MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 86


__ADS_3

"Mampir dul kak." tawar Mawar, saat keduanya berada di depan rumah Mawar.


Jerome menatap ke rumah Mawar. "Ibu kamu belum pulang?"


Mawar menoleh ke belakang. "Kelihatannya belum." cicit Mawar menebak.


"Nggak apa-apa kalau aku mampir?" tanya Jerome, tidak enak. Sebab Bu Lina sedang tidak berada di rumah.


Mawar menggeleng. "Nggak apa-apa. Nanti pintunya biarkan tetap terbuka." saran Mawar.


Jerome mengangguk. "Boleh." tutur Jerome, merasa senang. Sejak tadi dirinya selalu bersama dengan Mawar. "Mimpi apa gue semalam." batinnya.


Mawar segera membuka pagar setinggi dadanya, mempermudah Jerome membawa masuk motornya ke dalam pekarangan rumah Mawar.


Mawar kembali menutup pagar rumahnya , saat motor Jerome sudah masuk. "Astaga." ujar Mawar.


"Kenapa?" tanya Jerome, melihat ekspresi Mawar yang aneh.


"Tas Mawar masih berada di mobil Mira." papar Mawar.


"Maksudnya?" tanya Jerome bingung.


Mawar tersenyum. Mengerti kenapa Jerome terlihat bingung, hanya karena tas Mawar masih berada di mobil Mira.


"Orang kaya, nggak pernah tahu rasanya nggak bisa masuk rumah karena lupa nggak bawa kunci rumah." batin Mawar.


"Kunci rumah Mawar ada di dalam tas." jelas Mawar.


Jerome menatap pintu rumah Mawar. "Lalu, bagaimana kita mau masuk?" tanya Jerome. "Apa perlu aku dobrak?" tanya Jerome nyleneh.


"Ngawur. Rusak pintu Mawar, kak." ucap Mawar menahan senyumnya, mendengar saran Jerome yang aneh.


"Lalu?"


Mawar duduk di kursi teras rumah. "Tunggu ibu pulang. Paling sebentar lagi juga datang."


Jerome mengikuti Mawar, duduk di kursi teras. "Maaf ya kak. Malah nggak bisa masuk. Kak Jerome malah menemani Mawar di luar." cicit Mawar merasa tidak enak.


Jerome tersenyum. "Tidak apa-apa."


"Gue malah senang. Semoga saja bu Lina masih lama." batin Jerome.


Mawar merasa aneh. Jerome yang dia kenal jutek dan dingin, kini malah banyak bicara dan murah senyum. "Ada apa?" tanya Jerome, pasalnya Mawar menatap ke arahnya.


Mawar menggeleng dan langsung mengalihkan pandangannya. "Memang sih, kata orang aku ini tampan." ucap Jerome dengan percaya diri.


Mawar kembali menoleh ke samping, menetap Jerome. "Ada ya, orang memuji diri sendiri." cicit Mawar.


"Ada." ucap Jerome.


"Ada. Namanya Jerome." sahut Mawar.


Jerome terkekeh pelan. "Ternyata memang kak Jerome tampan. Nggak heran sih banyak yang deketin." batin Mawar.


"Nggak usah memuji dalam hati. Ngomong saja langsung, mumpung ada orangnya." ujar Jerome tersenyum puas.


"Idiiihh... Apaan coba." sahut Mawar.


Hari ini, adalah hari keberuntungan untuk Jerome. Sepanjang hari senyum terus tersungging di bibirnya.


"Aku akan buat kamu nyaman dulu. Aku tidak akan langsung mengungkapkan perasaanku. Karena aku tahu apa jawaban kamu saat ini." Jerome berusaha untuk bersabar.


Jerome sadar, perasaan cinta tidak bisa dipaksa. Dan rasa tersebut akan tumbuh jika ada rasa nyaman di antara mereka.


Apalagi jika ada rasa ketergantungan satu sama lain. Yang pastinya akan ada rasa takut untuk kehilangan. Barulah Jerome akan mengatakan perasaannya pada Mawar.


"Untuk saat ini, seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Berdekatan dengan kamu, melihat senyum kamu. Aku merasa hidup kembali Mawar." batin Jerome.


