya dan ikut masuk di ruangan Alfa.


"Nggak usah buru - buru Pak Alfa, saya akan setia menemani Pak Alfa sampai kapanpun."


Siska duduk dengan menyilang kan kakinya padahal dia memakai rok mini yang memperlihatkan auratnya.


Alfa tidak menanggapinya dia fokus dengan dokumen yang ada di depannya dan berharap bisa segera menyelesaikan pekerjaannya.


Sekitar setengah jam kemudian akhirnya Dokumen itu selesai dan sudah ditandatangani oleh Alfa.


"Ini Bu Siska, Saya permisi untuk pulang."


Alfa meletakkan dokumen itu di meja dan kemudian meninggalkan Siska begitu saja.


"Pak Alfa, Saya di tinggal."


Siska meraih dokumen itu dan mengikuti Alfa masuk ke dalam lift.


"Pak Alfa kita makan malam dulu."


"Terima kasih, Saya harus pulang."


Alfa masih kepikiran dengan Anin yang pulang naik taksi tadi.


"Kenapa Anin bohong sama aku, katanya dijemput Papa tapi nyatanya dia naik taksi." Alfa bicara sendiri di hatinya.


Lift terbuka dan Alfa akan melangkahkan kakinya keluar namun ditarik oleh Siska.


"Pak Alfa kenapa buru - buru sih, kita dinner dulu."


"Maaf Bu."


Alfa menarik tangannya yang di pegang oleh Siska.


Alfa langsung pergi meninggalkan Siska yang memandangnya kesal.


"Alfa ..Alfa... Senjata kamu ada di tangan Saya. Kalau kamu tidak mau menuruti keinginan saya hancur karir kamu."


Dalam hati Siska dengan senyum yang mengancam.


Alfa mengendarai mobilnya rasanya juga tak akan bisa mengejar Anin yang kemungkinan sudah sampai di rumah.


Dia membuka ponselnya kemudian menghubungi Anin.


"Assalamualaikum."


Terdengar suara Anin di ponselnya.


"Waalaikumsalam, kamu dimana udah sampai rumah belum."


"Sudah Mas, baru aja. Anin mau istirahat."


"Kamu kenapa bohong sama saya katanya dijemput Papa, tapi saya lihat kamu pulang naik taksi."


"Saya Nggak bohong Mas, tadinya mau dijemput Papa karena Papa sibuk dan pulang telat saya pulang duluan."


"Kan kamu bisa ngomong sama Mas, aku akan antar pulang."


"Maaf Mas, Anin nggak mau merepotkan Mas Alfa yang masih sibuk. Anin bisa sendiri Mas, Anin nggak mau bergantung dengan Mas Alfa."


"Anin, Saya suka kalau kamu itu bergantung dengan saya."


"Mas, Anin capek. Mas lebih baik juga pulang. Pasti Mama Ani sudah menunggu. Assalamualaikum."


Telepon langsung dimatikan sepihak oleh Anin.


" Waalaikumsalam."


"Kamu kenapa sih Nin."


😱😱😱😱😱😱


Udah double nih...


Mana jempolnya 👍👍👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2