MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 158


__ADS_3

"Kak Jerome." gumam Mawar, melihat Jerome duduk di meja makan bersama sang ibu, nenek serta kakeknya.


Semua menoleh ke arah Mawar yang melangkah ke meja makan dengan senyum. Mawar duduk di samping Jerome. "Kak Jerome, pagi-pagi dah di sini. Pasti mau numpang makan gratis." celetuk Mawar.


"Kok tahu sih." sahut Jerome disertai kekehan pelan.


Semua lantas tertawa ringan mendengar perkataan keduanya. "Nanti kamu jadi pergi sama mama kamu?" tanya Lina, membuat suasana menjadi hening.


"Entahlah." ucap Mawar sembari mengambil makanan untuk ditaruh di piringnya. "Mawar lihat nanti saja." lanjutnya.


Selesai sarapan, Mawar pamit pada semua anggota keluarga. Dia diantar pergi ke sekolah oleh Jerome. "Memang kalian mau pergi kemana?" tanya Jerome, masih melanjutkan pertanyaan Lina di ruang makan tadi.


"Nggak tahu kak."


"Caty sendiri yang meminta, atau ayah kamu?"


"Katanya sih lagi ngidam pengen keluar sama Mawar."


"Emmm,,,, tapi kamu harus tetap berhati-hati."


"Iya."


Suara ponsel Jerome berbunyi. "Bisa minta tolong?" tanya Jerome melihat sekilas pada Mawar yang duduk di kursi sampingnya. "Kamu lihat, siapa yang menghubungi. Aku lagi fokus nyetir." pinta Jerome.


Mawar mengambil ponsel Jerome di dalam tas yang Jerome taruh di kursi belakang. "Dari siapa?"


"Kak Luck." sahut Mawar, menggeser tombol hijau di layar ponsel milik Jerome.


"Jeee,,,, elo dimana? Jam kelas kita dimajukan. Entahlah kenapa? Gue sendiri gue nggak tahu alasannya. Sebaiknya elo segera ke kampus." cerocos Luck.


"Jerome..!!" seru Luck memanggilnya dengan keras, sebab dia sama sekali tidak mendengarkan suara Jerome.


"Iya." seru Jerome. Dengan ponsel tetap di pegang oleh Mawar yang diarahkan oleh Mawar ke depan wajah Jerome.


Tuuttt.... Luck mematikan panggilan suaranya di ponsel terlebih dulu. "Sebaiknya kak Jerome menurunkan Mawar di sini saja." pinta Mawar.


Sebab, jarak sekolah Mawar masih jauh dari pada jarak kampus tempat Jerome kuliah. "Tidak perlu. Aku antar kamu saja dulu."


Mawar tahu bagaimana keras kepalanya Jerome. Mawar terdiam, memikirkan cara. Mawar tidak mungkin egois. Membiarkan Jerome terlambat, dan bahkan mungkin akan bolos masuk kuliah.


"Kak, kita ke kampus kakak saja dulu. Nanti Mawar pakai mobil kakak saja. Bagaimana?" tanya Mawar meminta persetujuan Jerome.


"Nanti jika kak Jerome selesai dulu, kakak bisa meminta tolong kak Luck atau kak Tian. Dan menghubungi Mawar, jika telah pulang lebih dulu." lanjut Mawar.


"Kak Jerome." panggil Mawar, karena Jerome hanya diam sembari menyetir tanpa menyahuti ucapannya.


"Kamu yakin?" tanya Jerome. Pasalnya Mawar masih belum lama ini bisa menyetir mobil.


Mawar mengangguk. "Kan waktu itu kak Jerome juga melihatnya sendiri." tukas Mawar menyakinkan Jerome. Pasalnya, memang Jerome yang mengajari Mawar mengemudikan mobil.


"Baiklah. Tapi kamu harus berhati-hati." ujar Jerome. Segera Mawar mengangguk dengan cepat.


Jerome dengan laju kencang mengarahkan mobilnya ke kampus. Dia menghentikan mobil di jalan depan kampus, tidak memasukkan mobilnya ke dalam area kampus. Untuk memudahkan Mawar.


