
Dona berjalan seperti setrika. Mondar mandir di dalam kamarnya. Dirinya masih sangat penasaran. Kenapa Jerome pergi dengan begitu tergesa dengan ekspresi wajah cemas. Bahkan sampai mengacuhkan Nyonya Meysa yang bertanya padanya.
"Pasti ada yang tengah terjadi. Tapi apa? Astaga..." geram Dona, penasaran. Bahkan mamanya saja di acuhkan. Lantas apa dirinya akan bertanya.
"Siapa tahu, Jerome mau membalas pesan gue." Dona mencoba peruntungan. Bukan menghubungi Jerome lewat ponselnya. Tapi mengiriminya pesan tertulis.
Dona sudah tahu, Jerome tak akan mengangkat panggilan telepon darinya. Apapun keadaannya dan kapanpun. "Tidak. Tidak. Tidak." Dona menghapus tulisan yang sudah dia tulis di layar ponselnya.
Dona terdiam. Memikirkan pesan apa yang akan dia kirim pada Jerome. Setelah dirasa tepat, segera Dona menuliskannya di layar ponsel, mengirimkannya pada Jerome.
Kenapa Dona harus pusing-pusing. Toh Jerome pasti juga tidak akan membalasnya. Lihat saja. Membacanya saja juga tidak. Percuma.
Dona melihat ke layar ponselnya. Dia mengirim lewat aplikasi berwarna hijau. Centang dua dengan warna hitam.
Menandakan jika pesan Dona sudah terkirim ke dalam ponsel Jerome. Tapi belum di baca oleh pemilik ponsel. "Ckkkk,,,,,, sial. Kenapa Jerome selalu nggak menganggap gue. Kurang apa coba." sungutnya.
Sejak keduanya sama-sama duduk di bangku SMP dengan sekolah yang sama, Dona sudah tertarik dengan. Semenjak itulah Dona selalu mengejar Jerome. Berusaha menciptakan ruang untuk dirinya bisa bertemu dengan Jerome.
Sayangnya Jerome tetap seperti sekarang. Sama sekali tidak pernah menganggapnya. Bahkan ketika Dona menawarkan persahabatan. Jerome acuh dan sama sekali tidak menganggapnya.
Dona berjalan di kaca full body yang ada di dalam kamarnya. Melihat dirinya dari pantulan kaca. "Cantik, body gue bagus, keluarga gue kaya. Apalagi yang di cari." pujinya pada diri sendiri.
Merasa dirinya perempuan sempurna. Dan pastinya cocok serta serasi jika berdampingan atau berpasangan dengan Jerome.
Dona tersenyum kesal, kembali duduk di atas ranjang. Perasaannya tiba-tiba bertambah buruk saat mengingat Mawar. "Mawar...!!" geramnya.
"Apa Jerome buta. Gue dibandingin Mawar. Astaga, apa Mawar pake pelet." gumamnya hingga berpikir nyleneh gegara Jerome selalu menolaknya.
Sekilas, Dona ingat rencananya untuk menjatuhkan Mawar selalu gagal. "Aaa...!!!" serunya, memukul kasur di sampingnya dengan kuat.
"Mawar,,, Mawar,,, Mawar. Kenapa elo selalu berada di lingkup orang yang beruntung. Sial." seru Dona.
"Tenang saja. Memang gue akan keluar dari sekolah. Tapi, selama elo masih bekerja di butik. Gue akan selalu cari kesempatan buat cari maslaah sama elo." seringai Dona dengan jahatnya.
"Tapi gue heran. Kenapa rencana gue selalu gagal." gumam Dona.
"Karena Mawar gadis yang baik." celetuk seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Dona tanpa permisi.
Spontan Dona berdiri dari duduknya, dan menatap tajam ke arah sang kakak. Dami. "Lancang...!!!" hardik Dona, sama sekali tidak menunjukkan sopan santu pada orang yang lebih tua darinya.
Dami berdiri tenang. Menyandarkan punggungnya di tembok kamar Dona, dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
"Lebih baik gue. Lancang masuk ke dalam kamar adik sendiri. Dari pada menjadi orang yang hina dan berjiwa iblis." sindir Dami langsung.
Dona menunjuk ke arah pintu. "Keluar dari kamar gue...! Se-ka-rang....!!" usir Dona dengan ekspresi wajah kesalnya.
Sebenarnya, Dami sangat menyayangi Dona. Sayangnya, sang adik sepertinya tidak bisa diajak untuk akur.