"Nggak usah terpesona kak. Sedari dulu Mawar memang cantik dan menarik." celetuk Mawar membalas perkataan Jerome. Saat dia sadar, Jerome menatapnya dengan intens seraya tersenyum.


Jerome melongo. Tak menyangka Mawar akan mengatakan hal tersebut untuk membalas ucapannya.


Keduanya berbincang ringan diselingi tawa kecil yang saling bersahutan. Hingga sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Mawar.


Mungkin Jerome tidak tahu, siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Tidak dengan Mawar, dia tahu siapa yang ada di dalam mobil. Wiryo.


Jerome dan Mawar terdiam. Fokus kepada mobil yang berhenti di depan rumah. Dua orang berjenis kelamin berbeda turun dari dalam.


Setelah mengetahui siapa yang turun dari dalam mobil, Jerome sekilas menatap Mawar. Tapi dia segera mengalihkan pandangannya kembali.


Ekspresi bahagia yang Mawar tunjukkan lenyap seketika terbawa hembusan angin. "Sore." ujar Caty, memamerkan senyum di bibirnya.


"Sore." sahut Mawar singkat.


"Loh, Tuan muda Jerome." Wiryo terkejut, melihat putra dari rekan bisnis perusahaan papa Caty ada di sini.


Jerome dan Wiryo saling berjabat tangan. Keduanya memang beberapa kali bertemu saat Jerome menggantikan sang papa mengenai permasalahan bisnis. "Saya teman sekolah Mawar. Meski kami tidak sekelas." jelas Jerome.


Caty memandangi dengan intens wajah Jerome. "Sepertinya gue pernah lihat, tapi dimana?" batin Caty, mencoba mengingatnya.


"Dia Tuan muda Jerome. Putra dari Tuan Adipavi Sekhar." jelas Wiryo pada Caty.


Caty mengangguk. Berpura-pura tahu. Padahal, Caty melihat foto Jerome di ponsel keponakannya. Gaby. Namun, kemungkinan Caty lupa akan hal tersebut.


"Kenapa kamu tidak ajak tamu kamu masuk ke dalam, Mawar?" tanya Wiryo, seolah rumah ini masih rumahnya.

__ADS_1


Caty melirik pada Wiryo. Menampilkan ekspresi tak sukanya. "Mawar lupa bawa kunci rumah." jelas Mawar datar.


"Kunci rumah." gumam Wiryo.


"Kalau tidak salah ayah masih menyimpan satu. Mungkin di dalam mobil. Sebentar, ayah lihat dulu. Semoga masih ada." papar Wiryo, segera kembali ke mobilnya.


Mawar melihat jika Caty tak suka dengan apa gang dilakukan Wiryo. Mawar tersenyum samar. Menatap sang ayah yang masih belum kembali.


"Apa yang ingin dilakukan Mawar." batin Jerome, merasa Mawar akan melakukan sesuatu.


"Ternyata ayah masih menyimpan kunci rumah ini. Kok Mawar nggak tahu ya. Apa ayah memang masih sering datang, tanpa sepengetahuan Mawar." gumam Mawar, seolah berbicara sendiri.


Padahal Mawar sengaja membuat api di hati Caty berkobar. "Memang ayah sama ibu kamu masih sering berkomunikasi?" tanya Jerome, membantu apa yang diinginkan Mawar.


Mawar langsung menolah ke arah Jerome. Menatapnya intens, Jerome mengerlingkan sebelah matanya seraya tersenyum.


Mawar menipiskan bibirnya. "Emmmm,,,, mungkin. Mana Mawar tahu. Dari pagi hingga malam, Mawar tidak berada di rumah. Buktinya ayah masih menyimpan kunci rumah." jelas Mawar.


Mawar tersenyum dalam hati. Mengucapkan rasa terimakasih, Jerome membantunya, ucapan Mawar terlihat begitu real.


Wiryo datang dengan senyum di bibir. "Ini." Wiryo memberikan kunci pintunya pada Mawar.


Mawar mengambilnya. "Nanti akan Mawar kembalikan." papar Mawar dengan tenang. Membuat Caty ingin sekali berteriak.


"Ya sudah, sebaiknya kita masuk." ajak Wiryo.


