MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 122


__ADS_3

Mawar dan kedua rekan kerjanya meninggalkan butik saat jam kerja telah selesai. Tapi tidak dengan Dami. Dia masih betah berada di ruang kerja Nyonya Utami. Entah apa yang sedang dia lakukan.


Seorang perempuan paruh baya turun dari dalam mobil, begitu melihat Mawar keluar dari butik bersama dua orang lainnya.


Mawar sangat kenal siapa perempuan tersebut. Nyonya Mesya. Mama dari Jerome, lelaki yang beberapa bulan ini mendekati dirinya.


Santi dan Tia menatap penasaran pada perempuan dengan penampilan mewahnya sedang menatap ke arah mereka bertiga.


Dan Mawar tahu apa tujuan Nyonya Mesya datang ke butik, saat butik sudah tutup. "Mbak Santi dan mbak Tia duluan saja. Saya ada janji dengan beliau." papar Mawar.


Santi menatap ke arah Nyonya Meysa. Bisa Santi lihat, wajah Nyonya Mesya yang sangat tidak bersahabat. "Pasti dia sejenis Dona." batin Santi menebaknya.


"Baiklah. Tapi kamu hati-hati." tukas Tia, melirik ke arah Nyonya Mesya yang menampilkan wajah sadisnya.


Santi mendekat dan berbisik di telinga Mawar. "Mas Dami masih ada di dalam." bisiknya.


Mawar mengangguk. Mengerti ke mana arah ucapan dari Santi. Keduanya melambaikan tangan pada Mawar dan pergi tanpa bertegur sapa dengan Nyonya Mesya. Meski Nyonya Mesya jauh lebih tua dari mereka.


Tapi kenyataannya, mereka berdua tak benar-benar pergi. Mereka malah berhenti di toko yang berada di sebelah butik. Mengawasi Mawar dari sana.


Tentu saja mereka masih trauma dengan kejadian di mana Mawar dibawa oleh Raka. Dan keduanya tidak ingin itu terjadi lagi.


Setidaknya, jika itu terjadi lagi. Baik Santi atau Tia bisa langsung meminta bantuan pada Dami yang masih berada di dalam butik.


Nyonya Mesya menyodorkan sebuah kertas ke arah Mawar. "Jauhi Jerome, inikan yang kamu inginkan." Nyonya Mesya tersenyum remeh memandang Mawar.


Mawar mengambil kertas yang disodorkan oleh Nyonya Mesya. Lalu tersenyum dan berdecak. "Ckkk,,,, kenapa hanya segini nolnya." keluh Mawar dengan memainkan bibirnya.


Nyonya Mesya tersenyum senang. "Ternyata benar. Kamu hanya menginginkan harta kami." tuduhnya dengan sengit.


Mawar tidak menyobek atau mengembalikan cek yang diberikan oleh Nyonya Mesya. Dirinya tetap memegang cek tersebut.


Mawar mengibaskan kertas di tangannya, di samping wajahnya. "Ayolah Nyonya, apa yang anda cari saat menginginkan untuk dinikahi Tuan Adipavi. Meski orang tua Tuan Adipavi menentang dan tidak mengizinkannya."


Mawar menatap Nyonya Mesya dengan tatapan menantang. Mawar tahu, jika Nyonya Mesya adalah tipe perempuan yang sama dengan Nyonya Priyanka. Mama dari Deren.


Yang pernah melakukan hal yang sama seperti Nyonya Mesya. Mendatanginya dan menyuruhnya menjauhi anak mereka.


Dan Mawar tidak akan melakukan hal yang sama untuk menghadapi Nyonya Mesya. Dia akan membuat Nyonya Mesya semakin meradang.


"Kamu..."


Nyonya Mesya mengangkat tangannya, hendak menampar pipi Mawar. Tapi Mawar dengan cepat menangkap tangan Nyonya Mesya. Menghempaskan tangan Nyonya Mesya dengan kasar.


Mawar tersenyum miring ke arah Nyonya Mesya. "Saya akan menjauhi putra tercinta anda. Jika apa yang anda berikan pada saya setimpal dengan apa yang akan saya lakukan."


Mawar tertawa pelan. "Bukan dengan uang yang bahkan bisa saya hitung berapa jumlah angka bulatnya." tekan Mawar, menantang Nyonya Mesya.


Nyonya Mesya tidak mengira Mawar akan mengucapkan hal tersebut. Dan malah menginginkan hal yang lebih. Padahal, menurutnya apa yang dia berikan sudah sangat banyak untuk perempuan miskin seperti Mawar.


"Ternyata kamu serakah juga." cibir Nyonya Mesya.


"Nyonya, saya hanya meminta sebagian. Bukan semua harta anda." ucap Mawar terjeda.


