MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 108


__ADS_3

Semalam Dona tidak bisa tertidur dengan lelap. Pikirannya masih tertuju pada Jerome.


Alhasil, pagi hari. Dona kembali lagi ke rumah Jerome. Dengan dalih ingin mengajak Jerome lari pagi.


"Pagi tante. Maaf, Dona sudah mengganggu." tutur Dona dengan sopan, dan bibir tersenyum ramah.


Tentu saja Dona bersikap demikian. Dirinya ingin terlihat sempurna dan berhati mulia di mata orang tua Jerome.


Nyonya Meysa memeluk Dona sebentar, mencium pipi kanan kiri milik Dona. "Sayang, pagi-pagi kamu sudah segar saja. Makin cantik." pujinya.


Menambah senyum di bibir Dona semakin merekah. "Iya tan, ini Dona mau mengajak Jerome lari pagi. Mumpung hari libur." ujar Dona.


Nyonya Mesya tersenyum samar. "Maaf sayang, tapi Jerome nggak ada di rumah." ucapnya dengan raut wajah sesal.


Seketika senyum di bibir Dona perlahan menghilang. "Memang Jerome di mana tan?" tanya Dona penasaran.


Ini masih terlalu pagi untuk seseorang meninggalkan rumah. Atau mungkin, semalam Jerome memang tidak kembali lagi ke rumah setelah pergi. Itulah sekarang yang ada dalam benak Dona.


"Jerome..." perkataan Nyonya Meysa terpotong manakala seseorang menyela pembicaraan mereka.


"Jerome ada pekerjaan penting. Lebih penting dari pada menemani seorang perempuan." sela Tuan Dewanto.


Dona dan Nyonya Meysa langsung menatap ke arah pemilik suara yang juga baru datang. Dan langsung membuat suasana menjadi tidak enak.


Dona mencoba tersenyum pada kakek Jerome. Tentu saja ingin mendapatkan hatinya. Apalagi Dona sangat tahu, jika beliau sama sekali tidak menyukai dirinya, sejak awal pertemuan.


"Kakek." sapa Dona ramah. Berbeda dengan Nyonya Mesya yang malah membuang muka dengan acuh.


"Tamu tak di undang. Ngapain coba, pagi-pagi sudah sampai ke sini. Pasti mau minta sarapan." ucap Nyonya Meysa dalam hati


"Cucu saya hanya dua." sahut Tuan Dewanto dengan tetap melangkahkan kakinya.


Dona tersenyum getir. "Orang tua ini. Apa sih maunya." dengus Dona dalam hati. Dona merasa tidak pernah berbuat salah pada Tuan Dewanto.


Tapi entah kenapa, beliau menunjukkan secara langsung rasa tak sukanya pada Dona sejak awal pertemuan. Dimana, saat itu Dona dan Jerome masih sama-sama duduk di bangku SMP.


Nyonya Mesya mengelus lengan Dona. Beliau tahu, jika Dona sama dengan dirinya. Juga tidak menyukai kakek dari Jerome tersebut.


"Sudah, jangan dihiraukan. Jangan dimasukkan hati." pungkas Nyonya Mesya.


Dona tersenyum. Senyum yang terlihat manis di bibir. Namun tidak dengan apa yanga ada di dalam pikiran dan hatinya. "Oh iya tante. Memang Jerome kemana?" tanya Dona lagi.


"Tante juga nggak tahu. Biasanya dia berkumpul bersama teman-temannya yang menurut tante sangat tidak ada manfaatnya itu."


"Luck dan Tian?" tanya Dona memastikan.


"Siapa lagi."


"Kalau Dona boleh tahu. Biasanya mereka kumpul di mana ya tan?" Dona masih belum menyerah ingin mengetahui keberadaan Jerome.


"Tante juga kurang tahu. Soalnya Jerome juga nggak pernah cerita. Coba Dona telepon. Tanyakan Jerome sekarang ada di mana?" saran Nyonya Mesya.


Dona tersenyum. "Gue telepon. Sampai kiamat juga nggak bakal diangkat." batinnya.


"Emm,,,, Tadi Dona sudah menelponnya. Tapi nggak diangkat oleh Jerome." ujar Dona beralasan.


"Astaga Jerome,,, maaf ya sayang, Jerome memang sedikit susah dihubungi."


Nyonya Mesya mengambil ponsel. "Sebentar, akan tante coba telepon dia."


