
Selly mengirim pesan di grup chat kelas, jika Mawar tidak bisa datang karena membantu seseorang yang sedang dalam masalah. Mawar tidak bisa meninggalkannya, karena keluarga orang tersebut belum datang.
Semua Jerome yang mengatur. Tapi Jerome mengirimkannya pada Luck. Dan Luck menyuruh Selly untuk mengirimkannya di grup chat ke kelas mereka. Bahkan, ada surat pernyataan dari sebuah rumah sakit, serta surat pernyataan dari keluarga korban. Serta foto korban.
"Elo, bagaimana bisa mendapatkannya?" tanya Selly.
"Jerome." sahut Luck singkat.
Selly dan Mira hanya mengangguk pelan. Mereka menebak jika Jerome meminta tolong pada sang papa. "Kak Jerome sayang sekali ya sama Mawar." tukas Mira, merasa senang.
Selly mengangguk. "Semoga kak Jerome bosa membuat Mawar tersenyum."
Di dalam rumah Tuan Joko, Mawar mengajak Nyonya Utami untuk duduk di teras samping rumah. Di mana, dihalaman tersebut, mereka disuguhi berbagai macam bunga yang sedang bermekaran. Dengan berbagai warna, ditata dengan apik dan rapi.
Mawar menunjuk ke arah bunga. "Lihat bu, kupu-kupu itu terlihat sangat senang."
Nyonya Utami mengangguk sembari tersenyum. "Bukankah hari ini seharusnya kamu melakukan pensi di sekolah?"
Nyonya Utami baru saja teringat. Jika hari ini, adalah hari dimana sang putri akan mengetahui nilai hasil ujian, yang artinya hari dimana Mawar dan Jerome akan beradu peran di atas panggung.
"Iya, tapi tidak apa-apa. Pasti sudah ada yang menggantikan Mawar." jelas Mawar, supaya Nyonya Utami tidak terlalu merasa bersalah.
Pada kenyataannya, perasaan Mawar juga merasa cemas. Meninggalkan tangung jawabnya begitu saja. Mawar hanya bisa tersenyum di hadapan Nyonya Utami. Berharap dirinya tidak akan mengecewakan rekan-rekannya dalam drama.
"Semoga mereka tidak marah." batin Mawar.
"Maaf, semua gara-gara saya. Kamu seharusnya meninggalkan rumah saya. Dan segera bergegas pergi ke sekolah." tutur Nyonya Utami merasa bersalah.
"Tidak bu, Mawar yakin jika semua akan berjalan dengan lancar, tanpa adanya Mawar. Mawar percaya pada teman-teman Mawar."
Nyonya Utami menggenggam telapak tangan Mawar. "Kamu memang gadis yang baik. Ibu kamu pasti bangga memiliki putri seperti kamu."
"Ibu juga mama yang baik. Kak Dami juga pasti bangga memiliki mama seperti ibu." balas Mawar.
"Apa sekarang sudah lebih baik?" tanya Mawar.
Nyonya Utami mengangguk. "Iya, badan saya tidak selemas tadi."
"Ibu harus tetap makan. Jaga kesehatan. Jangan membiarkan mereka yang menginginkan ibu menderita tertawa bahagia. Bertahanlah demi kak Dami." tutur Mawar.
Nyonya Utami mengelus pipi Mawar dengan lembut. "Jika saja apa hang dikatakan dokter tadi menjadi kenyataan, saya pasti sangat senang."
"Bu..." Mawar cemberut, berpura-pura marah. Nyonya Utami tertawa pelan melihat ekspresi menggemaskan dari Mawar.
Tanpa keduanya sadari, ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka. Dami dan beberapa pembantu yang bekerja di rumah Nyonya Utami.
Mereka tersenyum melihat interaksi Nyonya Utami dan Mawar. Apalagi, Nyonya Utami kembali tertawa setelah beberapa hari berwajah sedih dan seperti enggan untuk melanjutkan hidup.
"Dokter. Bik, memang dokter mengatakan apa?" tanya Dami pelan, pada pembantu yang berada di dekatnya.