"Saya rasa, anda yang lebih serakah. Bahkan sekarang anda memiliki semua harta Tuan Adipavi." lanjut Mawar menyindir Nyonya Mesya.


Nyonya Mesya menatap sinis ke arah Mawar. "Jerome pasti akan meninggalkan kamu. Jika dia tahu, apa tujuan kamu mendekati dia."


"Oh ya,,, apa dulu Tuan Adipavi juga meninggalkan anda, saat beliau tahu apa tujuan anda menikahi beliau." Mawar membalikkan ucapan Nyonya Mesya.


"Lancang...!!" seru Nyonya Mesya.


Mawar melangkah maju, mendekat ke arah Nyonya Mesya. "Kita sama, Nyonya. Sama-sama berasal dari kalangan bawah." tekan Mawar.


"Jaga mulut kamu..!! Jangan pernah samakan saya dengan perempuan rendahan seperti kamu..!!" bentak Nyonya Mesya dengan nafas naik turun menahan amarah.


Mawar terkekeh pelan. "Saya bahkan tidak mau disamakan dengan anda Nyonya. Saya masih dengan bangga, memperkenalkan ibu saya. Meski beliau hanya bekerja di toko kue." sindir Mawar.


Tentu saja Mawar tahu segalanya mengenai Nyonya Mesya. Semua informasi tersebut dia peroleh dari Tuan Dewanto. Mertua dari Nyonya Mesya sendiri.


"Kamu,,,!!! Saya pastikan, kamu akan hidup sengsara." ancam Nyonya Mesya.


"Saya tunggu kesengsaraan itu. Tapi saya rasa, saya tidak akan hidup sengsara. Karena saya bukan anak yang durhaka." ucap Mawar, dengan menakan kata yang terakhir.


Mawar tersenyum sinis. "Tenyata ada gunanya juga semua informasi yang diberikan oleh kakek Dewanto." batin Mawar.


"Lihat saja, sampai kapanpun saya tidak akan pernah memberi restu Jerome untuk menikah dengan perempuan macam kamu...!" seru Nyonya Mesya dengan amarah berkobar di hatinya, menunjuk ke arah wajah Mawar.


"Sayangnya Jerome tidak membutuhkan wali nikah untuk menikahi saya."

__ADS_1


Mawar malah semakin membuat Nyonya Mesya murka. "Apa anda dulu juga membawa wali nikah, saat menikah dengan Tuan Adipavi?" tanya Mawar tersenyum aneh.


Nyonya Mesya menggenggam telapak tangannya dengan kuat. "Brengsek. Sebaiknya jaga mulutmu..!!" geramnya.


Mawar meletakkan jarinya di depan bibirnya. "Saya akan jaga mulut dan lidah saya. Jika anda tidak membuka mulut anda juga."


Kedua sudut bibir Mawar terangkat sempurna ke atas. Tapi kedua matanya memandang lekat ke arah Nyonya Meysa, layaknya iblis yang sedang mengintai sasaran.


Nyonya Mesya segera meninggalkan Mawar yang tetap dengan senyum di bibirnya. Dada Nyonya Mesya bergemuruh hebat. Terlebih saat dia mengetahui, jika Mawar tahu semua masa lalunya.


Nyonya Mesya kembali menatap tajam ke arah Mawar, meski dirinya sudah berada di dalam mobil. Mawar melambaikan telapak tangannya saat mobil yang dinaiki Nyonya Mesya melaju meninggalkan butik.


Mawar tersenyum kecut dan mendesah lega karena Nyonya Mesya telah pergi. Mawar melihat ke arah kertas yang masih dia pegang. "Lumayan juga untuk membayar biaya sekolah beberapa bulan ke depan."


"Anal itu benar-benar berbahaya." batin Nyonya Mesya, meremas jari jemarinya.


"Aki harus segera berbuat sesuatu. Jangan sampai mulutnya berkoar-koar." lanjut Nyonya Mesya merencanakan sesuatu.


Santi dan Tia saling pandang. Jarak yang membuat mereka hanya bisa melihat apa yang terjadi, tanpa bisa mendengar percakapan Mawar dan perempuan tadi.


Tapi yang pasti, mereka melihat ketegangan di setiap percakapan Mawar dan perempuan tersebut.


"Benar dugaan gue. Perempuan itu sejenis dengan Dona." celetuk Santi.


"Kita harus hapal wajahnya. Siapa tahu dia kembali lagi." timpal Tia untuk bersikap waspada.


Santi mengangguk. "Benar, kelihatannya dia sangat membenci Mawar."


"Gue jadi penasaran. Siapa dia." tukas Tia Keduanya lantas segera meninggalkan tempat persembunyiannya dan pulang menuju kos mereka.


Ternyata buka hanya Santi dan Tia yang melihat kejadian tersebut. Ada beberapa pasang mata yang juga menikmati adegan yang diperlihatkan oleh Mawar. Dan keberanian Mawar menghadapi Nyonya Mesya.