Dona terdiam. Berharap jika sang mama yang menelpon, Jerome akan mengangkat panggilan teleponnya.


"Bagaimana tante?" tanya Dona, melihat ekspresi wajah Nyonya Meysa yang tampak kesal.


Nyonya Mesya menggeleng. "Pasti Jerome masih tidur."


"Ternyata benar dugaan gue. Jerome nggak ada di rumah. Lantas kemana biasanya mereka berkumpul." batin Dona.


"Tante. Kalau apartemen Jerome, apa tante tahu?"


"Tahu, tapi tidak semua."


Hati Dona tersenyum senang. "Gila, berarti Jerome mempunyai apartemen lebih dari satu. Benar-benar lelaki idaman gue." jeritnya dalam hati merasa senang.


"Emm,,, ya sudah tante. Kalau begitu Dona pamit dulu. Titip salam buat Jerome, jika nanti sudah pulang."


"Kamu nggak di sini saja, menemani tante?" tawar Nyonya Meysa.


"Maaf tante, Dona mau olah raga. Mumpung libur." tolak Dona dengan ramah.


"Di sini. Sama orang tua. Boring banget. Nggak benget." batin Dona.


"Baiklah, kamu hati-hati ya sayang."


"Iya tante. Terimakasih. Dona pamit dulu." ujar Don berpamitan.


Di dalam mobil, Dona tak berhenti mengumpat. Ditambah sikap kakek Jerome yang hingga detik ini dengan jelas menunjukkan penolakan terhadap kehadiran dirinya.


"Sungguh memuakkan...!!!" teriak Dona, memukul stir dengan kencang karena emosi.


Sedangkan di apartemen Jerome, Mawar bangun terlebih dahulu dari pada yang lain.


Mawar tersenyum, tatkala melihat tiga lelaki yang tertidur di depan televisi dengan gaya berbeda. Sebab, Tian berada di kamar.

__ADS_1


Pagi sudah menyapa, dan mereka masih memejamkan kedua mata mereka dengan nyaman. Sama sekali tidak terusik dengan kedatangan Mawar di ruangan tersebut.


Beruntung hari ini sekolah libur. Jadi Mawar tidak perlu berbohong pada teman-temannya, terkait beberapa luka serta goresan di kulit kaki serta tangannya. Dan juga pipinya yang masih sedikit bengkak.


Mawar juga baru saja menghubungi sang ibu. Mengatakan dia belum pulang. Karena masih ingin berjalan-jalan bersama rekan kerjanya.


Hati Mawar sebenarnya tidak tega, harus berbohong pada sang ibu untuk kesekian kalinya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Tentu saja karena Mawar tidak ingin membuat sang ibu khawatir pada dirinya.


"Sebaiknya gue membuat sarapan dulu." gumam Mawar.


Berjalan ke arah lain. Mencari keberadaan dapur. Tangan Mawar membuka kulkas dan juga beberapa lemari yang tertempel di dinding dapur. Serta lemari yang berada di bawah meja dapur.


Mencari alat masak yang bisa dia gunakan serta bahan makanan yang mungkin bisa dia masak untuk sarapan bersama. "Beras." gumam Mawar.


Segera Mawar mencuci beras dan menanaknya di dalam alat penanak. "Yang penting ada nasinya dulu."


Selesai, Mawar segera mencari bahan yang bisa dia masak untuk lauk. Sosis. Telur. Mie. Dan beberapa bahan lainnya, segera Mawar mengeluarkannya dari dalam kulkas. Tanpa ada sayuran hijau.


"Cuma segini. Mana cukup." Mawar memandang dan mengira-ngira banyaknya makanan dan juga orang yang akan memakannya.


"Nasi goreng saja kali ya." gumam Mawar.


Mawar bergerak cepat, mencari bumbu yang bisa dia gunakan untuk membaut nasi goreng. "Syukurlah, ada."


Di dalam lemari, ada beberapa bumbu siap saji dan juga bumbu masakan lainnya yang tersimpan dengan rapi. "Siapa yang membelinya." pikir Mawar.


"Ckk,,,, entahlah. Yang penting ada." lanjut Mawar.


Sambil menunggu nasi matang. Mawar memotong bahan-bahan lainnya yang akan dia goreng bersama nasi.


Dengan lincah, Mawar mulai menggoreng nasi. Menyiapkannya di meja makan. Serta membuat beberapa teh yang masih panas.


Mawar sengaja tidak membuat kopi. Lantaran memang hanya ada teh yang dia temukan di dalam almari di dapur.


