MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 125


__ADS_3

Mawar dan Jerome berdiam diri di dalam mobil. Saat ini, mereka berada di depan toko kue milik papanya Gaby.


Beberapa kali Jerome menatap ke arah Mawar, yang sedang menatap ke toko kue. Dimana terlihat jelas, sang ibu sedang duduk semeja bersama dengan Gaby dan Djorgi.


Hari ini, hari terakhir Mawar melaksanakan ujian kenaikan kelas. Dirinya tahu, jika sang ibu masuk pagi. Dan akan pulang saat sore hari.


Tapi siapa yang akan menyangka, Mawar melihat pemandangan yang sebenarnya sama sekali tidak ingin Mawar lihat. Apalagi terlihat Gaby tersenyum ke arah sang ibu. Dan Mawar, seakan bisa membaca situasi yang terjadi di dalam toko.


Mawar sengaja menyuruh Jerome untuk mengantarkannya ke toko kue di mana bu Lina bekerja. Mawar akan menunggu sang ibu bekerja.


Pulang bersama, berjalan kaki berdua. Dan berbincang di sepanjang jalan. Bukankah begitu hangat.


Mawar juga ingin mengajak sang ibu pergi ke toko untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Cukup lama mereka tidak pernah melakukannya. Pergi berdua. Walau hanya sekedar berbelanja. Tapi Mawar sangat menyukainya.


Dan hari ini, Mawar ingin melakukannya. Karena hari esok, dirinya akan kembali bekerja. Dan sudah dipastikan akan pulang malam. Sehingga tidak akan ada waktu lagi untuk Mawar melakukan hal tersebut.


Jerome sendiri bingung, harus melakukan apa. Mengajak Mawar turun, masuk ke dalam toko dan menghampiri mereka. Atau mengajak Mawar meninggalkan tempat di mana mereka berada saat ini.


Sementara Mawar tetap fokus ke toko kue yang tak jauh dari Jerome memarkirkan mobilnya. Tak ada ekspresi apapun di raut wajah Mawar. Datar.


Mawar tersenyum kecut. "Jalan kak. Sepertinya Mawar tidak jadi bertemu dengan ibu." ucap Mawar, memandang ke arah Jerome dengan senyum manis di bibir.


Jerome segera melajukan mobilnya. Dan tak lagi menatap wajah Mawar yang tersenyum begitu cantik. Entah kenapa, dada Jerome terasa sesak melihat senyum Mawar.


Ada perasaan yang tak dapat di jabarkan oleh Jerome. Dan Jerome yakin, jika senyum manis di bibir Mawar hanyalah senyum palsu. Senyum penutup luka di hatinya.


"Bagaimana kalau kamu ikut aku saja." tawar Jerome menatap Mawar sekilas.


"Kemana?" tanya Mawar dengan ceria, seolah tanpa beban. Dan hal tersebut malah semakin membuat Jerome semakin merasa bersalah.


Padahal Jerome tidak melakukan apapun. Tapi Jerome merasa gagal melindungi Mawar.


"Aku ada tempat yang bagus. Pokoknya kamu pasti senang." papar Jerome tanpa menatap ke arah Mawar, dirinya tak akan sanggup jika melihat senyum Mawar. Meski terlihat manis, tapi tidak dengan kenyataannya.


Mawar mengangguk. "Baik. Bawa Mawar kemana saja." tukas Mawar.


Deg.... Baru kali ini Jerome merasa paru-parunya terasa dihimpit oleh dua batu besar. Sangat sesak, hanya untuk bernafas. Seakan rongga di dadanya mengecil.


Jerome mencoba menguasai dirinya. Dirinya harus bersikap seperti Mawar. Seakan semua baik-baik saja.


Selama perjalanan yang memakan hingga tiga puluh menit, tak ada percakapan diantara Jerome dan Mawar. Seolah mereka sibuk dengan pikiran yang ada di benak masing-masing.


Jerome fokus menatap ke depan sembari menyetir. Meski beberapa kali Jerome mencuri pandang ke arah Mawar yang menatap ke samping. Seolah Mawar sedang menghitung banyaknya pohon yang berjejer rapi di pinggir jalan.


"Indah sekali." cicit Mawar. Merentangkan kedua tangannya di bawah pohon. Sebab matahari masih terik.


Mawar merasakan hembusan angin yang terbawa oleh ombak. Menerpa wajahnya. Hingga rambutnya yang terurai terbang tak beraturan.


Mawar melihat ke sekelilingnya. Hanya ada beberapa orang saja. "Tapi kok sepi ya." cicit Mawar yang masih memakai seragam sekolah.


"Lebih enak seperti ini. Tidak rame." Jerome duduk di samping Mawar yang berdiri.