Dami tersenyum, dengan tangan bersedekap di dada, menatap Mawar dari jendela ruang kerja Nyonya Utami. "Kamu memang layak diperjuangkan. Aku berharap, Jerome mampu menyingkirkan duri yang kamu sebarkan di sekitarmu sendiri." ucap Dami.


Di tempat lain, Jerome tersenyum lega dengan apa yang dia lihat dari video yang langsung dikirim oleh orangnya yang dia perintahkan untuk mengawasi Mawar dimanapun Mawar berada.


"Mawar ku. Akan tetap menjadi Mawar." ucap Jerome, bangga dengan apa yang dilakukan Mawar. Meski Mawar melawan sang mama.


Jerome tahu, jika semua bukan salah Mawar. Tapi sang mama. Dan Jerome bisa menebak siapa yang sebentar lagi akan menemuinya.


Tak jauh dari tempat Mawar berdiri. Seseorang juga merekam apa yang dilakukan Mawar barusan bersama Nyonya Mesya. Lalu dia kirimkan video tersebut pada seseorang yang menyuruhnya.


Sebab Mawar sendiri juga tidak menguasai ilmu bela diri. "Sebaiknya cek ini gue simpan. Siapa tahu akan berguna di kemudian hari." cicit Mawar.


Segera Mawar mencari angkot dan bergegas pulang ke rumah. "Pasti ibu sedang menunggu aku."


Senyum di bibir Mawar kembali terlihat, teringat dengan sang ibu. Di jalan, Mawar kembali teringat akan sang ayah. "Apa ayah tetap memperlakukan Caty dengan baik." gumam Mawar.


Padahal Mawar sudah mengatakan tentang kelicikan Caty di hadapan sang ayah. "Lebih baik aku tidak perlu memikirkannya. Mungkin itulah yang bisa membuat ayah bahagia."


Di negara lain, Deren sedang uring-uringan karena sang mama dan juga Jihan. Semenjak memutuskan untuk tinggal di sini. Deren merasa hidupnya tak lagi setenang sebelumnya.


"Mama...!!" geram Deren tertahan.


Sang mama baru saja menghubunginya. Menyuruhnya untuk berkunjung ke rumah Jihan. Mau tak mau, Deren hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh sang mama.


Sembari Deren memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Sebab, sudah dapat di pastikan dia akan terus ditekan untuk mendekati Jihan.


"Gue harus memikirkan cara, supaya mama dan papa tak lagi terlalu mengatur hidupku di sini."


"Pasti Jihan yang menyuruh mama." kesal Deren dengan tampang kesal.


"Maaf Tuan Muda,,, ini..."


"Letakkan saja di atas meja. Dan segera pergi." sela Deren pada pembantunya.


Sang pembantu melakukan apa yang diperintahkan oleh Deren. Dia bisa menebak dari ekspresi wajah Deren, jika majikannya tersebut sedang dalam masalah.


Dan sebaiknya dia segera pergi. Dari pada terkena imbas dari kemarahan sang majikan. Yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya.


"Ada apa?" tanya pembantu lainnya.


Dia menggeleng. "Tiba-tiba marah. Tahu kenapa." tukasnya sembari menggedikkan kedua pundaknya.


Baru saja dia ingin beranjak pergi, namun pembantu lainnya memanggil dirinya. "Tuan Muda memanggil kamu. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan ekspresi khawatir.


Lea menggeleng, sebab memang dia tidak tahu apa yang terjadi. "Sudah, cepat sana." pinta rekannya.


Segera Lea berlari lagi ke tempat di mana Deren berada. "Minuman apa ini?! Kamu mau meracuni saya?!" bentak Deren dengan raut wajah menakutkan.

__ADS_1


Tubuh Lea gemetar. Ini pertama kalinya Lea diperlakukan seperti ini. Lea menggeleng. "Maaf Tuan Muda. Itu minuman asli dari sari buah." cicit Lea membela diri.


Dirinya tadi berinisiatif untuk membuatkan Deren minuman dari sari buah asli. Namun hasilnya,


Deren memberikannya pada Lea. "Minum...!!" perintahnya.


Dengan tangan gemetar, Lea mengambil segelas air berwarna putih kekuning-kuningan tersebut. Lalu meminumnya hingga tandas.


"Jangan pernah membuat minuman seperti itu lagi." tekan Deren.


"Maaf Tuan Muda. Saya akan ambilkan minuman yang baru." tawar Lea.


"Tidak perlu. Kamu semakin membuatku kesal saja. Pergi!!" usir Deren.


Lea membawa nampan berisi gelas kosong ke belakang. "Ada apa Lea?" tanya rekannya yang lain, melihat nampan yang di bawa Lea.