Hal tersebut dikarenakan Dami yang sama dengan sang mama. Yang selalu menasehati dan melarang Dona. Saat Dona melakukan hal yang kurang baik.
Melakukan sesuatu yang akan merugikan orang lain. Tanpa Dona sadari, jika kelakuannya tersebut juga pasti akan berimbas pada dirinya sendiri, meski tidak langsung.
Berbeda dengan sang papa yang selalu mendukung apapun keinginan dan kemauan Dona. Tanpa memandang itu hal baik atau buruk.
Yang terpenting, apa yang dilakukan Dona mendatangkan keuntungan dan berguna baginya. Itulah sebabnya Dona lebih condong dan dekat dengan sang papa dari pada sang mama dan juga Dami.
Dami tersenyum remeh. "Sebaiknya kamu sadar Dona. Hilangkan sifat jahat dan iri kamu. Kakak yakin, semua akan lebih baik ke depannya untuk kamu."
Dami tak bosan-bosan selalu menasehati Dona. Meskipun Dona selalu tak pernah menganggap apapun yang diucapkan Dami.
Dona selalu menganggap apa yang dikatakan Dami dan sang mama seperti angin lalu. Hanya lewat dan tak akan berefek apapun. "Haahh... banyak bicara. Tinggalkan kamar gue." usir Dona dengan lantang.
Beruntung kamar Dona kedap suara. Sehingga sekeras apapun Dona berteriak, tidak akan terdengar hingga luar. "Kakak hanya ingin kamu berubah."
"Kakak. Heloowww,,,,, gak usah sebut diri sebagai kakak gue. Elo sama sekali nggak pantes di sebut kakak. Elo nggak bisa gue andalkan." sungut Dona memandang Dami dengan tatapan remeh.
"Jika keinginan kamu baik. Pasti kakak akan bantu."
"Yakin...!! Termasuk soal Jerome. Kakak Dami tersayang, mau bantu adikmu ini." sindir Dona. Sebab Dami selalu mengatakan pada Dona. Untuk tidak memaksakan perasaannya.
Dona tersenyum miring, saat Dami menghela nafas. Seakan Dona tahu, jika sang kakak tidak akan setuju jika dirinya memaksakan untuk mendapatkan hati Jerome.
"Tapi kamu harus mendekati Jerome dengan cara yang baik. Jangan sampai mencelakakan orang lain. Termasuk Mawar."
Dami tahu, akar kenapa Dona selalu mencari masalah dengan Mawar karena Jerome yang menyukai Mawar.
"Haaa... haaa... apa, baik. Cara yang baik. Ohh,, kakak ku tersayang. Coba katakan, apa cara terbaik itu. Mundur, mengaku kalah saat di tolak." sinis Dona menjeda kalimatnya. Menatap tajam ke arah Dami.
"Tidak akan." lanjut Dona kekeh. Dona adalah duplikat dari sang papa. Akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Coba kamu berteman dengan Mawar. Dia gadis yang baik dan sopan."
"Stopp,,,!! Mawar,,, Mawar. Sebenarnya adik elo siapa. Gue,,,, apa Mawar. Jawab...!!" bentak Dona.
Dami hanya bisa bersabar setiap menghadapi Dona. "Sebaiknya elo keluar. Bikin kepala gue tambah pusing saja."
Dona menarik dan mendorong tubuh Dami keluar dari kamarnya. "Jangan pernah masuk ke kamar gue seenak jidat elo." tukas Dona sengit.
Blam.... Dona menutup pintu dengan keras. Menguncinya dari dalam. "Mawar....!!" geram Dona.
"Nggak mama, nggak Dami. Kenapa elo harus dibela mereka. Bahkan Jerome, kini mulai terang-terangan mendekati elo."
Dona melihat dan merasakannya. Jika Jerome secara terang mendekati Mawar. Semenjak Deren memutuskan untuk pergi ke laur negeri.
" Weni. Menggaet Deren saja dia nggak becus." Dona malah menyalahkan Weni. Padahal kenyataannya, dirinya juga tidak bisa mendekati Jerome hingga saat ini.
"Dan Jihan. Anak psikopat itu. Sumpah, dia sama sekali nggak bisa diharapkan." Dona emosi, dan marah-marah sendiri.
__ADS_1
......................
"Mawar." panggil Erza.
"Ehh.... iya." sahut Mawar gugup.
"Apa gue harus menceritakan kejadian di butik." batin Mawar, merasa jika dirinya telah salah langkah.
