MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 100


__ADS_3

"Maaf mas, sebaiknya saya pulang sendiri saja." tolak Lina, saat Djorgi ingin mengantarkannya pulang.


"Jangan keras kepala Lin, bukankah aku sudah mengatakan untuk mengantar kamu pulang." kekeh Djorgi.


Seharian, Djorgi merasa senang. Senyum tak pernah luntur dari bibirnya. Selama di perusahaan, Djorgi bahkan tidak seperti biasa.


Memang, Djorgi tidak galak dan dingin pada karyawannya. Tapi memang Djorgi membatasi interaksinya dengan mereka. Hanya untuk tetap menjaga wibawa.


Namun, sehari ini, semua karyawan di perusahaan merasa aneh. Seperti biasa, Djorgi datang agak siang. Dengan bibir tersenyum. Menandakan jika hatinya tengah berbunga.


Semenjak Djorgi memutuskan untuk mendekati Lina, dirinya sudah mengatakan pada sekertarisnya di perusahaan. Untuk tidak mengambil rapat atau pertemuan penting di pagi hari.


Sang sekertaris hanya bisa melakukan perintah atasannya tersebut. Tanpa berani bertanya. Meskipun dirinya sangat penasaran.


Pasalnya, selama ini Djorgi terkenal sebagai pekerja keras. Dirinya sangat gila mengenai pekerjaan. Dan tidak pernah meluangkan waktu hanya untuk sekedar istirahat.


Bahkan dirinya juga terkena imbas saat Djorgi lembut hingga larut malam. Dia harus menemani sang atasan. Tapi akhir-akhir ini, Djorgi sama sekali tidak pernah lembur.


Meski penasaran. Tapi sang sekertaris merasa senang. Dirinya tak harus lembur kerja lagi. Dan bisa istirahat setelah seharian bekerja.


Namun, akhir-akhir ini sang sekertaris merasa jika atasannya berubah. Djorgi jadi lebih santai dalam bekerja. Namun hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh dalam kinerja perusahaan Djorgi.


Djorgi merasa senang, sebab dirinya dan Lina perlahan mulai dekat. Lina memanggilnya dengan sebutan mas. Itu merupakan hal terbesar.


Hanya untuk mengantarkan Lina pulang, Djorgi merubah beberapa jadwalnya untuk bertemu dengan rekan kerjanya. Membuat sang sekertaris kelabakan.


"Lina merasa tidak enak dengan karyawan lainnya." ujar Lina beralasan.


Djorgi mengerti kenapa Lina mengatakan hal tersebut. "Tapi apa kamu nggak merasa kasihan. Bahkan saya rela kembali datang ke toko hanya untuk mengantarkan kami pulang." rajuk Djorgi.


Lina menghela nafas panjang. "Baiklah. Tapi jangan terlalu sering." pinta Lina, akhirnya masuk ke dalam mobil Djorgi.


Djorgi tersenyum samar. Djorgi tahu, jika hati Lina sangat lembut. Dengan sedikit drama yang melas, tentu Lina akan berubah pikiran.


Djorgi masuk ke dalam mobil. "Pakai sabuk pengaman kamu." pinta Djorgi. "Apa perlu saya pakaikan." goda Djorgi.


Lina memandang tajam ke arah Djorgi. "Mas..." tegur Lina.


Djorgi malah tertawa pelan dan menyalakan mesin. Lina tersenyum samar, melihat wajah Djorgi saat tertawa. "Sungguh tampan." batin Lina.


Tapi Lina segera menepis pikiran kotornya. "Sadar Lina. Jangan berharap menjadi ratu." batin Lina pada dirinya sendiri.


"Bagaimana kabar Mawar?" tanya Djorgi.


"Baik."


"Oh iya, apa kamu tahu. Jika putri kita sekolah di tempat yang sama."


Lina menoleh ke arah Djorgi. "Benarkah?" tanya Lina, yang memang dirinya tidak tahu akan hal itu.


"Iya. Bahkan mereka sama. Masih kelas satu. Meski mereka tidak sekelas." jelas Djorgi dengan antusias.


"Siapa nama putri mas?"


"Gaby. Namanya Gaby." papar Djorgi.


Lina mengangguk. "Kapan-kapan akan aku kenalkan dengannya." ujar Djorgi.


"Boleh."


Djorgi merasa ada kesempatan. "Mungkin aku bisa mendekati Lina dan memperbaiki hubunganku dengan Gaby dengan satu kali jalan." batin Djorgi.


......................


