
Pyar...
Suara itu memecah keheningan dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Alfa menoleh ke belakang, melihat Anin berdiri mematung sambil menutup mulutnya.
"Gimana ini."
Anin ketakutan setelah menabrak pegawai restoran yang sedang membawa pesanan pelanggan dengan menggunakan nampan dan semuanya tumpah karena dia.
"Anin."
Alfa mendekati Anin sambil menggendong Arsy.
Anin menoleh ke Alfa, dan kelihatan sekali wajahnya yang ketakutan dan merasa bersalah.
"Kamu nggak papa."
Anin menggelengkan kepalanya.
"Ma.. Maaf Mbak saya nggak sengaja."
Anin akan jongkok membantu pegawai itu membereskan.
"Anin jangan nanti kamu kena beling."
Alfa mencegahnya.
"Maafkan saya Pak, Saya yang salah tidak melihat jalan."
Kata pegawai itu.
"Sudah nggak papa segera di bereskan."
"Baik Pak."
"Mas yang salah Anin."
Mata Anin berkaca - kaca.
"Sudah Anin, ayo ikut Mas. Itu biar dibereskan Mereka."
Pegawai setoran yang lain pun segera mendekat dan membantu temannya membereskan piring yang berantakan di lantai.
"Mas Anin salah."
"Kamu nggak salah, ayo ikut Mas."
Alfa meraih tangan Anin namun di tepisnya.
"Anin nggak bisa Mas."
Katanya sambil menunduk.
"Kamu kenapa sih Anin, ayo ke dalam."
"Ada apa Alfa."
Kak Amel yang berjalan menggunakan kursi roda mendekati mereka.
"Nggak papa Kak, sedikit insiden saja."
Anin melihat ke arah Amel ada rasa iba di dalam dirinya.
"Mama..."
Arsy meminta turun.
"Jangan Sayang, ada pecahan beling nanti kena kamu sama Papa aja."
Anin terdiam di sana dia masih tidak paham apa yang dilihatnya.
"Anin ayo masuk."
Alfa meraih tangan Anin dan di tepisnya lagi.
"Anin kenapa ayo."
Amel melihat ke arah Anin dan Mereka saling tatap.
"Ini Anindita."
Tanya Amel.
"Iya Kak, ini Anin yang Alfa mau kenal sama Kak Amel."
Alfa memang tadi sudah menghubungi Kakaknya dan ingin mempertemukannya dengan Anin.
"Hai Anin, Amel."
__ADS_1
Amel mendekatinya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Anin Kak."
Anin menerima uluran tangan dari Amel dan mereka bersalaman.
"Kita masuk yuk Anin, sudah gak papa gak usah dipikirin itu sudah dibereskan sama mereka." Kata Amel.
"Anin minta maaf Kak."
Amel tersenyum dan meraih tangan Anin.
"Cantik ya, pantas saja Alfa kepincut."
Amel sambil melirik Alfa dan tersenyum menggoda.
"Udah Kak, ayo Anin masuk."
"Tapi Mas, nanti ada yang marah." Anin masih terhanyut dengan pikirannya tadi.
"Siapa yang marah."
Alfa bingung sendiri.
"Maaf, Mas Alfa sudah beristri."
Ucap Anin dan membuat Alfa melongo kaget dan Amel langsung tertawa.
"Ha ha ha... Anin, pasti gara - gara Arsy manggil Alfa, Papa ya."
Anin menganggukkan kepalanya dan Alfa langsung meraih tangannya.
"Baru calon istri Dia belum mau dijadikan istri, yuk masuk Mas akan jelaskan semua."
Alfa menggandeng tangan Anin dan yang satu menggendong Arsy mereka masuk mengikuti Amel yang menjalankan kursi rodanya duluan.
Mereka duduk di ruang private room kemudian beberapa hidangan datang dan tersaji di sana.
"Anin, silahkan dinikmati dulu nanti Alfa akan jelaskan semua." Ucap Amel.
"Papa.. Alsy mau jalan - jalan."
"Iya Sayang nanti kalau Papa libur ya."
Anin melihat Alfa yang begitu sayang sama Arsy.
"Makan Anin kamu pasti lapar."