Mawar beserta Jerome keluar dari mobil bersamaan. Sontak saja, keduanya menjadi pusat perhatian dari para mahasiswa yang ada di sekitar kampus. Apalagi Mawar yang masih berseragam SMA. Dan Jerome masuk ke dalam mahasiswa baru populer karena ketampanan yang dimilikinya.


"Ingat, hati-hati. Jangan ngebut." tutur Jerome. Mawar mengangguk seraya tersenyum manis.


"Jerome...!!" teriak Tian, berlari menghampiri Jerome dan Mawar dengan Luck berada di belakangnya.


" Loh,,, kok Mawar." tukas Tian merasa heran.


Mawar hendak membuka mulutnya, tapi Jerome memegang kedua pundaknya. "Cepat masuk. Hati-hati di jalan. Kalau sampai jangan lupa memberitahu aku." Jerome mengarahkan Mawar, dengan mendorong badan Mawar secara pelan ke dalam mobil.


Luck dan Tian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat mereka. "Astaga Jerome." gumam Luck.


Tanpa mengajak Luck dan Tian, Jerome melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam area kampus. "Dasar." lirih Tian. Berjalan di samping Jerome, juga dengan Luck.


Mawar mengemudikan mobil Jerome dengan perlahan. Hingga Mawar tiba di sekolah bertepatan dengan bel masuk berbunyi. Bahkan, di halaman depan hanya ada segelintir murid yang berlari masuk.


Segera Mawar turun dari mobil, mempercepat langkahnya menuju kelas. Tentu saja dia tidak ingin sang guru masuk ke kelas lebih dulu dari pada dia.


Dan Djorgi, dia benar-benar menghukum Gaby untuk memasak sendiri makanan yang akan dia makan. Seperti apa yang Lina sarankan.


Sebelum itu, Djorgi memberitahu pada semua pembantu untuk tidak memperbolehkan mereka membantu Gaby.


Bahkan, jika ada pengantar makanan yang datang, Djorgi meminta mereka untuk mengambilnya. Namun tidak memberikan pada Gaby. Sebab, sudah bisa dipastikan jika Gabylah yang memesannya.


Djorgi menekankan pada mereka untuk memakan saja makanan tersebut. "Papa,,,, jangan bercanda." seru Gaby tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang papa.


"Papa tidak bercanda. Di dapur sudah ada bahan makanan serta semua yang kamu butuhkan. Bukankah sangat mudah."


Tanpa menunggu ucapan protes dari Gaby, sang papa keluar dari kamar Gaby. Tanpa menutup pintu kamar Gaby yang sebelumnya sengaja dikunci dari luar.

__ADS_1


Gaby tersenyum kecut. "Papa. Tidak mungkin papa punya pikiran seperti itu. Siapa yang menyarankan papa, untuk memberikan hukuman seperti itu pada gue. Astaga." tebak Gaby.


Gaby tahu siapa papanya. Dan Gaby sangat paham bagaimana karakter sang papa. "Apa perempuan miskin itu." tebak Gaby, mengarah pada Lina.


"Tidak mungkin. Papa dan dia sudah tidak berhubungan." ujar Gaby menyimpulkan sendiri.


Gaby tersenyum licik. Mengambil ponselnya. Memesan makanan dari ponsel. "Papa,,, papa,,, ini jaman modern. Kenapa harus bingung. Pesan saja." ucap Gaby tersenyum penuh makna.


Gaby tahu, jika dirinya tidak punya uang. Tapi sang papa pasti akan tetap membayar makanan yang sudah sampai di rumah. Mana mungkin sang papa tega membatalkan pesanan yang sudah sampai di rumah.


Sembari menunggu pesanan datang, Gaby memainkan ponselnya. "Sial. Mereka mengeluarkan gue dari chat kelas, bahkan sekolah." kesal Gaby, yang nyata-nyata dirinya tidak lagi di anggap oleh mereka dan pihak sekolah.


Gaby tidur tengkurap. Pikirannya melayang, memikirkan nasibnya yang akan datang. Entah kenapa air matanya tiba-tiba meluncur bebas ke pipinya.


"Gaby,,, sudahlah. Semua akan baik-baik saja." gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Apalagi sekarang semua fasilitas dan juga kartu kreditnya ditarik sang papa. "Gaby, bodoh sekali elo. Jika akan tahu seperti ini, pasti gue akan menabung." sesalnya.