"Kami tidak tahu Den. Saat dokter memeriksa Nyonya, hanya ada Non Mawar di dalam kamar." jelasnya.
Hal tersebut malah membuat Dami penasaran. Apalagi terlihat sang mama seperti sedang berharap, dan Mawar menolaknya.
"Jika Dami bisa mewujudkan, pasti akan Dami lakukan ma. Asal mama bahagia." tukas Dami lirih. Tanpa tahu apa yang dibicarakan oleh sang mama dan Mawar.
"Kak Dami." panggil Mawar yang melihat sosok Dami berdiri di damping pintu. Dami tersenyum dan menghampiri keduanya.
Dami memeluk sang mama. "Kenapa kamu pulang? Apa kelas kami sudah selesai?"
"Sudah ma." sahut Dami berbohong. Tentu saja Dami bolos. Saat ponselnya berdering, dan sang pembantu mengabarkan keadaan sang mama.
Dami menatap ke arah Mawar. "Terimakasih sudah menemani mama." ucap Dami dengan tulus.
Ketiganya berbincang ringan, diselingi tawa. Dengan keberadaan Mawar, seakan Nyonya Utami melupakan sakit hatinya.
Beberapa kali, Dami mencuri pandang ke arah Mawar. "Kamu memang gadis baik. Seandainya kamu jadi adik saya Mawar." batin Dami, lagi-lagi menginginkan Mawar menjadi adiknya.
"Semoga Jerome bisa membahagiakan kamu." lanjut Dami dalam hati.
"Maaf, Nyonya,,, di depan ada tamu. Katanya ibunya Non Mawar." ujar seorang pembantu yang baru datang.
Semuanya menatap ke arah Mawar. "Baiklah, kita akan segera ke depan." ujar Nyonya Utami.
"Mama bisa?" tanya Dami khawatir, saat sang mama ingin berjalan sendiri.
"Kak Dami pikir bu Utami nenek Mawar. Yang harus memakai kursi roda." celetuk Mawar, mendapat sahutan tawa dari Nyonya Utami. Sedangkan Dami tertawa garing.
Ketiganya berjalan menuju ke ruang tamu. Langsung saja, Lina berlari ke arah Mawar. Memeluk dan mencium wajah sang putri. "Puas,, membaur ibu khawatir." geram Lina.
Mawar memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Maaf, Mawar lupa memberi tahu ibu."
Lantas Lina segera mengajak Mawar duduk di sampingnya. "Maaf, semua salah saya." tutut Nyonya Utami.
"Tidak jeng, Mawar yang bersalah. Selalu saja ceroboh." omel sang ibu.
__ADS_1
Mawar memeluk sang ibu dari samping. "Maaf, Mawar lupa."
Bu Lina mengacak rambut sang putri dengan pelan. "Dasar."
"Tapi kamu tidak apa-apakan?" tanya Nyonya Tanti, nenek dari Mawar.
Mawar mengurai pelukannya pada sang ibu, lalu menggeleng. "Tidak nek. Mawar baik-baik saja."
"Syukurlah." ucap Nyonya Tanti merasa lega.
Mawar dan sang ibu, beserta Tuan Tomi dan Nyonya Tanti berpamitan pada Nyonya Utami dan juga Dami. Mereka mengantar Mawar sekeluarga sampai di teras rumah.
"Itu Mawar." cicit Selly, dari dalam mobil melihat Mawar bersama yang lain. Berdiri di teras rumah Dona. Meski melihat dari jarak jauh, tapi Mira tahu jika perempuan tersebut adalah Mawar.
Mida dan Selly hendak keluar dari mobil. Menghampiri Mawar. Tapi tangan mereka tak jadi membuka handle pintu mobil karena ada tiga mobil masuk ke dalam pekarangan rumah Tuan Joko yang sangat luas tersebut.
Keduanya kembali duduk di dalam mobil. Menyaksikan semuanya dari dalam. "Ayo kita ke sana." ajak Tian.
"Tidak perlu, kita tunggu saja di sini." tolak Mira. Selly mengangguk. Keduanya yakin, Mawar dalam keadaan baik-baik saja. Apalagi ada sang ibu beserta kakek neneknya, dan juga Jerome.
