MAWAR BERDURI

MAWAR BERDURI
BAB 160


__ADS_3

Djorgi tidak mengulur waktu terlalu lama. Dia mengatakan pada Gaby jika dia akan pergi ke luar negeri, tentu saja dengan alasan untuk urusan bisnis.


Tapi hukuman Gaby masih terus berlanjut, meski dirinya tak ada di rumah. "Pa, Gaby tersiksa. Seharusnya papa mencarikan Gaby sekolah yang baru. Bukan malah menghukum Gaby seperti ini." keluh Gaby, memprotes apa yang diputuskan oleh sang papa.


"Jangan banyak memprotes. Harusnya kamu bisa intropeksi diri. Bukan malah kebanyakan mengeluh." tegur Tuan Djorgi.


"Papa akan memantau setiap tindakan kamu dari ponsel. Dan kalian, jangan membantu Gaby. Paham." ucap Djorgi pada sang putri, juga semua orang yang bekerja di rumahnya.


"Baik Tuan." tentu saja mereka merasa senang. Dengan Gaby mendapatkan hukuman seperti itu, Gaby tak lagi selalu merepotkan mereka dengan segala kemauannya yang super duper ribet.


"Oke. Gaby ikuti dan jalani hukuman papa. Dengan satu syarat. Kembalikan semua fasilitas Gaby. Dan biarkan Gaby untuk keluar dari rumah." ujar Gaby.


"Kamu sedang di hukum. Jangan pernah meminta untuk tawar menawar. Jika kamu ingin keluar dari rumah. Silahkan. Tapi ingat. Jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi di rumah ini. Mengerti." bentak Djorgi tak main-main.


Djorgi juga sudah membicarakan semuanya dengan kedua orang tuanya. Cara dia menghukum Gaby. Dan keduanya mengatakan memang itu yang terbaik.


Djorgi juga meminta pendapat pada mereka berdua, perihal saran yang diberikan Lina. Untuk menemui mama Gaby.


Lagi-lagi, kedua orang tua Djorgi setuju. Keduanya juga angkat tangan, mereka sungguh tidak sanggup jika Djorgi ingin menitipkan Gaby kepada mereka. Sebab, semua sudah sangat terlambat.


Apa yang dilakukan Gaby sudah diluar batas. Dan sudah saatnya Djorgi bertindak tegas. Sebab, bila dibiarkan, niscaya Gaby akan semakin tidak terkendali. Apalagi usia Gaby yang sudah menginjak dewasa.


Dan semua akan mempengaruhi masa depan Gaby. Dan tentu saja mereka berdua sebagai kakek dan nenek dari Gaby, tidak menginginkan masa depan Gaby akan berantakan.


Apalagi, suatu saat pasti Gaby juga akan berkeluarga. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk Gaby.


"Astaga papa....!!!" teriak Gaby, saat sang papa meninggalkan dirinya di ruang tengah.


Segera semua pembantu membuyarkan diri. Mereka tidak ingin terkena imbas akan kemarahan Gaby yang jelas-jelas salah Gaby sendiri.


"Siapa sebenarnya yang meracuni pikiran papa. Brengsek...!!" umpat Gaby.


Gaby tetap tidak percaya, jika sang papa bertindak untuk menghukum dirinya sejauh ini. "Jika ini semua karena Lina, lihat saja. Gue nggak akan melepaskan dia. Lina. Elo salah mencari lawan." geram Gaby.


Djorgi segera pergi ke rumah mantan istrinya. Seperti yang Lina sarankan, Djorgi menemui suaminya terlebih dahulu.


Djorgi tidak ingin terjadi kesalahpahaman. Dan membuat tujuannya mendatangi mereka akan gagal. Dan semua malah akan semakin rumit.


Djorgi mendatangi tempat kerja suami dari mantan istrinya. Menceritakan semua yang terjadi pada Gaby. Dan juga tujuannya datang ke rumah mereka.


"Astaga. Kenapa Gaby jadi tidak terkendali?" tanya Robert, suami dari Yumi. Mantan istri Djorgi.


"Mungkin semua adalah salah saya. Gaby terlalu saya menjalan dengan uang. Semua yang dia inginkan selalu terpenuhi." sesal Djorgi.


Robert menepuk punggung Djorgi dengan pelan. Dia sadar. Tak mudah membesarkan sendiri seorang anak. Meski ada pembantu yang membantu Djorgi mengawasi Gaby. Namun, tetap saja berbeda.


"Kami juga minta maaf. Kami sama sekali tidak pernah menjenguk Gaby. Maafkan kami." ujar Robert merasa bersalah.