"Selesai." Mawar menepuk-nepuk kedua telapak tangannya. Tersenyum senang sarapan yang dia siapkan untuk para sahabatnya setelah selesai.


Mawar melihat ke arah jam dinding yang tertempel di dinding sebelahnya. "Astaga. Dan mereka belum ada tanda-tanda akan bangun."


Mawar mengusap lehernya yang terasa basah karena keringat. "Apa gue bangunin mereka." gumam Mawar.


Tak mungkin Mawar akan tetap berada di sini. Dirinya juga punya kegiatan lain. Apalagi, nanti siang dia harus kembali bekerja.


"Ckk,,, benar. Lebih baik gue bangunkan mereka."


Mawar hendak membalikkan badan, tapi dia terlontar kaget karena Jerome sudah berdiri di belakangnya. "Astaga..!!" seru Mawar memegang dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.


"Maaf, bikin kamu kaget." cicit Jerome, tak menyangka Mawar begitu terkejut dengan keberadaannya.


"Iya maaf." Jerome memamerkan deretan giginya yang putih dan tertata rapi.


"Kamu sedang apa?" mata Jerome mencoba melihat ke atas meja makan.


"Buat sarapan."


"Memang ada bahan makanan?" tanya Jerome.


Mawar bengong. Ini apartemen Jerome. Tapi Jerome malah bertanya pada dirinya. Aneh. "Ada, tapi ya seadanya." jelas Mawar.


"Kak Jerome bangunkan yang lain. Kita sarapan bersama." Mawar berjalan ke arah wastafel.


Jerome tersenyum. Sebenarnya dirinya terbangun karena mencium aroma gurih dan enak. Merasa penasaran, Jerome langsung melangkahkan kakinya ke dapur.


Melihat penampilan Mawar. Bagaimana Mawar memasak. Bagaimana tangan Mawar dengan lincah memainkan alat-alat masak.


Jerome bahkan membayangkan, seandainya dirinya dan Mawar tinggal satu atap. Pasti setiap hari akan melihat pemandangan indah seperti ini.


Merasakan nikmatnya makanan yang di masak dengan cinta oleh Mawar. "Kak Jerome...!!" panggil Mawar, saat Jerome malah memandang dirinya dan tersenyum.


"Iya..." sahut Jerome.


"Loh..." bukannya segera kembali ke ruang tengah, Jerome malah membawa kakinya melangkah, mendekat ke arah Mawar.


"Kok malah ke sini. Bangunkan yang lain, suruh mereka mencuci muka. Kita sarapan bersama." cicit Mawar, seperti seorang istri yang sedang memerintah suami untuk membangunkan anak mereka.


Cup.... Jerome mendaratkan bibirnya ke kening Mawar. "Ehh..." Mawar terkejut. Terdiam. Dan melongo.


"Aku akan membangunkan yang lain." tutur Jerome tersenyum, membalikkan badan. Segera melakukan apa yang dikatakan oleh Mawar.


Mawar masih terdiam. Kedua kelopak matanya berkedip perlahan. Tangan kanannya menyentuh keningnya yang baru saja dikecup oleh Jerome. Sementara tangan kirinya memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar tak karuan.


Mawar memejamkan mata. Menelan salivanya. "Huh,,,,. jangan Mawar. Jangan. Kendalikan perasaan kamu. Ingat,, kalian tidak selevel. Jangan buat hatimu kembali merasakan sakit." gumam Mawar.


Membangun dan membentengi diri dengan tembok penyekat tinggi dan kokoh. Agar tidak ada satupun orang yang bisa masuk, bahkan merobohkan tembok tersebut.


Mawar kembali melanjutkan mencuci beberapa wadah dan alat masak yang kotor karena dia pakai. Bibir Mawar tiba-tiba tersenyum mengingat kejadian barusan.


Mawar menggelengkan kepala. Menepis apa yang ada di dalam pikirannya sendiri. "Fokus belajar dan bekerja. Ingat. Jadilah perempuan kuat dan sukses. Agara tidak akan ada lagi yang berani merendahkan dan meremehkan kamu." batin Mawar kekeh.


Beberapa menit kemudian, semua berkumpul di meja makan. "Maaf, hanya ada ini yang bisa Mawar masak." cicit Mawar dengan ekspresi lucunya.


"Tidak apa-apa. Lagian kenapa elo harus repot-repot memasak. Kita bisa pesan, dan tinggal makan." ujar Tian.