Erza memberikan celana pada Mawar. "Ini."
Dengan perasaan bingung, Mawar mengambil celana kotornya yang diberikan oleh Erza. "Makasih."
Mawar meremas celana kotor yang ada di tangannya. "Percuma akting di depan mereka. Pasti mereka juga akan tahu." batin Mawar.
"Katakan saja. Jika ada yang ingin kamu katakan. Kita akan membantu kamu." tukas Luck.
Jerome memandang tajam ke arah Luck. "Ckk,,,, kita bersahabat Jeee,, gue menganggap Mawar, sama kayak gue menganggap elo." lanjut Luck memberi penjelasan.
Pasalnya tampak jelas jika Jerome sangat tidak menyukai perhatian yang diberikan oleh ketiganya pada Mawar. Alias cemburu.
Mawar mengangguk pelan, setelah berperang dengan batinnya sendiri. Mengambil keputusan untuk mengatakan pada mereka apa yang terjadi. Keempat lelaki di dekat Mawar menatap intens, saat Mawar merogoh saku celana yang ada di tangannya.
"Wooww... cantik. Milik kamu?" tanya Tian, saat Mawar mengeluarkan sebuah cincin.
Mawar menaruh cincin tersebut di telapak tangannya. "Apa menurut kakak, Mawar sanggup membeli cincin seperti ini?" tanya Mawar tersenyum penuh arti.
Semua terdiam. Benar kata Mawar. Tidak mungkin Mawar bisa membeli cincin seperti itu. Cincin yang didesain khusus.
Sebagai orang yang lahir di kelurga kaya. Keempatnya bahkan bisa menebak berapa harga dari cincin yang berada di telapak tangan Mawar.
Mawar menggenggam erat telapak tangannya. "Hari ini, hari paling melelahkan untuk Mawar." cicit Mawar.
"Di butik dan di jalan. Dua kejadian yang bahkan tidak akan pernah Mawar lupakan seumur hidup." Mawar menatap jauh ke depan. Dimana hanya ada tembok dengan almari pendek di depannya.
"Butik." gumam Luck.
Jika di jalan. Mereka tahu, kejadian apa yang menimpa Mawar. Tapi butik. Keempatnya mulai menebak jika ada kejadian besar si butik.
Mawar menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Mereka membayar orang untuk menjebak aku."
"Mereka.... Menjebak kamu." sahut Tian.
"Dona dan Gaby?" Luck memastikan.
Mawar mengangguk pelan. "Tapi gagal." Mawar melihat cincin di tangannya dengan seksama.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Tian.
Semua memandang ke arah Tian dengan tatapan sengit. "Santai guys, gue bukannya nggak percaya sama Mawar. Gue bahkan seribu persen percaya. Tapi gue cuma kepengen tahu aja. Nggak lebih." jelasnya, saat sadar ucapannya disalah artikan oleh yang lain.
Segera Tian mengambilnya. "Weleh-weleh. Cincin ini dipesan secara pribadi dam khusus. Pasti ini hadiah dari seseorang untuk Gaby." tukas Tian, mengembalikan cincin tersebut pada Mawar.
"Apa jangan-jangan ini imbas dari kejadian saat kita nggak ada di sekolah?" terka Luck, yang mendapat kabar jika Dona bersama kedua temannya dihukum.
"Memang ada apa di sekolah?" tanya Tian yang juga tidak tahu apapun.
Jerome menggeleng saat Tian memandang ke arahnya. "Gue juga nggak tahu." jelas Jerome.
"Gue nggak tahu pastinya. Tapi yang gue dengar, mereka bertiga dihukum. Karena ketahuan guru membully Mira dan Selly." jelas Luck yang juga hanya mendengar cerita dari murid lain.
"Hah...." Mawar melongo tak percaya.
"Dona dan kedua temannya di hukum membersihkan sekitar sekolah. Itupun gue cuma dengar dari murid lain. Jelasnya, gue nggak tahu." jelas Luck
Mawar terkekeh pelan. "Selly dan Mira, di bully. Nggak mungkinlah kak. Mawar cukup kenal mereka berdua. Yang ada malah...." Mawar menghentikan perkataannya, membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
"Astaga. Pasti mereka berdua sudah melakukan sesuatu. Ckk,,,, Dasar." Mawar menggeleng.
Dengan mudah Mawar bisa menebak apa yang terjadi. Mira dan Selly dibully Dona dan kedua temannya. Ketahuan oleh guru. Yang mengakibatkan Dona dan kedua temannya dihukum.