"Ngapain elo di sini?!" tanya Dona langsung dengan nada tinggi, menatap sinis ke arah Mawar.
"Pergi dari rumah gue." usir Dona.
Nyonya Utami berjalan maju beberapa langkah. Plak..... satu tamparan mendarat di pipi Dona. Membuat wajah Dona berpaling ke samping.
Dona meringis, memegang pipinya yang terasa sakit. Semuanya terkejut dengan apa yang dilakukan Nyonya Utami pada Dona. "Ma...!!" seru Tuan Joko, menegur sang istri.
"Diam..!! Jangan pernah wajah memanggilku dengan mulut kotormu itu." tekan Nyonya Utami.
Mawar segera memegang kedua pundak Nyonya Utami. Mawar tahu, jika beliau belum cukup sehat. "Bu,, ingat kata dokter." lirih Mawar.
Nyonya Utami menghela nafas, mengelus telapak tangan Mawar di pundaknya.
"Ma,,,!! mama menampar Dona..!! Pasti karena dia. Iyakan..!!" bentak Dona menatap nyalang pada Mawar.
"Apa yang sudah elo lakukan pada mama gue. Apaaa...!!" teriak Dona, menuduh Mawar mempengaruhi sang mama.
"Sebaiknya kalian semua pergi dari sini!" usir Tuan Joko.
Jerome berdiri di samping Mawar. Begitu juga Dami yang berdiri di samping sang mama. Sementara Lina dan kedua orang tuanya berada di belakang Mawar. "Siapa kamu? Beraninya mengusir mereka." tukas Nyonya Utami.
"Sayang..." rajuk Tuan Joko.
"Ma,,, sebaiknya kita masuk ke dalam." ajak Dami. Dirinya tidak ingin sang mama sakit lagi.
"Ingat. Ini adalah rumahku. Perusahaan dan semua harta ini adalah milikku. Tuan Joko." tegas Nyonya Utami.
Tangan Nyonya Utami memegang erat tangan Mawar. Dami menatap ke arah Mawar, sembari mengangguk. "Bu, sebaiknya bu Utami istirahat dulu. Ingat kesehatan ibu." bujuk Mawar.
Dona semakin bingung. Sungguh, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sang mama dan sang papa bertengkar. Padahal, setahu Dona sang mama sangat penurut. Membentak sang papa saja tidak pernah.
Tapi ini, sang mama menamparnya, mengusir sang papa. Bahkan mengungkit semua harta kekayaan mereka.
"Jeng, benar kata Mawar. Saat ini, kesehatan jeng lebih utama. Ada Dami, dia anak lelaki yang hebat. Pasti dia mampu menyelesaikan semuanya." bujuk Lina.
Nyonya Utami mengangguk. "Seandainya kamu dan Dami menikah, pasti saya akan senang." celetuk Nyonya Utami. Membuat suasana menjadi aneh.
Semua mata mengarah pada Mawar. "Khemm... Bik, bawa bu Utami ke dalam." tukas Dami, pada pembantu yang berada di belakangnya.
Jerome menatap tajam Mawar. Sedangkan Dami, merasa tidak enak dengan Jerome. Sebab dia tahu, jika Jerome sangat mencintai Mawar.
"Ohh,,,, sekarang gue tahu. Elo mau mendekati nyokab gue, untuk mendekati kakak gue. Biar menjadi orang kaya. Culas." sinis Dona.
Mawar hanya menghela nafas dan memutar kedua matanya dengan jengah. Jujur, Mawar merasa kasihan pada Dona, yang tidak tahu apa-apa. Di sini, hanya Dona yang tidak tahu apapun. Terlihat sangat bodoh.
"Anda mau kemana?" Dami menghentikan sang papa yang hendak masuk. Mendorong tubuhnya ke belakang dengan kuat, hingga Tuan Joko melangkah mundur.
"Dami...!!"
"Bukankah mama saya sudah mengatakan. Ini adalah rumah kami. Bukan rumah anda." tegas Dami, menolak keberadaan Tuan Joko.