"Kak Jerome, nanti basah low." ucap Mawar mengingatkan Jerome, seraya menggelung asal rambutnya.


Pasalnya mereka tidak ada niat untuk ke sini, dan pastinya mereka juga tidak membawa baju ganti. Sebab sama sekali tidak ada persiapan.


"Tidak apa. Tinggal beli baju." ucap Jerome dengan santai.


Jerome menepuk tempat di sampingnya. Menyuruh Mawar duduk di atas pasir, di sebelahnya. "Orang kaya mah bebas. Uang banyak." cicit Mawar.


"Bukankah kamu juga punya banyak uang. Cairkan saja cek yang mama aku berikan." saran Jerome.


Mawar memandang ke arah Jerome. "Astaga, kenapa Mawar bisa lupa ya." Mawar menepuk pelan dahinya sendiri.


Jerome terkekeh pelan. "Apa masih bisa?" tanya Mawar.


Cek itu diberikan Nyonya Mesya sekitar seminggu yang lalu. Mawar takut, cek tersebut memiliki masa kadaluarsa.


"Bisa. Kapan saja kamu mau."


"Benarkan?"


Jerome mengangguk. "Jika kamu ingin lebih banyak, aku bisa menambahkan nol di belakangnya." gurau Jerome, namun serius.


Mawar tertawa lepas. "Dermawan sekali tuan muda kaya di depanku ini."


Ucapan Mawar membuat Jerome tertawa lepas. "Tampan sekali." batin Mawar. Segera Mawar membuang pikirannya yang selalu memuji kesempurnaan wajah Jerome.


Mawar mengikuti arah tangan Jerome yang menepuk tempat di sebelahnya. "Kak Jerome sering ke sini?"


"Tidak. Hanya beberapa kali. Bersama kakek."

__ADS_1


"Kakek. Bagaimana kabar kakek. Setelah pesta itu, Mawar tak lagi berjumpa dengan kakek."


"Baik. Mungkin sekarang kakek sedang berada di laur negeri."


"Urusan pekerjaan?"


"Bukan. Hanya jalan-jalan. Jika pekerjaan, aku dan papa yang menangani semuanya. Kakek sudah terlalu tua untuk memusingkan masalah pekerjaan."


Mawar mengangguk. Membenarkan ucapan Jerome. Memang sebaiknya, orang yang sudah berumur seperti kakek Dewanto sudah waktunya pensiun dari pekerjaan.


Dan lebih mementingkan untuk menyenangkan diri dan lebih bersantai di hari tua. Menikmati apa yang dia kerjakan saat dia masih muda.


Suasana kembali hening. Hanya terdengar deburan ombak. Dan juga kicauan suara burung. Jerome menengok, menatap Mawar yang memandang jauh ke depan.


"Jika kamu mau, aku bisa mencari tahu." tawar Jerome, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Mawar.


Mawar tersenyum. Menghela nafas dalam-dalam, menghembuskannya secara perlahan. "Tidak perlu." sahut Mawar, terdiam sesaat.


Kemudian melanjutkan kalimatnya. "Mawar akan memiliki keluarga baru. Bukankah hal yang membahagiakan." ucap Mawar tersenyum miris.


Jerome menatap lamat-lamat ke arah Mawar. Dirinya tidak menyangka akan mendengar hal tersebut dari Mawar. Dan Mawar, dia tahu dari mana.


"Jangan asal bicara. Siapa tahu mereka hanya berbincang ringan." ucap Jerome mencoba menepis ucapan Mawar. Seolah apa yang ada di benak Mawar tidak akan terjadi.


Mawar terkekeh pelan. "Mawar bukan anak TK. Yang tidak tahu apapun. Mawar tahu semuanya."


Mawar menatap ke arah Jerome. Keduanya saling bersitatap. Mawar dengan senyum di bibir, Jerome menatap dengan tatapan datar.


Jerome membawa tubuh Mawar dalam pelukannya. "Jangan dipendam sendiri. Aku akan ada saat kamu membutuhkanku."


Setetes air mata Mawar jatuh dari kelopak matanya. "Tidak, jangan. Kamu harus berdiri dengan kakimu sendiri. Jangan pernah bergantung pada orang lain." ucap Mawar dalam hati.


Mawar tahu bagaimana rasanya sakit karena kecewa dan dikhianati. Mawar tahu bagaimana rasanya, saat dirinya butuh, tapi tidak ada tangan yang terulur sama sekali.


Mawar tetap menyebarkan duri di sekitarnya. "Jangan pernah menjadi beban orang lain. Jangan jadikan hidupmu seperti parasit." lanjut Mawar, dengan teguh.