Secara tidak langsung, Robert mengakui, jika apa yang terjadi pada Gaby juga karena mereka. Dirinya dan juga sang istri yang tidak pernah menjenguknya.


Djorgi tersenyum. "Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang meminta maaf, sama sekali tidak pernah menanyakan kabar kalian di sini." papar Djorgi.


Sekarang Djorgi tahu, kenapa mantan istrinya tidak pernah menemui sang putri. Apalagi jika bukan terkendala ekonomi.


Apalagi, setelah bercerai dengan Djorgi, Yumi tak lagi dianggap sebagai anak dari kedua orang tuanya. Itulah kenapa Yumi memutuskan untuk mengikuti kemanapun sang suami tinggal.


Pekerjaan suami dari Yumi adalah seorang karyawan di sebuah pabrik. Dan Djorgi tahu, gaji yang didapatkannya pasti tak seberapa.


Robert meminta Djorgi untuk mendatangi rumahnya dahulu. Menemui Yumi, dan membicarakan tentang Gaby. Tapi Djorgi menolak. Djorgi memutuskan untuk pergi ke rumah Robert, bersama dengan Robert.


Yang artinya, Djorgi akan menunggu hingga jam kerja Robert selesai. Itu semua Djorgi lakukan supaya semuanya lebih mudah dan dirinya juga akan nyaman berbicara dengan Yumi, sang mantan istri.


Djorgi pergi ke rumah Robert dengan sang sopir. Tentunya bersama dengan Robert. Keduanya duduk di kursi belakang. "Kamu bekerja naik bus?" tanya Djorgi.


"Taksi sangat mahal." sahut Robert disertai kekehan kecil, mengatakan kenapa dia tidak naik taksi.


Djorgi mengangguk. "Benar juga."


"Berapa putra kalian?" tanya Djorgi.


"Dua. Satu perempuan, dan satu laki-laki." jelas Robert.


"Pak, itu rumah saya." Robert menunjuk ke arah sebuah rumah yang sederhana. Dengan halaman yang cukup sempit. Bahkan untuk memarkirkan mobilnya, sang sopir harus menggunakan sedikit bahu jalan.


"Silahkan." ajak Robert, mempersilahkan Djorgi untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Meski kecil, rumah Robert nampak bersih dan tertata rapi. Sangat nyaman di pandang mata. "Rumah kami sangat kecil. Tidak seperti rumah anda." tukas Robert, mengetahui jika Djorgi sedang melihat-lihat rumahnya.


"Tidak masalah. Terlihat adem dan menyenangkan." sahut Djorgi tersenyum tulus.


Keduanya masih asyik berbincang di depan rumah. Pintu rumah terbuka dari dalam. "Papi..." teriak seorang anak lelaki berusia delapan tahun.


"Sayang,,, Romi,,,, sini." panggilnya.


Djorgi tersenyum menatap anak lelaki yang baru saja keluar dari rumah. "Dia uncle Djorgi." tukas Robert, memperkenalkan tamunya pada sang anak.


Romo mengulurkan tangannya. "Romi,,, uncle." ucapnya memperkenalkan diri.


Djorgi segera menyambut uluran tangan bocah berusia delapan tahun tersebut. "Djorgi." sahut Djorgi, mengelus kepala Romi.


"Mami ada?" tanya Robert.


Romo mengangguk. "Mami ada di dalam bersama Misca." jelasnya.


"Misca. Dia putri pertama kami. Usianya dua belas tahun." jelas Robert pada Djorgi.


"Mari kita masuk." ajak Robert. "Romi, katakan pada mami, ada tamu untuk mami." pintanya, dengan memukul gemas pantat putranya yang berusia delapan tahun tersebut.


"Papi... Jangan lakukan lagi. Romi sudah dewasa." serunya marah.


Robert mengangkat kedua tangannya ke atas. "Maaf,,,, papa lupa." tutur Robert dengan santai.


"Lupa. Setiap hari lupa. Tidak masuk akal." ketus Romi sembari berjalan lebih dulu.


Djorgi dan Robert tertawa mendengar apa yang diucapkan Romi. "Putra kamu sangat lucu." papar Djorgi.


Robert mengajak Djorgi duduk di ruang tamu. Sedangkan di belakang, Yumi yang sedang berbenah bersama dengan putri bungsunya, langsung menghentikan kegiatannya.


Manakala sang putra mengatakan ada tamu gang datang bersama sang papi. "Siapa tamunya sayang, kamu kenal?" tanyanya dengan lembut, sembari membersihkan tangannya yang kotor dengan air mengalir.