Hal pertama yang dilakukan Jerome saat kembali ke kamar adalah mengambil ponselnya. Entah kenapa, Jerome merasa sedikit gelisah sedari tadi.


Pikirannya terus tertuju pada gadis pemilik hatinya. "Mawar." mata Jerome terbelalak melihat pesan tertulis dari Mawar di dalam ponselnya.


"Sial...!!" serunya saat nomor ponsel Mawar tidak bisa dia hubungi. Jerome langsung menyambar jaket dan kunci motor.


Beruntung Jerome segera kembali ke kamar begitu makan malam selesai. Meski sang mama sempat melarang dan malah menyuruhnya untuk mengajak Dona berbincang di taman belakang.


Jerome menolak dengan alasan ada yang harus dia kerjakan. Membuat Dona menahan emosinya. Merasa sejak tadi Jerome sama sekali tidak menganggap kehadirannya.


Tapi Dona tetap menunjukkan senyum manisnya, meski di dalam hatinya sangat kesal. Dia ingin terlihat baik di hadapan Tuan Adipavi dan Nyonya Mesya.


"Jerome kamu mau ke mana?" tanya Nyonya Meysa berteriak, melihat sang anak berlari menuruni anak tangga sembari memakai jaket.


Tapi Jerome sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari sang mama. Menoleh pun tidak. Padahal keluarga Dona masih berada di ruang tengah.


Dona berbincang dengan sang mama dan juga Nyonya Meysa. Meski sebenarnya Dona malas sekali untuk melakukannya.


Tapi demi mencari muka pada Nyonya Mesya, dan mendapat nilai plus darinya. Dona pun membetahkan dirinya untuk duduk seraya berbincang ringan. "Jika bukan demi Jerome, gue ogah duduk enggak penting di sini." kesal Dona dalam hati.


Dona berharap Jerome mengajaknya untuk masuk ke kamarnya. Tapi sayangnya semua hanya angan semu. Mustahil.


Nyonya Mesya berdecak dengan Jerome yang mengacuhkannya. "Anak itu. Nggak punya sopan." geram Nyonya Mesya.


"Sudahlah tante. Mungkin Jerome punya hal penting yang harus di urus. Jadi dia terburu-buru." papar Dona.


Kenyataannya, Dona juga sama penasarannya dengan Nyonya Mesya. "Hal apa yang membuat Jerome seperti itu?" tanya Dona dalam hati.


Nyonya Mesya tersenyum pada Dona dan Nyonya Utami. "Aduh jeng,,, pasti menyenangkan punya putri seperti Dona." pujinya.


Nyonya Utami hanya tersenyum anggun. Menyenangkan. Menyenangkan dari mana. Mereka akan duduk bersama hanya saat makan bersama. Selebihnya tidak pernah.


Dan ini, sejak beberapa tahun, inilah Nyonya Utami dan Dona duduk berdampingan. Berbicara ringan seraya tertawa pelan.

__ADS_1


Jika di rumah, Dona selalu menghindar dari sang mama. Ada saja alasan Dona untuk menolak setiap ajakan sang mama.


Nyonya Utami juga sudah tahu. Kenapa sang putri melakukannya. Pasti karena ingin mengambil simpati dari Nyonya Meysa.


Sementara Tuan Joko dan Tuan Adipavi berada di ruang kerja. Tentu saja membicarakan perkara bisnis.


"Tentu saja." sahut Nyonya Utami singkat. Dirinya tidak ingin berbohong terlalu jauh dengan memuji putrinya sendiri, yang memang tidak ada apapun yang bisa dibanggakan dari dalam diri sang anak.


Di depan butik Nyonya Utami, ketiga rekan kerja Mawar sedang kebingungan. "Bagaimana ini, kita meminta tolong sama siapa!" Tia sudah menangis, takut terjadi sesuatu pada Mawar.


"Sial...!! Raka, berani dia menyentuh Mawar. Gue bersumpah, akan gue patahkan tangannya." ujar Amel dengan wajah menahan amarah.


Meminta tolong pada rekannya di kelompok motor. Itu sama saja tidak berguna. Amel tahu, mereka tidak akan membantunya.


Mawar bukan siapa-siapa bagi mereka. Apalagi mereka harus melawan Raka. Yang notabennya adalah sekutu. Tentu saja tolakan yang akan diterima Amel.


"Amel, lakukan sesuatu." sama seperti Tia, Santi juga menangis. Khawatir sesuatu yang buruk menimpa Mawar.


