
"Ada apa?" tanya Deren, setelah pintu kamarnya dia buka dari dalam, saat mendengar suara ketukan dari luar.
Deren menggunakan bahasa asing. Yakni bahasa Inggris. Sebab saat ini Deren sudah tinggal di negera tersebut.
Menampilkan seorang wanita muda sepantaran dengannya, dengan pakaian pelayan. Rambut dikepang dua dengan kaca mata besar bertengger di pangkal hidungnya.
Terlihat culun dengan penampilan anehnya. Ditambah lagi, ada bintik jerawat di kedua pipinya. Dan juga gigi yang memakai behel.
Dia tersenyum ramah pada Deren. "Tuan Muda, di bawah ada tamu." lapornya.
Deren memandangnya mencoba memikirkan siapa gerangan tamu yang datang. Padahal dirinya masih beberapa hari di sini.
Dan selama itu, Deren sama sekali belum keluar rumah. Mana mungkin Deren punya teman atau kenalan.
Deren terlalu malas untuk keluar. Meski hanya sekedar berjalan-jalan, atau makan di luar. Pikirannya masih penuh dengan nama seorang perempuan. Mawar.
"Seorang gadis cantik, Tuan Muda." jelasnya, melihat ekspresi Deren.
Deren mengangkat sebelah alisnya. Lalu tersenyum kecut. Dirinya sudah bisa menebak siapa yang tengah menunggunya di bawah.
"Apa dia sendiri?"
Pelayan tersebut mengangguk dengan sopan. "Iya, Tuan Muda." Pelayan tersebut bisa menebak, jika majikannya sudah tahu siapa tamu yang datang mencarinya. Terbukti dari cara Deren menanyakannya.
Deren menghela nafas dengan berat. Seberat langkah kaki yang akan dia bawa untuk menemui adik dari sahabat sekaligus rivalnya. Jerome.
"Ckk,,, Kilat sekali kabar gue sudah di sini." decak Deren menggunakan bahas Indonesia. Sehingga pembantu di depannya hanya mengedipkan kelopak matanya dengan lucu. Tak mengerti apa yang Deren ucapkan.
"Nanti aku akan ke bawah." Deren menggerakkan tangannya, mengisyaratkan pada pembantu tersebut untuk pergi dari hadapannya dan menemui Jihan.
"Pasti mama yang memberitahukannya. Tidak sabar sekali, ingin berbesanan dengan keluarga Sekhar." ucap Deren.
Bukannya turun ke bawah dan menemui Jihan, Deren malah kembali masuk ke dalam kamar. Tanpa memikirkan Jihan yang sedang menunggu kedatangannya.
Deren tersenyum sinis. "Tapi sayang, semua hanya mimpi mama dan papa." lanjut Deren. Yang memang tidak mencintai Jihan.
Dan tidak akan pernah mau menerima perjodohan yang menurutnya sangat bodoh dan konyol ini. "Mawar. Bagaimana keadaanmu di sana." tanyanya pada diri sendiri.
Segera setelah sampai di negara asing ini, Deren memblokir semua nomor teman-temannya dan juga Mawar. Sehingga dirinya sama sekali tidak berkomunikasi dengan mereka.
Deren sama sekali tidak tahu apa saja yang telah terjadi di negara tempatnya lahir. Dirinya saat ini, hanya ingin fokus mengejar pendidikan.
Sehingga akan mampu menjalankan perusahaan. Dan semuanya Deren lakukan untuk kembali kepada Mawar.
Tapi, apakah Deren benar-benar berpikir. Jika Mawar akan menyukai dirinya. Dengan apa yang dimilikinya saat itu.
Setidaknya, harusnya Deren berpikir. Dengan waktu yang lama. Pasti Mawar akan benar-benar menaruh hatinya untuk Jerome.
Jika memang Jerome benar-benar menyukai Mawar. Dan berhasil menyakinkan Mawar akan perasaannya. Tidak menutup kemungkinan jika Mawar dan Jerome akan bersama sebagai sepasang kekasih.
"Tunggu aku kembali. Aku berjanji, akan berusaha menjadi seseorang yang akan mampu berdiri melindungi kamu. Dari siapapun." ucapnya, melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.
Dengan tenang, Deren berada di kamar mandi. Membersihkan diri tanpa beban. Seolah tidak ada yang sedang menunggu kedatangannya.
Di bawah, Jihan selalu menatap ke arah dimana Deren akan berjalan dari sana. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan lelaki yang dicintainya.
Jihan sudah menahan diri. Apalagi sejak dari rumah, sang tante mewanti-wanti untuk tidak terlalu bersikap bar-bar. Yang malah akan membuat Deren menjauh darinya.
Senyum Jihan merekah tatkala mendengar suara langkah kaki. Dada Jihan berdetak kencang saking senangnya akan bertemu dengan orang yang selama ini dia inginkan.