Kriukk.....perut Gaby berbunyi. "Kenapa pesanannya belum datang." gumam Gaby. Padahal seharusnya pesanannya sudah datang sepuluh menit yang lalu.


Tanpa Gaby tahu, makanan yang dia pesan sudah dibayar oleh sang papa. Dan saat ini sudah dimakan oleh para satpam yang berjaga di depan.


Gaby berdiri sembari memegang perutnya yang lapar. Berjalan menuruni tangga dengan cepat. "Bik, apa ada kurir datang mengantarkan makanan?" tanya Gaby menahan lapar.


Sang pembantu menggeleng. "Saya tidak tahu Non." Meski sebenarnya dia tahu jika makanannya sudah sampai. Dak sekarang dinikmati para satpam di depan.


"Ckk,,,, awas. Jika datang, gue nggak akan membayarnya." kesal Gaby.


"Ehhh... mau kemana?!" tanya Gaby, saat sang pembantu hendak melangkah meninggalkannya.


"Ke belakangan Non. Mau menyelesaikan pekerjaan saya." sahutnya dengan sopan.


"Buatkan saya makan. Saya belum sarapan." perintahnya dengan nada angkuh.


Sang pembantu teringat jika Tuan Djorgi melarang mereka menyiapkan bahkan membuatkan sarapan atau makanan apapun untuk Gaby.


"Maaf Non, Tuan berpesan pada kami. Untuk tidak melayani Nona seperti biasanya." jelasnya.


"Papa...." geram Gaby. "Papa nggak akan tahu. Cepat sana, gue lapar"


"Maaf Non, saya tidak berani. Apalagi di rumah ini banyak kamera CCTV. Pasti saya akan ketahuan Tuan."


Gaby hanya bisa cemberut kesal atas apa yang papa lakukan untuk menghukum dirinya. "Permisi Non." pamit sang pembantu, segera pergi ke belakang untuk menghindari dari Gaby.


Mau tak mau, Gaby untuk pertama kalinya melangkahkan kakinya ke dapur. Meski dengan terpaksa. Gaby menghentakkan kakinya di atas lantai dengan kesal.


"Apa yang harus aku masak." cicit Gaby. Memasak air saja Gaby tidak pernah. Apalagi memasak makanan.


Kedua mata Gaby melihat mie rebus. "Itu yang paling mudah." tukasnya, memutuskan untuk membuat mie rebus.


Diambilnya sebuah mie rebus. Dibacanya cara memasaknya di kemasan bagian belakang. "Cukup mudah. Pasti gue bisa." ucapnya meremehkan.


Gaby memulai memasak mie rebus. Sesuai dengan apa yang dia baca di petunjuk penyajian di bagian kemasan. "Aaa....!!" jeritnya, saat dia membuka bumbu dan semua bumbu malah terjatuh ke lantai karena sobekkannya terlalu lebar.


Di bukannya satu lagi kemasan mie instan kuah. Karena terlalu lama berjibaku hanya untuk menaruh semua bumbu di atas piring, Gaby lupa jika sedang memasak mie di atas kompor.


"Bau apa ini? Nggak enak sekali." tanyanya pada diri sendiri. Kedua mata Gaby melotot sempurna mengingat sesuatu. "Astaga,,, mie gue." segera dimatikannya kompor yang berada tak jauh di sampingnya.


Gaby menampilkan ekspresi sedihnya, melihat bagaimana penampakan mie yang dia rebus di dalam panci kecil, hingga airnya habis.


"Gosong." cicitnya.


Tapi karena merasa lapar, Gaby tetap menuangkan mie tersebut ke dalam piring yang sudah dia taruh bumbu di atasnya.


"Aaawww....!!" lagi-lagi Gaby berteriak, saat jarinya tak sengaja tersenggol panci yang panas.


"Papa..." Gaby menangis, seraya meniup jarinya yang terkena pancinya yang masih panas tersebut. Padahal itu tidak terlalu sakit.


Segera Gaby makan mie yang dibuatnya dengan penuh perjuangan tersebut. "Rasanya aneh. Lembek sekali mienya. Seperti bubur." keluhnya, menilai sendiri masakannya.


Dirasa perutnya sudah terisi, dan tak lagi lapar, Gaby meninggalkan begitu saja dapur tanpa membersihkannya terlebih dahulu.