Amel menjambak rambutnya. "Apa yang harus kita lakukan?!" jerit Amel frustasi. Dia merasa tidak berguna. Membiarkan Mawar dibawa pergi Raka.


"Apa elo tahu nomor telepon kekasihnya Mawar. Atau siapapun itu, yang bisa menolong Mawar." tanya Amel.


Santi dan Tia menggeleng. "Kita hanya tahu rumah Mawar. Tapi tidak mungkin kita pergi ke sana. Elo tahu sendirikan. Hanya ada ibunya." jelas Santi.


Tia juga mengangguk. Membenarkan perkataan Santi. "Polisi. Bagaimana kalau kita lapor polisi." saran Tia.


"Percuma. Kita nggak punya bukti yang kuat. Lagian kejadian baru saja. Mana mungkin polisi percaya." ucap Amel.


"Mana ponsel Mawar tidak bisa dihubungi." ujar Santi.


"CCTV. Iya, bukankah ada kamera CCTV di teras butik. Itu bisa kita jadikan bukti." tutur Santi, dengan mengeluarkan kunci butik dari dalam tasnya.


"Kita masuk lagi." ajak Amel, merasa saran Santi adalah pilihan yang terbaik untuk menyelamatkan Mawar.


Baru beberapa langkah mereka meninggalkan tempat. Sebuah sepeda motor berhenti. Membuat ketiganya kembali membalikan badan ke belakang.


"Bukankah itu kekasihnya Mawar." tukas Tia, saat Jerome membuka helm fullface yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya.


"Mana Mawar?" tanya Jerome tanpa basa-basi.


"Maaf, Mawar dibawa Raka." cicit Tia, menghapus air mata di pipinya, merasa bersalah.


"Raka...!!" Jerome mengepalkan kedua tangannya. Tanpa berkata apapun, Jerome meninggalkan mereka. Pergi mencari Mawar.


"Semoga dia bisa segera menemukan Mawar." batin Amel. Dirinya sangat tahu, jika hanya ada pikiran kotor dan mesum di kepala Raka.


Amel berteriak frustasi. Memandang angin di depannya. "Gue nggak berguna. Mawar bahkan rela dibawa pergi mereka. Semua karena gue nggak berguna.. Aaa...!!!" tubuh Amel luruh ke bawah.


Segera Santi dan Tia memeluk Amel. Menenangkan Amel. "Sudah Mel, bukan elo saja yang merasa bersalah. Gue juga. Kita membiarkan Mawar dibawa mereka." cicit Santi dalam tangisnya.


Ketiganya hanya berharap Jerome segera menemukan Mawar. Dengan keadaan Mawar baik-baik saja.


"Kemana dia. Kenapa tidak mengawasi Mawar." geramnya, pada teman Erza. Yang sudah Jerome bayar untuk selalu mengawasi Mawar dimanapun dia berada.


Markas besar. Jerome langsung menuju ke tempat tersebut. "Bos..." sapa beberapa bawahan Jerome.


"Cari di mana Mawar berada." perintah Jerome dengan wajah serius.


Bawahan yang di perintahkan oleh Jerome, mang sudah mengetahui siapa Mawar. Sebab dirinyalah yang saat itu juga ikut membantu mengamankan Roy. "Baik."


Tak ingin banyak bertanya. Dia segera menggerakkan jari jemarinya di atas keyboard. Melacak keberadaan Mawar lewat ponsel milik Mawar.


"Boss, ponsel Nona Mawar tidak bisa di lacak sampai di jalan ini."


"Retas CCTV di jalan itu. Cari keberadaan Mawar di sana. Kurang lebih lima belas menit yang lalu." pinta Jerome.


"Baik."


Mata Jerome mengamati beberapa layar di depannya yang meretas CCTV jalan, dimana kira-kira Mawar berada.


Sang bawahan menggelengkan kepala sembari memejamkan mata sebentar, karena matanya terasa panas memandang dengan intens layar-layar didepannya.


Bukan hanya satu layar. Melainkan lebih dari tujuh layar yang menampilkan di mana kira-kira Mawar berada.


Jerome menajamkan penglihatannya. Dia sama sekali tidak kehilangan fokus. "Ini. Fokus ke sini." Jerome menunjuk sebuah layar.


"Gila, gue aja puyeng. Bos bisa menemukan hanya hitungan detik." batinnya.


"Perbesar mobil yang berhenti di tepi jalan itu."


Jerome melihat dengan jelas, Raka turun dari mobil. Sendirian. Tak lama, Jerome juga melihat Mawar keluar dari mobil dengan merangkak.