Senyum di bibir Jihan menghilang, berganti dengan kening yang mengerut. "Hey,, jelek. Mana majikan kamu?!" sarkas Jihan bertanya.
Sang pembantu tetap tersenyum ramah, meskipun Jihan memanggilnya dengan sebutan yang sama sekali tidak ramah di dengar telinga.
__ADS_1
"Maaf Nona, Tuan Muda mengatakan akan segera turun." lapornya.
Jihan mengangkat dagunya dengan sombong. "Hahh.... pergi sana." usirnya disertai dengusan tanda tak senang.
Sang pembantu yang dipanggil jelek oleh Jihan segera undur diri. Berganti dengan pembantu lain yang membawa segelas minuman berwarna hijau muda. Tampak segar jika membasahi kerongkongan leher.
Dia menaruh segelas air minum tersebut di atas meja. "Silahkan Nona."
Jihan acuh, duduk dengan kaki saru diangkat ke kaki yang satunya lagi. Memainkan ponselnya tanpa menyahuti ucapan pembantu yang membawakan air minum untuknya.
"Permisi. Saya ke belakang dulu. Jika ada sesuatu, Nona bisa memanggil kami di belakang." ucapnya dengan sopan.
Sang pembantu hanya menggelengkan kepalanya seraya meninggalkan ruang tamu. "Apa dia kekasih Tuan Muda. Cantik, tapi sayang..." batinnya, menggantung kalimat yang dia ucapkan dalam hati..
Lima belas menit berlalu. Dan Jihan masih duduk dengan gelisah di bawah. Menunggu kedatangan Deren. "Apa kak Deren senagaja." kesalnya, merasa dipermainkan oleh Deren.
"Heyyy,,,, kamu. Sini..!!!" teriaknya saat melihat seorang pembantu memegang kemoceng.
"Saya, Nona." sahutnya, saat sudah berada di dekat Jihan.
"Itu, teman kamu yang dikuncir dua tadi sudah katakan pada Deren jika aku menunggu di sini. Lama sekali kak Deren. Jangan-jangan dia tidak memanggil kak Deren." tuduh Jihan dengan berapi-api.
Melampiaskan amarahnya pada orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang dia inginkan. Bahkan pembantu tersebut juga tidak tahu apapun.
"Maaf, Nona. Sepertinya sudah."
"Sepertinya,,,, sepertinya,,,," sungut Jihan mulai kehilangan kesabarannya.
Jihan berdiri. "Tunjukkan di mana kamar kak Deren?!" pinta Jihan dengan angkuh. Berniat menemui Deren langsung di kamarnya.
Bingung. Pembantu tersebut tentu saja bingung. Dia benar-benar tidak tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Menolak atau menuruti.
Deren sudah mengatakan untuk menunggunya di bawah. Yang artinya Deren tak ingin sang tamu menemuinya dan malah masuk ke dalam kamar. Dia mengetahuinya dari rekan sesama pembantu yang memberitahu Deren jika ada tamu yang mencarinya di bawah.
"Heloowwww,,,,,, telinga masih sehatkan...! Kenapa bengong...!!" seru Jihan.
"Maaf Nona, sebaiknya Nona tunggu sebentar lagi. Saya rasa Tuan Muda Deren akan segera turun." tolaknya dengan halus.
"Kamu....!!" geram Jihan, menatapnya dengan sengit.
Sang pembantu hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Tangan Jihan hendak bergerak, ingin mendorong pembantu yang berdiri di depannya.
Namun suara seseorang membuat Jihan mengurungkan niatnya. "Ada apa ini?" tanya Deren dengan ekspresi wajah datar.
"Kak Deren....!!" panggil Jihan dengan senyum di bibir.
Jihan berlari, menyenggol bahu sang pembantu dengan kuat. Hingga badan pembantu tersebut sempat oleng sedikit, meski tak sampai jatuh.
Jihan langsung merangkul lengan Deren dengan manja. "Kak,,,, Jii nggak suka sama pembantu di sini. Mereka kurang ajar semua. Sama sekali tidak punya sopan santun." ucap Jihan mengadu.
Deren melepas tangan Jihan yang melingkar di lengannya. "Bukan kamu yang menggaji mereka." sarkas Deren tanpa memandang ke arah Jihan.
Deren berjalan ke ruang tengah. Jihan berusaha meredam emosinya karena sikap cuek yang selalu di tunjukkan Deren saat bertemu dengannya.
Jihan melotot pada pembantu yang masih berdiri di sampingnya. "Jangan besar kepala. Sebentar lagi kalian semua akan di pecat." ucapnya dengan angkuh.
"Sabar Jihan. Sabar." gumam Jihan, dan langsung menyusul Deren di ruang tengah.
"Teh hangat saja." ucap Deren, saat seorang pembantu menanyakan minuman apa yang ingin Deren minum.
"Biar aku saja yang buat." seru Jihan. Ingin memperlihatkan jika dia bisa melayani Deren.