"Dami...!! Jangan kurang ajar." geram Tuan Joko.
Dami tersenyum sinis. Dami melakukan semua ini demi mental sang mama yang belum pulih. Dami tidak ingin, dengan kehadiran sang papa, sang mama kepikiran lagi.
"Pergilah. Biarkan mama menenangkan diri dulu." pinta Dami dengan nada rendah.
"Maaf, tapi kami harus pamit." sela Tuan Tomi, tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga mereka.
"Baik. Terimakasih. Maaf, sudah membuat anda menyaksikan hal yang tidak pantas." tukas Dami.
Semua berjalan menuju mobil. Tapi, tiba-tiba Dona menyerang Mawar, menarik rambut Mawar dari belakang. "Aaa...!!" jerit Mawar kesakitan.
"Dona...!!"
__ADS_1
"Mawar..!!!" seru semuanya bersamaan. Dami langsung memegang lengan Dona, melepaskan tangan Dona dari rambut Mawar. Begitu juga dangan Jerome.
Plak..... Selly yang baru datang, langsung menampar dengan keras pipi Dona. "Sayang." Lina memeluk tubuh Mawar. Menggeleng melihat kelakuan bar-bar dari Dona.
Luck segera menarik Selly ke belakang. "Sudah Selll..." ujar Luck.
Saat Mira hendak maju, Tian juga segera menghentikannya. Bisa-bisa Dona akan jadi badut, karena kedua pipinya bengkak karena tamparan.
"Lepas... gue akan potong tangan iblis betina ini...!!" seru Selly.
"Sudah cukuppp...!!!" seru Dami. "Dan kamu, sebaiknya kamu segera merubah sikap kamu. Atau kamu akan menyesal seumur hidup." ancam Dami.
"Ooohh,,, kak Dami membela perempuan ular ini...!!" seru Dona menunjuk ke arah Mawar dengan tidak terima.
Dami hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar. "Dona.. sumpah... Kamu..." Dami bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Tuan Joko hendak masuk ke dalam rumah, memanfaatkan situasi. Tapi Dami menyadari itu, dan kembali menghentikannya. "Sudah saya bilang. Pergi..!!" usir Dami, mulai kehilangan kesabaran.
Dua satpam hanya bisa memandang. Tentu saja mereka bingung harus melakukan apa. "Pergi. Temui wanita yang selama ini selalu papa berikan uang mama. Tinggallah bersama dia. Bukankah itu yang papa inginkan..!"
"Apa maksud kak Dami. Wanita. Tinggal bersama dia. Papa menginginkan apa?!" Dona terlihat seperti orang bodoh.
Mira dan Selly tersenyum. "Dona,,, makanya, otak elo itu jangan hanya berpikir bagaimana cara mencelakai Mawar. Lihat, orang tua elo bermasalah saja, elo nggak tahu. Sebenarnya, hati elo tuh terbuat dari apa sih." sindir Mira.
"Dona. Papa elo selingkuh. Dan mama elo sedang membutuhkan elo. Gila, anak macam apa sih elo itu." timpal Selly langsung.
"Diam anak kecil. Ini bukan urusan kamu...!!" bentak Tuan Joko. Tapi Dami hanya diam. Sebab apa yang dikatakan Mira dan Selly adalah sebuah kenyataan yang memang tidak perlu ditutup-tutupi.
"Papa selingkuh." Dona menatap ke arah sang papa.
"Papa tidak sepenuhnya bersalah sayang." cicit Tuan Joko dengan wajah memelas.
"Tuan, yang namanya selingkuh, tetap bersalah." celetuk Selly tanpa rasa takut.
Tuan Joko memandang tajam ke arah Selly. Bukannya takut, Selly malah seakan menantang Tuan Joko. "Saya Selly Bramantyo. Pasti anda kenal, siapa papa saya." ucap Selly dengan angkuh.
Mawar hanya tersenyum samar. Selly memang selalu menggunakan nama besar sang papa saat mengertak lawan. Begitu juga Tuan Tomi, beliau tersenyum melihat kelakuan sahabat dari cucunya tersebut.