Bukan tanpa alasan Yumi bertanya seperti itu. Sebab, biasanya teman kerja sang suami memang sering berkunjung ke rumah mereka. Dan kedua anaknya juga mengenal mereka.


Romi menggeleng. "Sepertinya dia bukan teman papi." jelas Tomi, sebab Djorgi tidak memakai seragam kerja layaknya sang papi, serta beberapa teman papinya yang saat mereka datang ke rumah mereka.


Yumi mengeringkan tangannya yang basah menggunakan kain lap bersih. "Djorgi. Namanya uncle Djorgi." jelas Romi, mampu membuat tubuh Yumi membeku seketika.


Yumi menatap ke arah sang putra. "Sendirian?"


"Baik mi." sahut Misca. Segera berdiri dan membuatkan minuman, tanpa banyak bertanya.


"Untuk apa Djorgi ke sini. Tanpa membawa Gaby." ucap Yumi dalam hati. Yumi yakin, jika tamunya yang bernama Djorgi adalah mantan suaminya. Papa dari putri pertamanya, Gaby.


"Itu Yumi..." Robert tersenyum, melihat Yumi mendatangi mereka dengan senyum.


Djorgi terkejut, dengan penampilan Yumi sekarang. Cukup berbeda jauh dengan penampilan Yumi yang dahulu. Sederhana tapi tetap cantik.


Segera Djorgi berdiri, saat Yumi mendekat. Keduanya saling berjabat tangan. "Apa kabar, Djorgi?" tanya Yumi, lalu duduk di samping sang suami.


"Cukup baik." sahut Djorgi. "Kamu sendiri?" tanya Djorgi.


"Iya, seperti inilah." cicit Yumi tersenyum.


"Aku kira Gaby sudah mempunyai mama baru." canda Yumi.


Djorgi tersenyum simpul. "Sangat sulit mendapatkannya." papar Djorgi berkata jujur.


"Kami do'akan, semoga dia membuka hati untuk kamu."


"Terimakasih. Semoga saja."


"Gaby tidak ikut?" tanya Yumi.


Djorgi dan Robert saling berpandangan sejenak. "Apa ada sesuatu?" Yumi merasa ada masalah dengan sang putri yang dia tinggalkan sejak kecil. Sehingga Djorgi datang padanya.


Seorang gadis manis datang, membawa nampan dengan tiga gelas air minum di atasnya. "Dia Misca." tebak Djorgi.


"Iya benar. Putri kami yang pertama." jelas Robert.


Misca mengulurkan tangannya pada Djorgi. "Misca,,, uncle." ujar Misca memperkenalkan diri.


"Djorgi." sahut Djorgi, menyebutkan namanya.

__ADS_1


Misca kembali ke belakang, sebab dia tahu. Jika mereka para orang dewasa akan berbincang serius. "Kalian hebat dalam mendidik anak. Tidak seperti aku." ucap Djorgi getir, dengan tersenyum pahit.


"Jangan bicara seperti itu. Jika aku menjadi kamu, belum tentu aku akan mampu lebih baik dari kamu." tukas Robert, tak ingin Djorgi merasa bersalah.


"Djorgi, ada apa?" tanya Yumi, dengan raut khawatir.


"Saya datang ke sini, juga atas saran perempuan yang saya cintai. Dia yang menyarankan semuanya." ungkap Djorgi mulai berbicara.


Djorgi menceritakan semua masalah yang menimpa serta masalah hang ditimbulkan oleh Gaby. Terlihat Yumi meneteskan air mata ke pipi, dengan raut wajah sedih. "Maaf, ini semua salahku." cicit Yumi.


Robert mengelus punggung sang istri. "Jangan menyalahkan diri. Kita harus memperbaiki dan mengarahkan Gaby untuk lebih baik." tutur Robert.


Yumi mengangguk pelan. "Pasti dia perempuan yang sangat hebat. Mempunyai pemikiran seperti itu." puji Yumi, pada Lina.


Djorgi hanya tersenyum. "Lalu, siapa Mawar?" tanya Yumi. Sebab dalam penjelasan mantan suaminya, tampak Gaby sangat membenci gadis yang bernama Mawar.


"Dia putri dari Lina." ungkap Djorgi.


"Astaga." Yumi menutup mulutnya tak percaya. Bahkan, Gaby mempunyai niat untuk mencelakai Mawar dengan mempersatukan sang papa dan ibu dari Mawar.


"Itulah kenapa saya ke sini. Say ingin meminta saran. Apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar pusing dan bingung harus berbuat apa. Gaby sudah sangat tidak terkendali." tukas Djorgi.