"Mas, sebaiknya kita segera balik deh. Caty lupa jika ada janji." ujar Caty.


"Loh Cat,,, kata kamu tadi....." Wiryo menggantung kalimatnya. Merasa kesal dengan Caty.


"Tidak apa-apa yah, mungkin calon mama tiri Mawar memang ada janji yang penting." tutur Mawar dengan senyum di bibir.


Terlihat Mawar seolah sudah menerima kehadiran Caty, sebagai calon ibu tirinya. "Dari dulu kamu memang pengertian. Ibu kamu mendidik kamu dengan baik." puji Wiryo.


Mawar tersenyum senang. "Ibu memang yang terbaik." ujar Mawar, memandang ke Caty. Wiryo mengangguk.


"Aku tunggu di mobil." ucap Caty, pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Mawar.


"Caty...!!!" seru Wiryo, menghela nafas dan menggelengkan kepala.


Jerome tersenyum samar. "Kamu pasti senang, rencana kamu berhasil. Kesabaran Caty setipis kulit ari pada buah salak." ucap Jerome dalam hati.


"Maafkan Caty. Dia mungkin kelelahan. Menyiapkan pernikahan kami sendirian." ucap Wiryo masih membela Caty.


"Oh iya, ini untuk kamu."


Mawar menerima dua buah paper bag dari tangan sang ayah. "Ayah ingin kamu datang. Jangan lupa pakai."


Mawar mengangguk dengan ekspresi datar. Tidak seperti saat ada Caty, sekarang Mawar terlihat dingin.


"Tergantung. Bagaimana dia bersikap pada Mawar." ketus Mawar, tak lagi berpura-pura sok baik.


Jerome memandang ke arah lain. Dirinya sadar, jika ini adalah permasalahan keluarga Mawar. Dan dirinya adalah orang luar.


Wiryo menghela nafas. Dirinya memutuskan untuk segera berpamitan dan pergi dari rumah Mawar. Apalagi ada Jerome di sana.


Wiryo tidak ingin Jerome memandang dirinya dengan buruk. "Ayah pergi dulu, salam untuk ibu kamu." pamit Wiryo.


Mawar mengangguk malas. Tanpa melihat ke arah mobil Wiryo, Mawar membuka pintu. "Ayo kak, masuk." ajak Mawar.


"Maaf, kakak harus melihat semuanya." cicit Mawar, saat keduanya duduk di kursi ruang tamu.


"Tidak apa-apa. Apa kamu akan datang?" tanya Jerome.


Mawar tidak terkejut jika Jerome tahu pernikahan sang ayah dengan Caty. Pastinya papanya juga mendapatkan undangan pernikahan mereka.


Mawar mengangguk lemah. "Iya." ucap Mawar singkat.


Jerome tahu kondisi dan situasi. Pasti saat ini Mawar sedang ingin sendiri. "Kelihatannya mau hujan. Aku pulang dulu, Mawar." pamit Jerome.


"Baiklah. Kak Jerome hati-hati." ucap Mawar.


Mawar mengantar Jerome sampai teras. Melambaikan tangan saat Jerome juga melambaikan tangan sembari menaiki motornya.


Mawar masuk ke dalam. Masuk ke dalam kamar, menyimpan paper bag tersebut ke dalam almari, tanpa melihat isi di dalamnya.


Mawar berdiri si kaca, melihat dahinya yang tertempel plester. "Semoga ibu percaya dengan alasanku nanti." ucap Mawar.


Mawar kembali teringat, percakapannya dengan mereka di markas Erza. "Bunga aster." gumam Mawar.


Mawar duduk di tepi ranjang. "Jika benar, dia juga berbahaya. Tapi selama gue pura-pura nggak tahu. Mungkin akan aman. Ya,, lebih baik berpura-pura bodoh, asal selamat." cicit Mawar.


"Lantas kenapa mbak Amel sakit seperti itu, jika dia anggota geng berbahaya itu. Tidak mungkin jika dipukul kekasihnyakan." tebak Mawar.


Amel. Mawar melihat tanda tersebut di telapak tangan Amel. Cukup kecil. Namun Mawar bisa melihatnya.


Awalnya, Mawar mengira jika sakit yang sekarang Amel rasakan karena sang kekasih. Namun, mengingat siapa Amel. Tak mungkin apa yang dipikirkan Mawar benar adanya.