"Saya tidak mau terkena diabetes. Buatkan." sarkas Deren, menolak keinginan Jihan.
__ADS_1
Jihan lagi-lagi menelan rasa kecewa atas perlakuan Deren. Jihan duduk di samping Deren. "Kak, bagaimana jika kita keluar. Makan di luar, sekalian jalan-jalan." ajak Jihan.
Berharap Deren akan mengiyakan ajakannya. "Aku sudah kenyang."
Jihan mencoba tetap tersenyum. "Jalan-jalan saja. Bagaimana? Jihan akan menunjukkan tempat-tempat yang menarik dan indah yang kak Deren bisa lihat." bujuk Jihan.
"Lagi malas." tolak Deren lagi dengan singkat.
Mata Deren tetap tertuju pada layar ponsel di tangannya. "Jihan nanti malam ada acara. Kak Deren temani Jihan ya." pinta Jihan.
Selama ini, Jihan mengatakan jika dirinya sudah mempunyai seorang calon suami sedari kecil
Dirinya juga memperlihatkan foto Deren pada semua temannya.
Dan kali ini, Jihan ingin pamer pada teman-temannya. Memperkenalkan Deren dengan sungguh-sungguh pada mereka semua.
Deren mematikan ponselnya. Memandang ke arah Jihan yang tersenyum sempurna menatapnya. Mengira jika Deren akan menuruti permintaannya.
"Nanti malam, jam setengah delapan. Kak Deren jemput Jihan di rumah. Jihan akan tunggu." papar Jihan.
"Saya bukan sopir atau bodyguard kamu." sarkas Deren. Kembali menolak apa yang Jihan inginkan.
Seorang pembantu membawa makanan ringan beserta teh hangat sesuai pesanan Deren. "Nawa ke belakang. Aku membutuhkan udara segar." sindir Deren. Meninggalkan Jihan begitu saja tanpa perasaan.
Jihan masih dengan posisi duduk, menatap dengan nanar kepergian Deren. "Kak Deren jahat sekali. Sebenarnya perempuan seperti apa yang kak Deren inginkan. Jihan akan berubah sesuai keinginan kak Deren." cicit Jihan.
"Bagaimana caranya. Aku harus mendapatkan kak Deren. Pasti tante Priyanka akan membantuku mendapatkan putranya."
Jihan tersenyum penuh dengan rencana licik. "Meski kak Deren terpaksa menerima Jihan, Jihan tidak peduli. Yang terpenting, kak Deren akan menjadi milik Jihan."
Tanpa berpamitan dengan penilik rumah, Jihan meninggalkan kediaman Deren.
Di gazebo belakang, Deren menikmati secangkir teh hangat dengan kedua mata dimanjakan dengan banyaknya ikan hias yang berenang ke sana ke mari di dalam sebuah kolam.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Deren, dengan memasukkan makanan ikan ke dalam kolam. Membuat seluruh ikan berebut makanan tersebut.
"Sudah, Tuan Muda."
"Jika dia datang lagi. Katakan saja, jika aku sedang tidak berada di rumah."
"Baik, Tuan Muda."
"Katakan pada semua pekerja di sini. Tanpa terkecuali."
"Baik, Tuan Muda."
Sementara di negara yang berbeda dengan Deren, seseorang tengah meluapkan amarahnya yang sudah berada di pucuk ubun-ubun.
"Aaa...!!" jerit kesakitan menggema di ruangan tempat Raka berada.
Beberapa bawahan Jerome menunggu di depan ruangan. Membiarkan Jerome hanya berdua bersama Raka di dalam ruang penyiksaan.
Nafas Raka kembang kempis. Wajah tampan yang dulu menggaet banyak perempuan, kini sudah tak bisa dikenali lagi. Penuh dengan goresan benda tajam dan juga lebam yang amat parah.
Badannya juga lemas terkulai. Duduk dengan tubuh dan kedua tangan serta kedua kaki terikat di kursi yang bisa merusak sistem-sistem tubuhnya.
Sebab, kursi tersebut dialiri oleh sengatan listrik berkekuatan tinggi. Kedua mata Raka memandang Jerome dengan buram.
Jerome mendekatkan bibirnya ke telinga Raka. "Ini balasan. Karena kamu sudah berani menyentuh wanitaku." bisik Jerome.
Jerome menepuk kepala Raka dengan kasar. "Beristirahatlah. Sebentar lagi, aku akan menunjukkan sebuah pertunjukkan hebat kepadamu."
" Jangan ganggu dia. Aku akan kembali setelah dia terasa sedikit membaik." ucap Jerome pada bawahannya sebelum meninggalkan ruang penyiksaan Raka.
__ADS_1
"Baik Tuan." ucap mereka serempak.
Jerome terdiam, dengan langkah kaki terhenti. Melihat siapa yang ada di depannya. "Kalian. Kenapa ada di sini?" tanya Jerome.