"Fokus ke Mawar." perintah Jerome.


Jerome merasa cemas bercampur takjub. Mawar bisa berpikir dan berani melarikan diri dari Raka tanpa sepengetahuan Raka.


"Ikuti, kemana taksi itu berjalan." perintah Jerome, saat Mawar masuk ke dalam taksi. Dan mobil Raka berusaha mengejar taksi yang di tumpangi Mawar.


"Maaf Boss. Jalanan yang dilalui Nona Mawar tidak ada kamera CCTV nya."


"Cari taksi yang dinaiki Mawar. Hentikan sekarang juga."


"Baik."


"Hubungi aku jika sudah dapat. Secepatnya." Jerome segera pergi ke jalan di mana taksi yang dinaiki Mawar berbelok arah.


Sementara sesuai interuksi Jerome, dia mencari sopir taksi yang dinaiki oleh Mawar. Mengerahkan rekannya dengan segera. Tak ingin membuang-buang waktu.

__ADS_1


Dia yakin, jika Mawar saat ini sedang dalam bahaya. Melihat dari ekspresi Jerome, dia bisa menebak seberapa penting gadis yang bernama Mawar untuk bossnya tersebut.


Sedangkan Mawar menjauh dari markas Erza. Berhenti di bawah pohon. "Gue di mana ini." lirih Mawar, hanya ada pohon di sekelilingnya. Itupun dia bisa melihat karena cahaya remang-remang dari bulan.


Mawar duduk dan menyenderkan tubuhnya di pohon tersebut. "Lebih baik gue istirahat dulu. Baru cari jalan keluar. Yang terpenting, Raka nggak ngikutin gue."


Mawar duduk dengan memeluk kedua kakinya. Pikirannya melayang kemana-mana. "Siapa mereka. Kenapa mereka merusak tempat itu. Semoga di dalam tidak ada orang." gumam Mawar, masih mengkhawatirkan orang lain.


Mawar bersyukur, dirinya belum sempat masuk ke dalam gedung tua tersebut. Seandainya Mawar berada di sana. Mawar tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.


Mawar menatap kanan kirinya. "Tuhan, hanya pada Mu hamba meminta. Lindungi hamba." ucap Mawar berharap.


Mawar berdiri. Indera pendengarnya mendengar suara deru motor dan mobil yang menjauh dari tempat tersebut.


Dapat Mawar lihat dengan jelas, kobaran api yang menyala menghabiskan gedung tua tersebut. "Mereka sungguh menakutkan." Mawar bergidik ngeri.


Mawar teringat dengan Raka. "Kenapa juga gue harus mengenal mereka." sesal Mawar.


Padahal semua bukan salah Mawar. Karena kecantikan paras dan bentuk tubuh seksi Mawarlah yang membuat Raka menginginkan dirinya sejak pertama kali bertemu.


Menginginkan Mawar dan juga tentunya tubuh Mawar.


Mawar menunggu keadaan sepi. Membiarkan seluruh arak-arakan mobil dan motor lewat jalan sempit tersebut.


Dirasa keadaan aman. Tak terdengar lagi suara deru mesin kendaraan, Mawar perlahan keluar dari semak-semak yang membuat kulit mulusnya tergores. Hingga meninggalkan bekas dan juga sedikit darah.


"Iissshh..." desis Mawar, lehernya terasa perih saat sebuah ranting kecil mengenainya.


Mawar hanya mengusap lehernya. "Huffttt... Aman." lega Mawar, menoleh ke kanan dan kiri. Dimana jalanan terlihat kembali sepi.


Mawar tak punya pilihan lain selain berjalan kembali ke jalan utama. Dimana taksi menurunkannya. Sebab tak mungkin dirinya menuju markas Erza.


Sebab markas tersebut pasti sudah tak berbentuk. Dilahap oleh si jago merah. "Semoga mereka sudah pergi. Dan Raka, dia tidak akan kembali." harap Mawar dengan cemas.


Ketakutan Mawar hanyalah dipertemukan kembali dengan Raka dan teman-teman Raka.


Mawar tidak berlari seperti tadi. Dia berjalan sembari terus berdo'a meminta keselamatan. Sesekali Mawar menoleh ke belakang.


Memastikan tidak ada orang yang mengikutinya. Terlebih jalan yang Mawar lalui sepi dan gelap. Hanya ada sinar remang-remang dari bulan.


Mawar menutupi wajahnya, manakala ada sorot cahaya menyilaukan mengenai wajahnya.