"Tak apa kak. Sekalian Mawar ingin berterimakasih pada semuanya. Terimakasih sudah menolong Mawar. Meski makanannya semua milik kak Jerome." tutur Mawar disertai kekehan pelan.

__ADS_1


"Sama saja. Milik aku milik kamu juga." sahut Jerome dengan enteng, membuat suasana menjadi canggung. Terutama untuk Mawar.


Mawar tersenyum kaku. Dia bukan perempuan bodoh dan polos. Apalagi setelah kejadian di dapur tadi. "Khemm... bagaimana kalau kita segera sarapan. Kelihatannya nasi gorengnya sangat lezaaaat." ajak Luck, mengulurkan tangannya ingin mengambil nasi goreng buatan Mawar.


"Apa sih Jeee..." seru Luck, yang tangannya tiba-tiba di tepis oleh Jerome.


"Gue duluan. Ini apartemen gue. Yang sopan dong." tegur Jerome. Padahal bukan itu alasan Jerome melakukannya.


Dirinya ingin menjadi orang pertama yang mengambil dan mencicipi makanan yang dimasak oleh Mawar. "Ckk,,,, biasanya juga nggak ada aturan kayak gitu." gumam Luck, tahu alasan Jerome.


Tian dan Erza hanya menggeleng melihat tingkah Jerome yang seperti anak kecil. "Astaga Jeee... bagi-bagi..!!" seru Luck.


Pasalnya Jerome mengambil nasi goreng hingga piringnya penuh. "Bawel. Noh masih banyak." ketus Jerome.


Mawar tersenyum samar melihat perdebatan Jerome dan Luck. "Dasar. Nggak enak baru tahu rasa." batin Luck, sebab dirinya memang belum pernah makan masakan Mawar.


Luck, Tian, dan Erza bergantian mengambil nasi goreng tersebut. "Mawar, kamu ambil punya aku saja, jika kurang." tawar Jerome.


Mawar ingin membuka mulutnya, namun Luck lebih dulu menimpali ucapan Jerome. "Jangan mau. Sudah bekas Jerome." ucap Luck sambil menjulurkan lidah.


Jerome menatap kesal ke arah Luck. "Nggak usah kak. Mawar kan makannya sedikit." tolak Mawar dengan sopan. "Semua, silahkan makan. Semoga rasanya nggak terlalu mengecewakan." lanjut Mawar.


Baru satu suap, Luck langsung menatap Mawar. "Ada apa kak?" tanya Mawar.


"Elo bikin sendiri?" tanya Luck tidak percaya. Begitu juga dengan Tian dan Erza, yang merasakan nasi goreng buatan Mawar memang enak.


Mawar mengangguk. "Perlu gue perlihatkan CCTV?!" tanya Jerome dengan nada tidak terima. "Kenapa, enakkan?" ucap Jerome dengan sombong. Padahal Mawar yang memasak.


"Iya benar. Kamu pandai memasak ternyata." sahut Erza.


Mawar tersenyum simpul. "Syukurlah jika semua suka." Mawar tetap merendah.


Di rumah Mawar, bu Lina hendak berangkat kerja. "Mobil Djorgi, bukan?" pikir bu Lina, ada sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan rumahnya.


Namun Bu Lina tidak tahu pemilik mobil tersebut. Pasalnya, selama ini Djorgi menggunakan beberapa mobil miliknya. Dan semua berwarna hitam.


"Ckk,,, jangan mengharap." ucap bu Lina pada dirinya sendiri. Menebak jika itu adalah Djorgi yang menjemput dirinya.


Ternyata pikiran Bu Lina tepat. Mobil yang parkir di depan rumahnya adalah mobil Djorgi. "Loh, mas. Kok sudah di sini?" tanya Lina, saat Djorgi membuka kaca jendela mobilnya tanpa keluar.


"Ayo masuk. Temani aku sarapan dulu." Djorgi membuka pintu mobil dari dalam.


Ingin sekali Djorgi keluar, membukakan pintu untuk Lina dari luar. Namun Djorgi menahan keinginannya tersebut.


Dirinya masih teringat jelas saat Lina menolak dan mengatakan untuk tidak melakukan hal tersebut. Lantaran Lina tidak menyukainya.


Lina segera masuk ke dalam mobil Djorgi dengan suka rela tanpa terpaksa. Lama-lama, Lina merasa nyaman dan terbiasa dengan perhatian-perhatian kecil yang diberikan Djorgi untuk dirinya.