Para pembantu hanya menggeleng dan segera membersihkan kekacauan yang di buat Gaby di dapur. Menjadikan dapur seperri tempat sampah.


Dari perusahaan, Djorgi menyempatkan diri untuk melihat apa yang terjadi pada sang putri lewat ponsel yang terhubung dengan kamera CCTV di rumahnya. Setelah salah satu pembantu menelpon dan memberitahu dirinya jika Gaby berada di dapur.


"Apa aku terlalu kejam, memberikan hukuman seperti itu pada Gaby?" ada perasaan tak tega yang terbesit di benak Djorgi. Melihat sang putri kesulitan memasak mie instan.


Tapi, Djorgi tetap harus teguh. Jika ingin sang putri berubah. Djorgi kembali mengingat perkataan Lina. Jika sebagai orang tua, kita terkadang harus bersifat kejam pada saat tertentu.


Bukan kejam karena tidak sayang pada anak. Melainkan kejam karena rasa sayang kita. Dan untuk masa depan sang anak. Sebab tak selamanya orang tua akan hidup, dan selalu berada di sisi anak-anak mereka.


Padahal hanya sehari, Gaby merasakan jika kehidupan tidak adil padanya. Itu dikarenakan dia hidup di rumah mewah dengan banyak pembantu. Tapi dirinya tak bisa menyuruh para pembantu tersebut seperti yang dilakukan sebelumnya.

__ADS_1


Bahkan, hanya ingin minum jus buah, Gaby juga harus membuatnya sendiri. "Lama-lama gue bisa mati jika begini terus." keluh Gaby, sembari menyeruput jus buatannya sendiri.


Byurrr.... Gaby menyemburkan jus buah yang ada di dalam mulutnya. "Iiihhh.....Manis banget sih..." cicitnya. Sebab jus yang Gaby buat terlalu manis, karena kebanyakan gula.


Alhasil, Gaby meminum air dingin yang ada di dalam kulkas. Dan itupun hanya air putih. Gaby menebak jika sang papa yang menyuruh pembantu mereka untuk mengeluarkan semua minuman kemasan yang ada di dalam kulkas.


"Papa.....!!!" teriak Gaby.


Gaby juga tidak mungkin keluar dari rumah. Dan pergi ke rumah opanya, pasti dia akan mendapatkan ceramah siraman rohani dari sang opa dan omanya. Dan Gaby sangat membenci hal tersebut. "Bisa?bisa telinga gue budek."


Di sekolah, Mawar dan semua murid selesai belajar. Susana ramai terdengar dari berbagai lorong. Mereka semua berebut mencari jalan untuk keluar lebih dulu sampai di parkiran sembari saling bercanda.


"Kayak mobilnya kak Jerome." tebak Mira, melihat sebuah mobil sport terparkir di area parkir.


Mawar mengambil kunci mobilnya dari dalam tas. "Gue yang bawa." ucap Mawar mengangkat kunci mobil untuk memperlihatkan kepada kedua sahabatnya.


Mira dan Selly memandang Mawar dengan ekspresi aneh. "Gue pelan-pelan kok. Makanya tadi hampir telat." jelas Mawar.


Mawar tahu, jika kedua sahabatnya mengkhawatirkan dirinya. Tentu saja, sebab Mawar belum genap satu minggu bisa mengemudikan mobil.


Keduanya masih menatap Mawar dengan intens. Seolah sedang meminta penjelasan yang sejelas jelasnya. "Tadi kak Jerome jemput aku. Tiba-tiba kak Luck telepon kak Jerome. Memberitahu jika jam kelas mereka dimajukan sangat awal tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya. Semua terjadi secara mendadak."


"Dan Jerome memperbolehkannya." Selly terlihat kesal dengan Jerome.


Mawar segera menggeleng. "Awalnya tidak. Tapi aku memaksa. Kasihan kalau kak Jerome harus bolos, hanya untuk mengantar aku."


"Elo nggak bohongkan?" tuduh Selly, berharap Mawar berkata jujur. Bukan karena ingin melindungi sang kekasih, Jerome.


"Ya enggaklah... Untuk apa juga aku berbohong." tukas Mawar, membela diri.


"Dan sekarang, elo mau kemana? Pulang?" tanya Mira.