Mawar mengurai pelukan yang Jerome berikan. Meski pelukan tersebut terasa nyaman dan hangat. Tapi Mawar tidak ingin terlalu terbuai. Hingga dirinya lupa cara berpijak di tanah.


Mawar tersenyum sempurna. "Kak Jerome tenang saja. Setiap manusia hidup pasti punya masalah. Begitu juga dengan Mawar. Tidak perlu khawatir. Mawar pasti akan bisa menghadapinya."


Jerome tidak menyangka, dirinya sama sekali tidak melihat air mata Mawar. Setetespun. Jerome menarik nafas perlahan. "Sepertinya, hati Mawar telah membeku." ucap Jerome dalam hati.


"Tapi aku tidak akan mundur secentipun. Aku akan tetap masuk ke dalam hatinya. Mencairkan es di dalam hatinya. Hanya untuk aku." ucap Jerome dalam hati dengan keyakinan.


Mawar mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih." cicit Mawar.


Jerome sadar, dirinya tak boleh egoie. Bukan saatnya Jerome mementingkan diri sendiri, dan menghabiskan waktu berdua dengan Mawar.


Saat ini Mawar membutuhkan sesuatu yang dapat menghibur hatinya. Dan dia memutuskan untuk menghubungi Mira dan Selly, serta Tian dan Luck.


Jerome mengatakan kepada mereka berempat untuk menyusul ke tempat dimana Mawar dan dirinya sekarang berada.


Mawar membelalakkan kedua matanya dengan tidak percaya. Keempat orang yang dikenalnya berlari ke arah dirinya dan Jerome. "Mereka." gumam Mawar.


Mawar menoleh ke arah Jerome yang menatapnya dengan senyum penuh sayang. "Kak Jerome yang menyuruh mereka ke sini?"


Jerome mengangguk. "Nggak asik berdua. Bukankah akan lebih asik jika rame." tukas Jerome.


Spontan, Mawar memeluk tubuh Jerome. Seketika Jerome membeku, dirinya tidak menyangka akan mendapatkannya dari Mawar.


Hanya sebuah pelukan. Tapi sangat berarti untuk Jerome. "Makasih kak." ucap Mawar, mengurai pelukannya.


Jerome mengelus pucuk kepala Mawar. "Apapun untuk kamu."


Mereka berenam bermain di tepi pantai. Tapi, sebelumnya Mawar berganti pakaian yang telah dibawakan oleh Mira dan Selly untuknya. Meski bukan milik Mawar sendiri. Tapi pakaian milik Selly. Sedangkan **********, mereka membelikan yang baru.


Senyum di bibir Mawar tidak pernah lepas. Dirinya bermain dengan Mira dan Selly. Seolah ketiganya adalah anak kecil. Berlarian di tepi pantai tanpa lelah.


Jerome dan Luck, serta Tian duduk melihat ketiganya. "Apa yang terjadi?" tanya Luck.


"Sepertinya Gaby benar-benar ingin menghancurkan Mawar." ucap Jerome.


Jerome menceritakan semua yang dilihat di toko kue milik Djorgi. Serta apa yang Mawar katakan. "Brengsek. Benar-benar, ternyata dia lebih berbahaya dari Dona." tukas Luck memukul pasir di sampingnya.


"Elo harus menyuruh orang elo untuk lebih fokus dan waspada menjaga Mawar. Gue yakin, Gaby lebih nekat dari Dona." saran Tian.


"Gue rasa, elo harus menambah orang. Untuk mengawasi Gaby juga. Jangan sampai Gaby melakukan hal yang membahayakan Mawar."


"Sudah gue lakukan." pandangan Jerome tak lepas dari Mawar yang sedang tertawa bersama kedua tekannya.


Luck menepuk pelan pundak Jerome. "Gue bangga sama elo. Elo sama sekali nggak egois." papar Luck.

__ADS_1


"Gue sadar, saat ini, yang dibutuhkan Mawar bukan gue. Tapi sesuatu yang busa membuatnya melupakan masalahnya. Meski sejenak. Dan itu hanya ada pada Mira dan Selly." tutur Jerome.


Mawar, dan kedua temannya berjalan menuju ke arah Jerome dan Luck, serta Tian dengan pakaian basah. "Lapar." cicit Mawar, menjatuhkan badannya di depan Jerome, juga dengan Mira dan Selly.


Ketiga hadis tersebut tampak terengah-engah karena kelelahan. Jerome tersenyum, melihat ekspresi Mawar yang lucu.


"Bersihkan badan kalian dulu. Lalu kita cari makan." tutur Jerome.


Mawar mengangguk. "Di sini tidak ada ikan bakar. Kelihatannya enak." tutur Selly.