"Benar. Papa pasti tidak bersalah. Mama yang bersalah. Sehingga papa berselingkuh." ungkap Dona tanpa berpikir panjang.
Mawar melihat Nyonya Utami berada di balkon kamarnya. Memandang mereka dari atas. Mawar dapat melihat, Nyonya Utami kecewa dengan ucapan putrinya tersebut.
Mawar maju beberapa langkah. "Kamu tahu, siapa wanita yang akan menjadi mama tiri kamu?"
"Nyonya Puri Prameswari. Pasti kamu tahukan, siapa dia. Dona." lanjut Mawar, menatap tajam ke arah Dona.
Dona menggeleng tak percaya. "Pa, ini tidak benarkan?" Dona masih tidak percaya.
"Lebih dari sepuluh tahun. Papa kamu dan mama dari Weni berhubungan layaknya suami istri. Dan selama itu, papa kamu membiayai semua kebutuhan mereka. Yang artinya, apa yang kamu miliki, Weni juga memilikinya."
Mawar menggunakan setiap ucapannya untuk memukul Dona. Tak perlu menampar atau memukul tubuh Dona. Cukup dengan perkataannya, Mawar akan membuat Dona menyesal.
Mawar tahu bagaimana watak dari Dona. Dia tidak ingin berbagi dengan siapapun. Apalagi Weni, yang selama ini dia anggap sebagai kacungnya. Turun sudah harga diri Dona.
"Kasihan sekali. Upsss... sebentar lagi, mama dan papa kamu akan bercerai. Dan kamu, akan mempunyai mama tiri, bernama Nyonya Puri. Dan.... terjadilah, Dona dan Weni. Akan menjadi saudara tiri. Hebat..." ucap Mawar tersenyum miring.
Mira dan Selly tersenyum senang dengan apa gang dikatakan oleh Mawar. "Satu lagi. Dona, lebih baik elo segera pergi ke laur negeri. Aksi elo tadi malam terekam CCTV." timpal Mira.
"Ingat Dona. Nyonya Utami dan kak Dami tidak akan menolong kamu. Mereka bukan Tuan Joko, yang buta mata. Atas kelakuan jahat kamu." imbuh Selly semakin membuat Dona stres.
Mawar yang mang tidak mengerti apapun hanya diam. "Nanti gue kasih tahu." bisik Selly.
"Dam.. gue akan kirim videonya ke ponsel elo." ucap Tian, entah dari mana mereka mendapatkan rekaman bukti kelicikan Dona.
"Satpam. Usir dia dari sini. Dan ingat, jangan pernah berikan izin, jiak dia datang lagi ke rumah ini." perintah Dami pada satpam di rumah untuk membawa Tuan Joko keluar dari rumah.
Sebelum meninggalkan rumah Nyonya Utami, Mawar menyempatkan diri untuk menatap ke arah balkon yang ada di lantai dua.
Melambaikan tangannya pada Nyonya Utami, serta mengepalkan telapak tangannya ke atas, memberi semangat pada Nyonya Utami.
"Kamu pulang semobil bersama aku saja." pinta Jerome.
"Ibu, pulang sama nenek dan kakek saja. Mawar akan dibelakang kalian." tutur Mawar.
Bu Lina mencium kening sang putri. "Pulang. Paham." tekan bu Lina. Mawar mengangguk.
"Itu mobil kamu?" tanya Mawar pada Selly, setelah keluarganya masuk ke dalam mobil.
Selly mengangguk. "Kita satu mobil, sekalian ceritakan semuanya. Aku penasaran." Mawar mengacuhkan permintaan Jerome.
Mira dan Selly tahu, jika ada masalah antara Mawar dan Jerome. "Kak Luck dan kak Tian, kalian ikut mobil kak Jerome ya. Biar Mawar yang semobil dengan kita." ujar Selly.
"Oke." sahut Luck dan Tian bersamaan.
Jerome hanya memandang intens ke arah Mawar yang mengabaikannya, dan masuk ke dalam mobil Selly. Rahang Jerome mengeras, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Mawar.
__ADS_1