Mawar tersenyum malu-malu. "Mau jemput kak Jerome di kampus." Mawar menahan senyumnya. Padahal dirinya hanya ingin menjemput Jerome karena mobil Jerome dia pakai. Lucu sekali Mawar ini.


"Yakin?" Mawar mengangguk. "Sudah memberitahu kak Jerome, jika elo mau ke sana?"


Mawar menggeleng. "Mawar... Biar Mira saja yang menyetir." saran Selly. Mira segera mengangguk.


Tentu saja keduanya khawatir. "Nggak bisa." Mawar seperti anak kecil yang menyembunyikan kunci di genggamannya di belakang tubuh.


"Aku mau menjemput kak Jerome sendiri." kekeh Mawar.


Keduanya hendak melarang Mawar, tapi Thomas datang dan langsung bertanya pada Mawar. "Mau pulang?" tanya Thomas, menatap Mawar dengan senyumnya.


Mawar membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan Thomas. Tapi suara Mira lebih cepat dari pada suara Mawar. "Mawar, katanya elo mau menjemput kak Jerome."


"Hah..." Mawar.


"Ya sudah, elo cepat sana. Kasihan, kak Jerome menunggu." timpal Selly.


Mawar mengangguk. "Aku duluan ya. Mari kak." Mawar masuk ke dalam mobil.


Mira dan Selly memandang mobil yang dikendarai Mawar dengan intens, hingga mobil tak lagi terlihat. Sedangkan Thomas, memandang kedua sahabat Mawar dengan kesal.


Mira dan Selly, keduanya selalu membuat Mawar menjauh dari Thomas di berbagai kesempatan. "Apa yang kalian inginkan?!" tanya Thomas dengan ekspresi terlihat marah.


Mira segera menyembunyikan badannya di belakang Selly. "Maksud elo?" tanya Selly tanpa rasa takut. Seolah malah menantang Thomas untuk berduel.


Thomas tersenyum samar. "Jika kalian tidak suka pada gue. Tidak usah bawa-bawa Mawar. Dan menjauhkan dia dari gue."


"Ooo... Seperti itu. Jadi, elo merasa kita menjauhkan Mawar dari elo? Begitu?" tutur Selly.


"Benar. Benar sekali tebakan anda. Kenapa? Tidak terima?" tantang Selly.


Mira menarik lengan Selly. "Sell,,, kita pergi yuk." bisiknya takut. Apalagi Mawar sudah pergi. Dan Mira tahu bagaimana sifat Selly yang bar-bar.


Thomas maju satu langkah. Tapi Selly tetap berdiri tenang di tempatnya. Tanpa menggeser satu centipun kakinya. "Elo nggak punya hak untuk melakukan itu. Mawar itu saudara gue." tekan Thomas, memandang Selly tajam.


Selly mengangkat kedua alisnya ke atas. "Saudara. Nggak usah belagu, elo baru saja menjadi saudara tiri Mawar. Elo pikir, Mawar suka. Nggak akan."


Selly maju satu langkah. Membuat tubuh Selly dan Thomas hanya berjarak sekitar du centi saja. "Elo, sama saja seperti kelurga elo. Caty dan Gaby. Dan gue, nggak akan membiarkan elo mendekati Mawar. Atau menyakitinya." tekan Selly, dengan tangan mendorong tubuh Thomas ke belakang.


Kaki Thomas hanya mundur selangkah karena dorongan dari Selly. "Ayuk Selll..." Mira menyeret lengan Selly untuk menjauh dari Thomas.


Selly masih menatap Thomas dengan tajam. Mengarahkan jari telunjuk dan tengah ke kedua matanya, lalu mengalihkannya ke arah Thomas. Seperti ingin mencolok mata Thomas.


"Astaga. Ternyata bukan kekasih Mawar saja yang posesif. Kedua sahabatnya juga sama saja." gumam Thomas.


"Wooeee.... Gue nggak seburuk yang kalian pikirkan...!!!" teriak Thomas.


Selly malah menjulurkan lidah dengan menampilkan wajah garangnya yang membuat Thomas tersenyum. "Lucu sekali dia."


Sedangkan Mira sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. "Ayo Selly.... Masuk...!!" bentak Mira yang was-was.

__ADS_1


__ADS_2