"Maksud kamu apa Mawar?" Jerome juga masih bingung. Sebab Jerome memang tidak kenal bagaimana sifat kedua sahabat Mawar tersebut. Begitu juga dengan Luck, Tian, dan Erza.
"Kak, Mira dan Selly. Mereka berdua itu, nggak mungkin di bully Dona. Yang ada, Mira dan Selly, mereka berdua berbuat jahil sama Dona." jelas Mawar.
"Kamu yakin?" tanya Erza tidak percaya.
"Mira dan Selly. Mereka sangat bar-bar. Kalian pikir mereka akan punya stok kesabaran yang banyak. Tidak. Saat ada kesempatan, pasti mereka akan melakukannya. Apalagi Mawar nggak ada di sana." jelas Mawar.
"Apa hubungannya sama kamu?"
"Selama ini, Mawar yang membuat mereka bersabar. Lihat sekarang. Mawar nggak ada di samping mereka saat di sekolah. Hanya beberapa jam, mereka membuat Dona dan yang lain terkena masalah."
"Gila. Ternyata diam hanya karena ada pawangnya." ucap Luck disertai kekehan kecil.
"Bukankah malah bagus. Dengan begitu mereka akan berpikir ulang untuk mencari masalah sama kamu." timpal Tian.
"Tapi kenyataannya." Mawar mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Astaga,,, gue baru sadar. Mira dan Selly yang berulah. Mereka nggak berani membalas pada mereka. Dan kamu, dijadikan ajang balas dendam." papar Erza menggeleng tak percaya.
"Ckk,,, kenapa kedua teman kamu nggak berpikir sampai sana." geram Jerome.
"Tolong, jangan katakan kejadian di butik pada Mira dan Selly." pinta Mawar.
"Kenapa?"
"Mawar nggak mau mereka merasa bersalah. Lagian apa yang dilakukan Mira dan Selly ada gunanya juga. Sekolah jadi bersih." Mawar tersenyum dengan manis.
__ADS_1
Erza tersenyum samar. "Elo memang kuat. Atau pura-pura kuat Mawar. Baru saja dapat masalah yang besar. Tapi elo tetap bisa tersenyum lebar." batin Erza salut.
"Mawar, lalu cincin itu mau kamu apakan?" tanya Erza penasaran.
Mawar memandang cincin tersebut dengan jeli. Memainkan kedua matanya dengan lucu. "Cincin mahal. Harganya pasti selangit." Mawar memainkan kedua alisnya naik turun.
"Elo nggak akan jualkan?" tanya Luck penasaran dengan ekspresi yang unik.
Mawar tertawa lepas. Membuat Jerome dan Erza tersenyum samar. Memuji kecantikan Mawar dalam hati. "Kalau kak Luck, mau kak Luck apakan?" tanya Mawar balik.
Luck mengangkat kedua pundaknya. "Mungkin gue kembalikan ke Gaby." celetuk Luck.
Mawar tersenyum miring. "Benar. Sama seperti kak Luck. Mawar akan mengembalikan ke Gaby. Tapi tidak sekarang." Mawar mengerlingkan sebelah matanya penuh arti.
Kelimanya berbincang ringan. Hingga keempat lelaki tersebut menyadari jika Mawar sudah mulai mengantuk. "Tidurlah, kita akan keluar." pinta Jerome.
"Mawar tidur di kamar ini?" tanya Mawar.
Jerome mengangguk. "Kenapa? Takut tidur sendiri? Mau ditemani?" goda Jerome.
"Aww..." seru Jerome, saat kepalanya di pukul Erza dari belakang. "Ckkk,,,, sakit brengsek." ucapnya mengelus kepalanya.
Mawar tersenyum. "Keluar. Biar Mawar bisa tidur." ajak Erza.
"Terimakasih." ucap Mawar dengan tulus.
Semua lelaki tersebut mengangguk pelan dan membalas senyum Mawar. "Tenang saja. Kita semua tidur di luar." ujar Tian.
"Lah,,, kalian nggak pulang?" Jerome mengira jika ketiganya akan pulang. Dan dirinya akan sendirian menemani Mawar.
"Keenakan elo." tukas Luck, merangkul pundak Jerome dan keluar dari dalam kamar.
"Kalau elo takut, kunci pintu dari dalam." tutur Luck.
"Ngapain?" tanya Jerome.