Mawar masih mengingat jelas. Santi dan Tia mengatakan jika wajah Amel lebam, seperti orang yang baru saja kena pukul.


Memakai baju dan celana panjang. Padahal terlihat kepanasan. "Bisa jadi, bukan hanya wajahnya yang kena pukul. Namun sekujur tubuhnya. Tapi kenapa?!" Mawar masih penasaran.


Selain Amel, Mawar juga melihat tanda tersebut pada seseorang. Saat dirinya dan Jerome bersembunyi di belakang rumah, di tempat pembuangan sampah yang sudah rusak.


Meski gelap, Mawar dan Jerome sempat melihatnya, saat cahaya bulan mengenai telapak tangan orang tersebut.

__ADS_1


Yang saat itu berdiri tepat di hadapan mereka. Sayangnya, keduanya tidak bisa melihat wajah dari lelaki tersebut.


Untuk Amel, Mawar masih ingin merahasiakannya dari siapapun. Termasuk Jerome. Lebih baik, Mawar mulai menjauh dari hal tersebut.


Beberapa jam kemudian, sang ibu datang. Seperti dugaan Mawar, beliau bertanya dari mana Mawar mendapatkan luka di dahinya.


Syukurlah bu Lina percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang putri. Mawar mengatakan jika dirinya tidak sengaja terjatuh di rumah nenek Mira.


Saat dirinya dan kedua sahabatnya sedang asyik bersenda gurau. "Kamu itu, lain kali berhati-hatilah."


Bu Lina mencium lembut pipi Mawar. "Iya bu, lagian nggak parah juga." ucap Mawar membela diri. Supaya terlihat menyakinkan.


Sementara di rumah sakit, operasi pak sopir berjalan dengan lancar. Pak sopir dapat melalui masa kritisnya.


Nyonya Ningrum memutuskan untuk memindahkan perawatan sang sopir ke rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggalnya.


Beliau sudah berbincang dengan sang suami. Dan pihak rumah sakit mengizinkannya. Mana mungkin pihak rumah sakit berani tidak mengizinkan. Mereka tahu siapa Tuan Mahesa.


Salah satu pengusaha yang berpengaruh di kota ini. Bukan hanya di kota, tapi di negara ini. "Apa kita perlu melihat keadaan Mawar?" tanya Nyonya Ningrum.


Kini, dirinya hanya berdua dengan Mira di rumah sakit. Setelah keluarga Selly berpamitan untuk pulang. "Jangan ma, nanti bu Lina malah curiga. Mira yakin, jika Mawar tidak bercerita pada bu Lina." cegah Mira.


Nyonya Ningrum menghela nafas. "Kasihan mereka. Sekarang harus bekerja menyambung hidup." ujar Nyonya Ningrum iba.


"Mau bagaimana lagi. Mama tahu sendiri. Mawar mana mau menerima bantuan kita. Yang ada dia malah akan menjauh, jika kita melakukannya." papar Mira benar adanya.


Nyonya Ningrum menggenggam telapak tangan sang putri. "Kalian, jangan pernah meninggalkan dia sendirian. Selalu di sampingnya."


Mira mengangguk pasti. "Tanpa mama suruh, aku dan Selly pasti akan melakukannya." ucap Mira yakin.


Nyonya Ningrum memeluk sang putri. "Semoga kalian bertiga tetap bersahabat sampai kapanpun." ucap beliau berdo'a.


"Terimakasih ma." timpal Mira.


Di kediaman Djorgi, tidak ada yang berubah. Hubungannya dengan sang anak masih sedingin es.


"Aku tidak ingin anggota keluarga kita bertambah." Gaby langsung berkata demikian saat keduanya tengah berada di meja makan untuk melakukan sarapan.


Gerakan tangan Djorgi terhenti, memandang ke arah sang anak dengan tatapan datar. "Gaby tahu, papa sedang mendekati seorang perempuan." lanjut Gaby, menikmati sarapannya dengan santai.


"Gaby berangkat." pamit Gaby, tanpa ada sentuhan fisik dengan sang papa, berupa salaman tangan.