Yumi dan Robert saling pandang. Sebab, biar bagaimanapun Gaby adalah anak mereka juga. Dan mereka tidak bisa lepas tangan begitu saja. Setelah mendengar semua apa yang dikatakan oleh Djorgi.


Tanpa ketiganya ketahui, Misca dan Romi mencuri dengar pembicaraan mereka. Dengan pelan, mereka meninggalkan tempat mereka menguping.


"Jahat sekali dia." lirih Romi, menilai Gaby.


Misca mengangguk. "Tapi dia kakak kita. Meski kakak tiri."


"Iya juga sih." sahut Romi mencebik tak suka.


"Ternyata uang memang menakutkan." cicit Misca.


"Benar. Aku tidak ingin jadi orang kaya." timpal Romi dengan polos.


"Alah bohong,,,, setiap jari saja kamu selalu meminta uang." celetuk Misca.


Romi hanya tersenyum, memarkan deretan giginya yang bersih dan rata. "Kira-kira, apa yang akan dilakukan mami dan papi, serta uncle Djorgi." tanya Romi penasaran.


Misca mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Apapun keputusan mereka, aku akan mendukungnya. Karena mungkin, itulah yang terbaik." tutur Misca dengan bijak.


"Bagaimana jika Gaby dibawa ke sini. Dan kita akan tinggal dengan perempuan jahat itu." ucap Romi tiba-tiba.


Misca seketika terdiam. Apa yang dikatakan sang adik memang bisa terjadi. Meski kemungkinannya sangat kecil.


Misca menggeleng. "Jangan sampai. Kehidupan damai kita akan terusik, jika dia datang ke sini." tukas Misca, yang mendapat anggukan dari Romi.


Di ruang tamu, Yumi berkali-kali meminta maaf, karena meninggalkan Gaby begitu saja. "Sungguh,aku sangat menyesal." cicit Yumi.


"Sebenarnya, saat itu Yumi ingin mengambil Gaby dari tangan kamu. Dan membawanya hidup bersama kita. Tapi aku yang melarangnya." tutur Robert.


Robert menghela nafas panjang. "Kehidupan kami kacau. Aku dan Yumi harus bekerja keras mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Bahkan, kami menunda untuk memiliki momongan sebelum kami mempunyai rumah. Meski hanya sebuah rumah kecil."


"Saat itu, rumah kami belum sebagus ini. Ya,,, meski sekarang juga tidak terlalu bagus." kelakar Robert.


Djorgi tersenyum mendengar ucapan Robert. "Aku takut, Gaby tidak akan terurus, jika dia ikut bersama kami saat itu. Aku takut, Gaby akan terlantar."


Sekarang Djorgi mengerti mengapa Yumi tidak pernah menjenguk Gaby di negara mereka. Dan hanya berkirim pesan. Itupun selalu Gaby acuhkan.


"Sebaiknya kamu tinggal di rumah kami saja. Biarkan Misca tidur dengan Romi. Kamu bisa menggunakan kamar Misca." saran Robert.


"Tidak perlu. Aku sudah memesan hotel yang tak jauh dari sini. Besok, aku akan kembali lagi, membicarakan masalah Gaby." papar Djorgi.


Djorgi tidak ingin merepotkan keluarga mantan istrinya tersebut. Apalagi sampai menggunakan kamar putri mereka.


Djorgi melihat, kehidupan Yumi yang sekarang memang sangat sederhana. Berbanding terbalik dengan hidupnya yang dulu.


Tapi, Yumi terlihat tampak bahagia menikmati kehidupannya saat ini. Meski tidak bergelimang harta. "Apa kedua orang tua kamu pernah datang ke sini. Atau sebaliknya, kalian yang datang ke tempat mereka?" tanya Djorgi dengan hati-hati.


"Mereka tidak pernah datang kemari. Dan sejak waktu itu, aku memutuskan untuk tidak lagi menghubungi mereka." ucap Yumi.


"Terakhir kali aku bertemu dengan mereka, sama seperti terakhir kali aku bertemu dengan Gaby. Mereka mengusirku. Seakan aku adalah pengemis." ungkap Yumi dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Maaf." ucap Djorgi tak bermaksud mengingatkan kejadian yang seharusnya tak perlu untuk diingat terebut.

__ADS_1


Robert mengelus punggung sang istri. "Sudah, jangan diingat kembali. Semua sudah berlalu." ucapnya, tak ingin sang istri sedih.


Sebab, Yumi selalu menangis jika mengingat dan membicarakan Gaby dan juga kedua orang tuanya.


__ADS_2