"Gue takut ada yang pura-pura tidur sambil berjalan. Ehhh,,,, naik deh ke ranjang Mawar." celetuk Luck.
Mawar terkekeh mendengar setiap perdebatan kecil mereka. Rasa takut yang tadi sempat dia rasakan lenyap seketika.
Setelah semuanya keluar, Mawar mengambil ponselnya. Dia melihat bagaimana Jerome mengirimkan pesan pada sang ibu.
"Kak Amel." Mawar teringat bagaimana Amel dengan berani melawan teman Raka.
"Ternyata kak Amel jago bela diri." gumam Mawar.
Mawar meletakkan ponselnya di samping bantal. Mawar mematikan lampu putih yang sangat terang. Digantikan dengan lampu kamar yang berwarna kuning temaram.
"Semoga hari esok lebih baik." gumam Mawar mencoba memejamkan kedua matanya.
Namun, Mawar tetap tidak bisa tertidur. Hatinya masih gelisah. Manakala kembali teringat akan Raka. "Bagaimana jika gue ketemu Raka lagi." gumamnya.
Mawar memeluk guling dengan erat. "Tuhan. Semoga Raka menghilang. Dan gue nggak akan ketemu dia lagi." ucapnya memohon.
Mawar melihat dalam remang-remang, Raka di bawa dan dihajar oleh beberapa orang. Kondisi Mawar yang lemah, membuat Mawar tidak sadar sepenuhnya.
"Apa yang akan gue lakukan. Jika ketemu Raka lagi?" cicit Mawar masih merasa takut. Terlebih Raka mengatakan jika akan membuat Mawar berada di bawah kendalinya.
Baru sekali ini, Mawar merasakan hal seperti ini. Dilecehkan bahkan hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Gue harus bertanya pada Jerome. Kemana Raka tadi. Sungguh, perasaan gue tetap tak tenang."
Mawar menyibak selimut, turun dari ranjang empuk milik Jerome. "Kasur orang kaya memang beda." gumam Mawar.
Mawar melihat keempat lelaki sedang duduk santai di ruang tengah dengan beberapa camilan dan kaleng air minum di atas meja.
Entah apa yang mereka bicarakan. Saat Mawar sampai, mereka sudah terdiam. "Mawar. Ada apa?" tanya Erza segera berdiri, menghampiri Mawar.
"Duduk sini." Jerome tak mau kalah. Dia segera membawa Mawar duduk di sampingnya. Membuat Erza hanya mendesah kecewa.
"Elo kenapa? Nggak bisa tidur?" tanya Tian.
"Raka. Dia kemana?" tanya Mawar langsung pada topik.
Keempat lelaki tersebut terdiam. Mereka saling pandang. "Memang kenapa dengan Raka?" tanya Jerome dengan lembut.
"Mawar takut. Dia akan mengejar Mawar lagi. Padahal Mawar sama sekali nggak kenal dia." Mawar menatap Jerome dengan raut wajah gelisah.
"Orang cantik memang berbahaya." gumam Tian.
"Benar. Bukan hanya untuk orang lain. Tapi untuk dirinya juga." lirih Luck yang mendengar ucapan Tian.
"Tenang saja. Aku jamin. Mulai saat ini, Raka tidak akan pernah lagi menemui kamu." tekan Jerome dengan pasti.
"Benar?" tanya Mawar ragu.
Jerome mengangguk. "Bukan hanya Raka. Aku tidak akan membiarkan ada lelaki lain yang akan mendekati kamu." tegas Jerome.
Mawar mengernyitkan kening. Dia membahas Raka. Kenapa Jerome malah mengatakan lelaki lain. "Memang ada lelaki lain selain Raka?" tanya Mawar polos.
Setahu Mawar hanya ada Deren yang juga mendekatinya. Namun Mawar berani jamin, jika Deren bukan lelaki seperti Raka.
Tian dan Luck melirik ke arah Erza. "Sudahlah. Kamu tidak perlu memikirkan Raka atau siapapun itu. Ini sudah malam. Lebih baik kamu segera tidur." ujar Jerome dengan lembut, dan tatapan penuh kasih sayang.
Luck saja tersenyum samar melihat perhatian dan cara Jerome memperlakukan Mawar. Tidak dipungkiri lagi. Jerome benar-benar mencintai Mawar.
Tian juga. Baru kali ini, Jerome memperlakukan perempuan selembut ini. Bahkan dengan mama dan adiknya saja. Jerome sangat dingin.
__ADS_1