"Ada, nanti kita cari." sahut Luck.


Sejak kejadian di wahana bermain, Luck lebih bersikap lembut terhadap Selly. Sedangkan Selly merasa tak enak hati, saat menatap wajah Luck. Ada rasa aneh yang dia rasakan saat menatap wajah Luck. Dan Selly tak tahu apa itu.


Wajah Mawar pucat. "Dingin." Mawar memeluk tubuhnya sendiri.


"Mau dipeluk?" tawar Jerome.


"Cie.... Mawar,,,, ada yang mau menghangatkan tuh, gratis." celetuk Selly.


"Ayo Mawar, kalau elo nggak mau, gue aja." timpal Mira.


"Aaww... Apaan sih kak." keluh Mira, saat Tian memukul lengannya.


"Genit." ledek Tian.


"Biarin. Orang genitnya sama yang tampan." Mira memainkan kedua matanya saat menatap Jerome.


"Sudah,,, sudah,, kita bersihkan badan dulu. Laper." sela Mawar.


"Cie... Mawar cemburu." goda Mira.


Mawar memukul Mira dengan kuat. "Mulutnya....!!" seru Mawar.


Semuanya berdiri dengan tawa terdengar merdu. Sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mereka saling goda. Sehingga suasana terasa hangat.


Selesai membersihkan badan, mereka mencari tempat makan terdekat. "Mawar, elo sudah memberitahu ibu, kalau elo pulang malam?" tanya Mira, mengingatkan.


"Sudah." sahut Mawar.


"Aa,,,, besok kita udah bebas. Dan Mawar belum." celetuk Selly.


Mereka berbincang sembari menunggu makanan. Ketiga perempuan selalu mempunyai topik obrolan, sementara ketiga lelaki hanya diam, dam terkadang menyahuti ucapan mereka.


"Apa sih?" tanya Mawar dengan ekspresi judas, tapi malah terlihat begitu cantik.


Mira mencolek dagu Mawar. "Pura-pura lupa. Elo harus latihan drama sama kak Jerome." ucap Mira mengingatkan.


"Kamu pikir aku pikun. Ya enggaklah. Wlekkk..." Mawar menjulurkan lidahnya ke arah Mira.


"Tahu. Pasti kamu sudah menantikannyakan." goda Mira.


"Astaga. Jangan di dengarkan kak. Mulut Mira memang rusak." ucap Mawar dengan sengit.


Tapi Mira malah tertawa lepas. Begitu juga dengan yang lain.


Jerome hanya tersenyum. Pandangannya sama sekali tak pernah pindah dari Mawar. Hanya Mawar, yang ada di mata Jerome.


Makanan yang mereka pesan datang. "Tunggu!!" seru Selly, saat Mawar hendak mengambil makanan dan menaruhnya di piring.


Selly berdiri. Meminta tolong pada pelayan untuk memfoto mereka berenam. "Sebentar. Mawar,,, kak Jerome,,,, kalian saling mendekat. Ayo.." pinta Selly bagaikan seorang fotographer, yang sedang memaksakan kehendaknya.


Mawar hanya diam. Tidak dengan Jerome, dia segera menggeser duduknya. Dan berada dekat dengan Mawar. Bahkan, tangan Jerome melingkar di pundak Mawar. Dan Mawar sama sekali tidak protes.


"Selesai." ucap Selly, langsung mengunggah fotonya di akun sosmed miliknya.


"Waktunya makan...!!" sahut Mira.


Mawar hanya menggeleng kepala. Dirinya tahu tujuan Selly melakukan itu. "Teman kamu memang jahil ya." lirih Jerome, juga tahu tujuan Selly mengunggah foto mereka di sosmed.


"Banget." sahut Mawar.


Mereka makan dengan lahap. Terlihat beberapa kali Jerome menyisihkan duri ikan panggang dari dagingnya. Lalu ditaruh di atas piring Mawar.


Mawar hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Mira dan Selly yang melihatnya tampak tersenyum bahagia. "Semoga kak Jerome benar-benar tulus sama Mawar." ucap Selly dalam hati.


Semua makanan di atas habis tak tersisa. "Kalian mau tambah lagi?" tanya Tian.


"Nggakkk...!!" seru Mawar dan kedua temannya. Disusul tawa Jerome dan kedua temannya.


"Pasti takut gendut." tebak Tian.

__ADS_1


"Benar...." seru ketiga gadis tersebut bersamaan kembali.


Rencana Jerome berjalan dengan lancar. Jerome begitu senang. Setidaknya, apa yang dilakukan bisa membuat Mawar melupakan kesedihannya. Meski hanya sesaat.


__ADS_2