"Cckkk,,, Tuan Muda tidak suka." tukas Lea.


"Kamu sih, diberitahu susah. Lain kali jangan membuat minuman seperti itu lagi. Jika kamu suka, buatlah untuk kamu sendiri. Jangan untuk orang lain." ujar pembantu lainnya.


Lea mengangguk lemah, dengan berat dia melangkahkan kakinya ke belakang. Memasang wajah memelas.


Semua pembantu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Lea.


"Lea,,, Lea." gumam pembantu lain.


Lea, gadis yang masih berusia lima belas tahun. Dan harus bekerja sebagai pembantu di kediaman Deren. Semua rekannya tidak ada yang mengetahui siapa Lea sebenarnya.


Sebab, Lea datang dan dipekerjakan oleh kepala pembantu di kediaman Deren. Dan pastinya dengan persetujuan kedua orang tua Deren.


Lea sendiri juga jarang membicarakan mengenai keluarganya. Jika saja ada rekan sesama pekerja yang menanyakan perihal keluarganya, Lea selalu mengalihkan topik pembicaraan.


Ponsel Deren berbunyi. Sebuah video masuk ke dalam ponselnya. Segera Deren melihat apa yang ada di dalam video tersebut.


Rahang Deren mengeras dengan kedua mata memerah menahan amarah. "Jerome..." geram Deren.


Video yang sedang di tonton oleh Deren adalah video yang memperlihatkan kejadian di pesta pernikahan Caty dengan Wiryo.


Juga dengan video dimana Jerome dan Mawar berangkat bersama ke sekolah menaiki mobil. Serta video Jerome membonceng Mawar menggunakan motor milik Luck.


Kedua mata Deren fokus memandang ke foto Mawar yang memakai gaun sederhana saat menghadiri pesta pernikahan sang ayah.


"Apa keputusanku ini salah." gumam Deren, mengusap layar ponselnya, dimana ada foto Mawar di sana.


"Kamu sangat cantik, Mawar." puji Deren.


Deren mendaratkan pantatnya dengan kasar di atas kursi. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa yang harus aku lakukan." lirihnya.


Tanpa Deren sadari, Lea melihatnya dari arah lain. "Kasihan sekali Tuan Muda. Sepertinya dia sedang mempunyai masalah." cicit Lea.


"Cckk,,,, hah... kenapa aku harus merasa kasihan. Bahkan hidupku jauh lebih buruk darinya." keluh Lea, segera meninggalkan tempatnya berdiri. Sebelum di temukan oleh Deren, dan akan menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri.


Dengan langkah gontai, Deren menaiki anak tangga. Dan dia berpapasan dengan Lea. Kejadian yang sama sekali tidak direncana dan tak terduga melibatkan keduanya.


"Astaga...!!" seru Lea, saat tangannya yang penuh dengan cucian kotor berhamburan karena dia tertabrak oleh tubuh Deren.


Beruntung Deren dengan sigap dan cepat menangkap tubuh Lea. Sehingga tidak sampai jatuh berguling dari tangga.


Semua pembantu melongo dan was-was melihat kejadian di depan mereka. "Lea." geram kepala pembantu di rumah Deren.


Lea menelan ludahnya dengan sulit. Dia segera memundurkan badannya saat tangan Deren terlepas dari pinggangnya.


Salah satu baju kotor jatuh tepat di kepala Deren. Menutupi kepala hingga wajah Deren. Dengan sekali tarik, baju tersebut berada di tangan Deren.


Deren menatap Lea dengan tatapan seperti ingin menguliti Lea hidup-hidup. "Kamu..!!!" geram Deren, dengan tangan meremas baju di tangannya.


"Ma-maaf,,,, Tuan Muda." cicit Lea dengan gugup dan takut.


Segera kepala pembantu datang, dan mengambil alih semuanya. "Lea, cepat ambil semua bajunya dan bawa ke belakang." perintahnya segera.


Segera Lea melakukan apa yang dikatakan kepala pembantu. "Maafkan kelalaian Lea, Tuan Muda." tutur kepala pembantu.


Deren melempar baju di tangannya dengan kasar. Meninggalkan mereka tanpa berbicara katapun. "Apa yang kamu lakukan Lea??!" kesal kepala pembantu.


"Lea tidak melihat ada Tuan Muda di depan Lea." cicit Lea.


"Hah,,, lain kali berhati-hatilah. Sudah dua kali kamu melakukan kesalahan." ucapnya mengingatkan Lea.


Lea mengangguk lemah. Sungguh, hari yang mendebarkan. Padahal dirinya sama sekali tidak ingin membuat kesalahan. "Jangan sampai aku dipecat." cicitnya.

__ADS_1


"Makanya, bekerja yang benar." timpal rekan Lea, sesama pembantu.


__ADS_2