Tuan Djorgi menatap kepergian sang putri dengan tatapan datar. Dirinya sama sekali tidka mengatakan apapun. "Kenapa kamu menolak, padahal belum mengenalnya." gumam Djorgi.


Djorgi yakin, Gaby akan menyukai Lina. Melihat bagaimana sifat Lina yang lembut dan keibuan. Terlepas dari fakta, jika Lina adalah mantan istri Wiryo.


Seandainya Djorgi tetap bersikukuh mendekati Lina. Menjadikan Lina sebagai istrinya. Apa keadaan tidak semakin kacau.


Lina dan Wiryo, dari hubungan sepasang suami istri akan menjadi hubungan ipar. Ditambah lagi Caty, hingga detik ini dia masih merasa cemburu dengan sosok Lina.


"Ohh,,, iya. Kenapa aku tidak mengatakan pada Gaby, jika putri Lina adalah Mawar. Mungkin dia kenal. Bukankah mereka satu sekolah." gumam Djorgi.


Berharap Gaby akan merubah pendiriannya tak ingin memiliki ibu tiri. Jika dirinya tahu, Lina memiliki putri seumurannya.


Tanpa Djorgi tahu, Gaby sangat membenci Mawar. Keduanya tidak akan akur berada di satu atap. Mungkin Mawar dapat menerima Gaby karena sang ibu.


Tapi Gaby, tidak ada yang bisa menebak. Apa yang akan Gaby lakukan. Jika tahu, perempuan yang diinginkan sang papa untuk menjadi ibu tirinya adalah ibunya Mawar.


Di sekolah, tampak lebih ramai. Memang, biasanya ramai. Namun kali ini berbeda. Pertukaran antar murid sudah berakhir.


Yang artinya para murid kembali ke sekolah masing-masing. Murid yang baru saja kembali, tentu saja sedikit membuat heboh.


Melepas kangen dengan teman sekelas, dan teman akrab mereka. Begitu juga dengan Gaby. Bertingkah seolah dirinya baru saja keluar dari tempat terkutuk.


"Akhirnya, gue kembali." cicit Gaby dengan ekspresi senang. Dona dan Weni hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Gaby.


Sebenarnya, Dona merasa enggan datang ke sekolah. Ada hal yang tidak ingin dia dengar. Tapi dirinya harus datang.


Meski sekarang murid kelas tiga memang hanya absen saja saat masuk sekolah. Pasalnya mereka sudah selesai melaksanakan ujian akhir.


Yang artinya sebentar lagi mereka akan meninggalkan SMA yang telah mereka datangi selama tiga tahun terakhir ini.


"Mana Siska?" tanya Weni.


"Tahu. Gue bukan pengasuhnya." sahut Gaby dengan nada ketus.


"Biasa saja kale neng." ujar Weni disertai kekehan.


"Oh iya, bukankah akan ada drama perpisahan. Siapa saja pemerannya?" tanya Gaby, sebab dirinya beberapa bulan tidak berada di sekolah.


Ekspresi wajah Dona berubah kesal. Teringat dengan rencana Erza. Dan sekarang, Erza sudah tidak ada. Benar-benar menguji kadar emosi Dona.


"Elo ikutkan?" tanya Gaby pada Dona.


Dona mengangguk. "Kenapa sih elo?" tanya Gaby, melihat Dona tidak antusias.


Dona hanya tersenyum malas. Tanpa menyahuti perkataan Gaby. "Eh,,, dulu, siapa pemeran utamanya?" tanya Gaby.


"Jerome dan Dona." jawab Weni.


Gaby mencebikkan bibirnya. "Jika saja gue bisa daftar, pasti akan gue lakukan." batinnya.


Gaby segera mengubah ekspresi wajahnya. "Emmm,,, pasti sekarang juga sama. Elo sama kak Jerome." cicit Gaby.


"Entahlah." tutur Dona dengan malas. Dona tahu, jika Erza sudah memasukkan nama Mawar dalam daftar pemain utama perempuan.

__ADS_1


Dan Dona masih ingat, jika Erza akan membuat Mawar berperan sebagai pemeran utamanya. Dona yakin, Erza sudah melakukan sesuatu. Memuluskan rencananya, sebelum dia meninggalkan sekolah.


__ADS_2