Mawar mencoba melihat siapa yang ada di depan sana. Sayangnya, Mawar kesulitan melihat. Karena sorot cahaya yang langsung tertuju pada wajahnya.


Dada Mawar berdebar. Tentu saja Mawar takut. Takut jika di depan adalah orang jahat, atau malah Raka.


Mawar mempersiapkan kedua kelopak matanya, saat cahaya tersebut menghilang. Mencoba melihat siapa kiranya yang ada di depannya.


Deg,,,, Mawar menggeleng tak percaya. Dirinya sudah berlari dan bersembunyi sejauh ini. Bagaimana Raka dengan mudah bisa menemukannya.


Raka yang masih duduk di atas motornya tersenyum iblis pada Mawar.


Mawar melangkah mundur. Rasa takut seketika menyeruak. Mawar membalikkan badan dan berlari.


Raka tertawa lepas. Menyalakan mesin motornya dan mengejar Mawar menggunakan motornya dengan kecepatan rendah.


Sekencang apapun Mawar berlari, tetap saja Raka bisa menggapainya. Mawar menghentikan larinya, saat motor Raka berhenti di depannya.


Mawar berjalan mundur, wajahnya pucat ketakutan. "Kelinci kecilku, ternyata ingin menjadi burung merpati yang bisa terbang bebas." seringai Raka.


Mawar segera membalikkan badan dan berlari. Namun semua sia-sia. Dengan mudah Raka menangkap tubuh Mawar.


"Lepas...!!" berontak Mawar, saat Raka memeluknya dengan erat tubuhnya dari belakang.


Mawar berhenti memberontak. Dirinya sadar, tidak ada gunanya, Mawar malah akan kehabisan tenaga. "Bagaimana bisa Raka menaiki motornya lagi." batin Mawar, teringat jika Raka tadi mengendarai mobil.


Raka tersenyum. Menyibak semua rambut panjang Mawar ke leher samping. "Kenapa sayang, lelah." bisik Raka di samping telinga Mawar.


"Kenapa... Kenapa kamu mengejarku. Bahkan kita sama sekali tidak saling kenal. Kenapa...!!!" teriak Mawar.


Mawar menggerakkan kepalanya ke kanan. Saat Raka hendak mencium leher jenjang miliknya. "Karena kamu selalu ada dalam mimpiku. Seorang Raka, tidak pernah kehilangan buruannya." lirih Raka, dengan memejamkan mata.


Menikmati wangi dari keringat Mawar yang membuatnya ingin semakin mengajak Mawar ke atas ranjang.


Mawar menetralkan deru nafasnya. Dan... "Aaa...........!!!" teriak Raka, saat kaki Mawar menendang ke belakang. Tepat mengenai sesuatu di antara kedua pahanya.


Mawar segera melarikan diri di saat Raka menikmati rasa sakit karena ulahnya. "Mawar... gue akan bikin elo menangis sepanjang malam." geram Raka.


Mengendarai motornya dengan menahan rasa sakit di bagian alat vitalnya. Mengejar Mawar yang tengah berlari.


"Aaa...." tubuh Mawar tersungkur ke aspal. Saat kaki Raka menendang tubuhnya dari belakang.


Mawar berusaha bangun. Tapi Raka menjambak rambutnya. "Gue sudah berusaha bersikap lembut. Tapi elo selalu melawan. *****.."


Mawar meringis menahan rasa sakit. Perlahan Mawar berdiri, mengikuti arah rambut yang ditarik oleh Raka.


"Aaa...." seru Mawar kembali tersungkur.


Mawar menatap takut ke arah Raka. Kedua lututnya berdarah. Dan terdapat beberapa goresan di kaki juga tangan.


Mawar memundurkan badannya, melihat Raka membuka resleting celananya. Mawar menggeleng. "Jangan. Jangan lakukan itu. Jangan." pinta Mawar.


Raka tersenyum puas melihat ekspresi ketakutan dari Mawar. "Lepas..." teriak Mawar, saat Raka dengan mudah mengungkung tubuh Mawar.


"Nikmati saja sayang." seringai Raka tak main-main. "Setelah ini, aku akan membawa kamu ke kasur yang empuk." lanjutnya.


Mawar menangis. Tenaganya seakan habis untuk memberontak. "Ini hukuman. Karena kamu berani meremehkan seorang Raka."

__ADS_1


Pasrah. Mawar pasrah. Hanya bisa berdo'a di dalam hati.


__ADS_2