Lina memakai sabuk pengamannya. "Lina tadi masak sedikit banyak. Apa perlu Lina ambilkan. Biar nggak usah beli." tawar Lina.


"Jangan. Besok saja kamu masak buat aku. Biarkan masakan di rumah untuk dimakan oleh Mawar." tolak Djorgi. Yang sebenarnya ingin sarapan berdua dengan memandang wajah cantik ibu dari Mawar tersebut.


"Mawar di mana?" Djorgi mencari Mawar di pekarangan rumah. Sebab hari ini hari libur sekolah. "Pasti masih tidur." tebak Djorgi.


"Nggak lah. Meski hari libur, Mawar tidak pernah bangun siang. Mawar tetap akan bangun seperti biasa. Mungkin kebiasaan." jelas Lina.


"Emmm... sibuk di dalam."


"Nggak. Semalam Mawar tidur di rumah teman kerjanya. Tadi pagi telepon, katanya belum pulang. Ingin jalan-jalan dulu." jelas Lina.


Djorgi mengangguk pelan. "Mawar selalu mengatakan apapun sama kamu. Kemana dia pergi." cicit Djorgi, mulai melajukan mobilnya.


"Iya lah mas, bisa nangis akunya jika tidak tahu bagaimana dan di mana Mawar berada." kekeh Lina.


Djorgi tersenyum samar. "Coba saja aku berada di posisi Mawar. Diperhatikan dan dikhawatirkan sama kamu." namun sayangnya, Djorgi hanya berani mengatakannya di dalam hati.


Tanpa Djorgi sadari. Mobilnya sedari keluar dari rumah di buntuti oleh mobil lain di belakangnya. "Mawar,,,, dan ibunya. Brengsek." umpat Gaby.


Semalam, Gaby meminta alamat rumah Mawar pada sang tante. Caty. Itulah alasan kenapa Gaby tahu diapa perempuan yang masuk ke dalam mobil sang papa.


Gaby merasa penasaran dan curiga. Sebab saat sang papa menceritakan Mawar, Gaby merasa jika raut wajah sang papa seolah mengatakannya dengan penuh bangga.


Ditambah sang papa mengatakan keinginannya untuk menikah lagi setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Gaby menduga ada keinginan sang papa untuk menikah lagi, pasti tak jauh-jauh dari hal yang berkaitan dengan Mawar.


Tebakan Gaby ternyata benar. Ini pertama kali Gaby melihat sang papa mau semobil dengan perempuan, selain sang tante dan omanya.


"Kenapa...!! Kenapa harus dia...!!" seru Gaby menatap mobil sang papa yang menjauh darinya.


Gaby segera melajukan mobil pinjamannya. Sengaja Gaby tidak memakai mobilnya sendiri. Gaby memilih untuk meminjam mobil Weni. Dirinya beralasan jika mobilnya masih berada di bengkel.


Gaby ingin memastikan. Jika benar sang papa mempunyai perasaan papa ibu dari Mawar. Mobil Gaby berhenti, manakala mobil sang papa juga berhenti di depan sebuah warung makan sederhana.


"Astaga,,, bahkan papa rela makan di tempat seperti ini. Demi perempuan kampung itu." geram Gaby.


Sekilas, Gaby teringat saat dirinya mengantar Weni. Dimana dirinya melihat sang papa makan berdua dengan seorang perempuan. "Pasti perempuan yang sama."


Gaby melihat sang papa dan ibu dari Mawar berjalan beriringan masuk ke dalam tempat makan tersebut. Bahkan, kedua sudut bibir sang papa selalu terangkat ke atas.


Menampilkan senyum indah. Penuh kebahagiaan. "Nggak. Gue nggak mau, jika sampai papa menikah dengan ibunya Mawar. Apa kata dunia. Gue, Gaby. Mempunyai saudara tiri seperti Mawar. Iiihh,,,, jijik." hina Gaby.


"Apa Mawar tahu semua ini. Pasti dia tahu. Pasti. Dan dia pasti yang menyuruh ibunya yang norak dan kampungan itu untuk mendekati papa. Elo pikir gue akan diam saja. Nggak akan, Mawar." Gaby mencengkeram erat stir dengan kedua tangannya.


"Apalagi jika elo juga menikmati harta papa gue. Yang seharusnya hanya untuk gue." seringai Gaby.

__ADS_1


__ADS_2