"Sayang, kenalin itu Bunda Anin."
Anin membelalakkan matanya mendengar Alfa memanggilkan nya Bunda.
"Bunda... Alsy punya Bunda Pa."
"Iya itu Bunda Anin, salim dulu."
Arsy mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Cantik banget, namanya siapa."
Anin meraih tangan Arsy dan dia Arsy mencium tangannya.
"Alsy..."
Dia masih malu - malu dan kepangkuan Alfa lagi.
"Anin makan dulu, ngobrolnya nanti lagi Alfa."
"Iya Kak."
Mereka menikmati makan siang bersama dengan sajian yang terbaik dari restoran keluarga Alfa.
"Anin masih muda ya, usia berapa." Kak Amel bertanya setelah selesai makan.
"22 Kak."
"Wah, Fa terpaut berapa tahun sama kamu." Ledek Amel.
"Kakak mau membuat malu Alfa." Alfa tersenyum kecut saja.
"Ha ha ha... Anin kamu pasti salah paham tadi ya."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Anin, Arsy ini anak Saya dan kamu tenang saja Alfa belum pernah menikah tapi kalau gagal mau menikah pernah."
Kata Amel memang sengaja mau lihat reaksi Anin.
Begitu Anin mendengar jika Alfa pernah gagal mau menikah dia menatap ke arah Alfa.
__ADS_1
"Karena sejak kecil yang Arsy tau itu Papanya Alfa. Jadi sudah menjadi kebiasaan dia memanggilnya Papa yang seharusnya Om."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Papanya kemana."
Dalam hati Anin tapi enggak berani bertanya.
"Pa.. Bunda pakai jilbab."
Celoteh Arsy sambil melihat Anin yang juga tersenyum.
"Iya Sayang, Nanti kalau besar Arsy mau pakai jilbab nggak."
Arsy menganggukkan kepalanya.
"Anin, Kamu sayang sama Alfa."
Anin menatap ke Amel kemudian beralih ke Alfa.
"Kak kenapa tanya begitu sih, jadi risih Anin nya."
"He he he.. Kakak kan kepo, kok mau sih Anin sama Alfa yang udah tua gitu."
Anin malah terkekeh mendengar Alfa sering diejek kakaknya tua.
"Kak Amel suka banget menjelek-jelekan Alfa di depan Anin."
"Biarin aja biar tau dia."
"Anin, Mas sholat dulu ya."
Alfa pamit untuk menunaikan kewajibannya.
"Anin boleh ikut, Anin juga belum sholat."
"Ayo., Kak tingg dulu nggak papa kan."
"Nggak papa, Anin pakai mukena Kakak ambil aja ada di ruangan ya."
"Iya Kak makasih."
"Arsy di sini aja sama Mama."
"Mau ikut sholat Ma."
"Ayo, Arsy sama Bunda mau."
Anin mengulurkan tangannya dan diterima oleh Arsy.
"Dia mudah dekat kok sama orang, dan sepertinya dia menyukai kamu."
Ucap Alfa sambil mengusap kepala Arsi yang digendong oleh Anin.
Amel memperhatikan mereka bertiga dan ikut merasakan kebahagiaannya.
"Semoga jodoh kamu Alfa, sepertinya Anindita perempuan yang cocok untukmu."
Ucap Amel.
Selesai sholat Alfa pamit kepada kakaknya untuk kembali ke kantor bersama Anin.
"Papa mau kemana."
Arsy yang merengek.
" Papa kerja ya."
Alfa mencium pipi chubby milik Arsy.
"Bunda kemana."
"Bunda juga kerja sayang, kiss dulu."
Anin berjongkok dihadapan Arsy mendapat kecupan dari Arsy.
"Anak pintar."
"Kak, Anin pamit makasih makan siangnya."
"Sama - sama Anin, kapan-kapan ke rumah ya."
Anin terdiam lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.
"Insya Allah Kak."
"Alfa berangkat ya Kak."
Alfa meraih tangan kakaknya dan mencium punggung tangannya begitu pula dengan Anin.
__ADS_1
Mereka berdua pergi bersama meninggalkan restoran itu menuju ke kantor kembali.
☺☺☺☺☺